Sungai Dimensi : ch 3

SUNGAI DIMENSI : ch 3
SUNGAI DIMENSI : The Book

Mereka tiba di sebuah ruangan. Berbagai lukisan yang memiliki hubungan dengan ilmu penyembuhan menghiasi setiap dinding rumah ini. Bias dikatakan bahwa tempat ini adalah tempat dimana untuk belajar pengobatan.

Permaisuri mengambil sebuah buku yang amat tebal dan juga banyak sekali debu yang menyelimuti bagian luat buku tersebut. Sepertinya tidak pernah di buka selama ratusan tahun. Huh debunya hampit 2cm. Lalu permaisuri menaruhnya di atas meja di dekatnya.

“Pluk! Pluk!”

Beberapa kali permaisuri menepuk buku itu. Buku yang memiliki tebal sekitar 7cm. Siapa ya yang mau menulis buku setebal itu. Dan di bagian luarnya terlihat bagaikan akar yang membungkusnya dan keluar dari salah satu pinggiran buku itu.

Setelah menepuk buku itu. Tiba-tiba saja akar-akar yang membungkus buku iru perlahan seperti disedot ke dalam lubang dimana mereka keluar. Dan buku itu pun terbuka

‘Helo Permaisuri Yolinia Fitrinium, Apa gerangan yang anda risaukan?’

“Apa kau mengetahui tentang cahaya hijau yang melapisi tubuh?” Tanya permaisuri kepada buku tersebut. Buku itu memang umurnya lebih dari ratusan abad. Jauh sebelum kerajaan ini terbentuk.

Sedangkan Dayang Vini sendiri sedang mencari buku yang ada hubungannya dengan aura aneh. Lalu ia juga mendapatkan buku tidak kalah tebalnya dari buku yang sedang ada di hadapan permaisuri.

Tertulis ‘Magical Spirit’ pada bagian depan buku tersebut. Yang tidak salah tulisan itu terbuat dari madu Gray. Madu dari bunga Rumput tersebut.

Ia lalu mulai membaca halaman demi halaman. Mencari hal yang ia cari. Tapi sampai pada bagian terakhir ia tidak mendapatkan hal yang dimaksud.Lalu ia kembali menaruh buku tersebut di tempatnya.

Kembali ke permaisuri yang sedari tadi masih menunggu.

‘Apakah yang anda maksud cahaya ini permaisuri?’ buku itu kembali terbuka dan diatas buku itu melayang 10 warna. (merah,kuning,biru,hijau,ungu,hitam,putih,jingga,perak,coklat).

Semua warna itu membentuk sebuah susunan seperti terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang pertama adalah hitam,merah,jingga,perak,putih dan kelompok kedua adalah biru,coklat,kuning,ungu. Semua cahaya itu menjadi dua barisan sejajar. Kelompok pertama berbaris di depan dan dibelakangnya kelompok kedua. Apa ada warna yang terlupakan? Nanti dijelaskan

Sebelum permaisuri mengangguk, ia memanggil Dayang Vini untuk mendekat. Lalu permaisuri memberikan intruksi untuk melanjutkan penjelasannya.

‘Kesepuluh cahaya ini sudah pernah melapisi tubuh manusia. Tubuh mereka yang terlapisi salah satu cahaya ini akan tertidur selama beberapa hari. Ke-10 warna ini berasal dari sungai Fillivia. Dahulu, Sungai Fillivia memiliki tuan. (ada yang menempati) Ia tinggal di dalam alam yang ada di dalam sungai tersebut. Jika tidak memiliki kekuatan khusus maka pikiran kita akan tersesat di alam tersebut. Tapi tidak baik juga bagi pemilik kekuatan khusus. Mereka akan mendapatkan anugrah ataupun bencana setelah pergi dari sungai tersebut. Yaitu salah satu dari ke-10 cahaya tersebut. Kelompok pertama berarti cahaya anugrah tapi kelompok terakhir adalah bencana. Itu tidak berlaku pada cahaya yang berwarna hijau. Hanya bisa dipastikan orang yang mendapatkan cahaya hijau ini tidak sadar kurang dari 7 hari maka akan menjadi bencana.’

Buku itu tiba-tiba tertutup. Mungkin mulutnya sudah capek. Terlihat bahwa permaisuri dan Dayang Vini sedang terkejut.

“Kini kita hanya menunggu kapan Putri Vily akan sadar. Dayang Vini, saya tugaskan kamu untuk menjaga Putri Vily.”

“Baik Permaisuri.” Jadi semuanya hanya bisa berdoa.

Apakah Putri Vily itu akan sadar?

*-~-~-~-~-~-~-~-*

SUNGAI DIMENSI : Rumah

Mereka sudah berada di sebuah desa. Terlihat di depan mereka pintu gerbang desa tersebut. Dan di pintu kayu yang besar itu tertulis nama desa tersebut Homia. Entah menggunakan bahasa/tulisan apa.

Homia adalah desa ke tiga dari 5 desa yang berada di kekuasaan Kerajaan Huruka. Desa ini sangat dekat dengan Kerajaan tetangga. Kerajaan Koromio. Kedua kerajaan itu sangatlah bersahabat. Sampai-sampai mereka ingin menjadikan kerajaan mereka menjadi satu.

Itu juga di dukung karena Kerajaan Huruka yang sepertinya mulai runtuh karena kehilangan pangerannya. Pangeran yang awalanya ingin dinobatkan pada saat dia dewasa, tiba-tiba saja menghilang. Bukannya menghilang tapi berpindah tempat.

Mungkin sekarang pangeran tersebut sudah berumur 25 tahun. Dimana ya dia?

Back to story…

Paul mengajak Vertia ke sebuah rumah yang megah. Lain daripada yang lain. Lebih bagus daripada rumah kepala desa ini. Walaupun semuanya terbuat dari kayu.

“Sore…Yonia? Apa kau ada di rumah?” teriak Paul dari teras. Lalu seseorang membuka pintu. Dan melihat siapa yang datang.

Pilo yang tadinya ada di antara dada Vertia, kini melingkar di leher Vertia. Bagaikan sebuah shal bulu yang tebal.

“Eh ada nak Paul, silahkan masuk! Ini siapa? Sepertinya bibi baru melihatnya,” Tanya wanita separuh baya. Tapi tetap cantik.

“Perkenalkan nama saya Vertia Gray,” Vertia mengulurkan tangan dan disambut oleh wanita yang ada di hadapannya. Benar-benar cantik sekali. Pikirnya.

“Saya menemukannya di pinggir Sungai Fillivia. Dia Hilang Ingatan,” potong Paul. “Tapi ngomong-ngomong Yonia ada bi?” lanjutnya.

Lalu, seseorang berjalan dari arah dalam. Bisa di pastikan itu adalah Yonia. Yonia begitu cantik. Yonia tinggal di sini saat ia berusia 8 tahun bersama dengan yang dipanggil bibi oleh Paul.

“Begini Bi. Lia dan Yonia, saya kesini mau minta tolong.” Paul mengela nafas. “Karena Vertia lupa akan jati dirinya, jadi aku minta tolong untuk mengijinkan Vertia tinggal beberapa hari sampai ia ingat semuanya,” lanjut Paul.

Sedangkan Vertia yang ada di sebelahnya hanya bisa memperhatikan mereka bertiga. Kini pilo yang tadinya melingkar di leher Vertia turun ke pangkuan Vertia.

“Bagaimana Putri? Apa kita akan membantunya?” bisik wanita yang bernama Lia itu pada Yonia. Sebenarnya siapa Lia tersebut? Kenapa sepertinya ia tunduk?

Yonia menganggukkan kepalanya. “Anggap rumah sendiri ya, Vertia. Jangan sungkan-sungkan. Kamu pasti belum mandi kan? Sebaiknya kamu mandi dulu lalu makan siang bersama kami,” kata Yonia sambil menyenggol Lia. Sepertinya memberikan isyarat.

“Mari Vertia!” Lalu Vertia bangkit dan mengikuti Lia.

“Sekarang ini adalah kamarmu dan di dalam lemari ada beberapa pakaian yang bisa kamu pakai. Dan itu adalah kamar mandi.” Sambil menunjuk sebuah ruangan di sebelah kamar Vertia sekarang.

“Apa ini tidak berlebiha?” kata Vertia saat masuk ke dalam kamar tersebut.

“Sebaiknya cepatlah mandi dan gunakan salah satu baju yang ada di dalam lemari, kami akan menunggumu di ruang makan.”
Lalu ia pun pergi keluar kamar Vertia.

Back to Paul…

“Kenapa Ibumu lama sekali mengantar Vertia?”

“Oh Ibu langsung menyiapkan makan siang. Bagaimana kalau…kalau Paul makan siang di sini?” tawarnya dengan wajah yang semerah tomat.

“Apa nantinya tdak merepotkan?”

“Tentu saja tidak!”

“Eng…”

“Ada apa Yonia? Kenapa wajah merah? Apa kamu sedang sakit?”

“Aku tidak apa-apa kok. Gimana kalau kita sekarang ke ruang makan?” ajak Yonia sambil berusaha mengembalikan kesadaran dirinya.

Lalu mereka pergi ke meja makan. Disana sudah ada makanan sudah tertata rapi di meja makan.

“Waw… banyak sekali, apa ini tidak berlebihan? Tapi kenapa Cuma ada 3 piring? Untuk Vertia mana?”

“Sebaiknya aku pergi mencari Girnto.” Bisik Lia di telinga Yonia. “Maaf bibi tidak bisa ikut makan siang karena bibi mesti pergi.” Katanya pada semuanya dan keluar dari rumah tersebut.

“Eh Qualyra, mana Vertia?” Tanya Paul pada Qualyra(pilo yang bersama Vertia tadi). Pilo itu berusaha naik ke meja makan.

“Bagaimana caranya Pilo ini jinak sama kalian?” lalu Paul menceritakan kejadian tadi pagi.

Sebenarnya Pilo bukanlah binatang yang dengan mudahnya jinak dengan manusia. Ada 3 jenis macam pilo. Yang satu adalah Aqnika. Yaitu pilo yang marah akan mengeluarkan air dari dalam mulutnya. Yang kedua adalah Sprynika yaitu jika marah mengeluarkan api dari dalam mulutnya dan bisa membakar hutan. Dan yang terakhir adalah Icfinka yaitu jika marah akan mengeluarkan es dari bulu-bulu yang tebal itu.

Mereka tinggal menurut jenis mereka masing-masing karena temat tinggal mereka juga berbeda. Dan ada yang membedakan mereka yaitu warna di ujung kedua ekor mereka. Ada satu yang tidak di ketahui oleh siapapun bahwa pilo bisa berubah wujud.

Sedangkan Qualyra adalah pilo yang memiliki ras Sprynika. Karena bisa di lihat dari warna ujung ekornya. Tapi bisa dipastikan ia tidak akan menyerang Vertia dan Paul.

Lalu ada gadis cantik muncul dari arah pintu.

Wah ceritanya bersambung

Read previous post:  
22
points
(648 words) posted by d757439 13 years 48 weeks ago
55
Tags: Cerita | dongeng | cahaya | d757439 | hutan | petualangan | Putri | sungai
Read next post:  
Writer prince-adi
prince-adi at Sungai Dimensi : ch 3 (13 years 46 weeks ago)
70

hati2 dengan asimilasi karakter...

Writer hirokakkuen
hirokakkuen at Sungai Dimensi : ch 3 (13 years 48 weeks ago)

ada beberapa kesalahan pada penulisan yah...sebaiknya kalau lagi sumpek istirahat aja dulu nulisnya. cari udara segar, biasanya dapet pencerahan tuh. baru nulis lagi. aku ngeliat cerita ini punya kualitas cerita yang bagus, dan alur yang menarik. tapi karena mungkin kamu sumpek nulisnya, jadinya aneh. aku malahan gak ngerti alurnya. coba buat konflik yang lebih datar kalau misalnya kamu merencanakan alurnya bakal berliku naik-turun. (kayaknya intrik masuk deh)...kalau ceritanya terlalu berat pembaca malahan jadi bosan.

Writer Sulistya_ningrum
Sulistya_ningrum at Sungai Dimensi : ch 3 (13 years 48 weeks ago)

Semangat dunk nulis lanjutannya... aku tunggu!

Writer d757439
d757439 at Sungai Dimensi : ch 3 (13 years 48 weeks ago)

wah jelek ya