The Last Defense, the second hopes? (A Part)

On the New York's sky
“Lalu..., kau siapa?” tanya Jack dengan wajah serius.

Wawan yang sedang sibuk dengan laptopnya menghentikan jemarinya dan menoleh ke arah Jack yang terlihat curiga. “Aku?”

“Ya! Kamu!” tegas Jack.

“Memangnya kenapa denganku?'

“Jangan banyak bicara lagi! Bagaimana aku bisa dengan mudahnya melihat seorang prajurit tak dikenal menggunakan entah apa namanya benda itu menggila di negaraku!” teriak Jack sambil menunjuk ke arah luar pesawat. Di luar, tampak sesosok Mecha berwarna merah berbalutkan hitam pekat di beberapa tempat.

“Tidak bisa ya? Kenapa? Kau merasa..., terpedaya?” tanya Wawan.

“What's your mean?”

“I mean..., sebagai negara superpower, Amerika. Akan terus menjadi yang terdepan dibidang pertahanan, khususnya persenjataan yang modern dan canggih. Mungkin hal ini juga ditularkan kepada para prajuritnya yang mengandalkan mesin canggih guna mencengkram dunia, iya kan?”

“You...,” Jack melirik tajam ke arah Wawan.

“Dan sekarang..., ketika kau melihat sebuah mesin tempur yang tak pernah kalian lihat sebelumnya..., lebih canggih, lebih hebat, dan lebih dari apa yang kau pikirkan..., kalian merasa marah. Tersaingi, benar begitu, Kapten Jack!” kata Wawan. Ia kembali berkutat dengan laptopnya. Membiarkan Jack terpaku sendiri.

“Terserah apa maumu...,” Jack lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Wawan di kursi penumpang menuju bangkunya semula.

Wawan kini berada di dalam pesawat penumpang. Sedangkan Mecha miliknya terbang dengan mode Semi-Auto Pilot. Ia masih mengendalikan Mecha miliknya dari dalam pesawat melalui laptop khususnya.

“Hey, Wan! Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Faridan yang duduk di sampingnya.

“Itu mudah. Aku terbang ke atas lalu jatuh ke bawah,” jawab Wawan dengan entengnya.

“Jangan-jangan..., kamu melakukan itu ya?” tanya Faridan penuh selidik.

“Tentu saja. Soalnya aku khawatir dengan kamu. Aku nggak nyangka kalau kejadian ini akan bakalan terjadi secepat ini,” jawab Wawan.

“Hey, Bung!” tiba-tiba seorang pria kulit putih berbadan kekar menepuk bahu Wawan, sontak ia terkaget.

“Eh, oh..., ada apa?” tanya Wawan.

“Kau yang mempunyai mainan itu, kan?” tanyanya sambil menunjuk keluar.

“Itu bukan mainan....,”

“Take it easy, man! Aku pun hampir setiap hari bertugas dengan pesawat Jet milik AU Amerika, jadi..., aku telah menganggapnya sebagai mainanku yang berharga,” jawabnya dengan senyum penuh kebanggaan.

“Huh, di saat seperti ini kau masih bisa membanggakan mainanmu,” sungut Wawan.

“Oh, ya! Aku mohon maaf kalau Kapten Jack bersifat agak kasar padamu,” kata pria itu dengan wajah sayu.

“Tidak apa-apa. Toh ia kaget melihat Mecha itu,” jawab Wawan.

“Mecha? Wow! Aku kira itu hanya di film-film saja, ternyata ada betulan,” wajahnya berbinar-binar. “Itu karena ayahnya adalah Menteri Luar Negeri Amerika, kau sudah tahukan,”

Wawan mengangguk. “Tentu..., bagi Kami, prajurit yang menggunakan mesin yang bernama Mecha itu, hampir seluruh seluk beluk pertahanan negara di dunia ini sudah Kami ketahui dengan rinci,” jawab Wawan.

“By the way! Sebenarnya kalian ini bekerja untuk siapa?” tanya pria itu dengan wajah yang masih tersenyum.

Wawan membalas menatap pemuda itu. “Maaf..., itu rahasia,” kata Wawan dengan senyum menggoda. “Tapi jangan khawatir, kami tidak bertujuan untuk menguasai dunia ataupun meneror negara lain karena Kami adalah kumpulan dari berbagai negara,”

“United Nations?”

“Sepeti itu, tapi kami bergerak sendiri,”

“Bolehkah aku bertanya sesuatu lagi?”

“Sure...,”

“Tadi kau bilang kau pergi ke atas lalu jatuh ke bawah untuk kemari, apa maksudnya itu?”

Wawan tertawa kecil. Faridan pun hanya tersenyum tipis. “Aku pergi ke luar angkasa,” jawab Wawan.

“Eh?”

“You know..., di luar angkasa, kita bisa bergerak lebih cepat dan hemat bahan bakar. Jadi, saat aku take off, aku menggunakan pelontar roket untuk pergi ke angakasa dan terjun ke sini,” jelas Wawan.

“And than..., where is the spaceship?”

“I don't use that! But I use that,” Wawan menunjuk keluar jendela.

“The Mecha?”

“Yap!”

Pria itu tertegun. “Jadi..., ia bisa menembus atmosfer?”

“Tentu. Lapisan luarnya terdiri dari logam keras anti panas. Makanya harganya mahal,” kata Wawan sambil tertawa ringan.

“One more time!”

“Apa lagi?”

“Bahan bakarnya?”

“N-U-K-L-I-R!”

“What?”

“Ya, reaktor nuklir terdapat di setiap Mecha. Jadi, tenaganya akan bertambah terus menerus dan akan berhenti jika penuh. So, Mecha ini memiliki bahan bakar abadi, maka...,”

Tiba-tiba layar laptop yang digunakan Wawan berubah merah. Di layar terlihat sebuah jendela yang menyerupai radar mendapati beberapa titik yang mendekat dan semakin bertambah.

“Gawat!” desah Wawan.

“What's wrong?” tanya pria itu.

“Makhluk itu mengejar Kita,” kata Wawan.

“Eh, memangnya ada yang bisa terbang?”

“Tentu saja!” Wawan segera mengetikkan beberapa perintah di terminal lalu menutup laptopnya dan menggunakan helm-nya. “Selama kita berada di atas daratan, besar kemungkinan kita akan terus dikejar. Beritahu pilot untuk pergi ke tempat ini!” Wawan menyodorkan secarik kertas yang telah tertulis angka koordinat.

“Oke! Lalu, kau mau kemana?” tanya pria itu.

“Aku mau menahan mereka,” Wawan bergegas ke pintu pesawat.

“Hey! Jangan dibuka begitu saja! Nanti semuanya bisa tersedot keluar!”

“Blessh...!!!” pintu terbuka, tapi tak ada angin kencang bertiup.

Ternyata Mecha itu sudah membuka kokpitnya jua dan menutup pintu pesawat sehingga kedua mesin ini seolah menyatu.

“Se, sejak kapan?”

“Aku pergi dulu!”

Suara deru mesin jet Mecha itu menggelegar besar menuju arah berlawanan pesawat.

“Yo! Pilot, kita harus ke sini!” pria itu mendatangi pilot di ruang kokpit seraya menyodorkan kertas yang tadi.

Sebentar ia memasukkan titik koordinat itu di mesin GPS-nya, dan didapati lokasinya berada di tengah samudera Pasifik.

“Eh, kita harus ke sini?” tanya Pilot.

“May be!” jawabnya.

“Pak! Ada beberapa objek di depan kita!” seru co-pilot.

“Apa itu?”

“Tidak tahu! Tapi mungkin itu adalah makhluk tersebut,”

“Siaaaal!!!”

***

“Oke, prajurit! Siap beraksi!” tanya Kapten Jack.

“Ready...!!!” seru para parjurit dengan seragam khusus.

Para prajurit yang sempat ke pangkalan militer tadi ternyata sempat mengangkut beberapa seragam unik yang dapat menempel bagaikan cicak. Bisa berjalan di atas gedung maupun lingkungan yang tidak bisa untuk dijalani dengan kaki biasa. Seperti di bidang 90 derajat dapat dilalui dengan mudah dengan jalan kaki biasa. Bahkan di bidang yang terbalik sekalipun ia bisa menempel dengan kuat. Rahasianya terdapat pada sepatu dan persendian baju sehingga bisa menempel dengan kuat serta otot tidak mudah keram karena dibantu oleh alat yang terdapat di baju itu.

“Hey! Kalian mau ke mana?” tanya Faridan keheranan.

“Tentu saja keluar. Menghabisi makhluk-makhluk itu,” seru Jack.

“Kalau begitu, aku ikut,” seru Faridan.

“Tenagamu mungkin sangat membantu, tapi seragamnya sudah tak ada lagi,” terang Jack.

“Jangan khawatir, aku bisa...,”

“...Dia bisa terbang!” sanggah seorang anak bersweaterkan hijau tebal.

“Ismail!” tegur Faridan.

“Aku tidak meragukan akan hal itu,” kapten Jack melirik ke arah Faridan.

“Kenapa?'

“Yaaah..., sepertinya aku sudah terbiasa dengan hal-hal yang aneh,” sergah Jack. “Ayo semuanya! Kita keluar!”

“Ayo!!!”
..................................................
Pertarungan kedua terjadi. Di atas langit yang biru. Bau darah begitu menyegarkan. Entah apa yang akan terjadi dan apa yang sebenarnya tejadi. Di atas udara, di sebuah pesawat, terdapat orang-orang yang berjuang untuk terus hidup.

Dengan segenap tenaga, dengan segala daya upaya. Mereka berjuang di atas angin. Tempat yang rapuh bagi manusia. Sebuah burung mesin, sebuah manusia mesin, dan sekelompok cicak bersenjata saling menjaga di sana. Terdapat anak-anak yang berlindung di pangkuan orangtuanya. Para manula tak bisa menyembunyikan rasa pusingnya karena berada di ketinggian terlalu lama. Para pramugari yang manis berusaha tetap tegar, tapi mereka begitu terlihat raut wajah yang suram dan takut.

Bisakah mereka bertahan? Bisakah kau bayangkan?
..........

Read previous post:  
54
points
(1827 words) posted by Endy Tatsuke 14 years 11 weeks ago
77.1429
Tags: Cerita | horor | Alien | darah | deg-degan | endy | endy punya kerja | fantasi | monster | tak tahulah
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

keeerrreeennnzz!!! kayak Gundam 00!!! Cerita macam ini dah yg aku suka!!

keren abiiz!!! aku juga suka baca komik..aku yakin bgt kalau di terjemahkan ke komik ini pasti lebih bagus, mecha indonesia..he3x...

taon kapan ya..

mudah2an jadi kenyataan..

organisasi pengganti UN itu semacam celectial beings di gundam 00 ya?

70

kaya baca komik yah!
tapi lumayan juga neh pas akhirnya.
serasa ada narator sedang berbicara di layar kaca televisi.
dan menyebutkan.
BERUSAHALAH POWER RANGER.DUNIA BERTUMPU PADAMU
:))

Yaelah, mas! Cerita ini bukan tentang Power Rangers. Cerita ini kan cerita yang lumayan dramatis. kalau mau yang kayak power rangers ada kok! Power Rangers Krakatau dan The Alternate Story bisa kamu cari di akunku ^_^

90

Wah...kalau ini hebat...

50

wawawawawaw
aku bacanya kayaknya baca komik yang beberapa bagiannya di sobek

oh iya...mendengar kata-kata mecha dan deskripsinya...aku jadi teringat Evangelion

70

mecha? di masa depan Indonesia jadi hebat yah