Baju Baru Untuk Uma

Mulai hari ini dan sampai hari ini saja, aku akan mengamen di sini. Padahal biasanya orang-orang yang ingin mengais rejeki di sini, pasti memiliki koloni. Mereka membentuk koloni-koloni kejam yang membuat semua orang merasa tidak aman. Aku juga merasa begitu. Tapi buat apa aku mempedulikan rasa tidak amanku itu. Sekarang yang penting aku dapat uang. Tidak harus yang bewarna merah terang, cukup yang bewarna hijau. Aku sudah senang sekali.

Di sini kawasannya sangat padat, namun rawan tindakan maksiat, dan rawan rejeki juga. Bagiku, tak apa disakiti sampai mau mati, yang penting si hijau atau si-si apapun itu nanti tetap ada di saku celana.

Kata orang, di lingkungan rawan kejahatan ini pasti mendapat uang minimal dua puluh ribu. Dan memang benar, belum setengah hari saja, kantong permenku sudah terisi dua belas ribu. Berarti kalau aku terus mengamen sampai menjelang sore, mungkin bisa terkumpul tiga puluh ribu. Ah, senangnya. Hei toko-toko yang berderet itu, tunggulah aku.

Sudah kubayangkan wajah Uma nanti ketika aku pulang ke rumah, ketika aku membawakan baju baru untuknya. Ia pasti senang sekali. Pipinya yang tembem pasti akan menggembung. Lucunya. Adikku satu-satunya ini memang masih kecil,ia baru berumur empat tahun. Hidupku kucurahkan hanya untuk merawatnya. Sudah setahun ini kami berdua ditinggalkan oleh kedua orang tua kami untuk selama-lamanya.

Pernah suatu hari ia memergokiku pulang dengan keadaan babak belur. Ia menangis di sampingku lama sekali. Ia mengikutiku sambil terus bertanya apa yang sudah kulakukan. Aku hanya bisa menjawab pertanyaan lugunya dengan senyuman dan mencoba menenangkannya. Namun, itu tidak berhasil. Uma justru menangis semakin keras, membuatku bertambah sedih. Aku berjanji tidak akan pulang dengan keadaan seperti itu lagi, walalupun kurasa janjiku itu sulit untuk dilakukan. Tapi tak apa, ini demi Uma, gadis kecilku. Akhirnya gadis kecilku itu tersenyum, membuat pipinya tambah tembem saja.
-----------------------------------
Sial. Badanku remuk. Dua tulang rusukku patah. Hidungku berdarah. Beberapa gigiku copot. Wajahku tak karuan. Badanku tak karuan. Seluruh tubuhku tak karuan. Berapa lama kira-kira ini semua bisa disembuhkan? Argh! Menambah repot saja.

Ini gara-gara kebodohanku. Coba kalau tadi aku tak melewati gang itu, pasti aku tidak akan dihajar habis-habisan seperti ini. Tapi untunglah, orang-orang jahat itu tidak mengambil kantong plastikku. Isinya adalah baju baru untuk Uma. Aku sudah berjanji akan membelikannya baju baru untuk lebaran kali ini. Pasalnya, aku belum pernah membelikannya baju baru, aku selalu membelikannya baju bekas. Kasihan Uma.

Kali ini aku yakin, Uma pasti senang sekali. Walaupun ini hanya baju setelan bergambar Teletubies sederhana. Ah tidak. Uma selalu senang kalau aku tiba di rumah. Walaupun aku tidak membawa barang apa-apa. Aku bersyukur sekali dianugerahi adik seperti Uma.
-----------------------------------
Aku sampai juga. Rumahku ini memang hanyalah rumah kecil nan sempit yang sebenarnya sudah tidak layak huni. Namun karena keterbatasanku, aku tidak mungkin bisa mengganti dinding bambu itu menjadi dinding bata.

Aku segera mendudukkan tubuhku di atas kursi reyot kami. Tidak mungkin aku kuat berjalan menghampiri Uma sekarang. Tenagaku sudah habis terkuras untuk berjalan dari TKP ke sini. Itupun aku sudah duduk dan istirahat setiap berjalan enam langkah. Padahal jarak rumah kami dengan tempat kejadian tidak begitu jauh. “Uma!” Aku memanggil gadis kecilku. Karena tidak mendapat sahutan, aku memanggilnya lagi dengan suara yang lebih keras.” Uma! Kamu sudah tidur ya? Kemari! Ayo lihat apa yang Kakak bawa untukmu! Cepat Uma! Kakak hitung satu sampai sepuluh ya... Satu. Dua. Tiga. Empat ...,”godaku pada Uma.

Uma keluar dari kamar tidurnya sambil mengucek-ngucek matanya. Baju Uma sudah sangat lusuh, walaupun begitu, ia tetap gadis kecilku yang sangat lucu. “Apa Kak?” suaranya agak serak. “Kakak berantem? Kan kakak udah janji sama Uma kalau...” ia hampir menangis lagi karena melihatku babak belur.

Kalimat Uma segera kupotong,”SSHH... Iya Uma. Ini yang terakhir kali! Bener deh. Suerr...,” kataku sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku membentuk huruf v.

Uma memanyunkan bibirnya. “Janji ya Kak. Yang kali ini bener lo.”

“Iya Uma, sayang. Coba tutup mata dulu.”

Uma masih manyun dan sekarang ia mengerutkan alisnya. Menggemaskan sekali. “Kenapa?”

“Tutup mata apa susahnya sih, Uma? Kakak ada sesuatu nih buat kamu.”

Mata Uma membulat. “Apa Kak?” ia tampak senang sekali.

“Makanya tutup mata dulu dong. Kalau nggak mau tutup mata, nggak jadi aja ah,” godaku padanya.

“Baik!” kata Uma penuh semangat. Ia lalu menutup kedua matanya yang jenaka itu.

Aku tersenyum senang, kugelar setelan itu di atas meja kayu tua kami tepat di hadapan Uma.
“Uma, sekarang ayo buka matanya!”

Uma membuka kedua mata jenakanya. Ia tampak berkedip-kedip sebentar, mungkin sedang menyesuaikan dengan cahaya. Dan ketika matanya menatap baju itu, kulihat ada kecerahan yang besar di sana. Ia tampak senang sekali.

“Bagus sekali Kak! Ini baju baru Uma kan? Makasih kak!” katanya senang sambil melompat-lomat dan mengelus-elus baju barunya.

Aku tersenyum memandangnya.

Tunggu! Kenapa aku tersenyum?
Tentu saja karena Uma gembira sekali mendapatkan hadiah dariku.

Tapi, tak ada Uma yang keluar dari kamarnya. Tak ada Uma yang mengucek-ngucek matanya. Tak ada Uma yang memakai baju lusuh, tak ada Uma yang hampir menangis, tak ada Uma yang manyun, tak ada Uma yang menutup mata, tak ada Uma yang melompat-lompat kegirangan. Tak ada Uma. Tak ada Uma sekarang, besok, dan selamanya. Uma sudah menyusul kedua orang tua kami. Uma sudah meninggal. Dua hari yang lalu.

Ia sakit. Sakit demam berdarah kronis. Tubuhnya menjadi kurus kering, pipinya tirus, badannya rapuh. Uma hanya terbaring terus menerus. Ia tidak mendapat obat dan perawatan sewajarnya. Itu semua salahku. Aku tidak mampu membiayai biaya penyembuhan Uma. Aku hanya bisa membelikannya paracetamol. Akhirnya, tubuh Uma tidak kuat lagi, dan ia menghembuskan nafas terakhirnya dua hari yang lalu, saat sedang tidur.

Air mataku dengan deras mengalir. Aku justru tidak menghentikannya. Aku terus menabah arusnya. Aku menangis seorang diri sambil memegang dengan sangat erat baju baru Uma. Air mataku bercampur menjadi satu dengan darah. Aku tidak mempedulikan sensasi aneh itu. Luka-lukaku pun kembali membuka. Aku tetap menangis meraung-raung sambil terus berharap: Uma, maukah kau menerima baju baru dari kakak ini?

Read previous post:  
Read next post:  
Writer azizah
azizah at Baju Baru Untuk Uma (12 years 41 weeks ago)

aku terharu sama ceritanya...
awalnya aku gak tau lhoo kalo uma ternyata...

Writer belongs2eti
belongs2eti at Baju Baru Untuk Uma (13 years 1 week ago)
90

Aq setuju sama dadun & navigator (bahkan semua saran sudah di borong mereka).
Ide ceritanya bagus banget, cuma penyampaiannya terlalu datar n ada kata2 yg kau tulis berulang2. Aku kurang mendapat emosinya pas baca, mustinya bisa lebih dramatis lagi, apalagi kau pake tokoh "aku" di sini, tapi feel-ku kurang bisa masuk ke dalam ceritamu. Kalo alurnya siy sudah rapi, dialognya jg mengalir. Mungkin kamu musti lebih banyak baca cerita2 yg lain u referensi.

OK, tetep menulis yaa

Writer man Atek
man Atek at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
100

hm tulisan apik dan unik,
gimana klo judulnya begini :
Baju baru tatkala Uma berlalu
siiip !

btw, 24 Okt 08 paman mo ke teknik elektro UGM bisa ajak temen2 kita ketemuan youk ... hehe

Writer nadhnadh
nadhnadh at Baju Baru Untuk Uma (13 years 1 week ago)

man Atek wrote:
hm tulisan apik dan unik,
gimana klo judulnya begini :
Baju baru tatkala Uma berlalu
siiip !

btw, 24 Okt 08 paman mo ke teknik elektro UGM bisa ajak temen2 kita ketemuan youk ... hehe


bener juga tu pakde. kayaknya saya emang lemah dalam judul.
ayok pakde. kita ketemuan bersama. :)

Writer Onik
Onik at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
Writer nadhnadh
nadhnadh at Baju Baru Untuk Uma (13 years 1 week ago)


hehehe. masak sih? makasih ya..
ouke.

dadun at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
80

kalo menurut saya, ini nggak monoton, tapi memang cukup flat. Idenya udah bagus tapi masih tipikal dan nampaknya belum ada sesuatu yang segar untuk ditampilkan. Saya setuju banget sama Navigator. Kamu kan pake sudut pandang org pertama di sini, mestinya cerpen ini bisa lebih nendang dan emosinya meruah-ruah (biasanya inilah salah satu keunggulan dari 1st pov) jadi, mungkin pembaca mengharapkan sesuatu yg lebih dramatis yg lebih dari sekadar membaca kata-kata yg kamu tulis.
Tapi... ah, penuturannya udah lumayan enak, gak banyak gangguan waktu membaca. Itu patut dipertahankan. Jgn terlalu bikin gaya bahasa yg aneh2 yg malah bikin pusing (hoiii, talk to myhand, dun, hahaha). Setuju sama mbak yosi, kamu tinggal perkaya diksi dan jangan takut untuk eksperimen dalam menyusun kata biar kalimatnya gak terlalu standar.
Hueeee... kepanjangan yak? :D
Cayooo

Writer kes_luph
kes_luph at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
80

temanya bagus...
tapi aq bingung dengan bagian2 akhir yg kalau ternyata si Uma nya sudah meninggal.
itu aja...
menyentuh sih..
hehe..

Writer bl09on
bl09on at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
80

bagus tema yang di angkat sangat menyentuh.
hanya...
bagian akhir terutama bag tunggu kenapa aku tersenyum terlalu dramatis dan tiba2 coba beri penjelasan agar tidak terkesan dipaksakan

Writer d757439
d757439 at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
70

bagus ....
tapi banyak ya salah ketik

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
90

sist, dari segi cerita, kamu udah menarik banget...

tapi, lain kali, pinter2 cari judul yang mak joss, jadi orang pada penasaran sama isinya..

okey, sist?

btw, yang jadi Mahar...

cuakepnya.....

aku jatuh cinta...

Writer navigator
navigator at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
80

bayangannya, ini spt km mendudukkan seseorang di hadapanmu lalu kamu bercerita. gmana caranya mejdikan org itu spt merasakan ceritamu, jika kamu menggambarkan sesuatu, dia spt ada di situ, jika km membentuk karakter tokoh, dia spt bisa menyentuhnya dekat dan nyata. cm emng susah, banyak brainstorming alias tambah referensi aj.. tp klo ini jdi awalmu,, ak kagum karna bgitu tertata skali.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
80

Bagus ceritanya. Cara bertuturmu juga mengalir menurutku. Mungkin hanya tinggal memperkaya diksi dan mencoba bereksperimen dengan susunan kata, kalimat dan paragraf supaya lebih menarik pembaca. Tapi menurutku ini juga udah bagus ^^

Writer Shinichi
Shinichi at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)
60

inti cerita ini dah jelas. Cuma, ketertarikan pembaca seperti saia kurang terobati dengan tutur cerita yang menurut saia monoton. datar

salam

Writer nadhnadh
nadhnadh at Baju Baru Untuk Uma (13 years 2 weeks ago)

harap maklum. baru belajar di sini. kalau tidak keberatan, maukah shinichi memberi tips untuk saya agar tutur cerita saya tidak monoton? selain kritik, saya juga butuh saran, untuk menjadi lebih baik. bukan begitu?
tanpa maksud apa-apa.
salam tp ga datar.

Writer erwinseptyawan
erwinseptyawan at Baju Baru Untuk Uma (13 years 3 weeks ago)

sgt menyntuh..