Asbak Di Atas Meja

Ada asbak! Iya, asbak! Selalu ia lihat asbak, asbak bulat, cantik, berwana putih kusam, mungkin karena jenis marmernya. Asbak itu diam di atas meja. Sepertinya sudah lama tak dijamah.

Apa yang Lyla lihat?
Apa yang Lyla saksikan selama ini?

Selalu saja ia tangkap asbak itu dengan matanya, mungkin mata batin, tapi semua itu semu, seperti fatamorgana namun tak seperti gurun pasir. Ilusi !

“ Nggak nyata !!! “ Lyla berani bicara, tapi ia tetap berani menatap meja panjang yang ia anggap asbak itu masih berada di sana.

Ini semua tentang kisahnya yang dulu. Tentang asbak? Mungkin ada kaitannya!!!

Teman, teman dekat, kakak, bahkan pacar, atau lebuih dari semua itu. Tea, sosok lelaki yang ia kenal lebih dari separuh umurnya, teman kecil, begitulah.

Masa – masa kecil, taman kanak – kanak, hingga saat terakhir setelah lulus SMA, mereka selalu bersama apapun situasinya.

“ Gue udah nentuin, setelah ini gue nganggur setahun. Orang tua udah setuju sama keputusan gue, “ Lyla melihat bunga – bunga kecil beterbangan di halaman sekolah.
“ Lo enak ada orang tua, keputusan gue belum pasti, mau nganggur atau lanjut, meskipun sekolah dibiayain sama paman… “ ucap Tea lirih.

Haru memang. Orang tuanya telah lama tiada, sejak ia dan Lyla bertemu. Hingga Tea lulus SMA, seluruh keperluannya tercukupi oleh sang paman, tak sedikit pula Tea bekerja part time.

“ Yakin deh ! Lo nggak sendiri… Keputusan yang lo ambil, itulah yang terbaik ! Orang tua lo di surga pun mendukung ! “
Genggaman tangan Lyla menenangkan dan memberi kehangatan pada Tea.
“ Thanks.. “ Walau singkat, cukup berkesan. Tea pun menyendrkan kepalanya ke bahu Lyla, dengan usapan kecil pada ubun – ubun Tea ….

* * *

“ Gue ngerokok … “ aku Tea malu – malu tapi sok berani di depan Lyla.

Gawat! Udara bakal terkontaminasi nih. Rumah gue kan bebas polusi rokok ! Begitu, kegundahan Lyla tertahan dalam hati.

“ Gue tau kok ! Anak – anak udah pada ngadu ke gue melulu … “ Lyla berhasil membuat Tea malu tak bicara sejenak.
Muka Tea merah padam. “ Sayang yah, rumah lo nggak ada asbak , “ Tea mengalihkan peristiwa itu.
Lyla berangkat dari duduknya dan pergi kea rah belakang, dapur.

Tak sampai dua menit, Lyla kembali membawa satu cangkir plastic bekas air mineral.

“ Pake ini gue rasa cukup, “ serah Lyla.
Tea menerimanya.
“ Sorry, nggak ada asbak di rumah gue. Tau sendiri kan, di rumah nggak ada perokok aktif … “
Tea tertawa kecil dan berangkat. “ Di luar aja , “

Tea tidak terlalu bodoh untuk membiarkan rumah teman … atau Lyla, menjadi kotor karena asap rokoknya.

Duduk di bangku depan halaman rumah menjadi satu alasan Tea yang memang kedatangannya untuk memberi keputusan waktu itu.

Setelah kedatangan Tea di rumah Lyla beberapa waktu lalu, Lyla setidaknya mengerti apa yang diinginkan lelaki itu saat di rumah.

“ Udah gue sediain sengaja buet lo. “ Lyla tak lagi membawa satu cangkir plastic untuk Tea. Sebuah asbak pantas … yang memang pantas untuk wadah abu rokok, khusus untuk Tea.
“ Lucu. Sederhana sih … Thanks ! “ singkat, jujur pula jawabannya. Tea mengamati benda itu.
“ Ya … meskipun gue belinya di kaki lima, sorry … “
“ Nggak pa – pa, “ Tea menjatuhkan abu rokok perdananya ke dalam asbak itu.
“ Asbaknya gue bawa pulang yah. Tenang aja, gue bakal bawain lagi kok setiap gue ke sini . “
“ Buet elo aja. Anggap hadiah kelulusan lo, “
Tea tertawa keras – keras mendengar alasan garing dari Lyla.

Nggak ada yang melarang, nggak ada pula yang menyuruh Tea untuk diam. Rumah Lyla terasa ramai, meskipun prang tuanya berada di luar kota.

Tak ada lagi bahasan, ulasan, atau cerita tentang perencanaan setelah lulus. Mungkin tak menjadi topic, atau sudah memiliki alasan masing – masing.

Hari – hari, Lyla dan Tea lewati bersama, di rumah Lyla, berdua … tidak, bertiga ! Dengan asbak, saksi bisu persahabatan mereka, namun dekat.

Tak ada rasa kebosanan Lyla untuk terus merawat asbak itu, walau benda itu tak layak untuk dirawat. Sebelum Tea pulang dari tempat ia mencurahkan keluh kesah dan kegembiraannya, Lyla – lah orang yang selalu membuang abu rokok itu.

Ini. Mendadak semua menghilang. Tawa, canda, curhatan, dan kenangan – kenangan tentang Tea hilang. Satu bulan terakhir, Tea tidak mengadu, menampakkan wajahnya ke rumah Lyla. Padahal kedatangannya sangat ia harapkan. Entah ke mana Tea menghilang.

Berkali – kali ia ratapi meja, selalu saja ada asbak itu. Asbak putih kusam, selalu ia ingat tawa dan ledekan Tea.

“ Where are you, Te .. ?? “ Lyla tak mampu membendung rindu dan gundah.

Tak ada lagi sumpeknya bau asap rokok, abu rokok yang tak henti jatuh, tak ada lagi curhat, dan tak ada lagi sosok Tea. Semua pupus seperti menjadi abu.

Tea hilang bersama asbaknya, beberapa hari setelah mendapat ciuman kecil dari Lyla tepat di jidatnya. Sempat Lyla mencium kabar, Tea menderita penyakit paru – paru basah, dan Tuhan menjemputnya saat ia mencoba pergi ke rumah saudaranya di luar kota.

Semua isi itu membuat Lyla shock berhari – hari, tak mau makan, dan tak bias menjalani hidupnya dengan wajar lagi. Ia selalu melighat, memandang, dan membayangi satu benda bernama asbak di atas meja. Selalu saja ada, namun tak nyata, maya !

Lyla sulit melupakan semua itu …
Lyla rindu akan asap rokok Tea …

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer MelZhi
MelZhi at Asbak Di Atas Meja (12 years 19 weeks ago)
70

critanya tragis tp entah knp bkin ktawa miris... jrg ada keromantisan yg disangkut pautkan ma rokok n asbak...

salut deh!

Writer navigator
navigator at Asbak Di Atas Meja (12 years 20 weeks ago)
80

hahaha, kerinduan dg mengatasnamakan rokok dan asbak