Mimpi Dua Sudut

Institut Teknologi Bandung

Ares mengeja rangkaian alfabet yang baru saja ditulisnya, tanpa suara. Tak lama, ia mendesah pelan. Sanggupkah aku meneruskan ini? Setelah semua yang terjadi padaku?
Haruskah kuteruskan?

Sekali lagi Ares mendesah. Ia menatap kertas dalam genggamannya lemah. Senyum yang tadi sempat terbit, kembali hilang tak berbekas. Tanpa ia sadari, airmatanya menitik.

* * *
5 Agustus 2007

Gia tersentak ketika akhirnya menemukan sebuah nama di antara deretan nama-nama lainnya. Alfian Ramadhan.
Gia menghela nafas, berat. Doanya tak terkabul. Tapi mungkin justru doa orang itulah yang dikabul.

Ya...Gia berdoa agar Rama tak berhasil menembus tembok ITB. Tapi nyatanya, Tuhan tak mendengar doanya. Mungkin Tuhan memaknai doanya sebagai doa yang kejam. Hmm....
Tapi Gia tak peduli lagi sekarang. Karena mulai sekarang ia akan berjuang, untuk ikut menembus tembok ITB yang besar. Karena mimpinya tak boleh kandas di tengah jalan. Kini ia akan bersiap, meraih mimpinya.... meraih Rama.... Orang yang amat sangat dikenalnya. Hanya saja, sepertinya orang itu sama sekali tak mengenalnya. Ironis....

* * *

“ITB? Informatika? Serius nih?!” mata bulat Alya semakin membulat ketika ia membaca tulisan tangan Gia dalam formulir pendaftaran. Institut Teknologi Bandung.
Gia mengangguk mantap. Ia sama sekali tak peduli meskipun sahabatnya menampakkan reaksi negatif, meskipun telah Gia duga sebelumnya.

“Tapi...bukan karena Rama, kan?” Alya melanjutkan pertanyaannya. Matanya telah kembali ke ukuran semula. Sekarang ia menyimpan kertas yang tadi dipegangnya ke atas meja, untuk kemudian menatap Gia lekat.

Mata bulat Gia membelalak lebar—tentu saja pura-pura. “What? Rama? Haha....kenapa harus karena Rama?” Gia menjawab pertanyaan Alya dengan ekspresi terkejut yang telah ia siapkan. Pertanyaan Alya yang ini juga telah ia duga. Karena itu ia menjawab keseluruhannya dengan sandiwara.

“Kenapa fakultasnya sama banget? Apa bukan karena kamu masih ngejar-ngejar Rama?” pertanyaan Alya kali ini mengandung pisau yang siap menerkam Gia kalau ia salah bicara.

Tapi sama seperti sebelumnya, pertanyaan Alya yang lebih mirip penegasan atas pernyataannya itu telah Gia duga sebelum ini. Karena itu Gia hanya tersenyum samar. “Memangnya salah? Toh kamu juga mau masuk Informatika.”

Alya terbelalak. Wajahnya memerah. “Darimana kamu tahu?”

Gia tertawa terbahak. “Benar, ya?”

Akhirnya Alya mengangguk pelan, setelah beberapa menit menghabiskan waktu dalam penyiksaan.

Gia kembali tertawa. Kali ini lebih keras.

“Kalau bukan karena Rama, kenapa kamu mesti buang mimpimu untuk kuliah di kedokteran?” tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Alya. Meskipun Gia belum menyelesaikan tawanya.

Dan tawa yang belum terhenti itu terpaksa berhenti. Pertanyaan Alya kali ini tak sesuai dugaannya. Gia tergagap sesaat sebelum kemudian menjawab, agak gugup.

“Ah...itu kan cuma mimpi masa kecil. Jangan terlalu diingat.”

Alya menanggapi sahutan sahabatnya dengan senyum samar. Justru kamu yang selalu ingat itu....

* * *
“Menurutku kamu mesti ikut.” Suara Tya memecah keheningan yang beberapa menit terakhir ini mereka buat. “Teknologi Hayati... Dari dulu kamu selalu tertarik pada hal-hal berbau Biologi.”

Ares tersenyum lemah. “Kalaupun aku kuliah, aku mau masuk kedokteran. Aku kan penyakitan. Setidaknya, aku mau jadi orang yang bisa nyembuhin penyakit orang lain.”

Tya menggeleng cepat. “Hei, setahuku kamu enggak suka dokter. Jangan karena disuruh mama lantas kamu menyetujuinya begitu saja.”

Masih tersenyum lemah, Ares beranjak menuju jendela kamar yang terbuka. Ia duduk di ambangnya, dan berbicara pada burung-burung yang tengah berkicau di pohon di seberang. “Itu cuma ketakutan masa kecil.”

* * *
Juni 2008

Gia membuka-buka kembali catatan yang hampir keseluruhan isinya ia hafal dalam setahun terakhir ini. Catatan dengan tebal dua ratus halaman itu membuat kepalanya pening, sebenarnya. Tapi selama setahun ini juga ia meyakinkan diri bahwa ini adalah gerbang menuju kesuksesannya.

Tiba-tiba saja pikiran Gia menerawang pada kejadian siang tadi. Alya, sahabat kecilnya itu, masih mempertanyakan keras-keras kenapa Gia memilih Teknik Kimia, padahal itu jelas-jelas pelajaran yang paling Gia benci.

“Jangan mikirin Rama terus, dong! Buat apa kamu capek-apek ngejar-ngejar dia. Sementara dia sama sekali enggak tahu kamu ada.”

Itu kata Alya siang tadi. Meskipun Gia bersikeras mengatakan ini bukan karena Rama, rupanya Alya juga bersikeras menganggap ini karena Rama.

“Berjalanlah di jalanmu sendiri, Gi!”
Ucapan Alya saat mereka akan berpisah siang tadi kembali terngiang di telinga Gia.

Gia mendesah. Apakah benar yang dikatakan Alya? Ini bukan jalan yang benar? Dan Gia menjawabnya dengan sebuah gelengan keras. Ini memang jalanku. Lihat saja, Al!
Dan Gia pun kembali tenggelam dalam catatan tebalnya.

Akhirnya, setelah empat jam berlalu, Gia menguap lebar. Ia memandang jam dinding sejenak, menutup dan menyimpan catatannya di atas meja dan bangkit dari kursi belajarnya menuju tempat tidur. Besok SPMB dilaksanakan. Kondisinya mesti prima.

“Ares, kenapa belum tidur? Besok kamu ujian, kan?” suara Mama membuat Ares tersentak di tengah aktivitasnya di ambang jendela. Melamun.

Untuk sesaat, Ares tergagap. “Hm? Oh, iya. mau sedikit tenangin diri dulu.”

Mama tersenyum hangat. Ia menghampiri Ares dan berdiri tepat di sebelahnya, menatap untaian kerlip bintang. “Res, tinggal kamu harapan Mama. Setelah Tya ngotot untuk masuk sastra, tinggal kamu yang bisa nerusin pekerjaan Mama dan Papa. Tinggal kamu yang bisa nerusin harapan kami berdua. Mama yakin, kamu akan sukses di sini. Kamu telah berada di pintu gerbang. Sedikit lagi kamu sampai di tempat tujuan.”
Ares berpaling dari ratusan benda hiasan langit yang masih terpajang di sana, menatap lekat wajah yang dicintainya.

“Apa Ares kuat, Ma?” ia bertanya sangsi, pada wajah yang mulai menua itu.

Mama mengangkat kedua alisnya. Ia menatap puterinya itu dengan tatapan lembut, sekaligus tegas. “Kamu kuat, sayang! Karena kamu anak Mama.”

Untuk beberapa saat lamanya, Ares terbuai dekapan Mama yang hangat. Hingga Mama melepaskan pelukannya, dan menuntun Ares menuju tempat tidurnya. Seolah Ares adalah anak umur dua tahun yang masih berlatih untuk berjalan.
“Nah, selamat tidur, sayang! Mama lihat tadi Tya sudah tidur. Ia pasti mau siapkan energi buat besok. Jadi, kenapa kamu tidak?” ucap Mama, masih tersenyum hangat, seraya menarik selimut hingga ke dagu Ares. Dan setelah mengecup kening puterinya, hal yang jarang sekali dilakukan Mama Ares, beliau mematikan lampu kamar dan menutup pintunya perlahan.

Meskipun waku telah menunjukkan pukul 23.47, pikiran Ares tak juga lekas beristirahat. Padahal besok hari pelaksanaan SPMB. Tapi Ares masih bimbang. Benarkah jalannya? Sanggupkah ia terus melangkah di sini? Kuatkah fisik dan batinnya?

Tiba-tiba Ares menepuk pipinya keras. Tidak, tidak, tidak. Seperti Mama bilang, aku telah berada di pintu gerbang. Sedikit lagi aku sampai... berkali-kali Ares meyakinkan dirinya. Hingga akhirnya dirinya terbuai mimpi malam, tentang mimpi dan pintu gerbang.

* * *
Agustus 2009

Gia tersenyum puas menatap namanya terpampang dalam papan pengumuman penerimaan mahasiswa baru fakultas farmasi insitut teknologi bandung.

“Wah, kamu diterima ya? Selamat!” alya yang sedari tadi berdiri di belakang Gia menyodorkan tangannya ke hadapan Gia.

Senyum Gia makin melebar. Ia menyambut uluran tangan Alya, penuh semangat. Alya mendekatkan dirinya ke tubuh Gia, ia berbisik perlahan tepat di telinga Gia. “Akhirnya semua impianmu tercapai.”

Gia tak tahu apakah bibirnya cukup lebar untuk bisa tersenyum makin lebar... tapi yang jelas, ia menyahuti bisikan Alya, dengan bisikan keras. “Ya! Setelah dua tahun penantian dan perjuangan yang panjang. Dua tahun non stop! Bayangkan Al, dua tahun non stop!”

Alya mengangguk-angguk girang. “Ya. Ya. Aku enggak nyangka ternyata kamu masih ngotot masuk ITB, meskipun tak ada lagi seorang Rama.”

Senyum Gia perlahan memudar. Ia menengadah menatap langit yang nampak putih oleh semarak awan. “Justru karena Rama enggak ada akhirnya aku bisa diterima. Tahun lalu, sebelum terjadi kecelakaan itu, aku bahkan enggak diterima di UPI.”

Alya terbahak pelan. “Mungkin...dulu niatmu tak baik. Atau...mungkin sekarang kamu lebih mantap tentuin pilihan. Enggak lagi tergantung pada Rama.”

Gia kembali tersenyum, masih menatap langit. “Ya. Mungkin...”

Dalam hati, Gia bersorak girang. Ya, inilah jalanku! Selamat datang, Farmasi!

Ares tersenyum ketika matanya menangkap sebuah nama di layar komputer. Aresty Ananta.

“Wah...selamat! kamu berhasil masuk universitas bergengsi ini.” Sebuah suara membuat kepala Ares menoleh ke belakang. Tya.

Ares tersenyum riang. “Makasih.”

“Jalan tengah, ya? Batal masuk kedokteran, Saintech Hayati juga enggak dapet, akhirnya malah masuk farmasi.”

Ares mengangguk mantap. “Setidaknya mama enggak akan terlalu kecewa. Dan aku tak perlu tertekan. Pilihan yang cukup mudah.”

“Lalu...penyakitmu?” Tya bertanya, ada sedikit ragu dalam nada suaranya.

“Mmm...aku mau cari obatnya.” Ares menjawab malu-malu. Tapi ada bunyi mantap dalam nada suaranya.

Sepasang kembar itu tersenyum penuh makna. Menatap langit yang dipenuhi awan ceria.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Armanda
Armanda at Mimpi Dua Sudut (13 years 6 weeks ago)
80

sanggupkah ku selesaikan membaca semua ini dalam keadaan ngantuk gini?

ah bagus wae lah.!!!!
sippp

Writer key.lanie
key.lanie at Mimpi Dua Sudut (13 years 6 weeks ago)
80

Sanggupkah aku meneruskan ini? Setelah semua yang terjadi padaku?
Haruskah kuteruskan?

Untuk membedakan susut pandang orang yang bercerita, kalimat ini kayaknya
lebih baik cetak miring. bener nggak?

but, anyway... good job!

Writer rodli.namakuu
rodli.namakuu at Mimpi Dua Sudut (13 years 6 weeks ago)
50

mnurut sy jg ini ngga pisann...
haha .maaf.maaf.

*tp sy ksi poin bwt sy sndiri ....

Writer Onik
Onik at Mimpi Dua Sudut (13 years 6 weeks ago)
60

Tokoh utamanya terpecah, Gia dan Ares, apa hubungan mereka ? Bingung ??? Klopun dibikin dua tokoh, harusnya diberi keterangan diawal pergantian tokoh, misal, Dikediaman Ares, Sementara itu... dll
Ini pendapatku sih...

Kunjungi karyaku juga ya...thx