Kisahku : Kenalan Dengan Jade

Tidak terasa liburan semester tinggal dua hari lagi, sementara hubunganku dengan Jade tidak mengalami perkembangan sama sekali. Seperti sedang mengalami tahap dormansi.

Setiap harinya aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan saja, dan terkadang aku juga menyapanya.

###################################################################

Hari ini tepat dua hari sebelum liburan, seperti pagi – pagi sebelumnya aku duduk di samping kelasku dan memantau keadaan sekitar, siapa tau saja beruntung dan bisa lihat senyumannya lagi.

Beberapa menit setelah aku duduk akhirnya yang dinanti datang juga. Kulihat dari tempatku duduk dia sedang berjalan menuju ke arahku. Jantungku berdegup kencang karena tak seperti biasanya hari ini dia melewati jalan yang benar – benar dekat dengan kelasku.

“Aku melihatnya dari dekat !!!” Pekikku dalam hati.

Semakin lama semakin mendekat, semakin cepat dan cepat juga jantungku berdegup.

Kuperhatikan tiap derap langkahnya dengan kepalanya yang ia tundukkan. Aku juga nggak tahu kenapa ia begitu, mungkin karena malu. Tapi bagiku, sikapnya itu benar – benar menggemaskan, ingin sekali kupeluk tubuh mungilnya itu. Untung saja rasa takut dicap buruk olehnya masih bekerja dengan baik dalam diriku sehingga niat itu kuurungkan.
Begitu ia mendekat akupun menyapanya.

“Pagi……” Sapaku.

Dia hanya melihat ke arahku sambil tersenyum.
Wouw!!! senyumnya itu memang benar – banar manis.
Masih tak percaya aku baru saja berada di dekatnya, bahkan wangi parfumnya masih dapat kurasakan mengalir ditiap nafasku.

###################################################################

Yah…beginilah aku, hanya berkutat pada saling pandang tanpa bisa mengucapkan lebih dari satu atau dua kata. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan bahkan masih belum bisa juga berkenalan secara langsung dengannya.

Meskipun begitu ada satu hal yang kuanggap sebagai suatu peningkatan, yaitu aku sudah tahu namanya. Secara nggak sengaja aku mengetahui kalau di kelasku ada cewek yang kenal dengan Jade, nggak begitu kenal dengan baik sih, tapi setidaknya kalau cuma nama saja bisa dia beritahu.

Namanya itu ……, hmm kayaknya kurang greget kalau namanya aku kasih tau sekarang ntar yang baca sudah nggak penasaran dan bakal ninggalin ceritaku tanpa membacanya sampai selesai, jadi demi kebaikan aku putuskan untuk menyembunyikan identitasnya terlebih dahulu sampai pada bagian aku berkenalan secara langsung dengannya. Bersabarlah untuk membaca lebih lama lagi.

Mengingat sudah mendekati liburan semester yang biasanya cukup lama, kurang lebih dua mingguan gitu. Sekolahku akan mengadakan kerja bakti seperti halnya kebiasaan sekolah – sekolah pada umumnya, rada sebel juga sih, aku merasa seperti dimanfaatkan oleh orang – orang yang nggak mau mengeluarkan uangnya hanya untuk menyewa mereka yang biasa melakukan pekerjaan tersebut. Meskipun begitu sebenarnya ada senangnya juga sih, karena pada hari itu aku bisa melihat para cewek berimprovisasi dengan apa yang mereka kenakan, padahal mau kerja bakti tapi pakaiannya kok kayak mau jalan – jalan ya? Biarlah, toh aku juga yang menikmati pemandengan – pemandangan itu.

Aku bisa tau kalau sekolahku akan mengadakan kerja bakti karena pada waktu sedang istirahat aku secara tidak sengaja lewat di samping kantor dengan salah satu temanku yang namanya Rhetsckid. Pada saat itu aku mendengar beberapa guru membicarakan tentang kerja bakti.

Sebenarnya lewat kantornya itu kusengaja, soalnya lagi mau ngeliat Ibu Infokom yang imut itu, nggak nyangka bisa sekali dayung dua pulau terlampaui. Selain bisa melihat Ibu yang imut itu aku bisa tahu kalau besok mau diadakan kerja bakti.

Mendengar hal itu aku menjadi lebih bersemangat lagi, bagaimana tidak? Sudah tradisi sekolah kalau akan dilaksanakan kerja bakti maka seluruh siswa dari kelas X sampai kelas XII akan diminta untuk berkumpul di lapangan yang biasa dijadikan tempat berkumpul untuk mendengar pengarahan. Aku tidak begitu peduli dengan kelas XI ataaupun dengan kelas XII, soalnya nggak ada yang mengenakkan mata untuk dua tingkatan kelas tersebut. Yang aku perhatikan sudah pasti kelas X, lebih khusus Kelas Xi, lebih khusus lagi Jade.

Aku senang sekali karena bisa melihatnya dari dekat, mungkin juga aku bisa berpapasan dengan. Wuohoouu…kalau hal itu terjadi berarti aku mendapatkan combo yang sangat bagus, bisa ngeliat Ibu guru yang Imut dan juga cewek yang kusuka. Kalau dalam permainan ‘Duel Master Trading Card Game’ bisa disebut dengan istilah ‘Double Breaker’.

###################################################################

Setelah istirahat selesai, dalam kelas yang aku lakukan hanya menunggu pengumuman kerja bakti yang biasanya diumumkan melalui pengeras suara. Meskipun sudah dua kali kepalaku diketuk dengan penggarisnya pak guru, tetap saja aku masih menunggu pengumuman itu.
Penantianku akhirnya terbayarkan………
(Ding-dong-ding-dong)

“Mohon maaf kepada Bapak dan Ibu guru yang sedang mengajar di kelas. Perhatian untuk sebuah pengumuman. Diumumkan kepada seluruh siswa dan siswi kelas X hingga kelas XII agar sepulang sekolah dapat berkumpul di lapang tengah”.

Ow yeah. Akhirnya pengumuman itu keluar juga. Setelah itu aku akhirnya bisa juga mengikuti pelajaran dengan baik hingga pelajaran itu selesai.

(teng…teng…teng…) Bel pulang sekolah berbunyi.
Dengan sabar aku menantikan saat dimana seluruh siswa berkumpul, dan akhirnya pandanganku tertuju pada sesosok gadis yang hendak turun dari tangga menuju ke lapangan tengah. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Jade yang memang sudah kunantikan sejak tadi.
Kulihat disampinya ada beberapa temannya mulai menggangunya ketika mereka menyadari bahwa pandanganku hanya tertuju pada jade seorang. Melihat hal itu aku akhirnya memalingkan pandangku ke arah lain dan hanya sesekali saja mencuri pandang ke arahnya.
Seperti dugaanku kami diminta berkumpul agar kamu mengetahui bahwa besok akan diadakan kerja bakti. Setelah beberapa menit mendengar beberapa guru bergantian meamberikan pengarahan akhirnya kami dipulangkan.

###################################################################

Dalam perjalanan pulang aku terus berpikir bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengan Jade secara langsung. Karena hal itu, beberapa kali aku ketinggalan teman – temanku dan aku dengan terpaksa harus berlari mengejar mereka.

Aku tidak begitu pandai dalam menyusun kata – kata yang baik, jadi aku putuskan untuk menggambarkan sesuatu untuk kutunjukkan padanya. Akupunmemutuskan untuk menggambar beberapa karakter manga dan setiap karakter manga itu seolah – oleh sedang memperkenalkan aku kepadanya. Aku mempersiapkan gambar itu sejak tiba di rumah dan menghabiskan beberapa jam.

Gambarku selesai, sekarang yang kupikirkan adalah cara menunjukkan gambarku kepadanya, nggak mungkin aku langsung berjalan ke arahnya dan memberikan gambar itu alau meninggalkannya begitu saja, paling tidak aku harus bertahan beberapa saat di dekatnya. Baru memikirkan hal itu saja sudah membuat wajahku memerah dan jantungku berdegup dengan sangat kencang. Melihat wajahku yang memerah itu ibuku sempat khawatir dan bertanya apakah aku baik – baik saja, katanya jangan – jangan aku sedang demam. Sebenarnya aku memang sedang demam, demam cinta, he…he…he…, tapi tidak mungkin kan aku mengatakan hal itu kepada ibuku, jadi kuputuskan untuk mengatakan bahwa aku baik – baik saja.

Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku putuskan untuk memberikannya secara langsung pada saat dia sedang sendirian agar tidak ada yang menggangu. Sengaja aku tidak menceritakan rencanaku ini pada teman – temanku yang lain karena bisa – bisa mereka mengikutiku dari belakang dan malah akan membuat Jade merasa risih.

Malam itu kupersiapkan segalanya, mulai dari mengecek lagi gambar – gambar yang kubuat, mempersiapkan hatiku untuk menerima apapun reaksinya, terlebih lagi berdoa semoga saja aku mendapatkan kesempatan untuk berdua saja dengannya. Beberapa kali dalam malam itu aku terbangun dari tidurku karena mengira kalau aku sudah kesiangan.

###################################################################

Akhirnya, pagi hari tiba juga. Kuawali pagiku dengan kegiatanku seperti biasanya lalu akupun berangkat ke sekolah. Sempat terpikir untuk menunggunya di tempat ia biasa menunggu taksi tapi niat itu tidak jadi aku lakukan ketika kulihat dia sedang menunggu taksi dengan salah satu temannya dan lagi disitu juga banyak anak – anak lain yang juga satu sekolah denganku.

Sesampainya di sekolah, aku hanya bisa duduk di samping kelasku dan melihatnya dari jauh karena hari ini dia kembali melewati jalan lamanya yang membuatku tidak bisa melihatnya dari dekat. Kami lalu diminta berkumpul di ruang tengah untuk mendengar pembagian area kerja, kusilangkan jari tanganku mengharapkan area kerjaku tidak begitu jauh denganya sehingga aku bisa menentukan waktu yang tepat untuk mengajaknya berkenalan. Akan tetapi, ternyata apa yang kita inginkan tidak selalu menjadi kenyataan karena area kerja yang aku peroleh terpisah jauh dengan area kerjanya.

Aku jadi semakin merasa putus asa tatkala karena sejak pembagian area kerja bakti sampai kerja bakti hampir selesai aku sama sekali tidak melihatnya lagi.
Kerja bakti akhirnya selesai dan aku masih tetap belum menemukan waktu yang tepat untuk berkenalan dengannya. Aku lihat anak – anak kelas Xi masih belum pulang dan masih berkumpul di depan kelas mereka, tapi aku sama sekali tidak menemukan Jade. Mungkin saja ia sedang stirahat di kantin atau bahkan ia mungkin saja sudah pulang duluan.

Aku jadi kehilangan semangat, merasa seperti itu akhirnya kuputuskan untuk pulang lebih dulu meninggalkan teman – temanku yang masih bermain Yu – gi – oh Trading Card Game.

###################################################################

Dalam perjalanan pulang, aku tidak tau kenapa aku meutuskan untuk melewati jalan yang tidak biasa aku lewati melainkan mengikuti jalan yang biasa dilewati Jade dan teman – temannya.
Ketika menyusuri perjalanan itu, aku melihat seorang kakek sedang memanggul kayu yang sangat besar. Aku tidak tega melihatnya jadi kuputuskan untuk menawarkan bantuan kepadanya dan ia mau menerima bantuanku dengan senang hati. Kubantu dia memanggul kayu itu sampai beberapa meter, sampai kudengar ada yang memanggil namaku dari seberang jalan. Aku berbalik dan kudapati seorang temanku yang sedang berjalan dengan temannya, bukan teman yang biasa jalan denganku, dia hanya sebatas kenal saja denganku. Ternyata ia mengenal kakek yang sedang kubantu dan mengatakan bahwa biar dia dan temannya saja yang menggantikanku untuk membantu kakek itu untuk memanggul kayu. Awalnya aku menolak karena menurutku dalam menolong orang itu nggak boleh setengah – tengah melainkan harus membantunya secara total. Tapi, temanku itu terus memaksa dan lalu kubiarkan dia dan temannya untuk menggantikanku membantu kakek tersebut.

Setelah itu merekapun berlalu meninggalkanku, aku kembali berjalan sendirian menyusuru jalan yang biasa dilalui jalan yang biasa dilewati Jade sambil melihat kanan – kiri, memperhatikan apa yang selalu dilihat Jade etika pulang sekolah dan melewati jalan ini. Tidak terasa aku sampai di jalan umum dimana banyak angkutan umum yang berkeliaran di jalan raya yang selalu menawari kendaraannya untuk aku gunakan.

###################################################################

Entah karena merasa lelah atau karena masih tidak rela untuk meninggalkan daerah sekitar sekolah tanpa melakukan apa yang sudah aku rencanakan aku tidak langsung mencari angkutan untuk pulang melainkan aku duduk di tembok yang pendek yang berada di pinggir jalan.

Aku merasa seakan – akan takdirku bukan dengannya, merasa bahwa Tuhan tidak memberikan sedikit kebaikan-Nya untuk membantku. Bayangkan saja, selama satu harian ini nggak ada satu kesempatanpun yang tercipta. Memang ada yang bilang kalau kita sendirilah yang harus menciptakan kesempatan itu, tapi ......, pada kenyataannya tidak selalu semudah itu.

Aku sudah hampir menyerah sampai ketika kupalingkan pandanganku ke arah jalan yang tadi kulalui dan aku sempat sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Kulepas kacamataku, kubersihan sebersih mungkin, kuusap kedua mataku, mengedip – ngedipkannya untuk memastikan apa yang sudah aku lihat ini benar – benar kenyataan atau bukan. Jangan – jangan apa yang aku lihat ini hanyalah fatamorgana akibat dehidrasi karena kelelahan memanggul kayu tadi. Dan ternyata, memang benar nyata. Tidak salah lagi kalau yang kulihat itu adalah Jade.

Tak pernah kusangka dan kuduga aku akan bertemu dengan Jade disaat yang seperti ini. Oh Tuhan.....terima kasih kupanjatkan kepada – Mu dan maafkan aku yang sempat meragukan kebaikan – Mu. Aku melihatnya dari kejauhan, dia sedang berjalan ke arahku.

Aku mulai kebingungan, kuperiksa kembali isi tasku. Kusiapkan hatiku dengan mantap, kukatakan berulang kali dalam hatiku
“Aku harus kenalan dengannya, sekarang atau tidak sama sekali.”
Dia berjalan melewatiku yang hanya diam terpaku, sepertinya bayangku telah terikat sesuatu yang membuatku tidak bisa melakukan apa – apa. Dia terus berjalan sampai dua meteran melewatiku. Aku melihatnya dari tempatku, kulihat dia sempat melihat kanan – kiri, mungkin saja dia sedang mencari – cari angkutan untuk pulang.
Dengan perasaan tak karuan aku berjalan mendekatinya ......

“Hi...” Sapaku.
Dia berbalik dan hanya membalas sapaanku dengan senyuman kecil.

“Lagi nunggu taksi ya?”
(Oh Tuhan ... apa yang sedang aku tanyakan? Sudah pasti kalau dia berdiri disini dia pasti ingin menunggu angkutan. Kenapa itu yang aku tanyakan? Apa aku kelihatan bodoh di depannya ya?)

“Iya.” Jawabnya singkat.
Aku terdiam beberapa saat mengagumi suaranya yang kudengar meski hanya sebuah kata. Suara kendaraan yang lalu – lalang di hadapanku seperti lenyap entah kemana.
Lalu ...

“Eh, boleh kenalan nggak?” Tanyaku sambil mengulurkan tanganku ke arahnya.
(Ayolah..., sambut tanganku...)
Bisa kurasakan wajahku memanas saat itu yang sudah pasti kelihatan memerah dan saking panasnya mungkin kalau diletakkan telur mentah diatasnya akan matang dengan mudah, hangus malahan.

“Boleh.” Jawabnya, kali ini dengan menatap wajahku.

“Namaku Yash, kalau kamu?”
Sambil memegang tanganku ia menjawab.

“Aku Litani.”

“Apa?” Tanyaku lagi dengan kepalaku yang sengaja kudekatkan kepadanya. Sebenarnya aku sudah mendengar namanya dengan sangat jelas, alasan saja supaya bisa lebih dekat dengannya. Khu...khu...khu...

“Litani.”

“Oh, Litani. Kok tumben kamu sendirian? Biasanya kan kamu dikawal sama teman – temanmu itu.”

“Iya, kata mereka, mereka masih mau ngumpul di sekolah dulu. Jadi aku pulang duluan.”

Setelah itu suasana kembali terasa hening, padahal tengah hari tapi yang kurasakan seperti tengah malam. Begitu hening, begitu sunyi.
Kulihat ada taksi kosong mengarah ke tempat kami berdua berdiri. Lalu kuhentikan taksi itu. Sebelum taksi berhenti sempat kuajak dia untuk pulang bersamaku tapi dia hanya terdiam.
Taksi yang kuhentikan sampai di tempat kami. Kulangkahkan kakiku dan ketika aku ingin naik aku kembali memalingkan wajahku ke arahnya dan tanpa kata aku menunjukkan ekspresi yang mengajaknya untuk naik bersamaku.
Awalnya kukira dia tidak mau ikut bersamaku. Ternyata dia berjalan ke taksi dan naik ke dalamnya. Kami pun duduk bersebelahan.

###################################################################

Di dalam taksi kuceritakan rencanaku untuk berkenalan dengannya, kutunjukkan gambar manga yang kubuat yang tidak jadi kutunjukkan dan ia hanya tertawa kecil melihat gambarku itu. Kami ngobrol banyak hal seperti dimana dia tinggal dan dengan siapa dia tinggal, lulusan smp mana, dan lain sebagainya.
Ketika kutanyakan dengan nama apa aku bisa memanggilnya, dia menjawab kalau aku bisa memanggilnya dengan Intan.

Sebenarnya setelah mengetahui namanya Intan barulah aku dan teman – temanku memberikan code name Jade ketika membicarakannya agar hanya aku dan teman – temankulah yang tahu.

Dan kini para kemudianers sekalian yang sudah membaca Kisahku ini kuharap bisa menjaga rahasia ini bersamaku, kalian adalah teman – temanku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer connexion
connexion at Kisahku : Kenalan Dengan Jade (11 years 50 weeks ago)
70

Litani?
wah, yash, kayaknya aku perlu disogok nie!
khu,khu,khu,khu....

Writer Hetra
Hetra at Kisahku : Kenalan Dengan Jade (11 years 51 weeks ago)
100

eh kok kasi 10... nggak papa deh...kitakan sama - sama mau invasi pekopon... yoorimas

Writer Lovely_san
Lovely_san at Kisahku : Kenalan Dengan Jade (12 years 3 days ago)
70

cara berceritamu,lain dari yang lain

Writer zupeh
zupeh at Kisahku : Kenalan Dengan Jade (12 years 3 days ago)
50

sebenernya,cerita ini menjadi sangat realistis, dimana banyak banget juga orang2 yang punya kisah serupa..
mmmmmmmmmmm,
sebenernya kisah ini lunak dan mudah dimenegerti, tapi menurutku....
terlalu banyak selipan kata (banyak rangkaian kalimat...yang unsur nya cuma buat banyak2 kin kalimat) tapi gak ada isi materi nya, cuma bikin alur cerita jadi kemana mana..........
trus, sebenernya...litani atau intan,yang punya nama samaran jade.........
........
tapi, salut buat yang bikin cerita, shy story!!!

Writer aris jokiez
aris jokiez at Kisahku : Kenalan Dengan Jade (12 years 4 days ago)
50

hmmm.....panjang amat...gk isa dimengerti