The Last Battle - Tourein Svortat

Hari-hari berikutnya adalah saat paling sibuk bagi seluruh penduduk Danqurk. Setelah pengumuman dari Raja Hoque, seribu orang secara sukarela bergabung sehingga jumlah total pasukan Danqs kini mencapai empat ribu. Oleh Jendral Torrere, panglima Danqs, mereka dikumpulkan di barak-barak dan segera dilatih ilmu dasar peperangan.

Sementara itu penduduk lainnya terus membantu memperkuat pertahanan kota dan mengumpulkan bahan makanan untuk disimpan di lumbung-lumbung. Seluruhnya bekerja, tak terkecuali wanita dan anak-anak. Semua orang semakin percaya diri, tapi anehnya, juga semakin tegang. Mereka tahu waktu penentuan semakin dekat.

Seminggu setelah kedatangan William dan pasukan Lafette, akhirnya datang jugalah kabar yang ditunggu-tunggu. Ditunggu semoga tidak terjadi, tapi mau tidak mau pasti terjadi. Nicolas diajak oleh ayahnya untuk berkumpul bersama Hoque, Stevan dan Torrere di markas yang terletak di menara utara Istana Danqurk untuk membicarakan kabar tersebut.

Quazar Tomassi dan seluruh prajurit Elniri akan tiba di sini tiga hari lagi.” Hoque bersandar gelisah di kursinya. ”Dan belum ada tanda-tanda kedatangan pasukan dari Haston, Melborn atau Terran.”

”Tampaknya kita memang sendirian,” kata Torrere pelan.

”Kita masih punya waktu tiga hari,” balas William, tetap tenang. ”Kita masih bisa berharap mereka akan datang.”

”Dan jika tidak?” tanya Hoque sangsi.

”Kita akan bertahan dengan kuat,” jawab William. ”Seperti yang telah kita rencanakan.”

”Dan membunuh musuh kita sebanyak-banyaknya.” Stevan menimpali.

”Termasuk diri kita sendiri?” sahut Torrere.

”Kita mungkin akan selamat, Torrere.” Stevan menyeringai. ”Aku sendiri ingin pulang ke Lafette dengan selamat.”

”Ya, Stevan.” Torrere tersenyum kecil. ”Aku pun ingin datang ke pesta kecilmu.”

”Terima kasih. Aku dan istriku, setelah kami menikah tentu saja, akan menunggumu di rumah kami yang sederhana.” Stevan membungkuk hormat.

William mengangguk senang melihat dukungan semangat yang ditunjukkan oleh Stevan, dan juga Torrere. Ia berkata gembira, ”Kalian lihat? Semua akan baik-baik saja.”

Nicolas melihat semua orang di sekelilingnya tersenyum. Sepertinya seluruh kekhawatiran mereka tadi lenyap seketika. Tapi, benarkah demikian? Apakah berarti, hanya dirinya sendiri sekarang yang masih khawatir?

Saat itulah seorang pengawal masuk ke dalam ruangan untuk menghadap Hoque, dan melapor, ”Yang Mulia, ada seseorang yang ingin menemui Anda semua.”

”Siapa?” tanya Hoque.

”Seorang ksatria. Tapi dia bilang jangan beritahu dulu namanya. Ia ingin memberi kejutan.” Sang pengawal tersenyum tipis.

Melihat senyuman itu William langsung ikut tersenyum, demikian pula Stevan. Sementara yang lain menatap mereka berdua tak mengerti.

William tertawa sambil menoleh ke arah Stevan. ”Dia. Dia memang tak pernah berbakat membuat kejutan.”

”Dia terlalu jujur, Guru. Tidak pernah berubah sejak dulu,” balas Stevan. ”Mestinya dia tidak usah bilang ’ksatria’.”

Sang pengawal membukakan pintu, dan mempersilakan seorang lelaki gagah memasuki ruangan. Lelaki itu, sang ksatria, bertubuh jangkung hampir sejangkung William, dan mengenakan jubah panjang berwarna hitam yang menutupi hampir seluruh kepala dan tubuhnya. Saat ia membuka tudung kepalanya, tampaklah wajahnya yang tampan dengan alis coklat tebal dan sorot mata yang tajam, dengan rambut coklat muda yang dicukur tipis. Ia tersenyum kepada semua orang yang hadir.

”Selamat malam, Tuan-tuan.” Sang ksatria membungkuk hormat. ”Aku belum kehilangan saat-saat yang paling menyenangkan, bukan?”

”Tidak, Kakak.” Stevan tersenyum lebar dan segera memeluknya dengan hangat. ”Kau selalu datang pada saat yang tepat.”

Ksatria itu mengangguk, lalu berpaling menatap William beberapa lama, dan tiba-tiba ia berlutut di hadapan sang pangeran. ”Guru, aku benar-benar minta maaf karena baru bisa menemuimu sekarang.”

Cepat-cepat William mengangkatnya. ”Pierre, kebanggaanku, berdirilah.”

Mereka berdua berpelukan, dan William berkata lagi, ”Kapan terakhir kita bertemu? Tujuh tahun yang lalu?”

”Ya, Guru.” Pierre meringis saat menjawab, seolah hatinya dipenuhi perasaan bersalah. ”Memang sudah terlalu lama.”

William mengangguk. ”Aku mendengar banyak kabar tentang keberadaanmu di Terran, Windell, Alton, Melborn, dan lainnya. Kurasa kau sudah berkelana hampir ke seluruh negeri.”

Pierre tersenyum. ”Kuharap bukan kabar buruk yang kau dengar, Guru.”

”Tentu saja tidak.” William tertawa kecil. ”Kabar yang membuatku bangga, sudah pasti.”

Namun Pierre tertegun, seperti teringat sesuatu. Ia berpaling kepada Raja Hoque, dan segera membungkuk hormat. ”Yang Mulia, apa kabar? Kuharap aku bisa membantumu lagi.”

”Tuanku Pierre, aku baik-baik saja.” Hoque tanpa ragu memeluknya pula. ”Jangan sungkan, anda sudah terlalu banyak membantuku sebelumnya.”

Torrere pun memeluknya dengan akrab. ”Senang bertemu kau lagi, Pierre.”

Kepada Nicolas, Pierre juga datang dan memeluknya tanpa ragu. ”Nicolas, terakhir aku melihatmu kau masih berumur sepuluh tahun. Sekarang kau sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Hebat. Kau akan membuat ayahmu bangga.”

”Terima kasih, Tuan.” Wajah Nicolas berseri-seri, tapi ia hanya bisa menjawab singkat.

Sesungguhnya Nicolas benar-benar takjub dengan kehangatan yang dibawa masuk oleh Pierre. Ketika ia melihat semua orang memeluk ksatria itu, ia segera tahu bahwa ksatria ini memang orang yang sangat dicintai. Dan mungkin tidak hanya di sini, tapi juga di seluruh tempat lainnya di dunia timur yang pernah didatanginya.

Saat Nicolas dulu terakhir bertemu dengannya, ia memang belum terlalu mengenal Pierre. Saat tahun demi tahun berlalu, ia lalu mendengar beberapa petualangan Pierre di negeri-negeri yang jauh. Yang paling terkenal adalah pertempuran-pertempurannya melawan gerombolan perampok. Bagi Nicolas, semua kepopuleran itu adalah pencapaian yang luar biasa mengingat umur Pierre sekarang baru dua puluh tujuh tahun. Nicolas belum terlalu mengenalnya, dan sekarang ia berharap bisa menjadi lebih dekat dengannya.

Pierre, Ksatria Ketigabelas di Kuil Ksatria adalah murid William sebagaimana halnya Stevan. Ia adalah putra Alain dan Sarah—putri Amelia, adik sepupu Fabian sang pemimpin para ksatria di masa lampau. Ia diangkat oleh William sebagai muridnya pada usia lima belas tahun, dan sejak saat itu tinggal di Lafetton dan berlatih berbagai ilmu kependekaran. Saat berusia dua puluh tahun ia sudah menjadi pendekar pedang yang tangguh hampir menyamai gurunya, dan kemudian meninggalkan Lafetton untuk pergi ke Gunung Hohn. Di sana ia diangkat menjadi ksatria oleh Daryn, sang pemimpin Kuil Ksatria saat ini. Setelah itu ia mulai berkelana ke berbagai negeri dan mendapatkan nama harumnya.

Kini Pierre terkenal dengan sebutan Tourein Svortat—Si Pedang Kembar—karena senjata utama yang dipakainya adalah sepasang pedang yang berbentuk melengkung dengan panjang lebih dari tiga kaki. Kepopulerannya sedikit demi sedikit mulai menutupi para ksatria lainnya yang lebih senior, dan banyak yang percaya bahwa dialah yang nanti akan diakui oleh rakyat sebagai pendekar nomor satu dunia di masa depan, menggantikan William.

Setelah berpamitan pada Hoque dan Torrere, Pierre lalu diajak William berbincang-bincang di tenda mereka bersama Stevan dan Nicolas. Di sana Pierre menceritakan beberapa petualangannya dan juga keadaan di Kuil Ksatria saat ini.

”Bagaimana kabar Daryn?” tanya William.

Pierre mengangguk, tampaknya paham bahwa Daryn adalah satu-satunya ksatria dari generasi William yang masih tersisa sekarang, jadi wajar jika dialah yang ditanyakan oleh gurunya itu terlebih dahulu. ”Kabarnya baik-baik saja," jawabnya. "Ia masih cukup sehat, walau mungkin tidak sekuat dirimu. Ia akan datang kemari bersama para ksatria lainnya sekitar lima hari lagi.”

”Lima hari?” William terdiam, lalu manggut-manggut. ”Itu cukup bagus.”

”Tapi Elniri akan datang dalam waktu tiga hari, Ayah,” sahut Nicolas.

”Kita bisa bertahan,” jawab ayahnya tenang.

”Guru tidak usah khawatir, pasukan lain dari utara juga akan datang,” kata Pierre lagi.

Senyum William melebar. ”Bagaimana kabar yang kau dapat?”

”Saat aku sampai di Melhaus, pasukan dari Windell juga sudah hampir sampai di sana, dan bersama pasukan Melborn mereka akan berangkat kemari,” jawab Pierre. ”Kudengar pasukan Terran juga sudah berangkat dari Newton.”

”Bagaimana kekuatan mereka?” tanya William antusias. ”Kapan mereka datang?”

”Pasukan Windell berjumlah dua ribu orang, sedangkan pasukan Melborn yang akan pergi sekitar empat ribu orang. Perkiraanku mereka akan sampai lima hari juga,” Pierre menjelaskan. ”Kudengar pasukan Terran yang pergi berjumlah empat ribu orang pula. Mereka akan sampai dalam waktu enam hari.”

”Melborn punya delapan ribu prajurit, sementara Terran punya sepuluh ribu prajurit. Kenapa mereka hanya mengirim separuhnya?” tanya Stevan gusar.

”Melborn dan Terran selalu saling curiga sejak dulu,” jawab Pierre. ”Mereka tak berani mengirim seluruh prajuritnya, masing-masing takut salah satu di antara mereka berkhianat. Cuma Windell yang berani, padahal hubungan mereka sebenarnya juga sedang tidak baik dengan Terran.”

William mengangguk. ”Ya. Aku selalu bisa mengandalkan Jonathan dari Windell.”

”Ada kabar juga dari Haston?” tanya Stevan.

”Belum begitu jelas,” jawab Pierre. ”Yang kudengar Jendral Gerets akan memimpin langsung sepuluh ribu prajurit, tapi mereka mungkin juga baru sampai enam hari lagi.”

”Itu kabar bagus,” kata William.

”Tidak ada yang kurang dari tiga hari, Guru,” kata Pierre.

”Ya, aku tahu.” William mengangguk dan menatap semuanya satu per satu. ”Nicolas anakku, dan kalian berdua yang juga sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, tampaknya memang seperti inilah yang harus terjadi. Kita harus bertempur dengan kekuatan kita sendiri. Aku ingin kalian semua paham apa yang akan kalian hadapi nanti. Sebuah perang. Kematian. Darah. Kepala menggelinding di depan mata kalian. Selama berpuluh-puluh tahun kita hidup dengan damai. Kalian belum pernah melihat peperangan sebelumnya. Kalian melatih para prajurit dengan keras, bertempur dengan para perampok, tapi hanya aku, anak-anakku, yang pernah mengalami pertempuran yang sesungguhnya. Dulu aku selalu berharap tidak akan pernah mengalaminya lagi, dan semoga anak-anakku pun tidak akan pernah mengalaminya. Tapi dalam hati aku tahu, suatu waktu itu akan terjadi.”

”Sejak dulu kau tahu ini akan terjadi, Guru, oleh karenanya kau melatih kami dan seluruh prajurit Lafette hingga menjadi seperti sekarang,” kata Pierre tenang. ”Tapi Guru, kau juga harus paham ini. Bagiku, ini adalah kesempatan yang telah lama kutunggu-tunggu, untuk menunjukkan baktiku di hadapanmu. Aku siap bertempur di sampingmu, Guru, dan bersama-sama kita akan menghancurkan musuh kita.”

”Aku juga, Guru,” kata Stevan tak mau kalah.

Nicolas juga cepat menjawab, ”Aku juga sudah siap, Ayah. Kalau boleh, aku juga ingin bertempur di barisan depan bersamamu.”

William menggeleng. ”Tidak, Nicolas. Seluruh strategi sudah kita atur sebaik-baiknya. Tugasmu adalah memimpin para pemanah di dinding barat. Aku membutuhkanmu di sana.”

”Ya, Ayah,” jawab Nicolas perlahan.

William memandanginya dalam-dalam. Tampaknya ia bisa melihat bahwa di balik semangat yang ditunjukkan oleh Nicolas, sebenarnya ada rasa takut yang mencuat dari sorot mata putranya itu. Ia berkata, ”Kita akan melihat apa yang terjadi di hari pertama, Nicolas. Semua kemungkinan bisa terjadi. Aku hanya bisa meminta agar kau tetap mengikuti kata-kataku, dan mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya.”

Nicolas mengangguk mengerti. Untuk saat ini, tak satu pun kata-kata ayahnya yang bisa dibantah. Ayahnya adalah pendekar terbesar di dunia, pahlawan dalam banyak pertempuran. Sementara ia sendiri, hanyalah seorang bocah hijau yang belum pernah membunuh satu orang pun seumur hidupnya. Ia sudah berlatih keras dengan pedang dan busurnya, dan ingin sekali menunjukkan keterampilannya di depan ayahnya, namun di dalam hatinya ia juga merasakan sedikit ketakutan menghadapi perang yang makin mendekat ini.

Itu adalah rasa takut yang wajar, dan pasti dialami semua orang di dalam kota ini. Tapi sebagaimana seluruh prajurit Lafette lainnya, ia telah dilatih keras oleh ayahnya untuk menaklukkan rasa takutnya. Tentu saja ia tak boleh menunjukkannya sedikit pun sekarang. Apalagi ayahnya telah memberinya tugas memimpin seribu orang pemanah di dinding barat. Nicolas tahu, ia tak boleh gagal.

Read previous post:  
57
points
(2061 words) posted by Villam 12 years 19 weeks ago
71.25
Tags: Cerita | kehidupan | Cinta | fantasi | villam
Read next post:  
Writer Nanasa
Nanasa at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 36 weeks ago)
90

yu huuuuu
pa kabar idolaku??
waah, makin seru aja nich page :)
Yap, setuju ma teman2 yg lain, dah saatnya terbit nich, semangat semangattt...

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 36 weeks ago)

nanas, setelah hilang sekian lama, akhirnya muncul juga kamu.
ayo semangat semangat. terbitin terbitin... hahah...

Writer ubr
ubr at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 50 weeks ago)
100

Semakin banyak agenda, kegiatan dan kepentingan tokoh-tokoh yang berkaitan dengan perang terakhir berkumpul membuat perang mendatang semakin berarti. Ah, cerita yang layak buat bahan studi banding...

90

K.com emang ebat. penulis di sini pada ebat-ebat semua.

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 51 weeks ago)

... buat teman2 yang sudah berkenan membaca dan memberi komentar.

@d757439 (buset namanya kok kayak gerombolan siberat? hehe...), thanks...

@elbintang, sebenernya motif2 tersebut sudah coba kubuka di bagian2 sebelumnya, dan ada juga nanti (sedikit) di bagian selanjutnya.

@tedjo, bamby dan alfare, thanks. kuanggap semuanya itu sebagai doa yak. amin. tentang kenapa aku sampe bikin ekspansi cerita ini, dan juga semua batang dan akarnya itu, mungkin semata-mata karena aku cinta tokoh-tokohnya, dan selalu menyenangkan menulis tentang mereka--hidup dan mati.

Writer Alfare
Alfare at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 51 weeks ago)
100

Tulisan Bung Villam ini menurutku sudah sangat layak terbit, bersama pula seluruh legendarium pribadi yang telah Bung buat. Saya yakin penggemarnya bisa sangat banyak bila nanti bisa dibukukan (sampai tamat).

Di bagian ini, intrik yang dikembangkan mungkin tak mudah diikuti oleh sebagian orang karena banyaknya 'tokoh dan sejarah'. Tapi menurut saya, ini malah bisa jadi daya tarik tersendiri. Aku jadi bertanya-tanya, sebetulnya yang mula-mula mendorong Bung membuat ekspansi cerita The Last Battle ini apa ya?

Hmm, kalo terus begini, nota-nota iseng yang Bung buat juga bahkan bisa menghasilkan uang.

Berjuanglaaaah! Aku sangat mendukuuuung! Cerita2 Bung Villam adalah sekian sedikit cerita di kcom yang membuat aku yang malas ini mau memaksakan diri ngasih komen!

100

Betul sekali, ceritamu sudah layak dibukukan. Ilustrasi sudah oke tuh di situs www.rdvillam.com hehehe

Writer Tedjo
Tedjo at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 51 weeks ago)
100

Saya bukan penikmat genre fantasi, jadi saya nggak berasa baca cerita ini, hehe..:) Tapi keknya udah lulus lah dirimu dari K.com ini. Yak gimana lagi tulisanmu sudah rapi. Jadi kapan cari media lain...GPU, bentang etc kekeke

salam.
tdj.

Writer elbintang
elbintang at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 52 weeks ago)
90

villam,
ceritamu selalu memukau, master :-)

kalu orang awam sepertiku ini dibolehkan bertanya : kapankah/adakah pembaca bisa mengetahui alasan William dan orang2 hebat ini bersiap berdarah2 menukar nyawanya selain menjaga wilayah kekuasaan? juga se"buas" apakah lawan yang bakal mereka hadapi?

ah maafkanlah kalau ternyata itu sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Tunjukkan saja arahnya, mungkin aku harus membacanya kembali :-)

---------------------------------
pemandu sorak fantasi dalam negeri :-)
---------------------------------
cheers!

Writer d757439
d757439 at The Last Battle - Tourein Svortat (11 years 52 weeks ago)
90

keren lkak villiam