The Last Battle - Precia Zaranina

Menjelang kedatangan pasukan Elniri, Nicolas tak pernah lepas mengawasi kesiapan pasukannya. Berhari-hari, tanpa henti ia berkeliling memeriksa pertahanan di dinding barat, kemudian berbicara dengan para prajuritnya satu per satu, menanyakan kondisi mereka dan juga memeriksa persenjataannya, bahkan saat malam ia pun tidur bersama mereka.

Dalam inspeksinya di hari terakhir, ayahnya tersenyum bangga melihatnya, dan bagi Nicolas tak ada yang lebih berharga daripada itu. Namun pada saat ia mengira kunjungan tersebut adalah yang paling istimewa, kejutan lainnya datang. Di siang hari yang sama, ketika ia tengah makan bersama para prajuritnya di dalam markas sempitnya—di salah satu lantai tengah menara dinding barat—seorang prajurit mendatanginya dengan tergesa-gesa.

Prajurit itu berbisik, ”Yang Mulia, Putri Zaranina datang kemari.”

”Apa? Zaranina kemari?” Nicolas terpana. Satu, dua, tiga--ia baru tersadar setelah tiga hembusan napas. Buru-buru ia menelan segumpal makanannya yang tersisa di piring dan meneguk segelas minuman. Prajurit yang melapor itu menyeringai sementara para prajurit lain terkekeh melihat tingkahnya, namun Nicolas tak peduli.

Dengan jantung berdebar Nicolas bergegas menaiki anak tangga yang melingkar berlawanan arah jarum jam—tangga menuju puncak benteng memang sengaja dibuat sempit seperti itu tanpa pagar atau pegangan di bagian tengahnya, untuk mempersulit para penyerang yang datang dari bawah dalam mempergunakan pedangnya, karena mereka terpaksa harus menggunakan tangan kanan mereka yang berpedang sekaligus untuk berpegangan pada dinding di sebelah kanan.

Ia melompat keluar dari dalam lorong menara, dan melihat Putri Zaranina, dengan rambut panjangnya yang berkibar-kibar ditiup semilir angin sedang berdiri di atas benteng. Gadis itu tengah memperhatikan beberapa prajurit Danqs yang bekerja membereskan batu-batu untuk ketapel raksasa mereka. Dua orang pelayan wanita berdiri tak jauh di belakangnya. Keduanya berbisik pada sang putri begitu melihat kemunculan Nicolas. Zaranina menoleh dan tersenyum manis pada Nicolas.

Cepat-cepat Nicolas menundukkan kepalanya untuk memberi hormat, sekaligus untuk menutupi wajahnya yang memerah malu. ”Tuan Putri, ini kejutan bagi kami, kau mau datang kemari.”

”Ah, tidak. Bukan kejutan mestinya.” Zaranina tersenyum lagi. ”Kurasa memang sudah seharusnya aku berkeliling melihat kesiapan para prajurit yang gagah dan berani ini. Bagaimana kabarmu, Tuanku?”

”Aku baik-baik saja.” Nicolas mengangkat wajahnya. ”Bagaimana denganmu?”

”Aku pun baik-baik saja,” jawab Zaranina, yang lalu meringis. ”Tapi aku tetap tidak bisa menutupi kekhawatiran di wajahku, bukan?”

”Mmm ...” Nicolas berpikir sebentar, sambil menggunakan kesempatannya untuk memandangi wajah gadis itu. ”Kau tidak perlu menutupinya. Itu wajar saja, bukan?”

”Tapi aku harus,” balas Zaranina. ”Aku adalah putri mahkota di kerajaan ini, dan aku harus selalu menunjukkan ketegaranku di depan rakyat, apapun yang terjadi.”

”Tuan Putri, kau punya pilihan untuk pergi mengungsi dari tempat ini,” kata Nicolas hati-hati. ”Kau bisa pergi ke negeriku di timur. Aku yakin rakyatmu tak akan keberatan, dan ibuku juga akan menerimamu dengan senang hati. Kenapa kau tidak melakukannya?”

”Dan meninggalkan rakyatku di sini?” Zaranina tertawa kecil. ”Katakan padaku, apakah kau akan melakukan hal seperti itu seandainya kau berada pada posisiku?”

”Tidak,” jawab Nicolas. ”Tapi aku seorang prajurit. Ini tugasku.”

”Maksudmu, aku tak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh prajurit sepertimu?”

Nicolas terdiam sesaat, lalu berkata, ”Aku rasa kau bisa, Tuan Putri.”

Zaranina tertawa. ”Tidak usah berlebihan, Tuanku. Aku bisa bermain pedang dan melindungi diriku sendiri, tapi tentu saja aku tidak bakal bisa menjadi prajurit gagah sepertimu. Aku tetap seorang wanita yang lemah, tidak lebih.”

”Hm, ya ...” Nicolas menjadi bingung, tak tahu harus berkata apa.

Zaranina berkata, ”Tapi walau begitu, aku tetap memilih untuk tinggal di sini.”

”Mengapa?”

”Karena jika aku ingin menjadi pemimpin bagi rakyatku, aku harus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatku. Ketakutan, kemarahan, kesedihan, rasa sakit, dan juga kegembiraan, jika nanti kita berhasil mengalahkan musuh kita.” Kata-kata Zaranina terdengar begitu mantap, dan wajahnya begitu tegar. ”Kau setuju?”

”Kita tak akan merasakan apa-apa kalau kita sudah mati,” jawab Nicolas datar.

”Itu benar.” Zaranina termangu. Matanya menerawang. ”Kadang aku juga berpikir keputusanku ini mungkin salah. Kau pikir kita akan mati di sini?”

”Aku harap tidak. Tapi segalanya mungkin, Tuan Putri.”

”Lalu mengapa kau datang kemari?”

“Aku?” Selama beberapa saat Nicolas mencoba memikirkan jawaban yang paling tepat, dan akhirnya menjawab. “Memang sudah menjadi tugas kita untuk bertempur melawan pasukan Elniri.”

Zaranina menatapnya, “Tuanku, kami rakyat Danqs sangat berterima kasih atas kesediaan pasukan Lafette berjuang bersama kami. Aku memberi hormat padamu, ayahmu, dan seluruh prajurit kalian.” Ia membungkukkan tubuhnya tanpa ragu di hadapan Nicolas, kemudian tersenyum kembali. “Tapi, Tuanku, aku telah jujur mengatakan perasaanku padamu, maka kau pun tak usah ragu-ragu mengatakan perasaanmu yang sesungguhnya padaku.”

Nicolas balas menatapnya. Sesaat ia masih bingung apa sebenarnya maksud Zaranina, tapi ia lalu segera menyadarinya. “Maksudmu alasan sebenarnya aku ada di sini?”

“Kalau kau tidak keberatan.” Zaranina menunggu.

Nicolas menelan ludah, “Karena ayahku.”

Zaranina mengerutkan dahinya. “Ayahmu memaksamu ikut kemari?”

Nicolas menggeleng cepat. ”Sebaliknya. Ia sebenarnya tidak ingin aku ikut kemari.”

”Aku mengerti. Setiap ayah mungkin akan melakukan hal yang sama.” Zaranina mengangguk. ”Kau ingin membuktikan sesuatu pada ayahmu?”

”Tidak persis seperti itu. Tapi ... mungkin juga. Yang jelas aku ingin menunjukkan baktiku pada ayahku. Semacam itulah,” Nicolas berkata perlahan, berusaha mencari kata-kata yang tepat. ”Kau tahu, Tuan Putri, ayahku datang kemari dengan keyakinan yang tinggi bahwa ia mampu mengalahkan musuhnya. Semua orang yang sebelumnya ragu, begitu melihat kesungguhan di wajahnya, akan menjadi percaya bahwa ia sendirian akan mampu menaklukkan ribuan prajurit musuh. Dan itu telah membakar semangat kami semua untuk melakukan hal yang sama sepertinya. Tapi, aku juga telah melihat ciuman perpisahan yang diberikan oleh ayahku pada ibuku. Ayahku sepertinya sudah siap menghadapi kematian. Sementara aku sendiri sebenarnya belum siap untuk itu. Kau mengerti? Rasanya sedikit ... aneh. Aku sangat kerdil bila dibandingkan dengannya. Aku ingin bisa menjadi seperti dia, tapi rasanya aku masih butuh waktu yang sangat panjang.”

Zaranina tertawa kecil. ”Aneh, bukan? Sepertinya aku juga merasakan hal yang sama. Aku bersemangat, tapi juga takut, karena sebenarnya aku memang belum siap.”

”Ayahku kelihatannya juga tahu kalau aku takut, tapi sepertinya ia tidak begitu khawatir,” lanjut Nicolas. ”Ia sepertinya tahu benar apa yang akan dihadapinya, dan apa yang harus dilakukannya.”

”Mungkin itu pertanda bagus,” kata Zaranina gembira. ”Ayahmu paham mengenai perang jauh lebih banyak daripada semua orang yang ada di sini. Kalau ia tidak khawatir, apa lagi yang harus kita khawatirkan?”

”Ya, aku hanya ingin tahu sebenarnya apa yang ia pikirkan,” ujar Nicolas.

Zaranina tersenyum. ”Menurutku, Tuanku, tak terlalu penting bagi kita untuk coba memahami apa yang dipikirkan oleh ayahmu. Bukankah ia telah mengatakan dengan jelas seluruh maksudnya? Jika kita terus memikirkannya, itu hanya akan membuat kita menjadi bimbang. Yang penting adalah kita tahu apa sebenarnya perasaan kita. Jika kita jujur pada diri kita sendiri, kita pasti akan merasa lebih baik.”

Nicolas tertegun mendengar penjelasan dari Zaranina, lalu tersenyum lebar. ”Berbicara denganmu membuatku merasa lebih baik. Itu jelas.”

”Aku juga, Tuanku.” Zaranina membungkuk memberi hormat. ”Kau lihat? Tak usah berbincang langsung dengan sang pendekar nomor satu, cukup dengan putranya saja sudah cukup untuk membuatku merasa lebih baik dan bersemangat. Aku percaya kau akan menjadi pemimpin yang baik untuk rakyatmu, suatu hari nanti.”

”Kau juga, Tuan Putri.” Nicolas membalas penghormatannya. ”Kuanggap itu sebagai doa buat kita, bahwa kita tidak akan mati dalam beberapa hari ini.”

Zaranina tertawa kecil, setengah getir. ”Semoga Tuhan memberkati kita.”

Sang putri Danqs itu memberi salam, kemudian dengan anggun berjalan meninggalkan Nicolas bersama kedua orang pelayannya.

Nicolas memandangi sosok gadis itu dengan perasaan hangat yang sulit untuk ia jelaskan. Begitu anggun dan dewasa; benar-benar seorang gadis yang luar biasa. Benar-benar bohong kalau ada pemuda yang tidak langsung jatuh hati begitu berbincang-bincang dengan Zaranina.

Benarkah? Kalau begitu, sebaliknya apa yang bisa membuat gadis itu jatuh hati pada seorang pria? Nicolas bertanya-tanya. Apakah kira-kira ia sudah bisa membuat Zaranina jatuh hati? Bisakah ia membuatnya jatuh hati?

Nicolas menggelengkan kepalanya. Ini pikiran yang menyesatkan! Ia punya tugas penting dari ayahnya, bagaimana mungkin ia mengotori pikirannya dengan hal-hal seperti ini?

Ia pun segera mengalihkan perhatiannya pada pedang yang tergantung di pinggangnya, kemudian pada busurnya yang tergantung di dinding. Ia berharap itu semua akan mampu menghilangkan pikirannya terhadap Zaranina.

Read previous post:  
76
points
(1833 words) posted by Villam 11 years 52 weeks ago
84.4444
Tags: Cerita | drama | Cinta | epik | fantasi | villam
Read next post:  
Writer smith61
smith61 at The Last Battle - Precia Zaranina (9 years 8 weeks ago)
100

bgian ini yang terasa paling gak penting *plak*

Writer humerus
humerus at The Last Battle - Precia Zaranina (9 years 32 weeks ago)
100

BRAVOOOO! kaka villiam emang juara!

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 49 weeks ago)

... buat teman-teman yang telah berkenan membaca dan meberi komentar.

@ronfor, bisa jadi memang begitu.

@bl09on, hehehe... benar-benar janggalkah seperti itu?

@diakon, hahaha... gimana caranya aku bisa membantumu?

@dian, flaw-flawnya nanti kuperbaikin ya... thanks.

@rei, kok ada basa jepang? aku gak ngerti. haha...

@elbintang, bukankah menyenangkan membuat sosok-sosok yang keren dan baik hati? hehe...

@alfare, i got your point. thank you very much. mudah-mudahan adegan ini nanti memang ada artinya. tentang banyaknya tokoh-tokoh, kayaknya ini belum seberapa deh. heheheh...

@feline, iya ditambah sedikit bumbu rujaknya.

@ubr, let's see the ending. semoga tidak mengecewakan.

Writer ubr
ubr at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
100

Hm, ceritanya terus berlanjut di jalan 'light' hingga happy ending setelah perang, atau, terdapat percabangan cerita ditengah jalan yang dapat merubah happy ending itu (Arthas W3:RoC)? hanya kak Villam yang tahu :)

Writer Feline
Feline at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
90

Menarik juga, sedikit selingan sebelum perang.

Writer Alfare
Alfare at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
90

Bung Villam... uh, kayaknya mulai ada masalah di sini. Tapi mungkin juga enggak sih, karena ini berkaitan dengan seleraku. Toh secara teknis ga salah juga. Tapi aku sampaikan saja deh.

Kalo dalam percakapan2 panjang selama bab2 ini enggak ada makna terselubung yang dapat tersampaikan, kupikir ada resiko yang bisa berakibat koherensi cerita jadi runtuh. Tapi sejauh ini enggak masalah sih, karena banyak kenyataan tentang situasi latar emang paling baik diungkap lewat percakapan2 ini. Persis kayak yang Akang Yamato lakukan dalam serial TFS-nya.

Cuma, Bung... tokoh-tokoh di sini, hanya sampai pada bagian keenamnya aja, udah BANYAK. Dan kesemuanya tampaknya adalah 'ensemble cast' yang masing-masing kayaknya punya kepentingan peranan yang sama, jadi enggak ada fokus tertentu terhadap salah satu di antara mereka. Ini bisa memicu kesulitan buat pembaca mengingat siapa itu siapa, mengingat kekhasan sifat tiap karakter seingatku masih belum terlalu banyak ditonjolkan.

Kalo saran saya, coba deh, perhatiin lagi adegan pertemuan pertama Fellowship di rumah Elrond. Meski panjang, itu semua mudah dicerna karena tersampaikan secara runut dan... uh, berulang. Serta cukup jelas arahnya mau dibawa ke mana.

Tapi yah, aku sendiri mungkin masih belum cukup pantas buat ngomong begini. Tapi ekian pendapatku.

Writer elbintang
elbintang at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
100

takjub.

wah, Zaranina memang puteri yang keren. Pendidikan dan bimbingan ortu dan sekitarnya pasti hebat.

TOB!
---------------
pemandu sorak fantasi dalam negeri
cheers!

Writer rEi_NiJimA
rEi_NiJimA at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
90

kakak Villam..
Dareka...Anata wa..?
tulisan kakak membuat pembaca hanyut ke dalam masa peperangan itu..
Zaranina..tokoh wanita yang kuat perangainya..bgs..

Writer dian k
dian k at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
100

hooo.. sisi lain dari perang. mengulur ketegangan sejenak.

aq suka kegugupan nicolas karena kedatangan Zaranina, tergambar baik.
lucu tapi tidak berlebihan, dan masih terasa wajar.

ah, soal detil tangga! aq gak pernah mikir sampai sejauh itu! dan sebenarnya
hal2 seperti itu memang harus dipikirkan dalam pembuatan sebuah benteng. applause, villam ^_^

waktu zaranina meminta nicolas untuk mengutarakan perasaannya, aq ikutan bingung. pov-nya udah oke tuh! :)

seperti biasa, dialog2 di tulisanmu membuat personality karakter terbaca dalam sekejap. show, not tell.

aq suka bagian akhirnya, Nicolas yg secara halus menyadari perasaannya pada Zaranina. cute.

note: kukasih nilai sempurna, karena tulisan ini deserve it, plus buat genapin poinmu jadi 7000. hehehe :D

Writer Diakon
Diakon at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
90

ajarin nulis keren kaya kakak doong...

Writer bl09on
bl09on at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)

Aw keren mas. Ap lg tentang deskripsinya mengalir ga bosenin. Rapi bgt ttg desain benteng pemikiran zaranina etc. Mini suka euy.
Tp ada panggilan yg terasa ganjil. Antara tuanku dan ayahmu. Apa tdk sebaiknya ayah tuan. Kalo ayahmu kok rada gmn gtu.

Writer bl09on
bl09on at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
80

Aw keren mas. Ap lg tentang deskripsinya mengalir ga bosenin. Rapi bgt ttg desain benteng pemikiran zaranina etc. Mini suka euy.
Tp ada panggilan yg terasa ganjil. Antara tuanku dan ayahmu. Apa tdk sebaiknya ayah tuan. Kalo ayahmu kok rada gmn gtu.

Writer ronfor
ronfor at The Last Battle - Precia Zaranina (11 years 50 weeks ago)
40

cerita sebagian besar berisi dialog panjang. plot cerita kurang kuat