Walking With Papa_ep1-2

Haruna yang memperhatikan penjelasan sirkuit di sebuah buku, merasa sedikit tidak bersemangat membacanya.

“Kelihatannya seperti manusia, tapi sebetulnya dia mesin dengan kulit elastis,” katanya sambil melihat-lihat kulit A-3. dan mengetuknya sesekali. Ia membaca bagian sirkuit yang mempelajari reaksi orang…

Buku itu langsung dibuang entah dimana. “Nggak ngerti!” katanya sambil berbaring di sofa dan mengaruk-garuk pantatnya. Oh iya…dia belum mandi lho..wah joroknya. Inilah kelakukan orang 20 tahun.

“PAPA! Cari guguknya yuk!” teriak A-3 membuat Haruna untuk menurut saja.
<><>
Dengan menghisap rokoknya. Ia berjalan di sekitar taman mencari anjing ya hilang dan bersama A-3 yang sedari tadi menyanyi-nyanyi ria di depannya.

“Padahal aku nggak ngerti apa yang aku pikirkan waktu kecil,” katanya dalam hatinya sambil terus berjalan.

“kau tidak tahu apa yang kau cari.”

Tidak ada yang aku cari. mendadak Haruna mengingat sesuatu ketika puntung rokoknya jatuh ke tanah. Aku tidak punya apa-apa. Dan aku benci anak kecil ia terus saja berkata dalam hatinya tanpa menghiraukan A-3 yang sedang memetik bunga.

“Ini buat papa! Papa senang’kan?”

Haruna lalu menutupi bibirnya dan setengah wajahnya yang mengeluarkan ekpresi kaget itu, dan pipinya mengeluarkan rona merah tomat. Dan sepertinya akhirnya ia menganggap A-3 manis juga. Tapi sepertinya A-3 belum mengerti hal ini. Dan haruna pun membuang mukanya dari A-3. Sampai di taman bermain pun, haruna tetap mengacuhkan A-3.

“Ada yang lihat anjing ini?” tanya Haruna kepada anak-anak yang sedang asyik bermain sambil memperlihatkan sebuah foto. Namun sepertinya anak-anak kecil itu tidak mengetahuinya.

“Mana-mana?” tanya ibu-ibu yang juga sedang ngerumpi di sana. “Kami bantu deh! Masih muda sudah jadi papa,ya! Duh kulitnya halus.” Kata ibu-ibu itu lagi dengan nada yang kecentilan.

“Aku mama Yuuta. Halo!” kata salah satu dari mereka dan memberikan kartu identitasnya.

Sungguh sangat menyebalkan kalau bertanya pada ibu-ibu mereka eh..malah jadi pusat perhatian. Pikir Haruna sambil tersenyum palsu. Di sisi lain, dimana Haruna sibuk dengan ibu-ibu yang kecentilan itu, A-3 mencoba mendekati anak-anak yang sedang asyik bermain pasir.

“Siapa kau?” tanya anak laki-laki yang sedang asyik bermain pasir dan merasa terganggu akan kehadiran A-3.

“A-3. kalian nggak lihat guguk?” tanya A-3 dengan ramah namun anak kecil itu tetap tidak menyukainya. Karena anak kecil ini kesal makanya ia mendorong A-3 kebelakang dengan tangan kanannya yang kotor penuh pasir itu. Dan ia tetap ngotot akan perkatannya tadi yang menjawab tidak.

A-3 pun memperhatikan dasi yang ia pakai itu kotor. Dan sepertinya sirkuitnya memproses sesuatu. Dan tetap diam di posisinya.

“Kenapa, kok tidak senang?” teriak anak itu lagi sambil melemparkan pasir ke arah A-3. dan kini bajunya pun ikut kotor.

Dengan rasa kesal yang muncul dari sirkuitnya A-3. Sebuah tamparan mengenai anak itu sampai bengkak. Maksudnya pipinya bengkak, dan itu pun disadari oleh Haruna yang masih saja dikerumuni oleh ibu-ibu ganjen itu.

Dan seorang gadis yang bermain di dekat sana pun berteriak. Dan Haruna pun ikut berteriak dan menanyakan apa yang A-3 lakukan.

“Kau kan robot pengasuh, kenapa bertindak kasar begini!” ia memarahi A-3, sedangkan A-3 menunduk dan memegang dasinya.

“Habis..dasi papa…kotor”

Jangan dibikin kotor! Haruna sempat berkata seperti itu saat ia memberikan A-3 baju dan dasi itu karena bajunya kotor. Dan ia pun menyimpulkan bahwa A-3 menuruti kata-katanya.

“Tapi sikapmu berlebihan! Cukup tegur saja anak itu, jangan main kasar!” kata Haruna dan ia mengingat suatu kejadian di masa kecilnya. Dimana dia memukuli salah satu teman sekelasnya karena ia kesal saat ia sedang menjawab soal di depan kelas. Teman-temannya tidak menyukai jawaban Haruna yang dibilang aneh. padahal waktu itu dia adalah anak jenius.

“Haruna telah memukuli anakku sampai begini! Mentang-mentang dia pintar, dia jadi tidak tahu aturan. Ajari dia tata karma!” kata ibu dari anak yang dipukul oleh Haruna saat itu. Pipi anak itu sampai biru begitu. Wah Haruna! Kamu ini ya….

Saat sampai rumah, Haruna pun mendengarkan ayahnya menceramahinya, seperti halnya ia menceramahi A-3 kini. Saat Haruna yang suka mengurung dirinya, pamannya pun bicara dengan ayahnya.

Akio mengatakan bahwa level Haruna sangatlah jauh dari anak sebayanya dan meminta ijin untuk membawa Haruna keluar negeri dan belajar disana. Dan ternyata ayahnya sendiri menyadari bahwa Haruna berbeda dengan anak lainya dan ia pun memberikan Haruna kepada adiknya itu.

Dan karena Haruna mendengar semua pembicaraan ayah dan pamannya itu, ia langsung membantah keputusan ayahnya itu.

“Kenapa aku harus pergi? Aku nggak mau sekolah di luar negeri, mau di sini saja.” Katanya sambil dipegangi oleh pamannya. Karena takut kalau Haruna akan mengamuk.

“Pergilah ke Amerika bersama pamanmu. Ini demi kebaikanmu, Haruna!” kata ayahnya dengan amat sabar yang akan menyerahkan anaknya kepada adiknya.

Dalam hatinya, Haruna berteriak karena suaranya sudah tertutupi oleh tanggisnya yang mengalir dari matanya. “Ayah tidak pernah memikirkan perasaanku. Aku benci AYAH!” katanya dengan keras sekali. Walaupun itu hanya di dalam hatinya.

Dan keesokan harinya Haruna pun pergi bersama pamannya (Akio). Dan ia pun belajar di sebuah universitas di Amerika. Dan waktu pun terus berjalan sampai pamannya membawa sebuah kabar yang amat buruk. Namun tidak membuat Haruna sedih.

“Haruna, Ayahmu meninggal!” kata pamannya yang saat itu baru saja datang dari Tokyo. Namun hanya ada rasa kaget aja yang ditunjukan oleh Haruna saat itu. “Selama ini dia sakit-sakitan.” Lanjutnya.

<><>

Dan dirinya yang kini sadar bahwa ayahnya tidak ingin dia bermanja-manja dan tergantung padanya, lalu dibiarkan dia dibawa pergi pamannya. Ia memikirkan itu saat sampai apartementnya dan menidurkan A-3 yang mungkin kelelahan mencari anjing seharian dan Haruna pun ikut menemani A-3 tidur.

Tapi ia masih saja memikirkan tentang ayahnya sampai terbawa ke dalam mimpinya.

di mimpi Haruna……
Dia terus saja berlari, memanggil ayahnya, namun ia berhenti di suatu titik. “Tidak bisa aku jangkau bawaupun aku terus saja berlari, kenapa ayah meninggalkanku padahal banyak yang ingin aku tanyakan dan aku sampaikan.” Katanya sabil terus saja ingin meraih sosok hitam yang ada di hadapannya.

Read previous post:  
52
points
(1035 words) posted by d757439 12 years 6 weeks ago
65
Tags: Cerita | lain - lain | cerbung | d757439 | komik | robot | tantangan | temen aku
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d757439
d757439 at Walking With Papa_ep1-2 (12 years 4 weeks ago)

Writer Oiem
Oiem at Walking With Papa_ep1-2 (12 years 4 weeks ago)

secara keseluruhan aku suka gaya cerita kamu ! asyyikk abbiisss !!

Writer Oiem
Oiem at Walking With Papa_ep1-2 (12 years 4 weeks ago)
80

secara keseluruhan aku suka gaya cerita kamu ! asyyikk abbiisss !!

Writer hirokakkuen
hirokakkuen at Walking With Papa_ep1-2 (12 years 4 weeks ago)
80

bagus..bagus...gag ada komen dey...cukup berkembang

Writer kalininn.corp
kalininn.corp at Walking With Papa_ep1-2 (12 years 4 weeks ago)
70

lumayan ceritanya...