Mengetuk Ego(Last Moment)

Mata Vina terbelalak saat melihat siapa yang menariknya.

"Ka-kamu..." Vina hanya menatap wajah di hadapannya.

Sementara lelaki yang menariknya hanya menatap pedih ke arah wajah Vina. Lalu menarik tubuh Vina kedalam pelukannya. Erat.

Uhuk!Uhuk Vina gelagapan kehabisan nafas karena dipeluk terlalu erat. Sekuat tenaga Vina berusaha melepas pelukannya. Sementara dari atas, di depan rumah Vina terlihat senyum ceria seorang pembantu yang sedang menyaksikan majikan tercintanya sedang bersama orang yang selama ini dia rindukkan. Gary. Sunarsih jingkrak-jingkrak kegirangan sambil memegang sapu ditanganya. Lalu masuk ke dalam rumah.

"Lepas!" Teriak Vina
"Vin..." Ucap Gary lirih, dalam hati ia menangis. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan orang yang paling ia cintai.

"Kenapa kamu ke sini?" Tanya Vina ketus.

"Beri aku waktu untuk bicara, Vin." Ucap Gary mengharap.

"Tentang?" tanya Vina singkat.

"Ayolah..." Gary menarik tangan Vina lalu menuntunnya ke dalam mobil merah-marun miliknya.

Vina masuk ke dalam mobil lalu duduk di sebelah Gary. "Mau kemana?" Tanya Vina dengan nada sedikit panik. "Tenanglah aku tidak makan manusia, apa lagi kamu." Gary memasang sitt belt milik Vina, lalu miliknya sendiri.

Farrari merah-marun melaju meninggalkan perumahan tempat tinggal Vina. Hampir selama tiga puluh menit Mereka berdua membisu. Vina hanya terdiam memandang ke arah jalanan yang mereka lalui.

Akhirnya sampailah mereka di sebuah jembatan besar. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang cukup deras. Batu-batu besar terlihat mencolok di antara aliran sungai. Suara katak mulai mengisi suasana sepi tempat itu. Sekitar sungai juga ditumbuhi pepohonan besar. ternyata hari-pun mulai gelap.

Gary turun dari mobil terlebih dulu, lalu berjalan membukakan pintu untuk Vina. Vina turun dari mobil berjalan menuju tepi jembatan. "Kamu masih ingat tempat ini?" Tanya Vina sambil menoleh ke arah Gary yang berdiri tepat di belakangnya. Gary hanya menganggukan kepalanya.

"Kau ingat seorang gadis tomboy yang sedang asik memotret di atas batu itu..." Gary mendekat, berdiri sejajar dengan tubuh Vina. Lalu menunjuk ke arah batu besar di tepi sungai.

Vina mendesah lalu menoleh kearah Gary.
"Yah, itu aku yang tergelincir jatuh dan terkilir, karena ternyata batu itu sedikit licin. Lalu, entah dari mana datangnya tiba-tiba ada seorang lelaki yang bersedia menolongku. Dialah Gary seorang aktor yang sedang patah hati. Kamu." Vina membuang mukanya menuju pepohonan hijau yang sulit sekali ia temui di Jakarta, suasana sepi.

Gary membalikkan tubuhnya lalu bersandar di tepi pagar jembatan, menghadap tubuh kecil Vina. "Vin maafin aku, aku..." Gary memegang tangan Vina.

"Maaf untuk?" Vina pura-pura tak mengerti.

"Selama ini aku telah banyak berprasangka buruk padamu. Tahukah sejak kepergianmu waktu itu, aku merasa begitu terpuruk. Tidak ada seorangpun yang mampu mengerti diriku. Tidak ada sedikitpun berita darimu..." Dengan suara lirih Gary menjelaskan semuanya.

Vina kaget saat tahu bahwa alamat dari surat-surat yang telah ia kirim untuk Gary telah salah alamat. Dia juga merasa kaget saat Gary cerita bahwa dia pernah menyusulnya ke Ohio (Sidney) sekedar ingin bertemu denganya. Tapi sayang Gary tidak jadi menemuinya, karena pada suatu hari Gary melihat Vina bersama seorang lelaki di dalam sebuah Cafe.

"Gary, lelaki itu adalah teman kuliahku, berasal dari Indonesia juga. Tidak mungkin aku hidup sendirian di sana tanpa teman. Tapi diantara kami tidak ada apa-apa." Vina pun ikut menjelaskan hal sebenarnya.

"Sudahlah aku mengerti. Maafkan aku Vin, sudah terlalu banyak luka yang aku berikan padamu," Gary kembali mendekap Vina erat." Apa yang bisa ku lakukan untukmu?"
lanjutnya.

" Apapun permintaanku, maukah kau berjanji memenuhinya." Pinta Vina. Gary mengangguk pelan itu bisa dirasakan Vina.

Vina melepaskan dekapan Gary lalu memandang wajah Gary. "Jangan temui aku lagi, aku berharap kita tidak usah bertemu lagi." Ucapan Vina membuat muka Gary berubah merah,"Maksud kamu?" Tanya Gary mengharap penjelasan Vina.

"Yah, aku berharap kita tidak bertemu lagi." Ucap Vina dengan suara terpekik dalam tenggorokkan. Menahan tangis.

"Karena lelaki itu?" Suara Gary bertambah lirih.

"Bukan." Jawab Vina singkat, lalu membuang muka ke arah air sungai yang mengalir di bawah mereka berdiri.

"Lalu?" Gary semakin penasaran.

"Lalu, apa yang kau harapkan dariku, apa yang bisa kau lakukan untukku? Menjadikan aku wanita kedua atau jadi seorang wanita yang merebut kekasih orang lain?" Ucap Vina dengan suara terisak.

Dada Gery bergemuruh dengan pertanyaan Vina yang beruntun.

"Bagaimanapun aku wanita, aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya saat menyaksikan orang yang aku cintai ada di hadapanku dengan wanita lain." Tangis Vina semakin tak tartahan.

Hati Gary bagai tersayat menyaksikan Vina yang sedang menangis. Namun dia tidak mampu berbuat apa-apa. karena dia yang telah menoreh luka di hati Vina.

"Gary kau ingat, aku pernah berkata bahwa aku bukanlah kupu-kupu bersayap indah, yang akan runtuh hanya karena di sentuh?" tanya Vina dengan sedikit tenang.

Gary mengangguk "Yah kau adalah kunang-kunang yang mampu hidup dalam kegelapan karena kau memiliki cahaya sendiri."

Vina-pun menganggukkan kepalanya. " Kau tidak perlu lagi merasa bersalah padaku" Ucap Vina sambil menghapus air matanya. "Biarkan aku pulang sendiri, kau tidak perlu mengantarku." Vina menyentuh lembut tangan Gary lalu meninggalkanya.

Gary memandang hampa kearah Vina yang berjalan meninggalkannya. Beberapa langkah kemudian Gary mengejar Vina lalu menarik tubuh kecil itu kedalam pelukkanya. Derai airmata keduanya sudah tidak mampu tertahan lagi. Vina melepas pelukan Gary. Melangkah pergi meninggalkanya. Vina menyeberang jalan karena dia harus naik angkutan umum. Tanpa Vina sadari sebuah motor menuju ke arahnya. Bruakk!!! tubuh Vina terjatuh.

"Vina,..." Teriak Gary yang hampir masuk ke dalam mobilnya. Gary berlari mendekati tubuh Vina. Sementara pengendara motor itu telah pergi jauh dengan kecepatan tinggi,sepertinya pengendara itu sedang mabuk.

"Vin bangun, Kamu tidak pa-pa?" Gary panik lalu memapah tubuh Vina. Darah segar mengalir dari pelipis, dan siku tangan Vina.

"Aku tidak pa-pa" Vina berdiri lalu melepas tangan gary. Kebetulan sekali Bus angkutan mulai mendekat. "Pulang-lah aku tidak pa-pa." Vina tersenyum lemah hanya ingin meyakinkan Gary bahwa dia baik-baik saja.

Vina berjalan naik ke dalam angkutan umum, lalu lenyap dari pandangan Gary, tinggalah dia sendiri di tempat sepi itu.

Vina duduk di kursi bagian paling belakang lalu menoleh kearah Gary yang masih berdiri mematung di tepi jalan.
Maafkan aku, bukanya hatiku buta atau-pun tuli. aku hanya tidak berani menempatkan diri terlalu tinggi.

kau kembali mengetuk pintu ego hatiku
kau nyanyikan cinta tulus seperti dulu
ku berjanji takkan kunodai
kugenggam lembut tanganmu
interlude.

semua masa yang kutemui
kata kudengarkan
mengakui dirimu yang pantas untukku
sejak lama di dalam hatiku
sejenak engkaupun tertegun
melihatku senyum
yang telah lama tak menganggapmu ada
dan terus ada

****
Terimakasih untuk teman-teman semua yang telah membaca cerita ini sampai selesai. sebenarnya belum sih, tapi blm sempet postingnya. Untuk Shinichi makasih ya dah mengijinkan aku untuk membuat cerita berdasarkan lagu yang kau buat, tunggu kabar selanjutnya. Wie, Straw, SnowDrop dan semua yang telah membaca cerita ini. Thanks a lot.^_^

Read previous post:  
85
points
(1015 words) posted by bl09on 12 years 47 weeks ago
77.2727
Tags: Cerita | cinta | bl09on storie's | Cinta | Shinici
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer poncowae
poncowae at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 44 weeks ago)
100

cerita yang menarik.
tapi sayangnya bersambung ya?
aku capek membacanya
ha ha ha

trims komentnya

salam pecellele kedung ombo
mbok ojo ngece yen mripatku kero
ha ha ha
Ponco

Writer buayadayat
buayadayat at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 45 weeks ago)
80

'menjadikan aku wanita kedua, atau jadi seorang wanita yang merebut kekasih wanita lain?'
di kalimat itulah jelas vina kunang-kunang bukan kupu-kupu.. :)

Writer dewi pujangga
dewi pujangga at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 45 weeks ago)
100

yah, komentnya sudah ditulis panjang lebar di atas, jadi wie nya ikutan manggut-manggut aja, mbak...

lagian, kayakna malam minggu kemaren kita sempat ngebahas dikit, dech..

wie tunggu cerita mbak selanjutnya

:)

Writer bl09on
bl09on at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 45 weeks ago)
100

waduh tumben kmu,Do. thanks bwt komentrnya....

maap smlm lgsg kbur hpnya d pke tmn lom d balikin neh :(

Writer Shinichi
Shinichi at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 45 weeks ago)

Poin bukan hal yang penting kan, Mba'? ;)

Saatna komentar :D

Langsung dah!
Vina gelagapan kehabisan nafas karena dipeluk terlalu erat. Ini adalah kalimat tipikal humorna Mba'mini. Nyantol di cerita ini bikin saia ngakak bukan ikut ngerasakan apa yang ingin mba' sampaikan. Ahak...hak...hak...

Merah Marun Yang ini gak henti-henti deh bikin saia ngakak again. Apalagi kata itu diulang lebih dari sekali. Saia teringat laguna The Panas Dalam yang lirikna nyeleneh tentang segitiga berwarna merah marun. Hihihi.

Suara katak mulai mengisi suasana sepi tempat itu. Ahak...hak...hak... Kok dibikin katak siy? Mba' emang senang gelitikin saia. =))

Gary minim ekspresi wajah. Karena jika mba' mau bikin cerita mengharukan, sewajarna ekspresi mimik ituh memenuhi setiap narasi atau yang menceritakan tanggapan/ respon tokohna terhadap sesuatu yang terjadi. Saia musti ngebayangin sendiri tanpa bantuan penulisna. Jahat!

Lagi! :D
"Yah, itu aku yang tergelincir jatuh dan terkilir, karena ternyata batu itu sedikit licin. Lalu, entah dari mana datangnya tiba-tiba ada seorang lelaki yang bersedia menolongku. Dialah Gary seorang aktor yang sedang patah hati. Kamu. Saia ngerasa selera humorna Vina itu minim dan kurang bersahabat. Padalan dia dari luar negeri. Dalam pola pikir saia, selera humor luaran itu menarik dan cerdas. Sisi budaya ini gak berhasil Mba' ciptakan dalam tokoh Vina. Dia lebih mirip seorang gadis yang lama tinggal di negeri Asyik-asyik gua-nesia. Kalo saia jadi pacarna, saia ajarin deh dengan dialog sehari-hari yang lucu jika terdengar begitu saja. Tapi, lagi-lagi dia sedang gamang yak? Lanjut!

Hmmm...
Vina melepaskan dekapan Gary lalu memandang wajah Gary. "Jangan temui aku lagi, aku berharap kita tidak usah bertemu lagi." Ucapan Vina membuat muka Gary berubah merah,"Maksud kamu?" Tanya Gary mengharap penjelasan Vina.

"Yah, aku berharap kita tidak bertemu lagi." Ucap Vina dengan suara terpekik dalam tenggorokkan. Menahan tangis.

Setelah Vina mengatakan untuk tidak bertemu lagi, Gary bertanya kenapa. Vina kehilangan kata. Benar-benar saia gak isa terima. Secara saia asumsikan dia (Vina) cerdas. Tapi kehilangan kata seperti itu membuat karakterna kerasa dangkal, mba'. Dimana pola pikirna yang berhasil dibentuk dari luar? Dia berhasil untuk mengatakan Jangan lagi. Tapi alasan sangat penting loh. Apalagi untuk hal seperti ituh! But, kata orang, perempuan sulit jika berbicara mengedepankan hati. Yang jujur saja, itu sama sekali gak masuk akal buat saia :D

Lagi deh!
Dilanjutanna adalah penjelasan yang menurut dugaan saja, emang sengaja diletakkan sedemikian rupa, agar cerita ini lebih berasa realitas-na. Permainan emosi yang tersirat malah terletak di penempatan dialog. Sudah saia duga, emang Mba' mini top setelah diizinkan bercerita lebih panjang. :)

Bdw, Mba' ngerjain saia niy!
Kenapa mba' bercerita hal seperti ini? Kenapaa???<--- saia jarang loh pake question mark lebih dari satu untuk menyatakan ekspresi? :D

Ini membuat saia teringat seseorang. Yah, setidakna ada beberapa rahasia yang berhasil disampaikan penulis. Seperti, hati perempuan itu ibarat tembikar. Kalau berkenan silahkan klik

Buat laki-laki seperti Gary, agar waspada tuh!

Hmm, saia terhenyak dengan adegan Vina naik angkutan umum dan duduk di kursi belakang. Menatap Gary melalui kaca belakang mobil. Entah, saia aja yang lagi gamang atau, itu mengingatkan saia dengan sosok Ichi di pinggir jalan, saat Ran memutuskan untuk tidak menatapnya. Juga kata-kata itu!

Jika, mba' ndiri bilang best part itu adalah tentang kupu2 dan kunang2, saia berpendapat lain. Itu cuma metafor picisan. (plettaakkk)

Justru kata-kata yang membumi-hati itu yang paling menyentuh.
aku hanya tidak berani menempatkan diri terlalu tinggi.
Satu ungkapan betapa goyahnya hati perempuan seperti Vina yang menjalani kesendirian selama perkuliahannya di negeri orang. Satu ungkapan betapa perempuan sangat ingin diyakinkan oleh laki-laki. Satu ungkapan yang menyatakan bahwa Vina adalah perempuan dengan pola pikir konvensional, tulen dan riskan tersakiti. Perempuan yang menggambarkan Ran. (Maaf, saia terbawa suasana)

Dan akhirna pengungkapan :D
Lagu yang menginspirasi mba'mini ini berjudul Mengetuk Ego saia buat di pertengahan tahun 2007. Saat itu adalah salah satu masa terindah karena saia kembali bersama Ran. Walaupun itu gak bertahan lama. Seperti Gary. Hmmm...

Dan, lirik itu mengalami beberapa perubahan sebelum saia aransemen musikna dan menjadikanna file mp3. Semoga mba' bisa merasakan pekat maknana. Hehehe (narsis)

Oh, iya
Sukses deh buat rencanana ke kampung halaman. Ntar kalo dah nyampe kasiy kabar yak? Telpon kek, sms kek, email kek, surat kek. Ahak...hak...hak...
Ntar singgah jugak di kantor detektif saia. Ntar kita cari sama-sama cwo yang Mba' mau. Sapa tau cinta mba' tercecer di jalanan kota Tokyo. Ada banyak cwo seperti saia loh! Tapi, tetep. Shinichi yang ini cuman ada atuk...

Hihihihi

Maap, dah menuh2in page-na

Kabbbuuuuurrrr

poinna tak tambahin disini.
kasiy atuk lagi akh!
Ahak...hak...hak...

Writer Shinichi
Shinichi at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)
10

kasiy atuk akh

yar jadi 6666

angka setan

ahak...hak...hak...

Writer bl09on
bl09on at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)

Shinichi wrote:
kasiy atuk akh

yar jadi 6666

angka setan

ahak...hak...hak...

angka setan? biar ntar malem ganggu tidurmu yak?;)

Writer Amian_zanggol
Amian_zanggol at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)
80

Sebenarnya sesungguhnya ^^ Bagus ceritanya. Tapi, pendapat pribadi nih yaaa. Alurnya lurus banget, ga belok-belok, jadi kesannya rada (sedikit) klise gitu de. Tapi jujur kak, bagus banget.

Writer bl09on
bl09on at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)

Amian_zanggol wrote:
Sebenarnya sesungguhnya ^^ Bagus ceritanya. Tapi, pendapat pribadi nih yaaa. Alurnya lurus banget, ga belok-belok, jadi kesannya rada (sedikit) klise gitu de. Tapi jujur kak, bagus banget.

iya Nggol hak hak hak deskripsi kurang detil

Writer Shinichi
Shinichi at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)

lirik lagu ituh, gak pake interlude
Ituh mah buat musikna

bdw, saia ngerasa nge pass banget dah

hihihi

ntar koment selanjutna
lagi ada masalah yg penting

kabbbuuuurrrr

Writer SnowDrop
SnowDrop at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)
80

aduhhhh,,mba mini,,kok bisa sih bikin cerita yang bikin kita ngerasain 'emosi'??? hum,padahal adegan tarik-tarikan n 'dengerin-dulu-penjelasan-gw' udah sering bgt di buat ya,,,tapi menurut gw pribadi, mba udah berhasil bikin adegan ini gag sepicisan biasanya..

kata2nya kaya,,favorit gw yg ini :

Maafkan aku, bukanya hatiku buta atau-pun tuli. aku hanya tidak berani menempatkan diri terlalu tinggi.

gyaaaaaaaaaaaaaaa ^^

oh, tapi mba, kalo pun ada yg kurang,,menurut gw adegan yg Vina ditabrak motor agak kurang berasa...kurang deskripsi dan kurang bikin "DEG" !! gtu...

eniwei,,,saia tunggu episode berikutnya dengan amat sangat ^^ semangat mba !!!!!!!!

Writer bl09on
bl09on at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)

SnowDrop wrote:
aduhhhh,,mba mini,,kok bisa sih bikin cerita yang bikin kita ngerasain 'emosi'??? hum,padahal adegan tarik-tarikan n 'dengerin-dulu-penjelasan-gw' udah sering bgt di buat ya,,,tapi menurut gw pribadi, mba udah berhasil bikin adegan ini gag sepicisan biasanya..

kata2nya kaya,,favorit gw yg ini :

Maafkan aku, bukanya hatiku buta atau-pun tuli. aku hanya tidak berani menempatkan diri terlalu tinggi.

gyaaaaaaaaaaaaaaa ^^

oh, tapi mba, kalo pun ada yg kurang,,menurut gw adegan yg Vina ditabrak motor agak kurang berasa...kurang deskripsi dan kurang bikin "DEG" !! gtu...

eniwei,,,saia tunggu episode berikutnya dengan amat sangat ^^ semangat mba !!!!!!!!

ok thyanks Yu

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)
100

Hehehe aku dah baca ceritanya. Saat membaca nama tokohnya aku pikir si Gary-nya shinici nyasar di cerpen ini.

Writer bl09on
bl09on at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)

Bamby Cahyadi wrote:
Hehehe aku dah baca ceritanya. Saat membaca nama tokohnya aku pikir si Gary-nya shinici nyasar di cerpen ini.

ini cerbung kok mas

Writer el_afiq
el_afiq at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)
90

trims karena bisa membuatku merasakannya....

'NICE...."

Writer bl09on
bl09on at Mengetuk Ego(Last Moment) (12 years 46 weeks ago)

thanks untuk prince adi yang telah mampir dan memberi petuah di belakang layar. thanks ya Di.

deskripsi disini memang ngepas cos aku posting langsung.