...est Magnifique

Bogor est magnifique.

Sejak kapan?

Adi memandang sejenak menembus kaca jendela di sampingnya. Bisa-bisanya ia berkata—meskipun hanya dalam hati—jika Bogor adalah kota yang indah. Padahal setiap hari, ia selalu menyumpahi kota hujan ini. Mulai dari mengeluhkan kemacetannya, angkot-angkotnya, sampai udaranya yang semakin hari semakin panas. Dari sudut manapun yang ia lihat, Bogor tidak pernah jadi terlalu menarik.

Tetapi malam ini, dari balik kemudi Suzuki Swift putih yang dikendarainya, everything was just quite different. Aneh tetapi nyata. Mustahil tetapi riil. Ada sesuatu yang membuat bahkan Tugu Kujang nampak bagai menara Eiffel untuknya.

Adi melirik pantulan dirinya sendiri lewat kaca spion. Wajah dan rambutnya sedikit kusut. Bagian depan kemeja beigenya pun sudah ternoda bercak-bercak kecokelatan yang sedikit mengganggu penglihatan gara-gara ada seseorang yang secara tidak sengaja menumpahkan sisa es krimnya ke sana.

What a party… Adi, pemuda berusia 17 tahun itu, bergumam dalam hati. Di sini, di dalam mobil ini, di pukul 23.05, pesta ulang tahun di Hotel Salak yang barusan dihadirinya terasa sudah lewat berabad-abad lalu. Hingar bingar musik, kilatan kamera, dan suara tawa yang tiada henti seakan pudar ditelan malam. Yang tersisa hanya alunan suara penyiar radio Prambors FM yang tidak dikenalnya serta pemandangan kaku jalan tol yang biasa ia lewati dalam perjalanan Bogor-Sentul Citynya setiap hari.

Dan mungkin selain itu, juga sesosok manusia yang duduk di sampingnya. Sesosok manusia yang kelihatan begitu asik dengan dunianya sendiri. Manusia yang terbalut kemeja longgar dan skinny jeansnya. Manusia berambut panjang bergelombang dengan kedua matanya yang besar. Manusia yang tenggelam dalam khayalan-khayalannya, tetapi tidak melupakan dunia nyata.

Asta. Itu namanya. Nama yang ada bersama ribuan nama lain yang tersimpan dalam memori otak seorang Adi, pemuda yang merasa bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya selain otaknya yang brilian dan ayahnya yang kaya. Jika dibandingkan dengan Julian, cowok beken itu, ia pasti akan merasa sangat tersudut.

Bagi Aditya Wijaya, Asta tidaklah lebih dari salah seorang penumpang setia mobilnya. Dan bagi Tiasta Amelia Siagian, Adi juga mungkin hanya sekedar sopir pribadinya.

Sejak kira-kira dua tahun lalu, memang telah terjalin hubungan yang aneh di antara mereka. Simbiosis mutualisme antara penumpang-sopir yang unik. Sebuah relasi yang tercipta karena secara amat sangat kebetulan mereka tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Bahkan kediaman mereka hanya berselisih beberapa blok jauhnya. Kebetulan lainnya, mereka juga bersekolah di tempat yang sama. Lebih kebetulan lagi, tahun ini di kelas yang sama.

Lalu tiba-tiba entah karena alasan apa tepatnya, Asta sering menumpang kendaraan Adi yang notabene sudah diperbolehkan mengemudi mobil sejak kelas satu SMA. Mungkin karena Adi menyadari bahwa gadis ini memiliki jalur pulang yang sama dengannya, maka dengan bermodalkan sikap seorang gentleman, ia menawarinya tumpangan. Kemudian ketika mereka mulai bertambah akrab, nampaknya urusan antar-jemput ini bukan seputar urusan sekolah-rumah lagi. Asta sering sekali meminta cowok yang satu ini menjemputnya saat mereka sedang kebetulan sama-sama berada di Bogor. Dan meskipun disertai keluhan dan omelan yang tidak jarang, tetapi akhirnya ia selalu mengabulkan permintaan gadis yang satu itu juga.

Tetapi sampai situ saja. Hanya sebatas itu. Selebihnya, Asta dan Adi hanyalah sepasang teman—mungkin sahabat—yang sama-sama tidak terlalu peduli urusan pribadi masing-masing.

Toujours plus près de toi
Mon étoile ma foi
Donne-moi le pouvoir
Et la force d’y croire

Perlahan Adi menaikkan volume radionya. Suara manis Shaby, si penyanyi asal Prancis itu, segera terdengar lebih jelas. Membawa sejenis atmosfir yang tidak terdefinisikan ke dalam kendaraan beroda empat itu. Sesuatu yang tidak pernah dihirup Adi seumur hidupnya saat mengendarai mobil ini, kapanpun, dengan siapapun.

Adi memperlambat sedikit laju Swiftnya. Perjalanan Bogor-Sentul tidak pernah makan waktu yang terlalu lama. Lewat tol hanya perlu kira-kira 15 menit, bahkan kurang jika jalanan benar-benar kosong melompong seperti pagi hari atau malam—seperti sekarang. Sebentar lagi mereka akan memasuki kawasan Sentul, dan mendadak ia tidak ingin perjalanan ini cepat berakhir. Lagi-lagi, ada yang membuat lampu-lampu jalanan terlihat begitu menarik di matanya. Illuminating.

Sekilas, Adi melirik Asta. Gadis itu terlihat begitu ngantuk dan lelah. Dengan mata yang mulai sayu, ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela di sampingnya. Sedikit refleksi wajahnya terpantul di kaca itu. Adi tersenyum. Disadarinya, setelah dua tahun lebih menjadi sopir pribadi Asta, baru kali ini ia melihat Asta begitu fragile, begitu unguarded.

Tapi seperti yang ia tahu, dan seluruh dunia tahu, ia tidak akan bisa berlama-lama menikmatinya.

Nyatanya, dunianya dan Asta hanya dan akan selalu hanya sebuah perjalanan berdurasi 15 menit. Karena selebihnya, ketika Asta sudah melewati pintu itu, keluar dari mobil ini, ada sebuah dunia lain yang menyambutnya. Bahkan khusus untuk malam ini, dunia lain itu sepertinya telah lebih cepat datang.

Ponsel Asta tiba-tiba berbunyi. Ia yang sebenarnya sudah setengah tertidur buru-buru menempelkan benda itu di telinga kanannya.

“Halo. Josef?”

Adi tersenyum dalam diam. Welcome real world

Rumah Asta sudah nampak di depan mata. Dan selagi gadis itu masih sibuk berbicara lewat telepon genggamnya, Adi pelan-pelan memberhentikan mobilnya di depan bangunan berlantai dua itu.

Asta baru saja hendak membuka pintu ketika Adi memanggil namanya.

“Asta..”

Ia menoleh. Masih dengan ponsel di telinga, memandang Adi dengan tatapan ‘kenapa?’nya yang kentara.

Tu es toujours magnifique…” Adi berujar pelan.

Tak ada tanggapan.

Dan setelah keheningan yang benar-benar tidak mengenakkan, Asta tiba-tiba berkata,”Nanti aja lanjutinnya ya, Jos. Aku masuk rumah dulu. Soon!” Dan setelah terburu-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia berkata kepada Adi,”Sori..sori… Barusan lo ngomong apa, Di? Tadi Josef lagi ngomong jadi lo nggak kedengeran. Hehe…”

Tu es toujours magnifique… Adi mengulang dalam hati. Kau selalu cantik

Tetapi alih-alih mengatakan itu, Adi malah berkata,”Cuma bilang udah malem. Sana lo cepetan masuk rumah!”

“Iya…iya…” Asta menyahut sambil tertawa. Lalu tanpa menunggu lagi, segera melangkahkan kaki keluar dari mobil itu.

Toujours plus près de toi
Mon étoile ma foi

Lagu itu masih saja terdengar.

Dari tempatnya, Adi mengawasi gadis itu hingga ia masuk ke dalam rumah. Nyatanya, memang akan selalu sampai di sini perjalanan mereka berdua.

Perlahan, Adi menekan pedal gas.

Elle est toujours magnifique…

Ia tahu.

Sampai jumpa di perjalanan yang mendatang, sayang!

-The End-

Read previous post:  
Read next post:  
Writer sandymaz_87
sandymaz_87 at ...est Magnifique (7 years 23 weeks ago)
60

Saya membaca cerpen ini seperti menyaksikan sendiri kisah si adi dan asta melalui jarak dekat. Penulis sangat akrab dalam menggali perasaan narator hingga masuk di hati para pembacanya. I just spechless, soo. Rangkaian alurnya apik di tulis dengan gaya cerita ringan.

Writer aboet
aboet at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
80

You are the man :)
i love ur style

Writer ubr
ubr at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
80

Bogor est magnifique.

Sejak kapan?
---
Pembukaan yang menantang!

Writer SnowDrop
SnowDrop at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
80

ummm,,,cerita yang sederhana, tapi gw suka,haha,,coba ada yg bilang gtu ke gw,,daniel radcliffe misalnya ? hahaha,, tres magnifique, j'adore bien..^^

Writer Armanda
Armanda at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
100

sip

Writer FrenZy
FrenZy at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
70

menarik!

hanya saja, menurutku nama panjangnya terlalu sering diulang dan terlalu panjang :)

Writer Shinichi
Shinichi at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
80

saia suka gaya berceritana

bener2 suka

hehehe

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at ...est Magnifique (12 years 44 weeks ago)
90

wew! Keren banget! Itu kalimat-kalimat Perancisnya keren ^^
Speechless deh. Udah nerbitin novel ya? Apa judulnya? Nanti saya beli. Saya suka cara bertutur kamu. One shoot yang bener-bener keren! Saya berguru dengan dirimu dah....^^