The Last Battle - Attarant Elnirisa

Lautan prajurit Elniri tiba di Danqurk saat tengah malam, membanjir dari selatan bergulung-gulung tanpa henti. Pendar cahaya obor-obor mereka menerangi lembah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti seluruh rumah dan bangunan di dalam kota. Sebentar lagi, yang akan memisahkan keduanya hanyalah dinding tebal kota Danqurk yang menjulang tinggi menantang untuk ditaklukkan.

Kini tak terdengar lagi suara derap kaki pasukan infantri dan kavaleri Elniri, demikian pula suara terompet mereka yang sebelumnya terdengar sahut-menyahut bagaikan hendak berpesta. Hening sekarang. Seluruh penduduk Danqurk telah terbangun, tapi tak satu pun dari mereka yang berani bersuara. Semua tercekam dalam ketakutan. Tak akan ada pesta bagi mereka. Tapi bagi Elniri, mereka kemari karena memang ingin berpesta, dan kalau bisa secepatnya.

Tapi tidak secepat itu. Sang quazar Elniri, Tomassi telah memerintahkan pasukannya untuk berhenti sekitar seratus tombak dari dinding kota Danqurk, begitu ia melihat pemandangan yang menggetarkan hatinya.

Di atas dinding batu yang melintang di atas gerbang selatan, dua orang pria bertubuh jangkung berdiri dengan gagahnya. Pria yang di sebelah kanan memegang sebuah pedang besar yang ditegakkan di atas lantai dinding benteng dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bertolak pinggang. Mantelnya yang berwarna biru berkibar-kibar tertiup angin. Sedangkan pria yang di sebelah kiri berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Dua buah pedang kembar melengkung yang tergenggam di tangannya mengacung ke atas, seolah hendak menusuk bulan sabit yang memayungi sosok mereka dari belakang.

”Tuan, tampaknya mereka sudah siap menyambut kita,” kata Jendral Maravai pada Tomassi yang duduk di atas kudanya, yang memimpin di barisan terdepan pasukan Elniri.

”Mungkin,” jawab Tomassi singkat.

”Mereka pikir bisa menakut-nakuti kita dengan dua orang itu?” Jendral Barastei menggeram di sebelah kanannya. ”Mereka memang bodoh!”

”Kita akan langsung menyerang, Tuan?” tanya Maravai.

Tomassi tidak menjawab. Pandangannya masih tertuju pada kedua orang yang berdiri tegak di atas pintu gerbang.

Di atas gerbang selatan Pierre Si Pedang Kembar melirik ke arah gurunya yang masih tetap terlihat tenang. Pierre bisa merasakan hawa ketakutan yang menggelegak di belakangnya dari seisi kota, tapi anehnya ia sama sekali tak merasakannya dari sosok lelaki yang berdiri di sebelahnya itu. Apakah William, gurunya itu, sama sekali tidak merasa takut? Atau ia sedemikian pintarnya menyembunyikan rasa takutnya?

”Banyak sekali.” Pierre menggumam. ”Sejauh mataku memandang, hanya ada obor-obor pasukan mereka. Tak pernah sebelumnya aku melihat malam yang sedemikian terangnya.”

William mengangguk. ”Lima puluh ribu prajurit. Hanya Elniri yang memiliki pasukan sebesar ini di dunia. Sampai sekarang aku pun masih takjub, bagaimana bisa mereka memindahkan pasukan sebesar itu, dari benua selatan hingga kemari. Seberapa besar jumlah penduduk mereka, seberapa besar sumber daya mereka untuk membuat ratusan buah kapal, dan seberapa banyak pohon, ternak atau ikan mereka demi menyediakan bahan makanan untuk perjalanan selama berbulan-bulan.”

”Mereka merampok Fishen dan kota-kota kecil lainnya untuk sampai kemari, Guru,” jawab Pierre. ”Itu jawabannya.”

”Ya, itu juga benar.” William termangu sedih.

”Apakah mereka akan menyerang sekarang?” tanya Pierre.

”Satu hal mengenai pasukan besar, Pierre, adalah pentingnya waktu bagi mereka. Pasukan besar membutuhkan bahan makanan yang sangat banyak pula. Saat hari terang, kau akan bisa melihat gerobak-gerobak perbekalan mereka yang berderet-deret di belakang. Mereka sudah menghabiskan waktu berminggu-minggu perjalanan untuk sampai kemari. Kelaparan, dan bukan kita, yang akan menjadi musuh terbesar mereka jika mereka gagal mengalahkan kita dalam waktu singkat. Setiap hari yang terlewatkan sudah cukup membuat mereka menderita.”

”Jadi mereka akan menyerang sekarang.” Pierre mengangguk, menjawab pertanyaannya sendiri.

William tersenyum. ”Kita akan lihat, Pierre, seberapa besar rasa lapar mereka.”

”Mereka lapar, Guru.” Pierre memicingkan matanya. ”Dengar, dan lihat.”

Suara sangkakala membahana mendirikan bulu kuduk setiap orang yang mendengarnya. Disusul oleh suara terompet dan tambur yang sahut menyahut. Gelombang pertama pasukan infantri Elniri berjalan mendekat. Bumi pun bagaikan bergetar. Batang-batang pohon yang diletakkan di atas gerobak besar untuk menghancurkan gerbang juga telah diluncurkan. Demikian pula ratusan tangga-tangga panjang untuk memanjat dinding kota.

William menatap muridnya. ”Demikianlah, Pierre. Katakan pada Stevan untuk segera bersiap dan menunggu aba-abaku. Semoga Tuhan memberkati kita.”

Pierre mengangguk hormat, lalu melompat turun ke atas benteng kota. Barisan prajurit Lafette dan Danqs telah berjaga di sana, dengan busur dan panah siap untuk dilontarkan. Stevan berdiri di sayap kanan, tak jauh dari tempat Pierre mengambil posisinya, sementara Torrere di sayap kiri. Sedangkan Nicolas jauh di dinding sebelah barat, tak terlihat.

”Stevan! Torrere! Nicolas! Bersiap!” Suara dahsyat Pierre menggeledek, mengalahkan seluruh suara yang ada di lembah itu, terompet ataupun tambur.

Ferrotas errohou!” Sebuah seruan berbahasa Elniri yang tak kalah menggeledek terdengar di kejauhan, yang segera disusul suara lolongan ribuan prajurit Elniri yang berlari bagaikan air bah mendekat ke arah dinding selatan kota Danqurk.

William memejamkan matanya sesaat. Akhirnya tiba juga saatnya. Datanglah, kematian. Temani aku, seperti kau biasa menemani aku puluhan tahun yang lampau.

Ketika ia membuka matanya, lautan prajurit Elniri telah mencapai jarak lima puluh tombak dari dinding. Mereka tertahan sejenak pada parit berlumpur selebar sekitar sepuluh meter yang telah dibuat di sana, dengan kedalaman setinggi paha, yang awalnya tak terlihat karena ditutupi dengan rumput-rumput yang tebal. Mereka pun maju dengan susah payah.

Begitu melihat parit memanjang di sekitar dinding itu telah penuh dengan para prajurit Elniri, maka sambil mengacungkan pedang besarnya ke depan William pun mengeluarkan seruan singanya, yang jauh lebih menggeledek daripada suara Pierre maupun seluruh gemuruh lainnya. ”PANAH BERAPI!”

”Panah!” Pierre menyahut. Seketika itu pula ribuan anak panah berapi terlontar dari balik dinding benteng, melayang di angkasa bagai petir yang terang benderang, turun menyambar barisan pertama pasukan Elniri yang terjebak di tengah-tengah parit buatan. Jerit kematian yang seolah tak terhitung banyaknya terdengar serentak. Ribuan prajurit Elniri yang berhasil lolos dari parit itu berusaha tak mempedulikannya dan terus berlari maju, membawa penghancur gerbang dan tangga-tangga mereka.

”Panah berapi!” Suara William terdengar kembali.

Rangkaian petir kematian itu datang lagi, jatuh tepat pada parit seperti gelombang yang pertama, menghantam barisan pasukan Elniri yang datang berikutnya.

”Panah berapi!” Suara William mengantar serangan anak panah yang ketiga, membantai barisan ketiga musuh-musuhnya.

Tomassi terkesiap. Kini ia paham mengapa musuhnya terus memanah pada jarak yang sama ke arah parit. Kobaran api yang tadinya kecil semakin lama semakin membesar di sepanjang parit. Panah-panah berapi membakar tubuh para prajuritnya, bercampur dengan minyak tanah yang telah dituangkan sebelumnya di dalam parit tersebut.

Dinding api raksasa kini terbentuk memisahkan ribuan prajuritnya yang telah sampai di depan dinding selatan, dan dengan ribuan prajurit lainnya yang jumlahnya masih jauh lebih banyak di belakangnya. Selama api itu masih belum padam, gelombang pertama pasukan Elniri akan terjebak di depan. Tomassi kini tak bisa lagi memerintahkan pasukan infantrinya yang di belakang untuk ikut bergerak maju, tapi ia masih bisa membalas dengan cara lainnya.

”Pasukan pemanah!” seru Tomassi. Ribuan prajurit pemanahnya segera berlarian mengambil posisi di balik dinding api. ”Panah!”

Panah berapi Elniri pun berpapasan di angkasa dengan panah berapi dari dalam kota, membuat langit malam menjadi semakin terang benderang.

”Bertahan!” seru William.

Dengan sigap seluruh prajurit Lafette dan Danqs berlindung di balik tembok dan perisai-perisai mereka. Para prajurit menerima rata-rata lima buah anak panah di perisai mereka, membuat sebagian perisai yang terbuat dari kayu terbakar. Selama beberapa lama mereka terus meringkuk tak berani bergerak, karena hujan anak panah itu terus datang bagaikan tanpa henti.

Suara komando dari William yang kemudian menyadarkan mereka kembali. ”Benteng bersiap! Semua pada posisi masing-masing!”

Rupanya pasukan Elniri telah sampai di depan dinding kota. Ratusan tangga telah ditarik dan disandarkan pada dinding benteng, sedangkan penghancur gerbang telah siap untuk diluncurkan di atas jembatan yang ada di depan gerbang selatan. Para prajurit Lafette dan Danqs segera membuang perisai-perisai mereka yang terbakar ke arah ribuan prajurit Elniri di balik tembok. Para pemanah tetap dengan busur mereka, sebagian infantri meraih tombak dan sebagian lagi bertugas melindungi dengan perisai-perisai baja mereka. Sebagian kecil yang lain berpindah ke belakang ketapel-ketapel raksasa mereka.

”Ketapel! Serang!” seru William.

Batu-batu besar terlontar, melayang tinggi di angkasa dan jatuh menggulung barisan pemanah Elniri di balik dinding api. Sementara itu para pemanah Lafette dan Danqs membantai para prajurit Elniri yang berkerumun di bawah benteng. Hanya sebagian kecil prajurit Elniri yang berhasil memanjat sampai ke atas, itupun hanya untuk dibantai oleh tombak-tombak yang telah terhunus dengan rapat di sana. Penghancur gerbang Elniri pun tak sempat diluncurkan, dan teronggok begitu saja di kaki dinding, karena para prajurit pembawanya telah habis dibantai pula.

Tomassi memandang dari kejauhan dengan sorot mata dingin. Ia tahu ia telah dikalahkan pada pertempuran babak pertama ini. Kalah sangat telak. Ia tak bisa lagi menyelamatkan ribuan prajuritnya yang terbantai dengan rapi di bawah benteng. Mereka tidak bisa mundur selama dinding api belum padam, sedangkan pasukan di belakangnya pun tak bisa maju untuk menolong mereka. Saat dini hari, prajurit terakhir yang masih tersisa di depan tembok itu pun habis terbantai, melengkapi lima ribu rekannya yang tewas malam itu.

Walaupun kesal, Tomassi merasa tidak perlu terlalu kecewa. Ini baru malam pertama. Ia sadar sudah meremehkan lawannya, dan ia tahu harus membayar mahal. Tapi itu tidak akan terulang lagi pada pertempuran berikutnya.

Read previous post:  
98
points
(1372 words) posted by Villam 11 years 50 weeks ago
81.6667
Tags: Cerita | drama | Cinta | epik | fantasi | villam
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer smith61
smith61 at The Last Battle - Attarant Elnirisa (9 years 8 weeks ago)
100

kok didelete nih lanjutannya.. mau muncul di gramed yak?

Writer arie juang
arie juang at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 17 weeks ago)
80

bagus, tolong komennya ya pada tulisanku

Writer ndyw
ndyw at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 36 weeks ago)

koq banyak postingan yg dah d delete
:(
mamppir k tempatku ya
:p
http://www.kemudian.com/node/227240#comment-706826
Dragonadopters

Writer ndyw
ndyw at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 41 weeks ago)

seperti biasa mw promosi nih baca cerpenku ya di http://www.kemudian.com/node/224771 dan http://www.kemudian.com/node/224879 di tunggu ya koreksinya
NB : koq ga posting lg?

90

sumpah bagus
penggambaranmu mendekati sempurna
mang asik yah ngayal
====================
Read My Novel
http://www.kemudian.com/users/harlockmail

sumpah bagus
penggambaranmu mendekati sempurna
mang asik yah ngayal
====================
Read My Novel
http://www.kemudian.com/users/harlockmail

Writer ndyw
ndyw at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 46 weeks ago)

cm mw promosi ja
baca kelanjutan critaku ya...
soalnya tuk ku koreksi lg
biar banyak blajar

90

hmmm... pemilihan nama yang unik tanpa terdengar memaksakan ditambah deskripsi yang menghanyutkan.

good job!

Writer ndyw
ndyw at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
90

Cuma satu kata
KEREEEEEEEEEEEEEEN

emang masternya cerita genre gini nech mas Villam nech ah

T_T
aq jd iriiiiiii

ntar baca lanjutan cerita aq juga ya

Writer Alfare
Alfare at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
80

Selain POV yang bikin gaya tulisan jadi kerasa agak beda (kalo ke penerbit bagian ini kayaknya bakal dikomentarin sama editor ^^), kayaknya masih ada sedikit kekurangan lain soal cerita.

Aku juga sebenernya belum lama nyadar hal ini sih. Trus belum lama ini juga aku nyampein hal yg sama ke vq. Tapi gini ya. Kalo manusia udah ngadepin tantangan atau kesulitan yang segitu besar dalam hidupnya, hati ama pikirannya cenderung jadi jalan enggak kekendali dan mereka mulai diliputi keraguan tentang apakah mereka mesti lari dari masalah ato enggak. Gitu lah. Gejala2 yg dirasain saat orang mulai putus asa.

Lalu untuk 'pertempuran terakhir' yang akan menentukan segalanya kayak di Danqurk ini, aku dapat kesan bahwa semua tokoh--kecuali beberapa yang terpilih kayak William, misalnya--tengah ngerasain kekalutan itu.

Aku nyangka semua ini (motif, niat, perasaan, prasangka, dsb) bakal dibahas secara mendalam dengan begitu intrinsik bagi tiap karakter sesudah bab2 perkenalan selesai, kurang lebih ketika adegan2 pertempuran dimulai. Tapi, kayaknya, di bagian ini, hal itu luput deh.

Kurasa ini salah satu dari sedikit bab cerita Bung Villam yang nanti benar2 akan direvisi.

Writer elbintang
elbintang at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
90

Keren ya si Tomassi :p

percakapan antara Piere dan William tentang pasukan besar=effort besar...apa nggak bikin si Piere kliatan sebagai ksatria 'dodol'?

adegan perangnya seru dan asik. stage's William, uh?

Lanjut, master! :-)
ini sih enak dinikmati. banget
------------------------------
pemandu sorak fantasi dalam negeri
cheers!

Writer dian k
dian k at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
80

Villam,
masih belum smooth perpindahan POV-nya. mungkin harus dicari cara lain.

lainnya tetap oke, seperti biasa :)

Writer ubr
ubr at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
90

Pasukan yang besar membutuhkan penanganan yang tidak mudah. Aku senang anda menjelaskan tentang ini sehingga paling nggak ada alasannya atau lebih believeable.
---
Yang aku agak gimana gitu soal minyak tanah. Biasanya di film2 kan yang dipakai buat pengisi pit dan pelapis mata anak panah api cairan hitam pekat yang mudah terbakar (ter? minyak mentah? aku nggak tahu). kalau dibilang 'minyak tanah' bayanganku cenderung ke minyak tanah yang bening, yang akhir2 ini sering langka itu hehehe.

Writer mailindra
mailindra at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
80

Hi..salam kenal.
Biar belum baca keseluruhan episodenya, tapi yang ini keren. Alur ceritanya enak. Perpindahan VOP, teknik yang menarik..(baru tau namanya he.he)
Tulisan mengalir dari atas ke bawah, tapi saya sudah bisa melihat dipikiran kalo gambarnya berganti-ganti, dari satu orang ke orang lain...

Aku baca cerita ini beberapa kali, soalnya mau tau resep perpindahan VOP nya he.he.

Menurutku, ada beberapa bagian yang transisinya kurang mulus.
Kaya yang ini.

Suara komando dari William yang menyadarkan mereka kembali....
...
Rupanya pasukan Elniri telah sampai didepan dinding kota. Ratusan tangga...

Kalo pada kejadian itu,- pemandangan aktivitas pasukan elniri bisa digambarkan dari sudut William, mungkin lebih mulus.

Writer Feline
Feline at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
90

Ho...masih menarik

60

whoa...tolkienesque gitu ya?seru tapi elemen epic battle sama fantasy na kya na bisa sedikit 'di asah bukan di permanis' lagi gitu.....lol

100

Keren...!!! Aku kalau membaca cerita-cerita Villam ini bagaikan menonton adega sebuah film kolosal. Deskripsinya membangun imajinasi untuk mereka-reka seperti apa Kavaleri Elniri, Jenderal Maravai dan lain-lain.

Hanya saja, sebagaimana genre cerita fantasi, suasana menyambut pertempuran sepertinya relatif sama. Mungkin perlu formula untuk keluar dari pakemnya (Hehehe aku gak tahu seperti gimana formulanya).

Writer 145
145 at The Last Battle - Attarant Elnirisa (11 years 49 weeks ago)
80

Bagus, seperti yang sebelum-sebelumnya. Dan soal celah dalam cerita... wew cukup menarik juga sebenarnya, membuat pembaca jadi berpikir kritis. Tiba-tiba jadi ingat Helm's Deep, hmm tapi masih lebih keren pertempuran di Helm's Deep sih he he he.

Yang jadi perhatian saya adalah si Tomassi, karena beberapa bagian di ambil dari sudut pandangnya. Kalau dari bagian sebelumnya rasanya si Tomassi bukanlah orang dengan tipe "Act first, Think later", btw tangga dan jembatan gak jauh beda kayanya.