--- Belum Ada Judul ---


Luka ini telah menganga. Jangankan perban atau pun obat merah, ludah pun sudah kering. Perjalanan ini sangat melelahkan.

Tidak seperti perjalananku yang lain, menjelajahi lautan. Kali ini aku bertualang di tengah gurun pasir. Dari kota Jahil ke kota Jannah, bayangkan... perjalanan di tengah gurun pasir selama lebih dari sebulan. Aku tak sendiri, ada Nurani, ada Nafsu, ada Emosi, ada Tendensi, ada Penasaran, ada Kebingungan, ada Keraguan, dan aku. Tanpa kuajak, mereka mau ikut. Tentu saja, aku ini adalah pemimpin mereka. Mereka tak punya hak untuk menolak, walau terkadang Nafsu dan Emosi menjadi pemberontak.

Jalan ini... ugh...

Jika di lautan, kami dapat merompak kapal mana pun yang kami mau. Dengan kekuatan senjata berapi dan senjata tajam. Mungkin kalah, mungkin menang. Jika kalah tak mengapa, toh! aku punya jurus seribu kaki. Namun, jika menang, maka akan berlimpah dengan harta rampasan. Setelah menang... arak, wanita, kepuasan, birahi, terlampiaskan.

Jalan ini... Ugh...

Tak ada jalan lain selain gurun ini. Lalu mengapa kami mau menempuh jalan yang sangat menguras keringat ini? Desas-desus dari desa Jahil, kota Jannah adalah kota yang diperuntukkan bagi orang yang ingin masuk surga. Bahkan, di sanalah surga!!! Siapa sih yang tak ingin masuk surga??? Maka itulah kami menempuh jalan ini. Sudah kepalang tanggung, kami gengsi kembali dengan tangan kosong. Jika kami kembali, harus dengan bukti bahwa kami pernah berada di kota surga itu. Mungkin dengan menunjukkan beberapa selendang emas bidadari, sang penghuni surga. Atau minimal sebotol penuh, susu dari aliran sungai yang tiada pernah kering di sana (katanya sih). Atau jika diperbolehkan, kami akan berfoto-foto ria barang sejenak di sana, mendokumentasikan kota keabadian itu dengan kami di dalamnya.

Aghhh... imajinasi ini tak datang tepat waktu. Aku haus, lidahku kering. Aku butuh air, penyejuk. Dimanakah Oase, dimanakah?

"Wow!!" jeritan itu berasal dari Nafsu.
"Lihat itu, my friends!!!" dia menunjuk ke arah Barat, kami semua melihat.
Di sana ada oase, dengan beberapa manusia sedang meminum sesuatu. Gadis-gadis muda terlihat berenang. Bukan dengan gaya kupu-kupu atau pun gaya dada. Mereka berenang dengan gaya -telanjang bebas-.
"Ayo kita ke sana!"
Kami mengikuti...

Sesampainya di sana tercium bau memabukkan. Bau apakah itu?
"Selamat datang, para Pengembara! Selamat datang di Sungai Arak ini. Ambillah seberapa engkau mau!"
"Wow! Gratis, cuy! Ayo teman-teman, lets go!" ketika Nafsu sedang bersiap melepas pakaiannya, Keraguan mencegah.
"Stop it, Nafs! Loe yakin kalo ini adalah hal yang benar?" ucapnya.
"Off course dong, honey! Kita haus, telah berjalan jauh. Kenapa kita tak boleh sedikit bersenang-senang di sini???"
"Hmm..." hanya gumaman dari Keraguan setelah mendengar jawaban itu.

"Kayaknya ide Nafsu boleh juga. Gimana?" kali ini Penasaran ikut nimbrung. Namun dia bertanya padaku. Tentu saja. karena aku adalah Pimpinan Rombongan ini.
"Hmm..." dan aku sungguh bingung. Di kondisi sekarat kehausan ini, aku tak bisa berpikir jernih.
"Bos! Aku boleh ngasih pendapat, kaga?"
Aku melirik arah suara itu.
"Silahkan, Nurani!" jawabku.

Kami meneruskan perjalanan... Nafsu kami bawa serta. Namun, kali ini tubuhnya terikat. Dia menolak ikut dan lebih memilih tetap berada di Sungai Arak tadi. Tentu saja aku tak bisa membiarkan dia tinggal di sana. Sebagai Pimpinan Rombongan, adalah tugasku untuk membawa semua personil lengkap tanpa ada satu pun yang hilang, sampai ke tujuan.
"Lepaskan!!! Mmmmph... Penasaran, tolong aku!!!"
Godaannya kepada Penasaran tak berhasil karena Penasaran lebih tertarik untuk melihat Kota Jannah daripada Sungai Arak tadi.
"Sudahlah, Nafs! Ntar juga kamu bertrims-trims kepada kami karena telah memaksamu ikut!" ucap Penasaran.

Perjalanan itu masih panjang... masih sangat amat panjang... dan ini hanyalah sekelumit kisah dari perjalan jauh ini... dan ini hanyalah sekedar penggambaran sebuah kesetiakawanan dari kami.

...... oOoOoOoOo .......

Air! Kami butuh Air!! Tiada hujan, maka tiada air di gurun pasir ini. Bibir mengering, kerontang. Jalan membungkuk, lemas. Langkah kaki terseret-seret. Buntalan demi buntalan bekal perjalanan telah kosong. Yang tersisa di tangan kami hanyalah sehelai peta dan sebuah kompas

Siang yang menyengat, terik tanpa penyaring. Keringat membasahi dan tak akan meninggalkan jejak di atas pasir. Sedetik menyentuh bumi, kemudian menguap ke atas langit.

Malam nanti akan menjadi sebaliknya, angin berhembus tanpa penyaring. Kami semua akan menggigil dengan gigi bergemeretuk. Tiada guna berpelukan, karena dinginnya menembus kulit.

"Bos! Kita istirahat saja dulu, yok!" celetuk Bimbang membuyarkan senyap.
"Agh! Selalu saja kau yang pertama kali menyerah!" amarah yang dikeluarkan oleh Emosi.
"Aku... mmm... Agh! Ya sudahlah, tidak jadi!"
Maka perjalanan terus dilanjutkan.

"Bos! Yakin, tak hendak istirahat sekarang? Atau mungkin " baru beberapa ratus meter, Bimbang mengulangi permintaan yang sama.
"Sialan! Selalu saja Kau mengganggu. Yang melelahkan itu adalah mendengarkan keluhanmu!!" sekali lagi, Emosi mampu menutup rapat mulut Bimbang, yang kini tertunduk lesu.

"Bos..........."
"Shut your fucking mouth!!!"
Hhh... Perjalanan yang melelahkan.

Malam telah tiba, badai angin. Kami menemukan apa yang kami cari, sebuah goa di tengah padang pasir ini.
"Hurray!!!" jerit Nafsu bersemangat.
"Tunggu dulu, Nafs! Jangan langsung masuk. Tidakkah lebih baik jika ada yang mengecek ke dalam?" lagi-lagi Bimbang angkat bicara.
"Apa lagi yang kau takutkan kali ini? Beruang dari Kutub Selatan?!" sergah Nafsu dengan mimik muka mengejek.
"Bukan, bukan! Barangkali saja goa itu adalah sarang kalajengking, atau ular berbisa!" jawab Bimbang.

"Hmm... Ular berbisa gurun pasir, biasanya hidup di bawah pasir. Goa itu beralaskan bebatuan, saya yakin di sana aman," Jenial, menengahi.
"Lalu, bagaimana dengan kalajengking?"
"Itu yang berbahaya. Mereka biasa hidup di bawah bebatuan. Tapi jangan khawatir, aku sudah mempersiapkan air keras. Izinkan aku menyiram cairan ini terlebih dahulu, sepuluh menit kemudian kita akan aman."
Aku tahu dari awal. Membawa Jenial ikut serta adalah keputusan yang sangat tepat, dia selalu bisa diandalkan di saat-saat seperti ini, dengan pengetahuannya.

Malamnya, kami tertidur lelap. Masing-masing bermimpi dengan harapan dan ketakutannya sendiri. Nafsu bermimpi bercinta dengan bidadari di surga, Nurani bermimpi hidup damai abadi tanpa perang, Bimbang bermimpi berada di tengah gurun pasir sendirian - tak tahu harus kemana, Emosi bermimpi berkelahi dengan Jin penjaga Kota Jannah - badannya terbelah, dan aku sendiri bermimpi - entah - tertidur beribu tahun lamanya. Aku bahkan merasa, seolah sedang tertidur di Goa yang bernama Hira - entahlah -

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer zabogar
zabogar at --- Belum Ada Judul --- (11 years 49 weeks ago)
90

waw... mancap pisan lah...

Writer niisa
niisa at --- Belum Ada Judul --- (11 years 49 weeks ago)

kereeennn!!
kutunggu bgt ya lanjutannyaa!! :D

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at --- Belum Ada Judul --- (12 years 4 days ago)
100

Setelah baca keseluruhan ceritanya. Judul yang tepat : JANNAH TAK TERJAMAH

Writer ubr
ubr at --- Belum Ada Judul --- (12 years 4 days ago)
80

Itu judul 'Jannah:Jangan Punah' kerasa lucu (mungkin gara-gara aku sering baca buatan yang buat kali...).
===
Aku bingung, maunya bikin kisah Filsafat yang filsafat atau komedi yang butuh pemahaman beberapa tingkat lebih tinggi daripada komedi biasa?

Writer Super x
Super x at --- Belum Ada Judul --- (12 years 6 days ago)
80

Hmm... aku tau judulnya apa.
--- Jannah : Jangan punah ---

Writer bob1985
bob1985 at --- Belum Ada Judul --- (12 years 6 days ago)
70

wah ada sambungannya yah. kalau gitu aku belum bisa komen.

Writer prince-adi
prince-adi at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
50

kalau dalam perlombaan, djudul adalah hal no.2 paling dilihat setelah tema cerita

hmm, ku ngerasain cerita ini masih saling ngebanting antara dialog dan narasina

Writer rey_khazama
rey_khazama at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
Writer mOOel
mOOel at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
100

paraf awal
*nafsu pingin =)) =)) bis lucu sih... :D

aku tunggu kelnjutnya ya kak...

<br />
slam

Writer Feline
Feline at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
90

Menarik sekali, kau menggambarkan sifat sebagai salah satu tokoh.

Writer SnowDrop
SnowDrop at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
80

weeeeeeeewww...cerita yang bagussss,,cerita yang..umm..'a bit serious' dari seorang om amri, tapi teteuph,,pake lucu2an,,haha,ciri khas banget ya..

jadi inget cerita tentang Cinta,Kekayaan,Kecantikan,Kebahagian,Kesedihan,dan akhirnya, Waktu (dongeng sederhana yang simple, kayanya om amri juga tau :) ),,tapi dari semuanya, kayanya nafsu yang paling sering nongol ya? cerminan hidup sehari2 tuh ! hehe

yang agag menggangu cuma gambarnya kaga nongol ja om amri, malah jadi ada semacam kode2 tak jelas...kalo soal cerita,khasnya om amri bgts dah :)

ini mo jadi serial jua selain nalan ? hummm

tapi gw ngerasa sama ma mba nisa,,om amri mo kemana ?? mo pegi merantau lagi kah ?? haha,,kesannya kaya pengembara gtu

yah,pokoke,semangat nulissssssssss ^^

Writer Deschia
Deschia at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
90

sip... kutunggu lanjutannya...

Writer cepiklepi
cepiklepi at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)

Serunya juga. :)

tapi ada karakter tulisan yg mengganggu untuk dibaca.

GC aligIn="cQente^r"1 srBc=O"h5tt+p:H//9tbDn06.gYooZglEe.0coJm/EimDag!esN?qT=t4bnH:g9waOCB+7LTX6Iyx|Z-!M:YhtMtp):/A/wVww~.dIisJcoDveHra5dvMen3tu*re8.cNom4/i!ma%geKgaBllDerNy/1_IGma8ge$s/!ToRur_s/OgeJne~raVl%825$203im(agHesH/SGahBar@a%Q25U20HopYen5%2M52#058.J6PGZ"D altL="pFetu+ala%ng"S /

Wassallam,

Writer ipenk project
ipenk project at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
90

Ko gambarnya ga keliatan ya ???

*ada pesan dalam kisah ini..:)

Writer peranita
peranita at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
70

tujuh!
cukuplah
hehehe

Writer chrischemslover93
chrischemslover93 at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
90

mantaapp.. love it..

kasi komen padaku juga yaa.. thx :) :) :)

Writer pikanisa
pikanisa at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)
100

ahhh bang amriii...

kok nisa ngerasa jadi semacam memorabilia ya?

aneh?

seperti dirimu mau pamitan.

maybe it's just my feeling.

anyway aq dah pernah bilang, kamu dah bikin kontrak mati sama genre komedi.

mo model gimana pun cerita nya pasti kamu bawa ke komedi.

still remember? waktu kamu awal2 bikin cerita yang agak serius-an? yang ceritanya Riak?

kupernah bilang kan? meski gaya apapun, komedi mu g bakalan pernah bisa ilang.

meski kukatakan berkali-kali ma kamu "aq ini g punya sense of humor, dodoll" g bisa bikin komedian dengan gaya cantik kek dirimu. yaaahhh g terhitung tuh off msg ke send d YM, trus ntar2 nya berakhir dengan gaya memelasmu minta komen.

dan hancriittt selalu ku turuti =))

* so the point is, aq sebenarnya g tahu mau komen apaan =))

pengen nyampah mungkin siii

auk ah bang

Writer peranita
peranita at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)

pamitan??
benar kah amri???
paling account bayangan lagi..:P

sepertinya perjalanan jannah nee adlh trauma pribadi.(lho?)hehehe

ingat kisah bahlul?dengan kisah tidak ada api di neraka?.
atau yang baru nee
ttg neraka nya amrozi cs,
amrozi emang di surga beserta bidadari2 plus bom mledak tiap 10 menits.

langsung dengan tokoh abstrak seperti nurani n penasaran adalah daya tarik tulisanmu, karena pembaca mengaitkan dengan defenisi yang sudah ada di kepalanya. berbeda, klo nurani diganti dengan thompson.

hati-hati dengan defenisi umum itu.
aku lebih suka dengan metafora aja. misal binatang atau teman bayangan, y mewakili anak buah si aku.

Writer Super x
Super x at --- Belum Ada Judul --- (12 years 1 week ago)

peranita wrote:
pamitan??
benar kah amri???
paling account bayangan lagi..:P

sepertinya perjalanan jannah nee adlh trauma pribadi.(lho?)hehehe

ingat kisah bahlul?dengan kisah tidak ada api di neraka?.
atau yang baru nee
ttg neraka nya amrozi cs,
amrozi emang di surga beserta bidadari2 plus bom mledak tiap 10 menits.

langsung dengan tokoh abstrak seperti nurani n penasaran adalah daya tarik tulisanmu, karena pembaca mengaitkan dengan defenisi yang sudah ada di kepalanya. berbeda, klo nurani diganti dengan thompson.

hati-hati dengan defenisi umum itu.
aku lebih suka dengan metafora aja. misal binatang atau teman bayangan, y mewakili anak buah si aku.

Pamitannya mungkin iya mungkin tidak. Kalau account bayangannya, jelas tidak. Bukan saatnya lagi kak. Aku kan membuat account bayangan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Kelihatannya sekarang... waktunya menyiram dan mengembangkan apa yang ada. ^^

Soal warning mengenai karakter... ho oh, mangkanya draft ini juga masuk daftar pending. Mo pendalaman dulu inih.

Soal pengalaman pribadi :D ahak hak hak... kita tau sama tau aja laaah ;)