Kalah

“Ahh…”

“Kenapa Wik? Kau tak mencintaiku?”

“Bukan begitu…”

“Lalu..???”

Tiwik menghempaskan pantatnya ke bangku taman yang agak basah. Gerimis barusan turun mengiringi sore yang dingin. Rio berdiri terpaku menatap Dewi dengan perasaan yang campur aduk tak karuan.

“Aku minta maaf ya Rio…” Dewi menghela nafas perlahan sambil menatap cowok cakep di depannya.

Rio adalah kakak angkatan di kampus yang selama ini menjadi teman setia bagi Dewi. Tempat curhat, tempat mengadu, teman belajar, teman main. Kedekatan yang begitu akrab dan mesra memunculkan presepsi lain diantara teman-teman mereka yang menganggap Rio dan Dewi sudah resmi pacaran. Padahal sebenarnya baru sore ini Rio mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menyatakan cintanya kepada Dewi.

“Aku sayang sama kamu, Rio. Lebih dari yang pernah kau kira.”

“Tapi mengapa Dewi tak menerima cintaku?” Rio mengguncang pelan pundak Dewi. Dewi hanya bisa menundukkan wajahnya.

“Kamu tahu Rio… selama ini bahkan mulai dari awal kita kenal, aku sudah merasakan ada suatu perasaan lain yang menghinggapi hatiku. Dan ketika kita mulai dekat dan akrab, perasaan itu semakin menggelora. Tapi sekian lama aku menunggu respon darimu, aku tak menemukannya. Aku merasa kamu menganggapku biasa saja. Hanya teman. Hanya adik bagimu… Terlebih ketika kamu lebih memilih Vita sebagai pacarmu daripada aku, perasaanku hancur. Dan aku selalu menyembunyikannya darimu.“ Dewi menengadahkan wajahnya menatap Rio.

“Ahh.. Dewi.” Rio menggenggam jemari Dewi lalu duduk merapat di sebelah Dewi.

“Sebenarnya selama ini aku tersiksa dengan penantianku yang terasa hampa. Aku merasa bertepuk sebelah tangan. …”

“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu Wik?”

“Aku tak punya keberanian untuk itu Rio. Kamu bukan pria biasa. Kamu idola di kampus kita. Apakah aku tak akan lebih sakit jika ternyata itu hanya perasaan yang muncul dihatiku, bukan hatimu? Dan ternyata benar kan?”

“Sekarang kan aku sudah mengungkapkan perasaanku kepadamu Wik, kenapa kamu malah menolaknya? Kemaren aku memang salah memilih orang, ternyata Vita bukan orang yang bisa mengerti siapa aku, dia hanya memanfaatkan popularitasku semata. Aku baru menyadari bahwa orang yang bisa mengerti aku hanya Dewi.” Rio merengkuh pundak gadis manis disampingnya. Sementara Dewi hanya memandang lurus ke depan, ke arah jalanan yang mulai ramai orang-orang yang ingin menghabiskan malam Minggu.

“Maaf Rio… aku mencoba bersabar dengan penantianku yang entah akan sampai kapan, didalam rasa sakitku yang sering menyiksaku. Dan dalam masa-masa itu, ada seorang lelaki yang menawarkan cinta tulus kepadaku. Dia bisa membuatku kembali ke permukaan setelah aku tenggelam sangat dalam.”

“Apa Wik?” Rio menatap Dewi dengan ekpresi kaget dan tak percaya apa yang didengarnya. “Jadi kamu sudha punya pacar?”

“Iya.”

“Kenapa tidak pernah bilang kepadaku?”

“Kami memang sepakat untuk merahasiakan dulu hubungan ini…”

“Siapa dia?”

“Adam…”

“Hah! Adam?! Adam sepupuku itu?” Rio terlonjak kaget.

“Iya…”

Rio tertunduk lesu. Dia merasa tulang-tulang mencair. Disandarkan tubuhnya yang lemas di sandaran bangku taman. Sore yang temaram tiba-tiba nampak begitu gelap. Bayang-bayang Dewi yang duduk disebelahnya pun ikut memudar bersama gerimis yang kembali turun membasahi bumi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer TOILET_KATA
TOILET_KATA at Kalah (13 years 2 weeks ago)
70

Endingnya kurang greget bro, kalo aku tak bikin si Tiwik jadian sama si Vita, mereka jadi lesbong karena jenuh sama laki-laki..
haha...

Writer ndyw
ndyw at Kalah (13 years 2 weeks ago)
70

gt ya?...
masih arad bingung ih
hehehhehehehehheh
sebab tw2 dah d tengah konfliks

baca critaku jugha ya

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Kalah (13 years 2 weeks ago)
80

wah...tragis.

Writer ipenk project
ipenk project at Kalah (13 years 2 weeks ago)
90

Iiiih.. ko segitu aja ??? Panjangin dikit dooonk.. :(

Bagus padahal...

=9, aja ya !

Writer wiethLucky
wiethLucky at Kalah (13 years 2 weeks ago)
80

hiks ... Y_Y

Writer Aspal_panasku
Aspal_panasku at Kalah (13 years 2 weeks ago)
90

habis..