Dewi Pagi Rifan

Dewi Pagi Rifan

11 Mei 2006
Rifan
Pagi ini tiba-tiba saja aku ingin berangkat pagi-pagi. Jam setengah tujuh aku sudah siap berangkat. Padahal biasanya jam tujuh baru pasang niat. Entah apa yang terjadi, seperti ada kekuatan aneh yang memaksaku untuk berangkat satu jam lebih cepat dari biasanya.
“Loh? Bukannya biasanya kamu baru berangkat jam tujuh lewat? Sekarang jam enam udah siap. Semangat, lagi. Jangan-jangan mau hujan, …” ledek Mama.
“Cuaca hari ini cerah sekali, soalnya” jawabku sambil lalu dan segera setelah itu bergerak keluar rumah.
Sampai di kampus aku memutuskan untuk duduk-duduk saja dulu di kantin sambil menunggu waktu kuliah tiba. Kebetulan aku tidak sendirian saat itu, ada seorang gadis yang sudah lebih dulu duduk di kantin. Kebetulan yang bagus. Sangat. Mungkin gadis itu adalah jawaban dari firasat sebelum ke kampus pagi ini. Mungkin kekuatan misterius itu menginginkanku mendapat kesempatan ini. Kesempatan untuk bias bertemu dengan gadis itu.
Entahlah, gadis itu tidak sangat istimewa penampilannya. Biasa. Jeans, T-Shirt, sepatu kanvas. Penampilan orang kebanyakan. Hanya saja gerak-geriknya sangat menarik bagiku. Anggun. Caranya menyeruput teh hangat, caranya membalik halaman buku, bahkan caranya bernafas sangat…, entahlah, … cantik. Kurasa aku telah menemukan alasan untuk bertahan hidup lebih lama lagi.

13 Juni 2006
Sony
Hari ini tidak ada yang lebih menarik daripada si Rifan. Dia membuat hidupku lebih berwarna dengan kebodohan dia yang kelewatan itu. Hi hi hi hi... Siapa suruh dia percaya begitu saja padaku. Ck, ck, ck, Rifan… seharusnya kamu tidak kelewat polos begitu. Banyak orang jahat di dunia ini, Nak, termasuk saya, Ha ha ha ha ha ha…
Dia langsung percaya waktu kubilang kalau aku sepupu si Puri, pujaan hatinya itu. Mungkin dia pikir aku tahu banyak tentang Puri. Padahal aku cuma tahu kalau dia itu anak FISIP yang selalu sarapan di kantin fakultas kami yang bersebelahan dengan FISIP. Aku juga tahu kalau dia sering pakai baju pink, selalu bawa tas besar dengan gambar Donald Duck. Hanya itu, sih sebenarnya. Tapi, pengamatan yang cukup detil itu membuat dia berpikir kalau aku memang saudaranya Puri. Memang si Rifan tolol dan memang saya jenius. Hwa ha ha ha ha…

Rifan
Doaku selama sebulan terakhir ini terjawab juga. Akhirnya aku punya kesempatan berkenalan dengan Puri! Ternyata, Sony, teman sekelasku di kelas Bahasa Inggris, sepupu Puri! Mungkin aku dan Puri memang berjodoh. Kalau tidak, tidak mungkin ada kebetulan yang sangat diharapkan seperti ini.
Sony bertanya padaku, “Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu datang ke kampus pagi sekali, Rifan?”
“Sesukaku, dong… aku hanya suka berangkat pagi karena belum banyak polusi dan lebih kecil kemungkinan terjebak macet.”
“Alasan segala,” katanya.
“Maksudmu?”
“Aku tahu alasanmu selalu datang pagi akhir-akhir ini.”
Tidak mungkin.
“Puri ‘kan?”
“Kamu kenal Puri?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejut.
“Puri yang anak FISIP, ‘kan? Yang hampir selalu memakai baju warna merah muda, yang selalu bawa tas besar bergambar Donald Duck. Ya, ‘kan?”
Tidak mungkin.
“Ya, ya, Puri yang itu. Kamu kenal dia?”
Sony tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya tersenyum misterius.
“Atau jangan-jangan... kamu saudaranya?”
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Yah... karena kamu kelihatannya tahu banyak.”
“Saudara... yah... bisa juga dibilang begitu”
No way.
“Kamu mau berkenalan dengannya?” tanya Sony kemudian tanpa tedeng aling-aling.
“Yah... sebenarnya...”
“Tapi ada syaratnya,” Sony tersenyum.
“Syarat?”
“Ya. Syarat. Keberatan?”
“Apapun akan kulakukan,” kataku pasti.

Sony
“Apapun akan kulakukan,” kata si tolol Rifan. Aku nyaris tertawa mendengarnya, juga melihat ekspresi mukanya ketika mengatakan itu sungguh-sungguh. Tapi, tentu saja aku menahan tawaku sekuat tenaga. Aku hanya tersenyum saja. Tersenyum puas.
“Syaratnya, kamu harus mau mengerjakan tugas ringkasan buku Dunia Sophie untukku.”
“Dunia Sophie? Tapi aku ‘kan belum pernah baca buku itu.”
“Lalu?”
“Aku malas membacanya. Dunia Sophie ‘kan buku filsafat. Susah.”
“Tapi, semester depan kamu juga harus membaca buku itu.”
“Aku tahu, tapi...”
“Kalau begitu kamu boleh berkenalan sendiri sama Puri.”

Rifan
Huh! Aku tidak mau dimanfaatkan hanya karena aku ingin berkenalan dengan seorang gadis. Aku tidak perlu bantuan Sony hanya untuk berkenalan dengan Puri. Berkenalan saja pasti tidak sulit. Namanya berkenalan ‘kan hanya seperti itu. Sebut nama, basa-basi sedikit, senyum yang lebar, selesai. Mudah.

14 Juni 2006
Sony
Si tolol itu tidak mau mengerjakan tugasku sebagai syarat berkenalan dengan Puri. Padahal, aku yakin ia tidak akan punya cukup nyali untuk berkenalan sendiri. Kalau ia memang berani, pastinya ia sudah berkenalan dengan gadis itu jauh-jauh hari sebelum ini. Aku yakin, ia sebentar lagi akan kembali padaku dan meminta bantuan. Lihat saja.

Rifan
Akan kubuktikan bahwa aku bukan pengecut. Aku tidak perlu bantuan siapa pun hanya untuk berkenalan dengan seorang gadis. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan mundur.
Nah! Itu dia datang. Aku menarik napas dalam-dalam. Puri terlihat sedang mengeluarkan sebuah buku. Aku menatapnya lekat-lekat, berharap dengan begitu kegugupan yang sedang kurasakan akan berkurang. Deg! Jantungku mau copot rasanya. Ia menoleh padaku! Tidak hanya itu, ia tersenyum saat pandangan kami bertemu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan aku tidak membalas senyumnya karena terlalu gugup. Ayo, senyumlah lagi dan akan kuberikan apapun.
Hei, tunggu! Ia tersenyum padaku. Artinya, baginya aku bukan orang asing. Artinya, aku tidak perlu gugup. Bahkan ini lebih mudah dari dugaanku. Aku menarik napas panjang, berdiri untuk kemudian menghampiri Puri. Tiba-tiba saja jantungku berdegup tiga kali lebih cepat. Puri hanya berjarak beberapa meter dariku, namun entah kenapa aku merasa jarak yang ada di antara kami bermil-mil jauhnya. Kakiku seperti menolak diajak melangkah sehingga aku harus memaksanya sekuat tenaga. Aku menarik napas lagi, berusaha menenangkan diri.
Sedikit lagi, Puri yang sedang serius membaca sebuah buku kini makin dekat jaraknya dariku. Makin dekat. Sangat dekat. Sekarang aku bahkan bisa melihat ia sedang membaca halaman 301. Sekali lagi aku menarik napas.
“Halo,” sapaku dengan suara yang terdengar bergetar karena gugup.
Puri menengok ke belakang. “Ya?” katanya.
Aku terdiam selama beberapa detik. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi suaraku tertahan di tenggorokan. Oh, tidak. Jangan sekarang. Jangan di depan Puri. Setelah beberapa detik yang terasa berabad-abad akhirnya aku bisa bersuara juga walaupun hanya berupa suara terbatuk yang tidak jelas. Puri menunggu sambil mengangkat alis.
Entah bagaimana tiba-tiba saja aku membungkuk mengambil sebuah pulpen yang tergeletak begitu saja di samping kaki kursi yang diduduki Puri.
“Pulpenmu terjatuh,” kataku sambil menyerahkan pulpen itu ke tangannya. Segera setelah itu tahu-tahu aku sudah kembali ke tempat dudukku sendiri, mengambil tas yang masih ada di sana, lalu cepat-cepat meninggalkan kantin. Masih sempat kudengar Puri mengucapkan terima kasih di balik punggungku.
Bodoh! Makiku pada diri sendiri. Harusnya tidak begini kejadiannya. Harusnya aku tidak segugup itu tadi. Harusnya aku bisa bertahan sedikit sampai kami berkenalan. Bodoh! Sekali lagi aku menyesali ketololanku. Sepertinya aku memang butuh bantuan. Persetan dengan gengsi.

15 Juni 2006
Sony
Sudah kubilang ‘kan kalau si Rifan itu pengecut. Dan aku benar. Buktinya pagi ini ia datang padaku minta bantuan.
“Bukannya kamu kemarin menolak bantuanku?”
“Bukan begitu. Mulanya aku pikir tidak apa-apa kalau aku berkenalan sendiri dengannya. Tapi setelah kupikir lagi, mungkin lebih baik aku dikenalkan oleh seseorang yang sudah mengenalnya dengan baik. Kamu ‘kan saudaranya. Maksudku, dengan begitu aku tidak terlalu asing baginya,” ujar Rifan. Jelas sekali ini hanya kilahan. Intinya dia pengecut. Itu saja. Tapi tentu aku tidak akan bilang begitu padanya.
“Oke, aku tidak keberatan membantu. Tapi, bantuan akan diberikan setelah kamu selesai meringkas Dunia Sophie,” kataku tegas.
“Yah, baiklah.” Rifan terdengar pasrah. Ia memang tidak punya pilihan lain saat ini. Bukan salahku kalau dia pengecut dan bukan salahku juga kalau aku mengambil keuntungan dari situ. Di dunia ini tidak ada yang gratis, Rifan.

17 Juni 2006
Rifan
Pagi itu, aku duduk di kantin tidak hanya sambil menikmati cappuccino seperti biasa, tapi juga sambil membaca buku berjudul Dunia Sophie untuk mengerjakan tugas Sony yang harus dikumpulkan dua hari lagi. Aku tidak begitu suka buku itu. Menurutku, terlalu banyak mengajak berpikir. Namun, kenyataannya sekarang aku membacanya hanya demi kesempatan berkenalan dengan gadis yang kuamati setiap pagi di kantin.
Aku kesal karena baru menyelesaikan seperempat bagian dari buku itu, sedangkan tugas laporan bacaan itu harus dikumpulkan dua hari lagi. Tapi ini ‘kan seharusnya tugas Sony? Pikirku sambil merengut kesal.
“AAAAARRRRGGGGGHHHHHH!!!!” Karena kesal tanpa sadar aku berteriak. Mungkin karena terkejut mendengar teriakanku, seorang penjaga kantin menghampiri dan bertanya, “Ada apa Mas?” Aku cuma menggeleng menahan malu. Akhirnya penjaga kantin itu kembali ke pekerjaannya. Ketenangan kantin yang tadinya sempat terganggu gara-gara teriakanku, akhirnya kembali lagi seperti semula.
Puri yang ternyata sedang berdiri di ambang pintu kantin melihat ke arahku. Pandangan kami bertemu. Aku cepat-cepat menunduk membuang pandangannya kembali ke buku. Pasti dia mendengar teriakanku tadi. Pasti Puri pikir aku orang gila. Aduh… mati. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku terus mencaci diri sendiri dalam hati.
Tiba tiba, “Halo, boleh aku duduk di sini?” tanya seseorang sementara aku masih menunduk. Aku mendongak lalu tercengang. Puri.
“Eh, i.. iya, silakan,” aku tergagap-gagap.
“Kamu yang tempo hari mengambilkan pulpenku yang jatuh itu ‘kan?”
“Eh? I, iya...”
“Lagi baca apa?” tanya Puri setelah ia duduk di sampingku.
“Eh, ini…”
“Oh… Dunia Sophie. Kamu ikut kelas Filsafat, ya semester ini?”
“Eh, sebenarnya, tidak.”
“Lalu, ini untuk apa?”
“Yah…sebenarnya aku cukup suka novel-novel seperti ini.” Puih! Suka apanya? Ralatku dalam hati.
“Ohh… Eh iya, kamu selalu di sini ‘kan, setiap pagi?”
“Iya.”
“Aku juga. Aku sering liat kamu.”
Hah? Tidak kusangka. Ternyata Puri memperhatikan kalau aku selalu ada di sini setiap pagi. Bagus, bagus, awal yang bagus, Rifan, ujarku dalam hati.
“Tapi, aku belum tahu nama kamu. Nama kamu siapa? Aku…”
“Puri.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Tentu saja aku tahu. Aku kenal sepupumu. Dia jurusan sastra Indonesia ‘kan?”
Puri mengerutkan alisnya. “Sepupu?”
“Iya, sepupumu namanya Sony ‘kan?”
“Aku bahkan tidak punya sepupu yang kuliah di sini…”
Aku memandang Puri dengan wajah kebingungan. Puri tidak mungkin berbohong. Kemudian di kepalaku terbayang wajah Sony yang sedang tersenyum licik. Anak itu bakal mati. Tanganku mengepal.
“Kamu kenapa?” Puri menyadarkanku dari pikiran tentang Sony.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa,” aku tersenyum.
“Oh iya, namaku Rifan.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Dewi Pagi Rifan (13 years 38 weeks ago)
70

Tekhnik perpindahan sudut pandang termasuk tekhnik yang sulit tapi juga menarik. Biasanya perpindahan sudut pandang dilakukan karena penulis menganggap ada hal yang harus diketahui pembaca namun tidak bisa tersampaikan kalau hanya menggunakan satu sudut pandang. Tekhnik begini juga tidak bisa dipakai sembarangan. Kalau penulis sudah memutuskan menggunakan beberapa sudut pandang tokohnya, berarti penulis itu meletakkan tokoh-tokoh tersebut dalam posisi yang sama penting.
Waktu baca bagian awal cerit aini, saya pikir cerita ini akan berkisah tentang Rifan dan Sony sebagai tokoh utama. Ternyata hingga bagian akhir, cerita ini hanya bercerita tentang Rifan, sementara Sony hanya menjadi figuran karakter yang mencoba memanfaatkan Rifan. Kalau begini, apa bedanya dengan bercerita menggunakan sudut pandang Rifan saja? Apalagi cara penyampaian model diari begini, menurutku akan lebih menarik kalau hanya bercerita tentang Rifan.