Jazz . Hujan. Dia.

Adi menguap.

Bukankah konser Jazz ini harusnya menyenangkan?

Sekali lagi Adi menguap. Dengan malas, ia mengawasi keadaan sekitar. Di kiri-kanannya, orang-orang berteriak-teriak, melompat-lompat, bernyanyi, berusaha membuat penampilan band yang sedang tampil di atas panggung bertambah meriah. Tetapi baginya, itu hanya berarti satu; membuang-buang energi.

Dengan telinga yang terus berdenging—nyaris tidak bisa mendengar dengan normal—Adi berjalan meninggalkan tempatnya. Susah payah ia menerobos lautan manusia yang seolah tiada habisnya. Seakan-akan menghalangi usahanya untuk segera pergi. Ah, andaikan ia bisa menghilang begitu saja. Mungkin—ia akan sedikit lebih senang.

Pikiran anak muda itu terus melayang selagi kakinya bergerak sendiri menjauhi keramaian.

Bingung. Heran. Terkejut. Amazed. Atau entah apa lagi kata yang kira-kira bagus untuk mendeskripsikannya. Adi betul-betul sulit untuk mengerti. Bisa-bisanya ia terdampar di sini. Di festival ini. Sendirian!

Kaus Abercrombie and Fitch itu mulai lengket di tubuhnya. Namun Adi sepertinya memang sudah mulai kehilangan kemampuan untuk merasa. Untuk beberapa menit selanjutnya, ketika ia berdiri di depan salah satu stand minuman ringan, pikirannya betul-betul kosong. Blank.

Lalu mendadak, ia ingin pulang.

Biar saja tiket seharga 30 ribunya sia-sia karena hanya sempat menonton satu pertunjukan dari sederetan penampilan yang tertulis di lembaran rundown yang ia dapatkan tadi.

Biar saja bensinnya terbuang percuma untuk perjalanan Sentul-Depok yang menyebalkan ini.

Biar saja sisa harinya ia habiskan di tempat tidur sampai besok pagi.

Terus berada di tempat ini hanya akan membuatnya sakit hati.

Adi segera bergegas. Dengan langkah yang cepat dan mantap, ia meneguhkan hati untuk segera beranjak.

Dan ia hampir berhasil.

Begitu suara itu terdengar, susunan melodi dan vokal yang begitu akrab di telinganya, barisan lirik yang selalu terngiang di dalam tempurung kepalanya, Adi tidak bisa melanjutkan langkahnya. Di jarak dua meter dari pintu keluar, ia membeku. Sosoknya terpekur. Diam.

Kembali…
Kembalikan dia lagi…

~ ~ ~

Rokok, minuman kaleng, dan kunci mobil.

Adi hanya bisa pasrah. Tidak adakah sesuatu yang lebih baik untuk menemaninya sore itu?

Baiklah. Ralat.

Tidak adakah seseorang yang lebih baik untuk menemaninya sore itu?

Adi menyamankan posisinya. Dengan beralaskan selembar koran bekas yang dipungutnya asal di tengah jalan, ia duduk di atas rerumputan. Sedikit agak jauh dari panggung, tetapi cukup strategis sehingga ia masih mampu untuk menonton para performer yang sedang beraksi di atas sana. Lagipula, Adi tidak segitu histerisnya ingin melihat sang musisi idola dari dekat hingga harus berdesak-desakan diantara ratusan kepala yang berjejalan di depan panggung.

Yah, setidaknya itu karena dia tidak ada. Jika dia ada, maka Adi berani bertaruh. Detik ini juga, ia pasti sudah berada di barisan paling depan. Bahkan kalau perlu, menempel di pagar pembatas panggung.

“Duh…Di…Twentyfirst Night mau manggung…!”

“Di, gue kepingin banget pergi, niiihh…”

“Di, lo pergi kan??”

“Pasti seru deh, Di… Nggak kalah sama taun kemaren…”

Adi menyulut sebatang rokok lagi.

Memang tidak mungkin untuk tidak mengingat dia di saat-saat seperti ini.

Di saat-saat ketika tahun lalu, di jam yang sama, di detik yang sama, dan di tempat yang sama mereka berjalan, mereka tertawa, mengobrol, mengumpat, memuji, juga mencaci dengan sepasang tawa lepas yang seolah telah menanggalkan atribut-atribut seorang Adi dan seorang dia.

Adi merogoh saku celananya. Mengeluarkan selembar kertas berwarna hijau dominan yang sudah nyaris robek. Selembar pass ekstra yang sengaja ia beli. Sengaja ia siapkan jika sewaktu-waktu dia berubah pikiran.

Meskipun ternyata tidak.

Tik!

Setetes air entah darimana jatuh ke atas pipi Adi.

Anak muda itu mendongak. Sepertinya air akan segera tumpah dari langit.

Sial! Adi mengumpat dalam hati. Bukan karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, bukan pula karena ia tidak membawa payung, apalagi karena ia merasa tadi terlalu jauh memarkirkan mobilnya dari venue. Ia mengumpat karena hujan ini mengingatkannya pada dia.

“Di…hujan…lo jemput gue, ya??”

Begitulah sederet kata-kata yang akrab mampir di telinganya jika dia menelepon di saat hujan. Namun ketika kini juga hujan, dan Adi memandang layar ponselnya, tidak ada yang ditemukannya kecuali pantulan wajahnya yang kusut.

Di sana, pastilah sekarang ada orang lain yang akan menjawab telepon dia. Seseorang yang akan dimintanya datang ketika hujan. Seseorang yang kini barangkali sedang duduk menghabiskan waktu bersama ia entah di mana.

Di sini, kucoba mengingat lagi
Rangkaian hari-hari yang dahulu terlewati
Kembali…
Kembalikan dia lagi…

Adi tidak pernah mengharapkan hatinya jadi semellow ini ketika mendengar lagu Kembali yang diperdengarkan Twentyfirst Night, band Jazz yang tadi baru saja tampil. Namun ketika ia ingat bahwa dia sangat menggilai lagu ini, Adi betul-betul tidak dapat bereaksi selain mendengarnya sampai habis.

Kalo lo nggak bisa denger, biar gue yang dengerin untuk lo, Ta… gumam Adi dalam hati.

Tik!

Tetes air kedua jatuh. Kali ini ke atas punggung tangannya.

Sepertinya ia memang harus pulang. Mungkin ia memang tidak ditakdirkan untuk menikmati festival ini sampai habis.

Adi baru saja berdiri dan sedang membersihkan sedikit noda tanah yang menempel di bagian belakang celananya ketika tanpa terduga ponsel di sakunya bergetar.

One message received—Adi membaca kata-kata yang tertera di layar.

Dari Asta.

Dari dia.

Gmn acarany, Di?? Seru?

Adi tersenyum tipis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejenak bingung harus menulis apa.
Namun akhirnya ia mengetik juga.

Seru banget! Coba lo ikut ke sini!

--Message sent.

Adi menghela nafas. Apakah tadi bisa dikategorikan sebagai kebohongan?

Ah, entahlah!

Namun untuk beberapa alasan yang sulit dijelaskan, hatinya terasa lebih ringan sekarang.

Kemudian dengan sebuah senyum tipis terpasang di wajah kakunya, Adi melangkah pulang.

Dan jika hujan ingin turun sekarang juga, silakan saja.

-end-

Read previous post:  
73
points
(1013 words) posted by me_everywhere 12 years 38 weeks ago
73
Tags: Cerita | cinta | haha | lain-lain | me_everywhere | tolong kasih komen
Read next post:  
Writer dhani
dhani at Jazz . Hujan. Dia. (10 years 16 weeks ago)

haaa,, pokok nya aku selalu senang apa pun tentang hujan .. :)

boleh minta tolong gag, bca punyaku juga :)

Writer harlockmail
harlockmail at Jazz . Hujan. Dia. (12 years 33 weeks ago)
90

hanya satu kata
sip!

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Jazz . Hujan. Dia. (12 years 36 weeks ago)
80

HEIIIIII

JAZZ KEREN TAUUUU

he he he, salam kenal

mohon caci maki karya saya juga yaa

Writer frozen_menye2
frozen_menye2 at Jazz . Hujan. Dia. (12 years 36 weeks ago)
80

membawa gw ke romantisme masa lalu, haha, tapi kayanya rasa itu masih bisa diexplore deh...keep on writing dude

Writer Riebuzz
Riebuzz at Jazz . Hujan. Dia. (12 years 36 weeks ago)
100

SIMPEL DAN GUE PERNAH NGERASAIN KEJADIAN KAYAK GINI... baguss :D

Writer cesska
cesska at Jazz . Hujan. Dia. (12 years 36 weeks ago)
80

ga seru ya JGTC? untung gw ga dtg, hehe..ceritanya simple, ngalir aja, enjoy bacanya, suasana juga OK. Jd kangen kampus.