Sukirno dan Pohon Beringin Tua --- 1 ---


Sukirno adalah seorang Tukang Parkir. Bukan karena tak punya kemampuan apa-apa untuk menjadi seseorang yang lebih hebat. Tapi mungkin karena ia tak diberikan terlalu banyak pilihan oleh masyarakat.

Lima belas tahun yang lalu ia telah menamatkan sekolah STM bagian sipilnya. Hanya butuh waktu dua mingguan untuknya mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ia pun bekerja dengan sebuah kontraktor yang terpilih untuk membangun sarana-prasarana di kampungnya, kampung Belanak. Di situ ia diberikan kepercayaan sebagai juru hitung RAB sekaligus juru Drafter.

Proyek yang ditangani kontraktor ini tidaklah sedikit. Mulai dari proyek pembangunan puskesmas pembantu, rehab sekolah dan masjid, pengaspalan jalan, pembuatan jalur irigrasi, sampai ke pembangunan jembatan, yang nantinya akan menghubungkan Kampung Belanak dengan kampung tetangga yaitu Kampung Kakap dan Kampung Bandeng. Jadilah ia sibuk dengan urusan proyek tersebut sampai setahun ke depan.

Dua bulan berlalu, Sukirnopun menjadi orang yang sangat terkenal dengan kerjanya yang membanggakan kampung. Bekerja di sebuah kontraktor besar mengubah hidupnya. Budaya kampung yang masih suka menjodohkan anakpun melanda Sukirno. Jadilah ia dijodohkan dengan Mariani, wanita Kampung Kakap yang terkenal cantik. Sukirno setuju, pernikahan akan dilaksanakan enam bulan ke depan, menunggu bulan Syawal datang.

Dikesibukannya bekerja dan mengurusi pernikahan, Sukirno mendapati sebuah tonjolan kecil di bagian pahanya. Agak berbau busuk dan terkadang bernanah. Ramadhan telah tiba, Sukirno tak ambil pusing dengan benjolan kecil ini karena pernikahan akan dijalankan dalam hitungan hari.

Pernikahan Sukirno diselenggarakan besar-besaran. Setara dengan pesta anaknya Saudagar Lembu tiga tahun yang lalu. Mengingat keluarga Sukirno yang berada di golongan menengah, hal ini adalah sesuatu yang sensasional. Mariani menjadi wanita paling berbahagia saat itu, begitupun Sukirno walaupun itu berarti tabungannya selama bekerja ludes.

Pernikahan Sukirno berumur pendek. Semenjak menikah, benjolan yang ia dapatkan di pahanya menyebar cepat. Dalam waktu tiga bulan, benjolan itu menyebar ke seluruh tubuh. Tubuhnya kini begitu menyeramkan bagaikan zombie tempat cacing-belatung berbau busuk menanamkan telurnya. Mariani pergi tanpa meminta surat cerai, hanya pergi begitu saja tanpa kata-kata.

Warga kampung, yang tingkat awamnya berada di level menengah ke bawah, menduga bahwa penyakit ini adalah penyakit kutukan. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa mereka pernah melihat Sukirno buang air kecil di sebuah Pohon Beringin tertua di tengah hutan, yang membatasi Kampung Belanak dengan Kampung Mujair. Saat itu Sukirno sedang mensurvey daerah yang akan ditebang untuk dijadikan jalan penghubung antar dua kampung itu.

Tak cukup hanya itu, warga kampung pun menduga bahwa kutukan itu dapat menular. Tak ada yang dapat dilakukan Sukirno dan semua keluarganya selain menerima, Sukirno terusir dari Kampung kelahirannya.

Beruntung salah satu Tantenya di Pinggiran Kota memberikan ia sebagian tempat dari kebunnya untuk ditempati. Sebuah gubuk dua kali dua meter dibangun sebagai tempat secukupnya untuk berteduh. Dan atas koneksi pamannya yang kepala preman, maka iapun mendapatkan pekerjaan sebagai tukang parkir.

Kisah inilah awal kehidupan Sukirno yang akan membawanya dekat dengan Sang Pohon Beringin Tua.

*** *** *** *** ***

Delapan tahun terkucilkan.

Penghasilan sebagai tukang parkir bisa dibilang lebih dari cukup. Jika saat ini nasi bungkus pakai ikan berharga 3.000 rupiah, penghasilannya dalam satu hari berkisar 24.000an. Untuk manusia yang hidup melajang, itu sudah sangat lumayan. Sukirno rajin menabung, dengan harapan dapat mengobati penyakitnya.

"Kau percaya kalau kau itu dikutuk, Kir?" Pertanyaan itu sering dilontarkan kawan-kawannya.
"Entahlah." Hanya itu yang bisa terjawab.
"Pernah coba berobat ke Dukun aja, Kir?"
"Pernah."
"Lalu apa yang mereka sarankan?"

melenguh, dan selalu melenguh setiap mengingat hal itu. Dipermainkannya rokok kretek di tangan, cukup lama...

"Hoi! Kok ga dijawab?"
Sayu dipandanginya kawan-kawan di sekeliling.

Jika saja Sukirno tak berbaik hati untuk meminjamkan gubuknya sebagai tempat mereka bermain judi, menghisap ganja, dan minum tuak, mungkin Sukirno tak akan dapat memiliki kawan hingga sekarang. Walaupun begitu, Sukirno tak berarti terikut ke dalam kehidupan kotor seperti itu. Yang ia butuhkan hanyalah teman pengisi kesepian. Tak lebih dari itu yang diharapkannya dari mereka.

"Aku disuruh untuk bertapa tujuh hari tujuh malam. Ditambah lagi puasa mutih. Dan semuanya harus dilakukan di pohon beringin tua, tempat aku kencing dulu."
"Jadi, sudah kau coba?"
"Belum."
Mereka mengernyitkan dahi.
"Mengapa?"

Puasa mutih dan bertapa tujuh hari tujuh malam bukanlah hal yang susah memang. Bukan itu yang jadi ganjalan hati Sukirno. Pertemuannya dengan si Dukun sudah semenjak enam tahun yang lalu. Syarat yang ia tak dapatkan sampai sekarang adalah bahwa aktifitas itu harus dilakukannya di bawah Pohon Beringin Tua yang ia kencingi. Bahwa yang dapat membuang kutukan itu adalah yang memberikan kutukan itu sendiri. Dan Sukirno tak punya keberanian.

Untuk pergi ke sana, Sukirno harus melewati Kampung Belanak, kampung kelahirannya. Sukirno tak akan pernah sanggup untuk berjumpa dengan wajah-wajah manusia kejam yang mengusirnya itu. Tak akan!

"Huahaha, benarlah memang, Kau pasti mantan anak orang kaya bukan? Tak sanggup kau berpuasa makan nasi doang, hahaha!"

Mereka menertawakan Sukirno sejadi-jadinya. Baru kali itu mereka merasa punya alasan untuk menertawakan nasib Sukirno.

"Atau kau takut pergi ke hutan sendirian malam-malam? Huahahaha!!!"

Ada yang sampai terpingkal-pingkal. Pastilah dari dulu ia sudah sangat ingin menertawakan kutukan penyakit zombie tempat ulat-belatung berbau busuk bertelur pada diri Sukirno. Seperti dendam yang akhirnya terbalaskan.

"Sudahlah kawan, sudah. Huahaha!" teriak salah seorang dari mereka tanpa menghentikan gelak-tawanya.

"Ayo Kir, sekali ini saja. Ayo gabung bersama kami." Disodorkan beberapa linting ganja yang sudah dimasukkan ke dalam rotok kretek murahan, dan juga sebotol tuak yang sudah dicampur dengan durian berbau menyegat.

"Lupakan saja segala problema yang ada. Engkau punya hak untuk menikmati hidup walau sebentar. Ayo Kir, jangan ragu-ragu. Kalo kurang, tambah lagi. Gratis... gratis...! Huahaha!!"

Benjolan-benjolan di wajah Sukirno memerah tanda malu. Tawa kawan-kawannya makin menjadi-jadi menyadari akan hal itu.

Dijarinya sudah terselip selinting rokok bercampur ganja. Entah kenapa, ia setuju dengan kawan-kawannya itu. Ia punya hak untuk bahagia. Diperhatikannya mereka yang sekarang ini sedang terpingkal-pingkal.

"Hahaha!" Sukirno tertawa kecil.

Mereka yang tadi terpingkal-pingkal kontan berhenti tertawa demi mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut Sukirno yang sedang menghisap lintingan tadi. Mereka saling berpandangan. Sukirno pun terdiam memandangi mereka yang memandanginya. Dan sekali lagi, benjolan-benjolan di wajahnya memerah sampai keluar sedikit darah. Semuanya terikut memereah menahan tawa. Hingga akhirnya...

"Huahahahahahah!!" Sukirno ikut terpingkal-pingkal bersamam mereka. Baru kali ini Sukirno merasa benar-benar memiliki teman.

Tak lama, beberapa linting ganja ludes. Beberapa botol tuak mengosong. Sukirno merasa inilah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Bahkan lebih daripada pernikahan akbarnya bersama Mariani yang menghabiskan juta-jutaan rupiah.

"Dugdugdug!" Pintu digedor dari luar, semuanya terdiam.
"Siapa?" Tanya Sukirno.

"Buka! Dugdugdug!!" Sebuah suara kasar menjawab, dibarengi gedoran yang lebih keras.
"Atau kami bakar gubuk ini!!"

Di luar telah menunggu puluhan warga kampung setempat dengan golok dan pentungan di tangan. Kebahagiaan Sukirno sesaat menjadi tragedi. Tak ada yang bisa dilakukan dia dan kawan-kawannya selain menerima cacian, pukulan, dan tendangan yang membabi-buta dari warga kampung.

Namun tetap, hari itu adalah hari terbahagia dalam hidup Sukirno.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer w1tch
w1tch at Sukirno dan Pohon Beringin Tua --- 1 --- (11 years 50 weeks ago)
80

now you're getting more sensible?

well, oke. ditunggu deh klanjutannya.

(btw apa itu account bayangan?)

mirip-mirip dengan id ganda (:
satu orang dengan seribu id..

betul gak sih, Kak Amri?
:D

80

Menarik. Tapi aku belum dapet poin yang mau disampaikan. Mungkin di cerita berikutnya. Btw ini bakal jadi cerita serius ato komedi?

80

mampir
"Sukirno adalah seorang Tukang Parkir. Bukan karena tak punya kemampuan apa-apa untuk menjadi seseorang yang lebih hebat. Tapi mungkin karena ia tak diberikan terlalu banyak pilihan oleh masyarakat"
seperti itu mungkin,,,, negera ini sudah dipenuhi bnyak sukirno2 lain

Writer Arra
Arra at Sukirno dan Pohon Beringin Tua --- 1 --- (11 years 51 weeks ago)
80

unik.. hehhe selalu begitu kan om amri???

100

tes lagi

100

beneran niy gak mau ada account bayangan lagi?

ehem...ehemm...

klo saia? Waddooohh

bisa berabe

ahak...hak...hak...

100

ciieeee

70

awalnya itu lo...
rada beda dengan gaya setelah delapan tahun di bawahnya..
agak jauh baru mulai percakapan ya???

jadi rasa aneh,,,
mo dikembangkan lagi yaa
keep on writing

80

hehe.... keren bang.

90

manteb kk.. O__O

btw, cerita saiia yang terakhir kk baca itu part 2 lho.. jgn lupa bc part 1 nya yah.. thx

*promosi mode ON~~~* :D :D

80

he he he, keren... ada gambarnyaaa...

70

sial sekali si sukrino ini..
kukira penggambaranmu akan kawan-kawan sukrino yg baru bisa mentertawakan sukrino akan jadi jalan ending yg menegangkan.. ternyata lagi2 warga kampung..

ah mungkin sambungannya akan hadir lagi mariani.. akan tak apes sendirian si sukrino ini..

bacanya sedih....
tapi idenya keren banget loh.

100

Om, idenya manteb. Mana ada pula gambarnya...bikin fresh mata saya yang ngantuk berat neh, hehehe.

Mau koment soal apa, yah? Hmm...sepertinya wie sepedapat sama dewi yang di atas sana (Panah hujan). Soal dikucilkannya Si Sukirno. Tak tanggung-tanggung. Tak ada upaya sama sekali untuk menyembuhkan penyakitnya itu ? Apa uangnya sudah habis buat biaya pernikahan kali, ya Om? Piss

Nah, wie tunggu dech lanjutannya. Sambil mengira-ngira, apa sebab musabab tuh benjolan ada di paha Sukirno. Kutukan atau penyakit apakah???

Lanjut dach, Om

:)

dewi pujangga wrote:
Hmm...sepertinya wie sepedapat sama dewi yang di atas sana (Panah hujan). Soal dikucilkannya Si Sukirno. Tak tanggung-tanggung. Tak ada upaya sama sekali untuk menyembuhkan penyakitnya itu ? Apa uangnya sudah habis buat biaya pernikahan kali, ya Om? Piss

Ho oh, uangnya abis untuk biaya pernikahan, masih ada utang yang belon dibayar lagih... keluarga Sukirno percaya kalo emang itu adalah penyakit kutukan. Dan lagipula... orang desa lebih percaya dukun daripada dokter (begitulah di lingkungan tempatku bekerja).

Super x wrote:
dewi pujangga wrote:
Dan lagipula... orang desa lebih percaya dukun daripada dokter (begitulah di lingkungan tempatku bekerja).

wew? :-O

kisah nyatakah?

=D>

observasi langsung, berarti? :)

100

Wah, si Sukirno menderita sakit seperti "manusia akar" di bandung ya? Tapi kok pada bagian Delapan Tahun Terkucilkan, agak sedikit bertolak belakang dengan bagian awal cerita.

80

ending yang tak kuharapkan...

80

nafas baru super X yang segar dan menggoda....! mantab bung!

tanya, Kak..
perlukah masyarakat menggunakan huruf kapital di awalnya?

ehehehe, eniwei..
Sukimopun => Sukimo pun, kan?

setahu saya, subjek + spasi + partikel pun..?

Dikesibukannya => Di kesibukannya..?

asalnya dari di + kesibukan-nya, rasanya :D

aktif + itas => aktivitas

menurut saya, gedoran pintu seharusnya dipisah dengan dialog :)

"Buka!" Dugdugdug. (begitu, mungkin?)

CMIIW-lah untuk masalah itu, ga masalah untuk penulis dengan banyak ide seperti kakak.. Salut! :D

(lagian ini ditulisnya udah lama, kan, ya.. hahahaha..)

--

masalah ide, saya bisa menerima kalau Sukimo mungkin terkena kutukan.. tapi entah mengapa, saya tidak bisa menerima alsannya dikucilkan.. :-/ , selama 8 tahun pula, tanpa upaya dicarikan penyembuhan oleh kerabatnya? wew..

dan...

kenapa si tokoh pengolok-olok itu tahu bahwa Sukimo "diharuskan" berpuasa di bawah pohon beringin di tengah hutan itu sementara dialog terakhir Sukimo "hanya" tentang puasa mutih?

Kenapa dia baru mau dikasi linting ganja hari itu, ya? :-?

hehehhe..

Setuju sama mizz_poe, endingnya itu lhoo.. ironi abisss, Kak! Hahaha.. digebukin kok seneng.. mungkin seperti itulah perasaan baru menemukan sahabat?

eniwei, saya suka sama cerita ini.

P.S : berusaha membuat komen membangun, semoga bisa membangun silaturahmi juga, mohon komentar membangunnya ya, Kak.. :)

80

sebuah komedi satire,,, sangat satir. dan menyindir. hey, aku menemukan rima dalam komentarku?
termasuk mempertanyakan pemikiran akan hal ghaib di era nehnologi di mana satelit dkk ud ke mana tau eh ini masi aja ada yg berdukun-dukun ria. oh, ya. jangan sedih. bukankah masi ada yang seperti itu? nehnologi kawin silang dg ilmu ghoib? yah, ghoib ada jatahnya sndr2 kok?
ada apa dengan sistem? ada apa dengan dogma? ada apa dengan NILAI ???
jika Tuhan begitu pemurah? kenapa manusia berani melangkahi Tuhan? dengan menjadi begitu pelit? PELIT KASIH dan pelit kemanusiaaan...

emosi dari cerpenmu kok pindah ke aku ya Om? mangap :D

70

wah... jarang-jarang ni dapet cerita dengan style kayak gini..