Gerbang

Aku selalu percaya pada keajaiban.

Maka jangan salahkan aku karena telah memasuki gerbang duniamu, tatkala langit membuncahkan titik-titik serdadu rintik dan matahari tak lagi tampak, melainkan lengkung pelangi tujuh lapis yang menghiasi angkasa sudut kiri, memenuhi sehari penuh itu dengan keindahannya.

Entah apa yang menarikku untuk melangkahkan kaki ke duniamu, ketika tak sengaja samar kulihat sebuah pintu bersekat terali besi perlahan terbuka, memancarkan ketakterukuran kuasa Tuhan. Kupikir itu jalan pintas menuju surga, barangkali karena cahaya kudus berpendar di sana-sini. Yang terlintas pertama kali sewaktu setepak kujejak duniamu, hanyalah cerita ibuku. Dongeng penghantar tidur semasa kecil dulu. Namun aku selalu senang ketika ibu menceritakannya, entah berapa kali selama ini, aku tak peduli. Persetan dengan kebosanan. Cerita ibu itu acapkali membuatku bagai tengah bertualang. Avontur tanpa akhir.

“Kemarilah anakku,” panggilnya lembut.

Aku ingat, setiap kali ia mulai menyiapkan selimut tuk melapisi tubuh kecilku ini, senyum girang tak hentinya terpajang di sudut manis bibirku. Selalu kunanti cerita indahnya itu, dan juga intonasi memukau saat pelan-pelan ia membawakannya menyelam detik-detik sebelum mataku terpejam.

“Hujan adalah dasar keajaiban. Setiap kali hujan turun, malaikat dan peri-peri membukakan celah masuk dunia mereka. Begitu juga bidadari. Hanya orang-orang terpilih saja yang dapat pergi ke sana. Hanya orang yang beruntung saja.”

Ia berhenti sejenak, berdebam lantas berusaha menggapai oksigen di udara.

“Ingatlah, mana kala matahari tak lagi tampak menyinari, tergantikan lengkung pelangi tujuh lapis menghias angkasa sudut kiri, memenuhi sehari penuh itu dnegan keindahannya…” matanya tampak menerawang jauh, seolah ada dunia di seberang sana yang siap menelannya bulat-bulat. “Pergilah ke tepi hutan, di mana kau berada antara sepi abadi dan hiruk pikuk kota. Maka akan kau temukan keajaiban di depan matamu. Yang tak pernah kau duga sebelumnya.”

Tidak pernah lekang dari kenanganku, suatu kali sempat kulontarkan pertanyaan. Mewakili segenap penasaran.

“Dari mana ibu tau cerita ini?”

Dan tak pernah lekang pula dari memori, ibu tersenyum lembut seraya mendekatkan parasnya terhadap batang hidungku.

Suaranya bergema lembut menghantam dinding telingaku. “Karena itu cara ibu dahulu bertemu ayahmu.”

****

Aku selalu percaya pada keajaiban, kau dengar?

Dan aku memang telah menemukan keajaiban itu, persis seperti apa kata ibuku: mana kala matahari tak lagi tampak menyinari, tergantikan lengkung pelangi tujuh lapis menghias angkasa sudut kiri...

Telah kudapati pintu gerbang menuju istana malaikat. Dan di sana lah pertama kali kau dan aku bertemu, saling merasa, namun tak menatap.

Aku adalah penyusup tak punya malu yang telah lancang memasuki duniamu. Meski bukanlah berbentuk surga dalam makna denotasi, atau pun dunia malaikat yang kubayang berseri. Itu lah duniamu, dunia puisi. Terbangun dari alur rangkai kata yang kau sulam merupa dinding gubuk rumahmu. Dan semenjak itu kita sering tidur di situ, hanya saja tak menatap. Seperti biasa.

"Aku mencintaimu," kau berkata tanpa memandang binar mata, sebab telah tercipta jarak lebar antara kita yang memaksa ketakterciptaan suatu tatap pandang sementara.

"Aku juga mencintaimu," balasku, tanpa memandang jua. Bukan karena ketiadaan ruang yang memungkingkan kita untuk saling merasa, saling meraba. Namun karena aku lebih suka merasakan debaran jantungmu yang mulai tak beratur dalam kegelapan ini.

Kita telah sama-sama menyadari, aku sekedar pejalan kaki yang sengaja menepakkan langkah memasuki duniamu: dunia puisi. Dan aku selalu ingatkan, jangan pernah menyalahkan degup kasmaran yang sontak muncul tatkala kita saling menatap kali pertama.

Maka, jika begitu bolehlah kau kusebut pengacau pula. Sebab kau pun sesungguhnya telah menyusupi duniaku, puisi-puisi imaji liar yang selama ini kubanggakan. Terganti elegi romansa, saat kau membisikkan prosa berbisa, menembus gendang telinga.

Dan alur puisi kita telah termulai dari suatu keadaan di mana matahari tak lagi tampak menyinari, tergantikan lengkung pelangi tujuh lapis menghias angkasa sudut kiri...

Adalah dirimu yang telah membukakan pintu semestamu padaku. Dengan harap yang tak jelas apakah itu sendu atau ragu. Kau mengulurkan tangan, mencoba menghadirkan seutas keakraban.

"Bagaimana jika berteduh di sini saja? Aku punya sepotong hati dan secangkir bait puisi panas yang bisa kau nikmati," senyummu mengembang, begitu beberapa langkah berhasil kujejakkan pada ruang ini, ruang yang telah memepertemukan kau dan aku: semestamu.

Ah, mungkin itulah tawaran paling indah yang sempat tersemat di alam raya.

Dan anggukan kepalaku atas tawaranmu dulu barangkali satu wujud tarian paling sempurna.

****

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Irin Sintriana
Irin Sintriana at Gerbang (11 years 45 weeks ago)
70

Aku juga percaya pada keajaiban :)

Writer Yovan Wisnu
Yovan Wisnu at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
100

Keren Neng, walaupun ada beberapa salah ketik, tapi gak gitu mengganggu seh
Aku seperti membaca sebuah puisi yang super panjang tentang gerbang dunia puisi...he..he..he...

Salam persobatan Yovan Wisnu

freesoulflyer at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
90

well.. I don't believe in miracle...

Writer arsenal mania
arsenal mania at Gerbang (11 years 45 weeks ago)

freesoulflyer wrote:
well.. I don't believe in miracle...

me too

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
100

Prosa yang bagus. Hidup sastra!

Writer benz
benz at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
70

how. sip.

Writer ezra
ezra at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
90

weks :))=))

ternyata..

salam

Writer serpentwitch
serpentwitch at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
80

Wow, puitis sekali! nice :)

walau puitis tp bacanya ngalir, very good.

cm ada bbrp aja yg nganggu:
1. Ia berhenti sejenak, berdebam lantas berusaha menggapai oksigen di udara.

ini mengganggu, dan jg berdebam itu salah ketik ya? mungkin harusnya berdeham. tp tetep aja kiasan menggapai oksigen serasa kehabisan nafas dilaut. bacain cerita harusnya kan lebih santai. cari kiasan yg lebih halus.

2. Suaranya bergema lembut menghantam dinding telingaku.
ini... suaranya lembut tp kok menghantam yah? maksudnya informasinya membuat shock? mungkin jdiin.. mengalir masuk ke telingaku dan menggetarkan isi dadaku atau yg seperti itu lebih kena maksudnya.

Lainnya, gw rasa mantap. bravo ~

Writer cintafitri
cintafitri at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
90

beda dari yang biasa ya dek.. tp ttp bagus kok..

Writer rey_khazama
rey_khazama at Gerbang (11 years 46 weeks ago)
100

edeuhhhhh... buat sapa tuh!!!!
betul kata ipenk! speechless. biarpun isinya hanya ungkapan dengan sedikit kegiatan. intinya kena. sudah terbacalah itu buat apa dan tentang apa.
ck..ck..ck.. cinta...cinta....

hebat-hebat non! saya ke yogyanya bulan april. maret mo publish animasi. hehehe....
borobudurrr... aku datangggg...
=))

Writer navigator
navigator at Gerbang (11 years 47 weeks ago)
100

hehehe,,,thx...

and for this,,,, i cherish you.

Writer _aR_
_aR_ at Gerbang (11 years 47 weeks ago)
90

siapa kekasihmu satu2nya? :-?

bahasanya puitis sekali,
saia yg lemot ini kadangkala gak mengerti :D

Writer ipenk project
ipenk project at Gerbang (11 years 47 weeks ago)
100

Aku percaya pada keajaiban !

=10, with speechless.. gabisa maki2.. kagum euy.. :>

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Gerbang (11 years 47 weeks ago)
100

sek, tak narsis mode-on sek

=))

Writer suksmo
suksmo at Gerbang (11 years 47 weeks ago)
100

cm bs tersenyum :)