Mereka Memanggilnya Ron

Mungkin memang aku butuh keajaiban… di sini dan saat ini, agar aku yakin aku benar-benar hidup dan memiliki cinta yang memang sudah seharusnya kumiliki dan aku jaga. Ah, kenapa aku selalu saja meminta dan terus meminta dari tangan Tuhan? Sementara yang sudah Ia berikan tanpa kuminta pun, kadang lupa untuk aku syukuri. Aku hanya ingin sebuah rasa yakin saat ini. Rasa yakin bahwa aku sanggup hidup berdampingan dengannya tanpa harus merubah apa yang ada padaku. Mimpi-mimpiku.

Dia tidak pernah bertanya apa yang aku miliki. Dia hanya bertanya apa yang aku inginkan. Dan apa yang aku inginkan itu kadang berseberangan dengan yang ia tunjukkan untuk kulihat. Ia ingin tahu apa yang ingin kuketahui. Dan apa yang ingin aku ketahui, beda dengan apa yang telah ia ketahui. Kami ingin mengetahui hal yang tidak sama. Kami terus belajar semua yang berbeda. Tapi aku selalu merasa kalah darinya. Selalu dan selalu. Dan dia terus tersenyum, membiarkanku tetap ada. Akh, apa yang harus aku lakukan untuknya?

Aku ingin hidup. Bukan karena aku mencintainya. Aku ingin hidup karena memang aku ingin hidup. Sebuah kehidupan yang aku bangun sendiri dengan mimpiku sendiri juga. Aku ingin mencintainya, itu pun bukan karena aku bisa hidup, dan bukan karena ‘amanat’ bualanku tentang masa lalunya yang telah pergi, untuk meneruskan perjuangannya. Aku ingin mencintainya semata-mata karena memang mencintainya. Aku mencintainya bukan karena belajar dari siapa-siapa.

Dulu aku selalu takut, takut bila seseorang akan mengubah hidupku bila kubagi padanya perasaanku. Dan aku masih berpikir ingin bebas sebebas perahu kertas yang tidak mengenal siapapun di tengah lautan. Aku masih ingin memiliki hidupku yang utuh dengan impian-impian yang tidak akan kubelah demi kebahagiaan orang lain. Dan saat dia datang, nyatanya aku telah gentar.

Kemudian dia memintaku memotong rambutku, yang kuanggap sebagai ‘pengubahan’ pertama dalam hidupku, sebagian impian yang harus kubelah demi orang lain. Namun hatiku tidak terasa sakit saat itu. Dan ia tidak hendak mengubah apa-apa lagi. Ia hanya memintaku belajar. Belajar sesuatu yang tidak aku suka. Mungkin ia tidak tahu aku ini pemberontak.

Kukatakan aku akan belajar apa yang aku suka. Menulis, menggambar, dan aku tidak butuh gelar, aku tidak suka aturan. Dia hanya tersenyum dan membuatku berpikir, dia malu berdampingan denganku. Tapi memang dia tidak boleh membelah impianku, Tuhan tahu itu.

Kemudian…. Aku kembali memohon keajaiban… andai waktu bisa diputar dan aku bisa berpikir lebih dalam tentang semua ini, semua yang tidak mungkin sempat kuragukan lagi, semua yang mulai membuatku gentar dan kehilangan keberanian, sebuah kehadiran yang membuatku berhenti menjadi pemberontak…. Atau… andai bisa kulewati tenggang waktu ini seolah tidak ada yang terjadi di sini?

28112008

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Mereka Memanggilnya Ron (11 years 46 weeks ago)
50

kurang suka

karena dialogna gak ada

maap

kabuuuurrrr

Writer cintafitri
cintafitri at Mereka Memanggilnya Ron (11 years 46 weeks ago)
90

sip.. cerita yang bagus.. itulah kekuatan cinta..

Writer tha297
tha297 at Mereka Memanggilnya Ron (11 years 46 weeks ago)
30

ckckckckckckck... menyesal selalu datang menghampiri di akhir .. :(