Sebuah Kisah...

Part one :

“Apakah kamu menyesal?”, tanyanya terdengar hati-hati.
Aku menatap matanya sekilas. Mencoba menerjemahkan bahasa pikirannya dibalik kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
“Untuk apa?”, tanyaku penuh selidik.
“Kita… pada apa yang terjadi pada kita...?”. Roman mukanya biasa. Datar.
Aku terhenyak.
“Kita?”. Aku menatapnya lebih lekat. Mencoba memastikan bahwa ucapannya tidak salah kudengar.
“Ya!” jawabnya mantap.
“Apakah kamu pikir hal ini layak untuk kita bicarakan?”. Sikap tubuhku menunjukkan ketidak nyamanan. Hatiku juga.
“…maaf…” ia menundukkan wajahnya. Mencoba menenggelamkan dirinya ke dalam bumi yang dipijaknya. Rasa malu menghantuinya.
“Untuk?” aku mencoba untuk tetap tenang.
“Bertanya tentang hal ini…” ucapannya lirih.
“Jangan! Aku pikir kamu berhak mendapatkan penjelasan yang lebih gamblang tentang hal ini…”
“Betulkah?”
“Ya. Aku sudah sangat mengenalmu. Ada sesuatu dalam benakmu yang mengganggu. Kalau tidak, kamu pasti nggak akan menanyakan hal ini.”
“………………..” dia membisu.
“Dengarkan aku baik-baik. nggak peduli apapun yang terjadi pada kita saat ini, kamu masih tetap menjadi orang yang istimewa yang pernah aku kenal. Kamu bertingkah laku diluar dugaanku. Kamu telah menjelma sebagai seorang wanita yang tegar, cerdas dan penuh dedikasi. Aku sempat berpikir kalau kamu takkan mampu bertahan setelah…”
“Penikahanmu?” ujarnya spontan.
“…hmmm…. Sebagian dari diriku masih menginginkanmu untuk menjadi “seseorang” itu. Tapi, maaf. Kita sama-sama tahu bagaimana menghadapinya. Ya, kan?”. Duh!!! Kenapa aku harus berada disituasi seperti ini, rutukku dalam hati.
“Maaf…”
“Jangan!”
“Bukan begitu! Maksudku, pada awalnya aku merasa tidak sanggup menghadapinya. Melihatmu bersama wanita lain. Wanita yang kelihatannya tidak lebih baik dariku. Tapi aku sadar, itu semua muncul dari arogansiku. Dan sekarang aku tahu pasti, dia memang orang yang tepat untukmu” laju ucapannya seakan berlomba dengan denyut jantungku.
“……………”
“Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk menilai orang lain. Tapi aku tahu, aku lebih mengenal diriku sendiri dibanding orang lain. Aku nggak bisa memenuhi hal-hal yang kamu butuhkan.”
“Apakah begitu menyakitkan?”
“Melihat kamu dengan dia? Ya…tidak…, maksud aku, yah…menyakitkan. Tapi setiap luka pasti sembuh juga, kan? Aku nggak percaya kamu bertanya soal ini…”
“Aku perlu tahu”
“Meskipun ya, dan masih. Apa yang akan kamu lakukan? Meninggalkannya dan datang pada aku? Atau kamu hanya ingin tahu seberapa besar luka yang telah kamu buat?”
“Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal. Aku juga tahu keadaan nggak akan menjadi lebih baik setelah ini. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu nggak pantas mengalami ini semua. Kamu nggak pantas bersama aku. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Kamu istimewa. Orang yang kelak akan mendapatkan hati kamu adalah orang yang beruntung. Aku percaya itu. Janganlah merasa kecil. Berpikirlah besar! Kamu istimewa. Sangat istimewa”.
“Ya. Cukup istimewa untuk kamu tinggalkan…” ia lalu berlari menjauhiku.
Terlihat dengan samar air mata menggenang di matanya. Dia terluka. Pedih. Lalu akupun beranjak meninggalkannya dengan hati yang tak tentu. Entah bagaimana reaksinya. Langkahku menjauh. Anganku mencoba untuk menggali lebih dalam dan mencoba untuk mengubur kisah pilu ini di lubuk hati yang paling dalam.
Lalu ingatan tentang kamipun terbayang begitu saja. Ingatan tentang rentetan peristiwa 2 tahun yang lalu.
Aku mengenalnya sebagai gadis yang maskulin. Cerdas, kritis dan berani. Tiga kata yang mampu menggambarkan semua tentang dirinya. Dalam komunitas kami, dia tampak menonjol dari yang lain. Meskipun tidak terlalu cantik, tapi setiap geraknya mempesona dimataku.
- * -
Lalu kamipun bergelut pada aktivitas sosial yang diprakarsai olehku dan beberapa orang teman. Ia terlihat semangat. Sepertinya energi tubuhnya tak pernah habis. Keinginannya untuk berbuat banyak hal untuk orang lain menjadi power supply utamanya. Aku jadi tertular virus semangatnya.
Sebuah insiden kecil memulai interaksi kami. Awal yang buruk itupun yang pada akhirnya sebagai kunci kedekatan kami selanjutnya. Dengan sengaja aku menyemprotkan cologneku di lengannya. Reaksinya tak kuduga sama sekali. Sebuah pukulan dari tangan mungilnya mendarat di dada kiriku. Tidak sakit. Tapi mengejutkan! Aku tak menyangka dia akan bereaksi seperti itu, mukanya menunjukkan kemurkaan yang sangat. Lalu ia pergi meninggalkanku tanpa menoleh lagi setelah mengucap salam.
Apa lagi ini? Tanyaku dalam hati. Sepekan kemudian aku bertemu dengannya dalam pertemuan untuk aksi sosial kami, aku, dia dan teman-temanku. Mukanya datar. Tanpa ekspresi. Aneh. Aku menunggu responnya setelah ia melihat ke arahku. Tak ada.
Aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri. Jangan-jangan dia dendam padaku. Atau tak mau lagi mengenalku. Tapi betulkah? Dan yang paling mengherankan adalah semua ini hanya gara-gara sebuah semprotan cologne yang tak seberapa. Wanginyapun biasa. Segar, tapi cukup lembut. Aku melihat labelnya unisex. Artinya bisa dipakai oleh siapapun, laki-laki atau wanita. Seharusnya tidak jadi masalah, kan?
Di kesempatan berikutnya ia terlihat berusaha untuk mengucapkan sesuatu padaku.
“Maaf. Reaksiku berlebihan waktu itu. Tapi, tolong jangan ulangi lagi. Oke?!” ia mengucapkannya tanpa sedikitpun menatapku. Hanya sekilas setelah ia selesai mengucapkannya dan melangkah pergi.
Dia berbicara padaku! Itu hal yang hebat setelah kejadian sepekan yang lalu. Aku menjadi lebih berhati-hati bila menghadapinya. Aku tak ingin salah berbuat lagi. Aku tak ingin matahari kecilku tenggelam selamanya. Ha… matahari kecil? Aku bahkan telah berani menamainya itu dalam benakku. Terasa ada sesuatu yang berkembang dalam hatiku. Dan aku merasa sangat gembira. Lukisan rasa yang tak berbentuk, tapi penuh warna keindahan.
_ * _
Kami sedang mengerjakan sebuah tugas dari lembaga tempat kami beraktivitas. Intensitas pertemuan kami amat sering. Aku mencoba untuk terus menyadarkan akal sehatku untuk tetap bekerja. Aku semakin mengenalnya. Aku tahu makanan kesukaannya, film yang ditontonnya, musik yang ia dengarkan. Aku bahkan tahu persis kapan ia mengalami siklus bulanannya. Gila! Seobsesif itukah aku. Masih bagus aku menyimpan keinginan untuk mengungkapkan ini semua dalam hati. Teman-temanku yang lain mulai bisa membaca bahasa tubuhku yang berbeda bila bersamanya. Bahkan ada yang jelas-jelas menegurku dan mencoba untuk meredam perasaanku. Sementara dia, bersikap biasa saja. Bersikap seperti layaknya seorang rekan kerja. Ketika seorang teman mempertanyakan hubungan kami, dia sempat agak kaget. Tapi ia mudah menguasai diri dan keadaan. Dia cukup menjawab, “Nggak ada apa-apa. Semua terlihat berbeda karena kami bekerja dalam tugas yang sama”. Aku semakin mengaguminya.
- * -
“Aku mau berhenti”, kata-katanya terdengar sangat jelas. Datar, tanpa emosi.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Aku nggak ingin melakukan hal ini lagi. Semua hal jadi terlihat buram. Nggak jelas. Aku nggak bisa lagi mengendalikan diriku. Aku hanyut dalam hubungan kita yang nggak jelas ini. Dan kalau hubungan yang nggak jelas ini diteruskan, semuanya jadi nggak sehat”
Aku terpana mendengar ucapannya. Jadi, dia juga…
“Please. Aku ingin semuanya membaik. Aku ingin … kita berhenti bertemu untuk sementara waktu” wajahnya menunduk.
Aku juga ingin keadaan membaik, jawabku dalam hati.
“Nggak! Alasanmu nggak logis, dan kamu tahu itu, kan? Meskipun kita nggak pernah mengikrarkan apapun, semua hal berjalan dengan baik. Jadi nggak ada alasan untuk pergi sekarang!”
Aku tidak bisa membiarkannya pergi meninggalkanku. Tidak sekarang. Situasi ini menjadi sangat rumit.
To be continued...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Albayani
Albayani at Sebuah Kisah... (11 years 17 weeks ago)
100

Ass.. Sukses ya....

Writer key.lanie
key.lanie at Sebuah Kisah... (12 years 14 weeks ago)
60

setiap paragraf kasih jarak ya...

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Sebuah Kisah... (12 years 18 weeks ago)
80

Bingung, mbak.

Dialog di bagian awal, maaf ya, terasa agak acak-acakan bagi saya karena saya kebingungan di bagian tengah ke belakang menentukan siapa bicara apa. Mungkin perlu dipertegas karakterisasinya sehingga bisa menyusun dialog yang lebih kuat dengan karakter yang berbeda-beda? Misal bagaimana cara bicara si A dan si B sehingga tanpa banyak deskripsi adeganpun pembaca sudah bisa langsung menangkap siapa yang sedang bicara.

Ini cerita cinta sesama jenis ya? Masih tanggung dirimu mencoba menutupi konflik utama cerita atau mencoba menjabarkan semuanya dengan jelas. Yang ada saya kembali dibuat bingung sama logika plot cerita ini. Narasi dua adegan pertama menggambarkan pikiran si "aku" yang mengagumi "dia" dan keheranan dengan pikirannya sendiri tentang "dia". Kenapa tiba-tiba di adegan berikutnya "dia" sudah bilang "tidak tahan dengan hubungan mereka"? Kapan bagaian mereka "berhubungan khusus" digambarkan? Apa 'dia" sengaja pura-pura tidak tahu-menahu tentang "hubungan mereka" lalu tiba-tiba meledak? Mungkin saya yang bodoh nggak bisa memahami cerita ini dengan baik dan benar. Jadi maaf kalau ada salah-salah kata. Sekedar mengeluarkan yang ada di kepala.. ^^

Writer ukhti_fighter
ukhti_fighter at Sebuah Kisah... (6 years 21 weeks ago)

makasih ya...maklum, baru belajar nulis.
kucoba edit lagi deh.. heheh....

Writer ezra
ezra at Sebuah Kisah... (12 years 18 weeks ago)

haks..
lanjut..

salam

Writer shinobigatakutmati
shinobigatakutmati at Sebuah Kisah... (12 years 18 weeks ago)
80

menunggu lanjutannya nih

Writer ukhti_fighter
ukhti_fighter at Sebuah Kisah... (12 years 18 weeks ago)

he..he... agak lama yaa..., coz blm sm sekali..