Untuk Sang Hujan

Rintik-rintik itu menderas. Awalnya talang di samping rumah hanya mengalir pelan, yang lalu bertambah deras, lalu airnya jatuh berderam di tong penampung air hujan. Aku keluar untuk mengecek apakah talangnya lurus -tidak masuk rumah dan membuat bocor. Aman. Ah, jemuran! Ada beberapa jarik lurik yang lupa kuangkat, biarlah. Hujan sudah bertambah deras. Aku tidak mau demamku kambuh lagi karena dua potong jarik, walau berarti nanti malam aku harus hemat sarung untuk menggulung ompol Suci. Dilipat kecil-kecil saja lah. Ah, kerupuk!! hampir saja aku nekat memanjat kursi untuk memulung kerupuk di emper atap beranda. Tadi kujemur supaya renyah saat digoreng. Tapi kembali aku harus ngeman badan, walau itu berarti makan malam tanpa ramai kriuk kerupuk. kang Diman pasti kecewa.

Ah, Kang Diman. Walaupun dia kecewa, tapi pasti dia hanya memasang senyum hangatnya. Dengan kerupuk atau tidak, oseng buncismu tetap sedap, aku membayangkan dia berkata begitu. Seperti tadi pagi, ketika dia memakan nasi gorengku yang asinnya setengah mati.
"Sudahlah Kang, tidak usah dihabiskan," ujarku dengan rasa bersalah. Ah, gara-gara ngaduknya kurang rata, aku mengicipi bagian yang belum tergarami, dan memutuskan untuk menambah sesendok garam lagi. hasilnya hancur.
Akang tersenyum.
"Bolehkah, tidak dihabiskan, Dik?" tanyanya. Aku mengangguk -walau berat- karena kupikir Kang Diman akan tetap memakan nasi gorengnya (egois sekali aku).
"Iya, daripada nanti Kang Diman darah tinggi," Kang Diman tergelak.
"Seperti orang kaya saja, siapa yang darah tinggi, Dik?" dia mengelus puncak kepalaku lalu keluar kamar mandi, menjemur handuk. Aku gantian untuk mandi. Suci sedang mainan sendiri.
Dari kericikan air mandi, kudengar klintang-klinting..
dan nasi gorengku dihabiskannya. Dengan malu-malu kucium lengannya yang legam -dia masih memakai singlet.
"Maturnuwun, Kang..dihabiskan..,"
"Saya yang maturnuwun, Dik, dimasakkan..," aku tersenyum haru, dan dadaku hampir meluap ketika dia mencium keningku lembut.
Ah, kang Diman..

Padahal kami menikah dijodohkan, karena Kang Diman pemalu dan usiaku sudah masuk duapuluh. Hari-hari setelah menikah adalah proses jatuh cinta -ah, seperti anak sekolahan saja aku- pada kelembutan dan ketulusan kang Diman. Dia orang yang sederhana, sabar, dan taat ibadah. Adem sekali menjadi istrinya, dan Suci pasti merasakan juga karena dia selalu nyaman diam di dekapan Kang Diman setiap pagi sebelum Kang Diman nggenjot becaknya dan malam saat Kang Diman membacakannya cerita-cerita Nabi. Setelah hampir dua tahun menjadi istrinya, aku sudah berani mengaku kalau aku sungguh mencintai suamiku.

"Owaa..," Suci berteriak histeris, membuatku tergeragap dan terburu-buru masuk rumah, hampir terpeleset di pintu -ada air masuk lewat celah dinding anyaman bambu- berpegangan di pintu, dan langsung menggendongnya.
"Apak..apak..," igaunya. Aku menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Shh..shh..Apak baru kerja..,"
"Apak..," igaunya sambil menitikkan air mata, padahal belum sadar benar dia. Kujejalkan susuku, siapa tahu dia lapar. Memang dia langsung minum dengan lahap, tapi air matanya masih menitik. Kuhapus pelan, kubelai wajah halusnya.
Lalu dia tertidur lagi. Dengan lega kuletakkan lagi di buaiannya.

"Bu Diman, Bu Diman," teriakan di pintu depan ditingkahi deras air hujan membuatku terkejut lagi. Ah, mengapa sekarang aku mudah terkejut?
"Ya..ya..," aku bergegas menuju pintu, terpeleset sekali lagi, dan menjumpai wajah panik Kang Rusli -teman Kang Diman.
"Ada apa..,"
"Kang Diman ketabrak mobil yang ngebut..waktu hujan deras..ayo ke rumah sakit..," ujarnya terbata-bata, membuatku limbung.

"Apak..Apak..," erang Suci lirih sambil menangis dalam tidurnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer em_el
em_el at Untuk Sang Hujan (11 years 37 weeks ago)
80

seperti biasa....selalu penuh makna

Writer shin_nirmala
shin_nirmala at Untuk Sang Hujan (11 years 45 weeks ago)
80

msh dtrusin kan?
bgus loh cerita'y
dtgu yah
cma ya itu paragraph trakhir'y agak ganjel gt...
fight..

Writer rey_khazama
rey_khazama at Untuk Sang Hujan (11 years 45 weeks ago)
80

bah tragis amat!
lumayan nih!

Writer bob1985
bob1985 at Untuk Sang Hujan (11 years 46 weeks ago)
80

Cerita sedih ya...bagus neh..

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Untuk Sang Hujan (11 years 46 weeks ago)
80

Wah, tragis ceritanya.

Writer snap
snap at Untuk Sang Hujan (11 years 47 weeks ago)

mmhh....yang 1 paragraf dibawah apa salah paste ya? aku ngerti se jalan ceritanya tapi kok keknya ngga selese ya ceritanya? trus di paragraf awal ada kalimat yang tidak logis 'talang mengalir'? 'air' kali yang mengalir. dibenahi lagi ya, jalan ceritanya udah bagus kok....