Rumah Boneka

Pada umumnya, kasus orang hilang baru akan ditanggapi oleh pihak kepolisian setelah orang yang dianggap hilang benar-benar tidak terlihat dalam jangka waktu lebih dari dua puluh empat jam. Hal itu kuanggap cukup wajar karena menghilang dari rumah bukan berarti lalu dianggap sebagai kasus orang hilang. Tapi bila yang menghilang adalah putri kecilku, aku tidak akan menunggu sampai waktu dua puluh empat jam untuk melapor ke pihak berwajib.

Enam jam adalah waktu yang cukup, bahkan sangat lama, bagi seorang anak perempuan yang belum genap berusia lima tahun untuk tidak berada di rumah dan belum kembali. Tanpa ditemani siapapun. Itu sama artinya dengan hilang.

Tidak pernah satu detik pun kulepaskan pengawasanku terhadap Lika, walaupun tidak secara langsung aku mengawasinya. Bagaimana bisa Lika tiba-tiba menghilang hanya dalam waktu tidak lebih dari lima belas menit? Terakhir kutinggalkan dia hanya berdua bersama Jihan, seorang pembantu yang juga merangkap bekerja sebagai baby sitter, bermain di halaman depan. Begitu aku kembali dari kamar mandi, kulihat Jihan sudah berada di dapur. Itu berarti tidak ada yang mengawasi Lika di depan.

“Kenapa kamu di sini?”, tanyaku dengan nada menginterogasi, cukup membuat Jihan yang berdiri membelakangiku tersentak kaget dan dengan sigap berbalik menghadap ke arahku. “Ada siapa di depan? Apa bapak sudah pulang?”.

Jihan hanya menggeleng, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Dan seperti layaknya Jihan, aku tidak tahu harus mengeluarkan kata-kata apa ketika tahu Lika bermain di luar tanpa pengawasan orang dewasa. Aku segera berlari ke arah pintu dan yang kulihat hanya halaman depan yang kosong. Tidak ada Lika di sana.

“Lika! Lika!”, aku berteriak memanggil nama putri tunggalku. Tidak ada jawaban. Pintu pagar masih tertutup rapat. Masih terkunci. Ada kemungkinan Lika masih berada di area rumah. Aku kembali masuk ke dalam, mencari ke setiap ruangan. Siapa tahu Lika tengah menggodaku, bersembunyi di dalam, di salah satu ruangan atau mungkin di bawah sofa.

Lika pernah melakukan itu sebelumnya. Membuatku cemas setengah mati suatu hari, mencarinya kemana-mana. Dia kutemukan bersembunyi di dalam lemari pakaian, tertawa begitu melihatku yang cemas menemukannya duduk di antara kemeja yang menggantung.

“Bunda cemas cari-cari Lika”, kataku sambil meraih tubuh mungilnya keluar dari lemari.

“Lika cuma mau ajak bunda main boneka”, pintanya ketika aku mencium keningnya,

“Tapi Lika janji jangan buat bunda cemas lagi”, jawabku mendengar permintaannya. Lika hanya mengangguk pelan.

Tingkahnya itu merupakan salah satu bentuk mencari perhatianku. Terkadang aku memang terlalu lama menitipkan Lika kepada Jihan. Aku cukup bersyukur Lika masih ingat kalau ibunya adalah aku, bukan Jihan.

Enam jam sudah berlalu sejak Lika menghilang. Aku bahkan sudah mencarinya di luar rumah. Tidak ada satupun tetangga yang melihat keberadaan Lika. Bahkan ketika matahari sudah ingin bersembunyi pun Lika belum juga tampak.

“Tunggu dua puluh empat jam, ibu bisa kembali lagi melapor dan kami akan segera memproses berita kehilangan anak ibu”. Begitu tanggapan pihak kepolisian ketika kuberitahukan perihal hilangnya Lika.

“Kita pasang berita kehilangan di koran. Atau kita juga bisa pasang beritanya di TV”, saranku kepada suamiku, Dani, pada saat dia tengah di sampingku yang menunggu telepon berdering. Dua hari sudah Lika belum kembali ke rumah. Dan sejak Lika menghilang lebih dari satu hari, yang kulakukan hanya duduk menunggu dengan telepon yang setia berada di pangkuanku.

“Kita cukup tunggu informasi dari polisi”, jawab Dani. Seperti tidak ada nada kecemasan di dalamnya.

“Kamu tidak takut terjadi sesuatu pada Lika?”, tanyaku sedikit emosi, “Dua hari belum ada kabar! Anak perempuan berumur lima tahun, apapun bisa terjadi di luar sana. Dan aku mulai tidak percaya pada kinerja polisi”.

“Aku justru lebih mencemaskan kamu”,

“Aku bisa jaga diri. Harusnya kamu lebih cemas pada Lika, bukan aku”, aku melepaskan tangan Dani dan memilih untuk pergi ke kamar Lika.

Hanya ada dinding yang dilapisi kertas dinding bergambar Barbie, karpet kuning, meja belajar berwarna senada dengan karpet, tas mungil tergantung di bagian belakang kursi belajarnya, dan barang-barang kesukaan Lika ketika aku memasuki ruangan beraroma minyak telon milik Lika. Tidak ada pemiliknya di dalam. Aku tidak mendengar suara kecilnya dari balik lemari pakaian yang memanggil namaku.

Banyak sekali rumah boneka di kamar Lika. Lika memang memiliki kesukaan yang sama denganku. Senang sekali bermain boneka serta mengoleksi rumah boneka. Dari mulai yang berukuran besar sampai yang sangat kecil. Rumah boneka milik Lika saat ini pun adalah warisan dariku.

Aku memang sudah sangat menyukai boneka sejak kecil. Dan mulai mengoleksi rumah boneka sejak almarhum ayah menghadiahkanku rumah boneka besar berwarna merah muda. Dan rumah boneka pemberian almarhum ayah itu pun masih bisa kulihat di kamar ini.

“Kalau Lika sudah besar, Lika mau jadi seperti bunda”, kata Lika ketika kami tengah bermain boneka beberapa hari yang lalu, “Jadi bunda yang perhatian. Dan kalau sudah besar nanti, Lika pasti cantik seperti bunda”. Aku hanya bisa tersenyum mendengar keinginan bocah kecil itu.

“Kalau Lika nanti cantik, pasti bisa menikah dengan laki-laki yang seperti ayah. Lalu punya rumah yang seperti rumah boneka ini, yang warnanya merah muda”, Lika meneruskan keinginannya. Aku tidak tahu kalau anak sekecil Lika bisa mempunyai keinginan seperti itu.

Tanpa sadar, aku tengah memainkan rumah boneka Lika ketika Dani masuk menyusulku ke kamar Lika. Aku hanya menoleh sebentar ke arahnya dan kembali lagi masuk ke dalam dunia bonekaku.

“Besok aku mau minta tolong Jihan agar memasang berita kehilangan Lika di koran”, kataku tanpa meminta persetujuan dari Dani.

“Besok kita ke dokter”, jawab Dani, seperti tidak mendengarkan apa yang baru saja kukatakan,

“Yang kita perlukan sekarang adalah polisi atau detektif, bukan dokter. Lagipula kenapa kita harus perlu dokter? Di rumah ini tidak ada yang sakit. Kecuali sepertinya jiwamu yang sakit, tidak perduli dengan keadaan Lika di luar sana”, aku menaruh boneka milik Lika dan beralih menghadap ke arah Dani, “Atau kalaupun perlu, biar aku yang pergi sendiri membawa foto Lika dan meminta agar koran memasangkan berita kehilangannya”.

Dani tidak menjawab ataupun membantah perkataanku. Setahuku, Dani termasuk dalam kategori suami yang senang beradu pendapat dan argumentasi dalam masalah rumah tangga. Tapi kali ini dia hanya diam melihatku berjalan ke arah rak buku, mencari-cari album foto Lika.

Aku membuka halaman demi halaman album foto yang kudedikasikan khusus untuk melihat perkembangan Lika. Tapi foto-foto yang ada berhenti pada saat Lika masih bayi. Tidak ada Lika ketika berumur satu tahun, dua tahun, bahkan foto Lika saat ini pun tidak ada. Seingatku, aku baru saja mencetak foto Lika yang kuambil satu bulan yang lalu. Tapi yang kulihat justru hanya gambar ruangan kosong tanpa ada Lika di dalamnya.

Aku berbalik dan menatap Dani yang sudah berdiri di sampingku. Tangannya menyentuh lembut bahuku.

“Kamu tahu dimana foto Lika yang terakhir aku taruh di sini?”, tanyaku sedikit panik, “Aku ingat betul aku taruh di album ini. Kenapa tidak ada?”.

Bukan menjawab, Dani justru mengambil album foto itu dan menaruhnya kembali ke rak.

“Bunda, besok kita ke dokter”, hanya kalimat itu yang mengalir dari bibir Dani,

“Kenapa kamu selalu membahas masalah dokter? Aku butuh foto Lika!”,

“Tidak ada Lika lagi di rumah ini”, Dani menjawab dengan nada terlembut yang dia punya,

“Lika ada. Aku lihat dia masih ada di halaman depan sebelum dia hilang. Kamu bisa tanya Jihan kalau kamu mau”,

“Setiap menjelang hari kematian Lika, kamu akan bersikap seakan-akan Lika masih hidup. Lalu kamu akan bilang Lika hilang begitu saja. Tapi entah kenapa suatu hari kamu akan dengan cepat lupa akan hilangnya Lika dan beberapa hari kemudian Lika kembali muncul di pikiranmu, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Terus berulang setiap tahunnya”, Dani berkata sambil tetap memegang tanganku.

“Seharusnya kamu bisa lebih menerima kematian Lika. Lika yang beberapa tahun ini hidup di pikiranmu hanya Lika yang kamu ciptakan sendiri. Lika yang senang bermain boneka, Lika yang bermimpi memiliki hidup yang sempurna. Tanpa sadar kamu menciptakan Lika yang sudah tidak ada dengan Lika yang kamu inginkan, kamu di masa kecil”.

Aku hanya bisa jatuh terduduk mendengar perkataan Dani. Seluruh tubuhku seakan menjadi tidak dapat bergerak.

“Kamu tidak akan pernah bisa selamanya hidup di dalam rumah boneka merah mudamu itu. Memimpikan anak dan keluarga yang sempurna, seperti apa yang kamu impikan sejak kecil ketika bermain dengan boneka. Kamu tidak bisa terus bermimpi kita bisa memiliki keluarga yang sempurna seperti Barbie dan Ken”, Dani sama sekali tidak melepaskan tanganku.

Untuk selanjutnya aku tidak tahu apa yang dikatakan Dani karena aku memang tidak ingin mengerti apa yang diucapkannya. Tentang perceraian, perpisahan, apapun itu.

Yang kutahu, aku melihat semua berwarna putih ketika aku membuka mata.

Sampai saat ini, Lika masih memintaku menemaninya bermain boneka. Walaupun saat ini kami tidak lagi bermain di kamarnya, tapi bermain di ruangan kecil dengan dinding bercat putih. Semua putih.

“Bunda kapan pulang?”, tanya Lika disela aku menemaninya bermain boneka, “Lika tahu bunda harus tinggal di rumah sakit. Memang bunda sakit apa?”.

Bunda juga tidak tahu bunda ini sakit apa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Lignify
Lignify at Rumah Boneka (10 years 38 weeks ago)
100

Schizophrenia.

Writer picsou
picsou at Rumah Boneka (11 years 21 weeks ago)
90

gila2... keren nih! ga ketebak ceritanya,sampe Dani ngomong itu. thumbs up!

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Rumah Boneka (11 years 23 weeks ago)
100

Kalau cerpen bertemakan seperti ini dirimu jagonya. Keren.

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at Rumah Boneka (11 years 23 weeks ago)
80

sampe tegang bacanya .... ternyata lika-nya ga ada .