Hujan, dingin dan mata penuh hujanmu

Saya tahu, saya bukanlah manusia yang bisa bertahan di kota ini dengan keadaan baik-baik saja. Saya hanya perempuan yang terus-terusan berusaha meyakinkan diri saya bahwa saya bisa bertahan di kota ini, walaupun dengan kenyataan kota yang penuh hujan ini membuat selasar hati saya terus-terusan teriris sembilu. Sembilu yang disebabkan hujan, dingin, dan mata penuh hujanmu.

“Hujan.” Kamu masuk, mengatakan sebuah keadaan yang paling saya benci dan kamu mengatakannya dengan wajah yang berbinar-binar. Harusnya saya tahu dari awal bahwa kita benar-benar berbeda. Kamu yang terlalu mencintai hujan hingga selalu menunggu hujan di sudut jendela kamarmu sambil menghirup kopi mocca-mu, sedang saya sangat membenci hujan hingga selalu ingin bersembunyi dibalik selimut.

Saya tersenyum, sedikit saja. Setiap hujan saya memang tak bisa tersenyum lebar. Karena lagi-lagi saya adalah perempuan yang tak pernah bisa bersahabat dengan hujan. Hubungan saya dan hujan adalah dingin. Sedingin udara yang berhasil menyelinap melalui ventilasi dan membuat bulu kuduk saya berdiri.

Kamu meletakkan secangkir kopi kecil di meja pada sudut kamar. Saya selalu benci kamu yang terlalu baik seperti ini, membuat saya menjadi kecil dan inferior. Seandainya kamu sedikit jahat dan bertindak semaumu mungkin akan lebih baik bagi saya dalam mengambil keputusan, tak perlu berpikir lebih lama dan bertele-tele. Kenyataannya, kamu selalu berhasil menunda keputusan yang telah saya ambil dengan senyuman manismu dan mata yang penuh hujan itu. Apakah saya pernah berkata bahwa matamu membuat saya ragu? Karena di mata itu saya selalu melihat hujan.

“Kopi favoritmu.” Katamu singkat sambil menatap jendela yang telah saya tutup rapat semenjak hujan masih berupa rintik-rintik kecil beberapa jam yang lalu. Kota ini selalu dipenuhi hujan, setiap hari, seolah matahari enggan hadir di kota ini seperti kehangatan yang juga enggan menyelimuti hati saya. Seharusnya kamu tahu bukan? Di kota ini, mulai dari hujan, udaranya yang dingin, juga kamu dengan mata penuh hujanmu, semuanya membuat saya tidak nyaman, setidaknyaman kenyataan tentang hubungan kita.

“Bukankah ini tidak benar?” saya bertanya, lalu kamu menatap saya sambil menautkan sepasang alismu, tanda bahwa kamu keheranan. Seolah pertanyaaan saya tidak masuk akal. Tapi bukankah pertanyaan saya pada kenyataannya adalah sebuah kebenaran dan pertanyaan yang paling masuk akal saat ini?

“Apa maksudmu yang tidak benar? Kopi ini?”

Saya tersenyum malas lalu menggeleng. Saya tahu kamu pria cerdas, itulah salah satu alasan mengapa saya selalu mengagumi kamu, tak mungkin kamu tak bisa mencerna pertanyaan sesederhana itu.

“Bukan kopinya yang tidak benar, tapi keadaan kita yang tidak benar.”
Kamu tertawa serak, lalu menjatuhkan tubuh setengah telanjangmu di kasur tepat disebelah tubuh saya. Kamu mulai memainkan rambut saya, seolah tidak ada yang salah dan tak ada yang perlu dipertanyakan. Kamu membuat keadaan ini terlalu sederhana.

“Saya harus pulang!” ujar saya tegas sambil menegakkan tubuh cepat sehingga kamu sedikit kaget, itu terbaca jelas di wajahmu. Saya selalu bisa membaca ekspresi wajahmu sejak hubungan kita dimulai satu tahun yang lalu.

“Kenapa tiba-tiba? Ini masih hujan?”

Saya tidak mempedulikan pertanyaanmu, yang saya pikirkan saat ini adalah saya harus berpakaian secepat mungkin, lalu meninggalkan tempat ini secepat mungkin dan tentu saja meninggalkanmu secepat mungkin sebelum saya kembali berubah pikiran karena mata hujanmu yang menatap saya dengan penuh permohonan seperti yang sudah-sudah.

Saya meletakkan kunci cadangan yang kamu berikan kepada saya satu tahun yang lalu di atas meja kecil, tepat disebelah cangkir kopi yang baru saja kamu hidangkan. Saya pikir saya tidak lagi membutuhkan kunci itu lagi karena hubungan kita harusnya memang tidak pernah dimulai. Baik itu sekarang, satu tahun yang lalu saat kamu tiba-tiba hadir di depan kantor saya saat hujan lebat. Saya masih ingat kalimat yang kau pertama kali kau lontarkan karena saya mengeluhkan hujan.

“Cobalah bersahabat dengan hujan, maka kamu tidak akan merasakan dingin.”

Saya melihat wajahmu saat ini yang sedang menatap saya dengan ekspresi keheranan yang sama sekali tidak kamu tutup-tutupi, saya memaksakan menatap matamu. Sebuah pertanyaan timbul di sudut hati saya, saya bisa menerima mata hujanmu kenapa saya tidak bisa bersahabat dengan hujan dan coba menikmati dingin seperti saat saya menikmati es krim?

Ah, ya benar. Seharusnya saya memang bisa menikmati semua itu sehingga saya tidak perlu mencari-cari kamu lagi.

Saya tersenyum, sekali lagi dengan menyunggingkan bibir seadanya. “Saya tidak akan kemari lagi. Kamu tahu, esok ulang tahun pernikahan kami yang ke-lima.”

Saya keluar dari rumahmu, masih hujan lebat. Entah benar atau tidak, saya merasa sangat lega setelah berhasil menatap mata hujanmu tanpa mengubah keputusan yang telah saya ambil. Tetes-tetes air hujan pun mulai membasahi tubuh saya, payung yang saya bawa enggan saya keluarkan dari tas. Hujan dan dingin biarlah mereka melebur jadi satu dalam tubuh ini agar saya bisa juga meleburkan mata penuh hujanmu dari ingatan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Entah kenapa, aku alergi dengan perselingkuhan...
gak ada konflik batin dengan perselingkuhannya..wah apes banget yang jadi pasangannya, setelah itu dia pasti akan berselingkuh lagi dengan yang lain.

70

dian,,memang semua ceritamu seperti prolog..tapi saya suka..
mungkin itulah yang dirasakan semua anak sumatra yang kuliah di bogor..
enjoy-in ajah..
hehehe...

MARI TERUS BERKARYA!
^anin_stuck^

100

wuich ampuh nech, coba sedikit lagi
ditambah info setting tempat
deskripsi aku dan kamunya diperjelas dikit,
agar tidak terkesan sibuk dengan diri
sendiri, dan pembaca jadi lebih menikmati.
seeeeep !
btw, man Atek lagi promo nech,
silakan mampir di :
http://www.kemudian.com/node/227943

80

Sembilu?..musim hujan segera berakhir..He3...Salam...

Writer chia
chia at Hujan, dingin dan mata penuh hujanmu (12 years 2 weeks ago)
80

keren..
:)

90

ehem, arraaa, kakakaak yg baaik! :)
ini cerita pertama yg saya baca setelah hmpir satu taun vakum total. hehe.
masih kamu bangeeeet. deskripsinya itu, menariik.
^^ aduh, keren sekali.
pasti ada kejutan di belakang.
dan pasti kena.

kapan2 k jogja yaa. mohon doanya nih saya. hehe. :)
semangat!

Writer vthree
vthree at Hujan, dingin dan mata penuh hujanmu (12 years 2 weeks ago)
90

Bagus... keren kuq

100

Welll.... nice...

Writer kiki
kiki at Hujan, dingin dan mata penuh hujanmu (12 years 2 weeks ago)
90

arra....arra...
nuansanya kerasa ra..
sibuk sekali ya?
jadi jarang posting

80

kenapa raa... hidup dalam kota penuh hujan dan kehujanan didalamnya.. cukup berasa.. ceritanya ada yang resah nih..
coba di jakarta,, pasti bukan hujan tapi banjir..

60

Keren lho non...

Salam kenal ya,..

Writer zak_ia
zak_ia at Hujan, dingin dan mata penuh hujanmu (12 years 2 weeks ago)
80

Bagus...deh ceritanya.kat-katnya juga.
Ngomong2 apa ini tentang perselingkuhan ya?