KELUH

Sandy terdiam dan terhanyut dalam lamunannya, membayangkan dirinya tidak diciptakan seperti layaknya keadaan seperti ini. Ia teringat ketika Myrna berbicara tepat di hadapan wajahnya, bercerita tentang Ray, cowok yang selama ini dekat dengannya. Sandy tidak menanggapi, hanya terdiam sambil mencoba meraih sebutir permata di mata indah Myrna yang seketika berkaca-kaca karena gembira. Tadi pagi pun demikian, sebelum berangkat ke kampusnya, Myrna mencurahkan isi hatinya sesaat. Mungkin itu cukup bagi Myrna untuk melegakan sedikit beban perasannya.

“Myrna nggak tau harus gimana lagi. Semua usaha udah Myrna coba, tapi hasilnya tetap aja nggak ngaruh,” ucap Myrna sambil memberi Sandy air minum ketika berada di kamarnya.

Udah, nggak apa-apa. Mungkin dia emang bukan jodoh kamu, batin Sandy. Ia sebenarnya ingin sekali megatakan hal tersebut, namun entah mengapa susah sekali untuk mengatakannya. Ia hanya banyak terdiam menanggapi setiap curhatan Myrna, kecuali hanya sedikit mengangguk untuk mengisyaratkan bahwa ia mengerti apa yang Myrna rasakan.

“Ya, udahlah. Mungkin Myrna belum maksimal berusaha kali, ya. Tapi gimana, dong? Gimana caranya supaya Ray ngerti kalo Myrna suka banget sama dia?” ujar Myrna agak merajuk. Ia lalu menghela nafas.

“Myr, udah jam berapa itu? Mau kuliah nggak?” ucap Tante Rika, mama Myrna, dari arah dapur.

“Iya, Ma!” seru Myrna. Lalu ia kembali menatap Sandy yang masih membisu. “Aku berangkat dulu, ya. Kamu nggak kemana-mana, kan, hari ini? Ya udah, sampai nanti sore ya. Bye,” kata Myrna sambil tersenyum dan keluar kamar dengan tas punggungnya.

Harus Sandy akui, Myrna memang cantik, walau terkesan sedikit tomboy. Rambutnya yang dulu panjang tergerai, kini dipotong pendek sebatas leher. Matanya yang bening dan indah, selalu memancarkan suatu ketenangan bagi lawan pandangnya. Gadis itu hampir tidak pernah memakai make up, kecuali sekedar foundation, itupun ketika akan pergi ke acara penting saja. Kesukaannya mengenakan T-Shirt putih dan jeans belel, membuatnya semakin terlihat cuek dan kasual. Sandy pun sempat menyukainya. Bukan karena penampilan fisiknya, tetapi lebih kepada apa yang ada di dalam hatinya. Tapi itu dulu, beberapa bulan yang lalu. Sekarang, ia hanya menjadi sahabatnya yang setia, menjadi pendengar yang baik dan menjadi tempat curahan hatinya yang utama. Terpaksa.

Tanpa terasa, sudah hampir jam lima sore. Sebentar lagi Myrna pulang, ucap Sandy dalam hati. Ia pun bersiap menuju rumah Myrna.

Tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai di rumah sahabatnya itu. Ketika tinggal beberapa langkah lagi dari rumah Myrna, Sandy menghentikan langkahnya. Ia melihat mobil sedan berwarna biru metalik yang terparkir di depan pagar rumah Myrna. Itu mobil Ray!

Ray berdiri bersandar pada pintu mobil dan berbicara dengan Myrna yang ada di hadapannya. Sandy hanya memandangi dari kejauhan. Ada rasa sakit hati, sekaligus kekecewaan yang mendalam pada keadaan ini. Tapi, apakah keadaan yang harus dipersalahkan?

Jantung Sandy semakin berdebar keras, ketika Ray memegang tangan Myrna sebelum Myrna masuk ke dalam rumah. Agaknya, gadis itu masih belum mengizinkan Ray bertamu ke rumahnya. Setelah Myrna masuk, Ray pun melambaikan satu tangannya, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Sandy bersembunyi di balik pohon saat melihat Myrna sedikit menyapu pandangannya ke arahnya. Tak lama kemudian, mobil yang telah dimodifikasi menjadi bergaya sport itupun melaju dengan cepat, meninggalkan Myrna dengan senyumannya. Sandy memutuskan tidak menemui Myrna hari itu. Hatinya hancur, ia benci dengan dirinya sendiri yang tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan sekedar menunjukkan kasih sayangnya pada Myrna.

Malam harinya, Sandy terbangun oleh suara lolongan anjing yang memekakkan telinganya. Ia tertidur sore tadi dalam balutan perasaan yang ia sendiri tidak tahu apa namanya, tentunya perihal Myrna dan Ray yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri tadi sore.

Sandy melihat bulan sabit yang berwarna putih keperakan di hamparan langit malam. Belum larut rupanya, pikirnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah kamar Myrna yang tak jauh dari kamarnya. Lampu kamarnya masih menyala dan ia melihat sebuah bayangan yang masih terjaga sedang berada di hadapan komputer. Entah apa yang sedang Myrna kerjakan dan anehnya, Sandy tidak mau tahu.

Keesokan paginya, Sandy telah berada di kamar Myrna, menyelinap melalui jendela kamar, seperti yang sering di lakukannya. Ia terduduk di meja belajar dan memandangi paras Myrna yang masih tertidur pulas. Manis. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, rupanya gadis itu terlalu lelah dan larut dalam pekerjaannya semalam. Sandy tersenyum dan sekali lagi melamun. Membayangkan dirinya sesempurna Ray.

Apa kurangnya cowok yang berpredikat sebagai ketua tim basket di kampus itu? Rasanya tidak ada yang minus. Dia tampan, kaya, pintar, tubuhnya tinggi dan atletis, serta kelihatannya ia cukup perhatian. Mungkin karena kesemuanya itulah, Myrna tertarik dan mati-matian untuk mendapatkan cinta Ray. Wajar dan tidak berlebihan, batin Sandy. Sandy pun sering berharap agar bisa seperti Ray dan ia berjanji akan lebih menjaga Myrna.

Tapi kemudian ia tersadar bahwa harapan hanyalah tinggal harapan, ia tidak akan mungkin mengingkari hasil ciptaan Tuhan dan ia terlalu naif untuk bisa memutar waktu serta keadaan. Ia memang bukan ditakdirkan untuk mendapatkan hati serta cinta Myrna. Ia hanyalah menjalankan tugasnya sebagai sahabat, tidak lebih. Ketika memikirkan kalimat yang terakhir, serasa kepala Sandy terhantam benda seberat satu ton. Perih, tapi itulah kenyataan sebenarnya. Seberapa kerasnya ia mencoba untuk jadi yang terbaik, tetap ia hanyalah ia, bukan orang lain. Seberapa tinggi impiannya tergantung, ia hanya akan bisa memandangi wajah Myrna di balik sekat tak kasat mata.
Mata Sandy dibasahi air mata. Sementara, Myrna terlihat mulai meregangkan tubuhnya. Ia menguap dan ketika ia hendak membuka matanya, seketika ia tutup lagi lantaran sinar matahari pagi yang menghujam deras dari jendela kamarnya yang sedikit terbuka dan tepat mengenai wajahnya. Tampaklah Sandy sebagai siluet yang sedang mengusap-usap matanya.

“Hei, kenapa nggak bangunin aku?” ucap Myrna sambil tersenyum dengan suara yang agak serak. Ia lalu berdehem.

Sandy telah menghapus genangan di matanya dan menghamparkan pandangannya ke arah luar jendela, menatap jalan yang dipenuhi beberapa pedagang sarapan keliling. Myrna masih terbaring di tempat tidur, sambil menguap dengan malas. Sepertinya ia hari ini tidak ada jadwal kuliah.

“Aku nggak kuliah hari ini,” kata Myrna, seolah mengetahui apa yang dipikirkan Sandy.

Sandy menegakkan kepalanya dan mengernyitkan dahi, mengisyaratkan tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.

“Lupa, ya. Ini, kan hari sabtu,” tukas Myrna, kembali berhasil menebak apa yang ada di pikiran Sandy.

Myrna lalu duduk dan beranjak keluar kamar. Sandy gelisah, ia ingin mengatakan jangan meninggalkan dirinya dahulu.

“Sebentar, cuma cuci muka kok. Eh, aku mau cerita, tapi nanti dulu ya,” ucap Myrna seolah mendengar batin Sandy sambil tersenyum, manis sekali.

Benar, beberapa saat kemudian Myrna kembali lagi dan bercerita pada Sandy betapa senangnya ia diantar pulang kemarin oleh Ray, juga traktiran di restoran fast food kesukaannya sepulang kuliah. Sandy memaksakan senyumnya untuk menyenangkan hati Myrna. Tapi yang membuat Sandy miris, Myrna janjian lagi siang ini, masih dengan Ray.

“Mau main ice skating!” ucap Myrna setengah berseru.

Waktu berlalu, Myrna pun semakin mempersiapkan diri untuk kencan keduanya tersebut. Sementara, Sandy setia mendengarkan Myrna, walau tidak tahu apa yang dibicarakannya, sambil memperhatikan tiga ikan mas koki yang berenang-renang di akuarium kamar Myrna. Hampir jam sebelas dan Myrna pamit pada Sandy.

Entah apa yang dipikirkan gadis itu, butakah matanya? Beberapa minggu yang lalu, Myrna bercerita bahwa Ray menggandeng mesra kekasihnya di kampus. Beberapa hari lalu bahkan ia melihatnya menggandeng tangan perempuan lain, begitu seterusnya. Tapi, apa yang bisa diperbuatnya. Ia hanya bisa melenggang keluar kamar dengan wajah yang ditekuk seperti handuk.

Sandy hampir tertidur ditengah lamunannya, ketika ia mendengar pintu pagar uang dibuka dan dibanting dengan keras. Hampir saja Sandy terjatuh pinggiran jendela, tempat favorit Sandy ketika siang hari, saking kagetnya. Ia melihat Myrna yang masuk rumah, sambil menyeka matanya. Ia menangis!

Sandy mengintip ke kamar Myrna melalui celah jendela. Myrna memang menangis, tetapi apa yang ditangisinya? Sandy ingin sekali dapat menghibur Myrna, tapi apa yang dapat dilakukannya? Ia takut malah membuat keadaan semakin memburuk. Maka Sandy hanya bisa melihat dari celah jendela, sampai senja benar-benar habis.

Malam harinya, Myrna menulis diary. Sudah lama ia tidak menulis catatan hariannya tersebut, karena ia sudah menganggap Sandy sebagai diary-nya. Tapi sampai malam ini Sandy tidak juga muncul dihadapannya. Dalam diary, Myrna menuliskan betapa menyesalnya ia pernah kenal dengan manusia bernama Ray. Betapa Ray telah membuatnya memohon-mohon akan cintanya, tapi ternyata juga banyak gadis lain yang senasib dengannya. Ray itu bajingan, Ray itu playboy kampungan cap buntut tikus, Ray itu... sialan!

Malam telah tampak semakin dewasa menjelang pukul dua belas malam dan Myrna masih mengharap Sandy datang ke tempatnya, untuk mengeluarkan keluh kesahnya. Tapi, tiba-tiba Myrna merasa telah terlalu egois pada Sandy, memaksa Sandy untuk mendengarkan ceritanya tanpa mencoba mendengarkan apa yang sedang dirasakan Sandy. Mungkin Sandy cemburu, pikir Myrna sambil tersenyum.
Sementara, di sisi malam yang lain, Sandy tengah menatap rembulan yang bersinar penuh. Betapa dirinya begitu ingin mengecupnya, membelainya dan terus memandanginya hingga terlelap. Tetapi, ia hanyalah pungguk yang merindukan bulan. Juga tidaklah mungkin baginya untuk menjadi bagian dari hidup Myrna, sangat tidak mungkin.

Sandy hanyalah seekor tupai. Binatang kecil yang tidak tahu diri dan merasa dirinya hebat, hanya karena telah memulai persahabatan dengan manusia yang selalu memberikannya remah roti. Sandy kini hanya bisa menangis dalam diam.

Read previous post:  
41
points
(1469 words) posted by heripurwoko 14 years 20 weeks ago
51.25
Tags: Cerita | cinta | busway | galau | harapan
Read next post:  
Writer mey
mey at KELUH (14 years 5 weeks ago)
90

setuju dengan comment2 sbelumnya,

rasa2nya ni, sekarang aku jadi "tupai",

hehe... rasanya doang loh...

Writer ervan_azadeh
ervan_azadeh at KELUH (14 years 12 weeks ago)
90

Plot yang edgy and tricky yah...

Writer syafree
syafree at KELUH (14 years 15 weeks ago)
50

Tupay berbulu Sandy...
Pengen euy punya tupai peliharaan kayak gitu. Bisa ngobrolin soal modifikasi mobil kan ayik.

Lagian, bisa ngingetin kuliah, dan NYELESAIN SKRIPSI! (uooh,,, maaf...maaf...buat semua penghuni, lagi panik dikejar skripsi ini...)

Writer ima_29
ima_29 at KELUH (14 years 20 weeks ago)
50

tak di sangka...tak diduga^--^

Writer julie
julie at KELUH (14 years 21 weeks ago)
80

tupai disarang manusia. ternyata tupainya menganut prisip yang disebutkan pepatah ini, di kandang kambing mgembik di kandang harimau mengaum, di kandang manusia..... pokoknya manusiawi sekali. terlanjur sayang kata Memes

Writer pikanisa
pikanisa at KELUH (14 years 21 weeks ago)
70

YUP.... cerita tentang tupai ?
Padahal sekarang cari tupai di Indonesia sulit.
Jadi orang yang dicintai oleh manusia aja sulit, apalagi si Myrna dicintai oleh ..... juga.
Ck...ck...ck...

Writer FrenZy
FrenZy at KELUH (14 years 21 weeks ago)
80

Hehehe kok endingnya begitu sih?? kupikir Sandy itu lesbian.. atau apa gt... Hmmmm tapi alur ceritanya enak dibaca.

Writer KD
KD at KELUH (14 years 21 weeks ago)
100

aku sudah nebak kalau Sandy itu sebenarnya...ups, hampir kelepasan. Bagi yang lain silahkan membaca sendiri.