Perempuan Pinggir Tebing

Perempuan Pinggir Tebing

Teks. Edo Wallad

Aku mengenal dia, perempuan yang selalu berdiri di pinggir tebing. Menanti fajar menyingsing. Ia selalu menyambut pagi dengan lagu. Bersenandung ikuti kicau burung di hari baru. Dengan nyanyiannya ia buang segala resah. Yang mengerak berkarat di dinding dunia mimpinya dan selalu membuatnya bangun dengan gundah.

Sudah menjadi ritual. Seperti adanya embun di dedaunan. Pertanda sisa malam yang dingin.

Ia memulai harinya dengan meneriakan semua pedih yang ia tahan. Untuk obati luka yang simpan. Agar sekadar kembali merasa nyaman. Dalam dekapan gelap kehidupan.

Aku mengenal dia dalam perjalananku. Ketika aku tersesat dalam rimbun belantara. Dan berakhir di tepian jurang. Tempat pertama kali kudengar ia bernyanyi. Kala itu kurasakan nelangsa menular dari nada yang keluar dari bibirnya. Merayap dan menembus debur ombak di pantai bawah tebing.

Harus kuakui saat itu aku sangat dekat dengan air mata. Kehangatan yang pedih menggenang menyentuh bulu mata. Kesenduan itu menandak-nandak ke langit. Yang belum terlalu terang. Masih menyisakan gelap. Sisa dari malam.

Aku merasakan kesepiannya. Aku tertular kesepian itu.

Ia tak menangis. Ia hanya bernyanyi. Tapi lagu itu lebih seperti pernyataan ingin mengakhiri hidup. Walau masih menyimpan harap. Agar hari baru akan membawa harapan baru. Bukan bayi-bayi kegalauan, yang lahir dari rahim keresahan berkepanjangan.

Aku merasa lebih baik mendengar ia menangis.

Keesokan harinya aku akan melihat dia. Di tempat sama. Dengan mata terpejam. Tangan mengembang. Lalu mulai bersenandung. Seringnya ia berdiri. Tapi kadang ketika kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya yang mengangkat beban duka, ia hanya bisa setengah berdiri dengan lutut. Bahkan kadang sepenuhnya berlutut, merangkak, atau bersandar di bebatuan. Sering juga ia menunduk, melihat ke bawah jurang, seakan ingin melemparkan dirinya menyongsong ombak yang menjilat karang.

Aku mengenal dia, perempuan yang selalu berdiri di pinggir tebing. Menanti fajar menyingsing. Ia selalu menyambut pagi dengan lagu. Bersenandung ikuti kicau burung di hari baru. Dengan nyanyiannya ia buang segala resah. Yang mengerak berkarat di dinding dunia mimpinya dan selalu membuatnya bangun dengan gundah.

Perempuan pinggir tebing. Lantunkan lara.

:Bjork-Hyperballad

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dienar
dienar at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 4 weeks ago)

mengharubiru...:)

Writer Megan
Megan at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 44 weeks ago)
100

jd terhanyut dengan tiap baitnya
..

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 45 weeks ago)
80

Lupa...^^

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 45 weeks ago)

Horee... baca kisah ultrapolistabsurdia-nya mas edo lagi.. Tema gloomy seperti biasa, ya mas... tetap enak dinikmati olehku, tuh.. ^^

Writer panah hujan
panah hujan at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 45 weeks ago)
90

Entah kenapa aku mendengar lantunannya :)

lantunan lara seorang gadis yang kesepian.. juga lantunan cerita seorang pria yang jatuh cinta :)

hehehe :P

salam kenal ^^

Writer Onik
Onik at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 45 weeks ago)
80

oh my God... menghanyutkan... :(

Writer deeya_
deeya_ at Perempuan Pinggir Tebing (12 years 45 weeks ago)
100

:(( aq ikut terbawa k dlm teks ini...