Adegan Pembunuhan

“Jadi, kapan kita mulai syuting?”tanya Sharin ketika ia merelakan tubuhnya dikubur dalam tanah. Hanya kepalanya saja yang menyembul ke udara.
“Bentar lagi kok, lo sabar aja…”kata Raiz, sang sutradara yang merekrutnya. Tidak lain dialah mantan pacarnya. Mantan selingkuhannya tepatnya.
“Cepetan dong…gue capek!” teriak Sharin manja. Raiz hanya tersenyum, potongan-potongan memorinya yang masih mengkristal di otaknya mengingatkannya akan kenangan mereka dulu. Hanya dahulu…
Raiz mencoba membuang pikirannya, ia hampiri Sharin. “Lo bisa acting kan? Bayangin lo lagi dibunuh sama mantan pacar lo. Lo hapal naskahnya kan?” tanya Raiz yang berjongkok di sebelah sebidang tanah tempat badan Sharin dikubur. Sharin mengangguk sebisanya. Karena tanah membatasi ruang geraknya.
Tak lama kemudian, Raiz menyuruh kru-krunya untuk pergi istirahat makan siang. Tinggal Sharin dan Raiz.
“Iz, kok lo suruh kru-krunya istirahat, syutingnya kan belum selesai. Gue nggak bisa lama-lama kayak gini!” keluh Sharin yang gemas karena dalam keadaan leher sampai ujung kaki dikubur dalam tanah itu sangatlah menjijikan, gatal-gatal, dan pastinya bau. Siapa yang kira kalau beberapa jam yang lalu ada hewan yang buang kotoran di tanah itu?
“Sabar ya Rin, lo nanti juga bakal biasa…”hibur Raiz.
“Tapi sampai kapan?” rengek Sharin.
Raiz mengusap rambut Sharin yang kotor terkena debu. Perlahan ia cium bibir mantan pacarnya yang pernah terjamah bibir laki-laki lain. Mereka bertaut cukup lama. Akhirnya Raiz membisikkan sesuatu ke telinga Sharin,” Sampai elo mati…”
Sharin terdiam beberapa lama, mulutnya yang kaku akhirnya angkat bicara,
“Lo bercanda kan?”
Raiz tersenyum. Getir. Bayangan masa lalu menguatkan tekadnya untuk melakukannya. Rasa cinta yang teramat besar terhadap Sharin berubah seiring waktu menjadi rasa benci yang kian lama meninggi.
“Selamat tinggal Sharin…”kata Raiz. Kata terakhirnya.
Kemudian Raiz pergi meninggalkan Sharin di hutan sepi itu. hutan liar yang masih sedikit sekali punya riwayat dijangkau manusia. Hutan yang tak dipungkiri sebagai tempat bernaung selain manusia.
Sharin berteriak minta tolong dan menangis. Ia sadar Raiz melakukan ini bukan tanpa alasan. Berkali-kali ia memanggil nama Raiz. Berharap Raiz merubah pikirannya. Tapi bukan Raiz yang datang.
Seekor ular menerkamnya dalam kegelapan maghrib yang mencekam. melilit lehernya, menyemprotkan bisa, dan mematuk kepalanya.
Kemudian Sharin tertidur dalam mimpi yang benar-benar membawanya ke alam lain.
Tempat paling aman yang pernah ia singgahi. Dalam hatinya Sharin bersyukur, karena Raiz mengirimnya ke Surga.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rans
rans at Adegan Pembunuhan (11 years 52 weeks ago)
50

idenya udah bagus tapi endingnya kurang mengena, jadi ngambang.. aku kasih setengah bintang buat ini yah...

Writer Bintang1902
Bintang1902 at Adegan Pembunuhan (13 years 17 weeks ago)
70

emmmm,...:)

Writer Onik
Onik at Adegan Pembunuhan (13 years 23 weeks ago)
70

ide bolehlah, tp nanggung banget nih, klimaksnya ga kerasa, maaf ya :)

Writer just_hammam
just_hammam at Adegan Pembunuhan (13 years 23 weeks ago)
70

ide yg menarik...
meski sudah tertebak sejak awal..hehehe
kamu terlalu terburu2 menyelesaikan cerita ini. banyak hal bisa digali saat tokoh ditinggal sendirian...
ayo lanjutkan..

Writer Rijon
Rijon at Adegan Pembunuhan (13 years 23 weeks ago)

Ahahaha....

Benahi EYD-nya dulu.

Dan dari segi penceritaan pun masih banyak yang harus dibenahin.