Sepanggal Cerita yang Tumpah

Pagi ini datang lagi setelah semalam aku bercanda pada mimpi kabur tentangmu. Seperti sebuah video yang diputar ulang. Ingatan tentangmu, perempuan berwujud bayang. Bayangan itu menggenang dalam bait puisi yang lelah mendiami lembar demi lembar buku harian. Merebahkan kepala dalam dadaku yang ciut ternista nafasnya yang harum. Rambutmu kusut terkoyak jemariku yang bermain liar pada tubuhnya. Suara merdu seperti nyanyian sunyi dan selalu membangunkanku pada alam yang temaram dan suram. Keinginan mencinta terasa perih karena aku tahu tak perlu berbasa-basi, perempuan ini akan memberiku lebih dan lebih lagi. Baginya waktu itu tak pernah panjang, jikapun cerita hanya sempat mampir sebentar itu bukan kesia-siaan

“Aku harus merubah terang saat ini atau tidak sama sekali” bisikku pada seseorang yang berdiam di dalam hati. Perempuan ini masih saja mengulumkan senyum pada aku, laki laki yang telah memperdayainya. Tapi aku tak juga berhenti dan malah meneruskan mengurai kata-kata lembut yang akan kupersiapkan untuk menjebaknya pada malam nanti, seperti malam malam sebelumnya.

Perempuan itu nampak naif tapi tatapannya dingin, sesekali ia selipkan senyum kecil untukku. Ada sedikit gundah yang menyeruak lalu kuurungkan saja niatku berterus terang. Walau kepalaku masih dihujam duri - duri tajam yang menusukku di setiap urat syaraf. Aku tak rela pergi saat ini bahkan sampai kapanpun. Itu janji seorang laki-laki pada perempuan naifku.

Aku selalu datang padanya setelah aku menelikung peri bertaring darah. Membuainya pada sebotol arak yang kusiapkan selalu di kantong celanaku. Mabuk... ya aku haruslah mabuk untuk menemani peri penghuni rumah mungilku. Jika tidak, maka aku akan selalu berlari mencari perempuan yang selalu binar di mataku. Aku sendiri tak pernah sadar jika berada di dekatnya. Ketika mabuk, aku berada di alam layang berpenghuni seribu dayang dan entah di mana nantinya aku akan mendarat.

Tapi seperti sudah terekam, langkah gontaiku hanya akan menuju sebuah rumah. rumah sepi berpenghuni perempuan lugu penjinak sepi. Dalam keadaan setangah sadar. tubuhku akan cepat mendarat di atas ranjang harum melati dengan kepalamu menindih dadaku. Seringkali mulutku meracau, menyemburkan mantra-mantra. Entah apa yang aku igaukan, karena perempuan itu tak pernah bertanya dan bercerita. Dan akupun tak ingin bertanya karena aku takut kamu akan menyeringai dan mengeluarkan taring seperti periku. Lalu jika itu terjadi kemana lagi aku akan lari bersembunyi. Perempuanku, aku ingin menjadikanmu bunga yang akan mekar setiap aku melindas malam dengan embunmu. Akan kuhadiahi kau sebuah pot megah dengan tepian emas jadilah bunga, seperti perempuan-perempuan itu atau jika kau masih tak puas, akan aku tulis berjilid puisi cinta dari tetesan darahku sendiri. Agar kau, perempuanku yakin aku tak pernah ingin pergi darimu.

Mungkin perempuan itu menyimpan seribu misteri di balik wajahnya yang sepi. Entahlah aku tak banyak bertanya, setiap pertemuanku selalu dalam keadaan kacau dan aku tak mampu mengingat kapan, dimana dan seperti apa aku ketika aku datang padanya. Kita bicara sedikit saja, lalu saling bertatap mata menumbukkan rindu yang tertahan beberapa waktu. Lalu pagi akan datang dan akupun harus kembali menjadi penjinak peri yang baik. Itu berarti pagi telah merampas kebersamaan yang selalu ingin kureguk seperti segelas syrup mint yang sejuk. Tak pernah ada rayuan untukmu, hanya sebait puisi yang kadang kubaca dari kulit tubuhmu walau dengan terbata bata karena aku terlalu sibuk mendekapmu.

*********
Malam ini datang lagi, lelaki kumal aroma alkohol, matanya merah basah tak hentinya mengalirkan sembilu dihadapanku, menguraiku pada rasa iba. Tapi ada sesutau yang hangat disetiap kedatangannya, di setiap kealpaan waktuku pada lelaki. Matanya serupa hewan pengerat. lincah menari-nari. bibirnya yang basah dan geligi rapat. ada cerita disetiap inchi tubuhnya tapi aku belum mampu mengurainya sekarang atau nanti. Biarkan saja waktu itu tidak pernah lama, singkat saja, dan bukanlah sebuah kesia-siaan di setiap detiknya.

Bau laki-laki ini masih sama, bau perempuan dan aku tahu ini bukan wangi tubuhku. Aku biarkan saja ia mengejan menahan sakit atas rahasia yang ia simpan sendiri. Tak ada suara tentang tangis cemburu atau rengekan manja. Biarkan saja semua mengalir bagai darah yang leluasa menelikung di tiap tikungan nadi. Akupun masih ingin mereguk hangat pada bibirnya yang beraroma alkohol. Siapapun perempuan itu, tidak ada niat saat ini ataupun nanti aku bakal pergi sebelum ia memutuskannya sendiri.

Kurasuki mimpinya yang mengenang kenang setiap malam pertemuan. Hingga shubuh datang menjemput lalu memisahkanmu dengan bayang suram tentang kita. Ya tentang kita, perempuan dan laki laki yang bermabuk mabuk di sudut kelam. Dadamu yang lapang mendesahkan kisah yang teramat sunyi. Di sebuah ruang yang hampir pecah dindingnya seperti telur airmata yang hampir retak, kita bercakap cakap dalam sunyi dan menelan sendiri cerita mimpi yang mungkin tak pernah sama.

“Apa aku harus bertanya? Untuk apa jika nanti akhirnya akan pergi” bisikku pada seseorang yang berdiam di sudut kalbu. Kau selalu datang dalam keadaan gontai setelah mabuk bersama peri yang menyeringai seperti iblis. Dan aku iblis betina yang menjelma menjadi malaikat di matamu, selalu membukakan pintu tanpa banyak bertanya dan menerima kata kata yang kaurangkai menjadi puisi.

Suatu kali kau jatuh tertidur di depan jendela kamarku dengan keadaan nyaris telanjang. Akh.. aku iba sayang, tapi sebenarnya aku ingin tertawa. Kau laki laki dan kau datang padaku dalam keadaan kacau. Aku papah kau masuk, tubuhmu yang tak seberapa tapi cukup berat buatku. Tak putus aku membawa kau masuk lalu merebahkanmu pada sofa yang selalu kau duduki. Kulantunkan syair merdu yang biasa kutulis pada lembaran rambutku setiap senja. Tubuhmu yang kotor dan berdaki kuusap dengan kedua tanganku sendiri tanpa perantara. Apa kau merasa?? Kurasa tidak, karna kau cuma mengigau menyebut nama perimu. Sungguh tak ada rasa jijik kala itu, karena aku selalu menerimamu dalam keadaan apapaun. Aku tak perlu sebuah pot megah bergerigi emas yang indah untuk kudiami. Karena aku selalu ingin pulang menuju rumah di sebuah lembah yang berhalaman luas. Dengan pohon tua besar yang akan meneduhkanku setiap saat. Aku tak perlu juga sebuah buku berisi puisi cinta yang mungkin kau tulis dengan darahmu karena aku bisa menulis puisi cinta untukku sendiri. Ya.. aku memang pandai merayu diriku sendiri, membujukku agar tak lena pada kata kata yang indah dari laki laki sepertimu.

********
Beberapa waktu aku lupa pada mabuk, rayuanku pada sang peri dengan sebotol arak tak lagi mempan. Malah keadaan jadi berbalik setiap kali aku menyodorkan kesenangan di matanya, justru aku jadi mabuk sendiri dan tak sadarkan diri dipelukan sang peri. Oh.. Betapa rindu aku pada mimpi yang samar, pada perempuan bayang yang harum dan rambut kusut perempuanku. Tapi aku tak dapat bergerak rantai di kakiku begitu kuat. Entah apa yang sedang dipersiapkan peri bertaring darah ini.

Suatu sore aku datang menunggangi pelangi beriring hujan gerimis. Waktu akhirnya mempertemukanku pada keinginan ini. Langkahku tak lagi gontai, tak akan lagi ada racauan di depan perempuan naifku, malaikat penjaga malamku. Kuketuk pintu yang selama ini ternyata tak pernah aku ketuk. Dengan membawa seikat kembang biasa, berwarna pudar, wanginyapun hampir tak ada, sengaja kupilih kembang itu karna tak ingin perempuanku tersaingi.

Pintu itupun terbuka, ini yang kunantikan sejak lama. Aku dapat melihatmu dalam keadaan sadar, dalam nyata dan bukan dalam mimpi yang samar. Aku ingin melihat aku dalam matanya. Lalu bercerita tanpa harus menyimpan sendiri rahasia. Tak ingin lagi menyakiti diri dengan menahan erang yang berada diujung lidah.

Tapi semua inginku lenyap, aku terkejut ada kerut di dahimu dan tanya di matamu. Kau tak mengenaliku kau tak lagi memapahku kedalam rumahmu seperti dulu, dan kau seperti mengusirku seketika. Tak juga seperti yang kulihat dalam bayang biasanya, kali ini rambut sebahumu terjuntai indah tak lagi kusut. Tatapanmu yang seakan bertanya “Siapa kau?” oh.. tidak itu menyakitkan. Ternyata perempuanku mengenalku hanya dalam keadaan kacau. Harum tubuhnyapun tak lagi sama bukan bau yang biasa aku cium. Senyumnya akh... lebih mirip peri bertaring darah. Tapi aku tau dia masih perempuan yang sama yang selalu menerimaku apa adanya. Ada apa ini???

*******

Dia datang lagi di suatu sore yang teramat sinis. Ya.. laki laki pemabuk itu. Ia datang bersama hujan yang tipis seperti rindu yang telah tiris di dadaku. Dahiku berkernyit bertanya “Siapakah laki laki yang santun ini?” samar-samar aku melihat sisa wajah yang sempat kukenal dulu. Memang beberapa waktu yang lalu tidurku nyenyak, tak ada lagi igauan, atau suara gaduh di depan rumah. Setelah malam-malam sebelumnya gelisah menunggui lelaki pemabuk yang tak juga datang.

Ketika itu aku begitu rindu sesuatu, rindu menumbuk dada yang beraroma luka. Mengorek nanah yang nganga diseputar kisah laki laki pemabuk. Pertanyaan kecil kupendam sendiri, entah kapan lagi laki laki itu datang lagi. Aku tak akan berharap karna mimpi dan harapan sama sama menyakitkan. Saat itu aku bertemu sesosok malaikat yang rela menemaniku menghapus rindu rindu malamku. Rindu pada ruangan tak berpintu dengan dinding yang retak. Rindu pada kisah yang disimpan sendiri, olehku dan oleh laki laki itu. Ia malaikatku membantu hapuskan semua kenangan, ia tak suka alkohol. Tak juga suka membacakan puisi sambil tergagap. Entah pada apa aku tertarik padanya. Kisahku kali ini tak lagi sama seperti laki laki pemabuk yang selalu datang di tengah malam dalam keadaan kacau. Ia datang disaat aku rindu menulis puisi, disaat aku menyapa matahari dan pada saat aku ingin bertemu laki laki. Begitu ingin aku menumbuk cinta yang lama tak pernah tiba. Semuanya seperti pijar yang tak pernah redup membuaiku ke atas langit. Membiarkanku terbang setinggi mungkin dan ia selalu siap mendekapku di bawah sana. Aku tak perlu lagi menunggu. Ia menjadi malaikatku dan aku bersedia menjadi peri untuknya.

**********
Hujan tipis itupun menghalauku menuju pulang padamu, perempuanku. Entah apa yang membuatmu berubah seperti itu. perempuanku! Aku diam dan lalu berbalik meninggalkan kelam pada dada. Padahal aku sudah semburkan racun pada peri bertaring darah lalu menidurkannya pada tanah merah yang harum kembang kenanga. Dan kisahpun selesai sampai disini, entah setelah ini pada siapa aku pulang.

Surabaya, 2007- 2009
*sial... blum juga jadi nih coretan dri 2 tahun lalu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dee_xfr
dee_xfr at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 33 weeks ago)
80

cinta ini..membunuhku.. (nyolong lirik lagu neh) hehehehe

bener2 unjuk GIGI..ups..

Writer mizz_poe
mizz_poe at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 34 weeks ago)
100

geeeettttttttttttaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..........
aku lagi maen gila ama si ndut. maen gila-gilaan :))

Writer adelya_minerva
adelya_minerva at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)
70

ikutan mabok nich! tapi keren :)

Writer snap
snap at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)

ya ampyun ghe.......... kek aku baca jawapos weekend dah.. salut salut.....................

ah tapi kamu tak perlu nilai kan, sptnya kuberi nol aja deh qeqeqeqe....

Writer cibo
cibo at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)
80

Makanye jangan kebanyakan biar ga tumpah hihihiiii....

Writer KD
KD at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)
100

aku BBM baca cerita liris ini

Writer gheta
gheta at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)

BBM Benar-Benar MUAK yaa D...!!! hahahahaha

Writer 51-374
51-374 at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)
100

cinta bikin mabok atau mabok karena cinta :-?
:d

salam

Writer gheta
gheta at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 36 weeks ago)

51-374 wrote:
cinta bikin mabok atau mabok karena cinta :-?
:d

salam


hahaha... gagall gara gara ngegame. mabukk game.. hasyuuu

Writer mizz_poe
mizz_poe at Sepanggal Cerita yang Tumpah (11 years 34 weeks ago)

gheta wrote:
51-374 wrote:
cinta bikin mabok atau mabok karena cinta :-?
:d

salam


hahaha... gagall gara gara ngegame. mabukk game.. hasyuuu

hayook mabukk bareng geet :-X
geetaaaaaaaaaaaa :-*