The Last Battle - Dueris qin Kavalerat

Matahari yang menyembul dari balik pegunungan timur menyinari seisi lembah di tepi Sungai Halkanier, menemani kebahagiaan seluruh penduduk kota Danqurk yang baru saja bersyukur atas kemenangan pertama mereka. Di kaki benteng sepanjang dinding selatan ribuan mayat prajurit Elniri bertumpuk-tumpuk tak menyisakan tanah kosong sedikit pun. Sementara di depan tendanya di puncak bukit selatan, Tomassi, sang quazar Elniri duduk memperhatikan sambil tersenyum masam.

Ya, nikmatilah kebahagiaan sementara kalian.

”Apa yang kaudapat, Maravai?” Ia bertanya pada jenderal yang berdiri di sampingnya.

Maravai menjawab, ”Pemimpin mereka, Tuan, kabarnya adalah William, pangeran dari Lafettia. Ia sangat terkenal di daratan utara ini. Mungkin Anda juga pernah mendengar namanya.”

”William, lebih dari tiga puluh tahun yang lampau adalah ksatria yang mengalahkan Quazar Hartomavi di utara,” sahut Barastei, jenderal lainnya. ”Kabarnya ia membunuh ribuan prajurit kita di sana.”

”Ya, aku sudah pernah mendengar legenda itu! Menurutku, itu hanya cerita yang dibesar-besarkan orang,” tukas Tomassi. ”Hartomavi juga cuma pecundang. Ia tidak pernah pantas menjadi quazar!”

”Kalau benar dia orangnya, mestinya ia sudah cukup tua sekarang,” cetus Barastei.

”Kalau benar dia orangnya, ia harus disingkirkan terlebih dahulu,” balas Maravai.

”Kau punya usul, Maravai?”

”Tuanku, dulu Quazar Anthravai punya kebiasaan menantang duel musuhnya di depan gerbang. Tujuannya adalah untuk meruntuhkan moral musuh sebelum pertempuran dimulai. Ironisnya, William ini dulu juga menggunakan taktik yang sama di Denz di negeri Haston, saat mengalahkan Hartomavi.”

”Jadi menurutmu aku juga harus menantangnya sekarang?” Tomassi menyeringai. ”Tidak masalah. Aku akan mengalahkannya dengan mudah. Seperti katamu, Barastei, ia pasti sudah jadi orang tua sekarang. Pasti akan lebih mudah.”

”Tidak perlu Anda, Tuan,” jawab Maravai. ”Aku punya seorang perwira yang tangguh.”

”Parstavi?”

Maravai mengangguk. ”Ya, Tuan. Dan dua orang lagi, Chilasti dan Kherasai.”

”Aku kenal mereka,” kata Tomassi. ”Mereka prajurit terbaik kita, tapi apa mereka siap?”

”Aku telah berbicara dengan mereka, dan mereka sangat antusias, Tuan. Mereka adalah perwira Kavaleri Elniri yang tidak kenal takut, dan bagi mereka ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka dan meraih kehormatan.”

”Menurutmu mereka mampu menghadapi William ini?”

”Mereka pemain pedang dan tombak yang hebat, Tuan.”

”Dan di mana mereka akan menantangnya?”

”Di sekitar dinding selatan sudah penuh mayat, tapi di dinding barat masih bersih. Jembatan lebar yang melintang di atas Sungai Halkanier, persis di depan gerbang barat, adalah tempat yang paling cocok untuk berduel.”

”Baik, kelihatannya menarik. Mari kita coba.” Akhirnya Tomassi setuju.

Sementara itu di sela-sela waktu istirahat yang sempit William bersama Hoque, Pierre dan Stevan berjalan menyusuri benteng kota, memeriksa kondisi para prajuritnya. Di dinding barat mereka bertemu dengan Nicolas. Mereka semua cukup gembira karena tak lebih dari seratus orang prajurit yang tewas akibat serangan tadi malam.

”Kita sukses besar semalam, Tuanku,” kata Hoque, sang raja Danqs pada William. ”Taktik Anda memisahkan pasukan mereka dengan api benar-benar jitu.”

”Berterimakasihlah pada para prajurit Anda yang telah menggali parit itu tanpa kenal lelah,” jawab William. ”Tapi jangan berpuas diri. Kita harus tetap waspada. Tomassi hanya kehilangan sepersepuluh dari pasukan raksasanya, dan kini ia telah mengetahui titik-titik pertahanan kita. Setelah dinding api padam, ia bisa menyerang dinding selatan dengan lebih leluasa.

”Betul,” Pierre sang ksatria bergumam. ”Kurasa selanjutnya ia akan menyerang tanpa henti siang dan malam, gelombang demi gelombang, sampai kita kelelahan. Tomassi akan memanfaatkan kelebihan jumlah pasukannya.”

William mengangguk. ”Ia tidak akan lagi mengkonsentrasikan serangannya dari arah selatan seperti tadi malam. Ia akan mulai menyeberangi jembatan dan Sungai Halkanier di sebelah barat, serta mencari jalan menembus pegunungan di sebelah timur. Kemarin itu cuma pemanasan. Hari ini kita akan merasakan pertempuran yang sesungguhnya. Tapi tidak perlu ragu. Kita sudah siap.”

Semua orang mengangguk setuju. William bisa merasakan ketegangan dan rasa takut mereka, tapi ia berharap dengan ketenangan yang ditunjukkannya mereka bisa percaya bahwa mereka bakal melewati hari ini dengan selamat.

Suara sangkakala terdengar dari arah selatan, diikuti suara terompet dan tambur bertalu-talu.

Perlahan tapi pasti lautan prajurit Elniri bergerak maju.

”Ini dia mereka datang,” kata Pierre.

William menoleh. ”Stevan, Nicolas, bersiaplah.”

”Ya, Guru.” Stevan mengangguk, kemudian berlari ke arah dinding selatan. Sementara Nicolas segera menyiapkan seluruh pasukan pemanahnya di dinding barat.

William memperhatikan putranya, dan tahu apa yang dirasakannya. Nicolas sepertinya sudah tak sabar ingin bertempur. Semalam ia pasti kecewa karena ternyata Elniri hanya menyerang dari arah selatan, sehingga tidak bisa terlibat dalam pertempuran. Apalagi setelah mendengar cerita dari Stevan mengenai kesuksesan mereka semalam, pasti benar-benar membuatnya iri. Willam bangga dengan keberaniannya. Tapi sebagai seorang ayah ia juga punya perasaan lain. Seringkali ia justru berharap Nicolas tidak pernah terlibat dalam pertempuran mematikan ini.

”Kita tetap di sini, Guru?” Pierre bertanya.

”Tunggu, Pierre.” William menghembuskan napas perlahan. ”Kita lihat dulu ke mana mereka akan bergerak.”

Para pemanah Lafette dan Danqs telah siap melontarkan anak panahnya, tapi ternyata pasukan Elniri berhenti pada jarak sekitar tiga ratus meter dari dinding selatan, dan juga di seberang Sungai Halkanier di barat. Seorang prajurit berkuda berpostur gagah keluar dari barisan. Ia memacu kudanya di depan barisan ribuan prajurit Elniri sambil mengacungkan tombaknya ke atas. Seluruh prajurit Elniri bersorak menyambutnya, sementara para prajurit Lafette dan Danqs menunggu dengan jantung berdebar-debar.

”Quazar Tomassikah itu?” tanya Hoque.

William menggeleng. ”Bukan. Kurasa cuma perwira biasa.”

Perwira Elniri itu berkuda ke arah barat. Di belakangnya muncul pula dua orang berkuda lainnya. Bertiga mereka memacu kudanya bolak-balik di depan barisan pasukan Elniri di barat, lalu berhenti di ujung jembatan. Jaraknya dari dinding barat sekitar delapan puluh meter, sudah masuk dalam jangkauan para pemanah pimpinan Nicolas. Namun William belum memberi perintah untuk memanah.

Seorang dari ketiga prajurit berkuda itu membawa kudanya maju sepuluh langkah. Sambil mengacungkan tombaknya ke depan ia berseru dalam bahasa Halkani yang fasih, ”Aku Kherasai, perwira Kavaleri Elniri. Quazar Tomassi telah memberiku kehormatan untuk maju ke sini dan berduel sebelum pertempuran yang sesungguhnya dimulai. Apakah ada di antara kalian—yang menyebut diri sebagai pendekar dan pahlawan—yang berani untuk bertempur satu lawan satu denganku? Atau ternyata negeri-negeri utara hanya berisi para pengecut, yang cuma berharga untuk dibantai?”

Ucapan Kherasai terdengar jelas di sepanjang dinding kota. Para prajurit Lafette dan Danqs saling berpandangan, gelisah.

”Orang itu cukup pandai berkata-kata,” kata William tenang. ”Mari kita tunggu sampai sejauh mana niatnya. Mungkin dia hanya ingin memancing kita.”

”Ia mencoba menaikkan moral pasukannya setelah kekalahan kemarin,” kata Pierre. ”Sekaligus meruntuhkan moral pasukan kita.”

”Aku mengerti itu. Ini sudah biasa.” William mengangguk.

Pikirannya menerawang jauh ke masa lampau, saat ia masih bertempur bersama Jendral Thorne dari Haston. Tiba-tiba terbersit keinginan dalam hatinya untuk melayani tantangan tersebut. Ini kesempatan bagus untuk menghancurkan moral pasukan musuh, sekaligus menaikkan moral pasukannya sendiri. Tapi kemudian ia teringat, ia bukan lagi ksatria tak dikenal seperti dulu, yang bebas bertindak sesuka hati. Ia panglima perang sekarang; ribuan nyawa di kota ini bergantung padanya.

Tapi tanpa diduga Pierre lalu berkata, ”Guru, aku akan melawannya.”

William menoleh, menjawab tajam, ”Tidak, Pierre. Terlalu berbahaya.”

Pierre membalas tatapannya. ”Guru, aku bukan prajurit Lafette. Aku sekarang adalah ksatria dari Kuil Ksatria. Karenanya aku bebas untuk bertindak membela kehormatan sesuai dengan kode ksatria yang telah kujunjung tinggi selama ini. Aku rasa kau juga paham dan setuju mengenai hal ini.”

”Sebagai gurumu aku masih bisa melarangmu, Pierre,” kata William.

”Tapi kau tidak akan melakukannya,” jawab Pierre. ”Karena dalam hatimu kau setuju bahwa ini sesuatu yang benar untuk dilakukan. Jika kau berada dalam posisiku, kau pun akan melakukan hal yang sama dengan senang hati. Aku tahu itu, Guru.”

William menghela napas, terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. ”Kau yang paling memahamiku, Pierre.”

”Aku memahamimu, Guru, karena sama seperti aku, kau adalah seorang ksatria, sampai kapan pun.” Pierre tersenyum pada gurunya, lalu menoleh dan berkata pada Hoque, ”Yang Mulia, aku pergi dulu.”

”Hati-hati, Ksatria,” balas Hoque.

”Tentu saja.” Pierre berbalik dan berlari menuruni benteng.

Seorang prajurit Danqs berlari membawakan seekor kuda kepadanya. Dengan sekali lompatan Pierre sudah duduk di atas kuda tersebut. Ia meraih sebuah tombak dan perisai dari seorang prajurit Lafette. Saat sedang mengenakan helmnya, ia melihat Putri Zaranina berlari ke arahnya. Gadis itu berdiri di samping kuda yang ditungganginya, menatap dengan matanya yang jernih.

Zaranina berkata lirih, ”Pierre, haruskah?”

”Ya, Zana.” Pierre mengeraskan ekspresi wajahnya, berusaha tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. ”Jangan khawatir. Aku akan segera kembali.”

Pierre memutar kudanya. Ia mendongak ke arah Nicolas yang berdiri di atas salah satu menara gerbang barat. ”Buka pintunya, Nicolas!”

Saat itu Nicolas rupanya tengah memandangi Zaranina. Ia segera tersadar dari lamunannya begitu mendengar seruan Pierre. Cepat-cepat ia menyahut, ”Y—ya, Tuan!” Ia lalu berseru pada prajuritnya yang berjaga di pintu gerbang, ”Buka pintu!”

Puluhan prajurit bersama-sama mendorong palang melintang yang besar dan berat. Para prajurit yang lain mendorong sepasang pintu raksasanya terbuka ke luar ke kiri dan ke kanan. Begitu mendapatkan celah Pierre memacu kudanya keluar gerbang, kemudian berhenti di ujung jembatan.

Ia mengacungkan tombak pada musuhnya yang berjarak lima puluh meter darinya, di seberang sungai. ”Aku Pierre, Ksatria Ketiga Belas dari Kuil Ksatria, yang akan menjadi lawanmu! Lebih baik kau segera mengucapkan selamat tinggal kepada dua rekan di belakangmu itu!”

”Kurang ajar! Majulah!” Kherasai menggereng dan memacu kudanya dengan tombak teracung ke depan. Kudanya berderap di atas jembatan.

”Heaaa!” Pierre memacu kudanya dengan tombak teracung pula.

Seluruh prajurit yang ada di lembah kini terdiam dengan napas tertahan, melihat kedua orang berkuda itu saling mendekat dengan kecepatan tinggi.

Suara keras memekakkan telinga terdengar ketika Pierre dan Kherasai saling menghunjamkan tombaknya ke perisai lawan. Kherasai terlempar dari kudanya, sementara walaupun goyah Pierre masih mampu bertahan. Kherasai terguling-guling di jembatan, terkapar, sementara Pierre menunggu di atas kuda.

Tapi Kherasai tampaknya seorang prajurit yang cukup tangguh. Setelah beberapa saat ia bisa memulihkan kesadarannya, lalu meraih kembali perisainya dan mencabut pedang dari pinggangnya. Melihat bahwa lawannya telah siap, Pierre menjatuhkan perisainya dan menancapkan tombaknya di jembatan. Kedua tangannya meraih pedang kembar dari pinggangnya. Sambil berseru ia memacu kudanya ke arah Kherasai. Kherasai bersiap dengan pedangnya, tapi kejadian berikutnya berlangsung begitu cepat. Detik selanjutnya kepala sang perwira Elniri itu sudah terlepas dari tubuhnya, melayang berputar-putar di udara.

Sorak kegembiraan dan desah napas lega dari arah kota terdengar begitu Pierre mengangkat kedua pedangnya ke atas. Ksatria itu lalu menunjuk dua orang perwira Elniri lainnya yang berada di ujung jembatan.

”Siapa dari kalian yang akan menyusul dia?” seru Pierre.

Perwira kedua maju. ”Aku Chilasti, akan membalas kematian rekanku!”

”Aku menghormati keberanian rekanmu!” jawab Pierre. ”Majulah, kawan!”

Chilasti menggenggam erat perisainya dan mengacungkan tombak. Sambil berteriak ia memacu kudanya ke arah Pierre yang masih berada di tengah jembatan. Pierre hanya sempat memacu kudanya sebentar, sehingga ia kalah momentum. Dengan susah payah ia menangkis serangan tombak Chilasti ke kiri dengan dua pedang kembarnya. Tapi Chilasti cukup kuat sehingga tanpa ampun tombaknya itu menyerempet bahu kiri Pierre, memuncratkan darah segar ke udara.

Keduanya membawa kuda mereka menjauh, kemudian berputar. Setelah mengambil napas keduanya saling memacu lagi. Saat bertubrukan untuk yang kedua kali, Pierre mampu bergerak lebih cepat. Begitu ia menangkis tombak Chilasti dengan pedang kirinya, pedang kanannya menyambar secepat kilat ke arah leher Chilasti. Perwira Elniri itu pun menyusul Kherasai. Kepalanya berputar-putar di udara.

Sorak-sorai prajurit Lafette dan Danqs kembali membahana menyambut kemenangan Pierre. Namun mereka mulai khawatir begitu melihat darah yang mengalir deras dari bahu kiri Pierre. Apalagi setelah melihat lawannya yang ketiga, yang tampak lebih gagah dan tangguh daripada kedua pendahulunya.

Pierre turun sejenak mengambil perisainya yang tergeletak di tengah jembatan, lalu naik lagi dan membawa kudanya ke ujung jembatan di sebelah timur, menunggu di sana. Lawan terakhirnya di ujung jembatan sebelah barat belum bergerak. Gigi Pierre bergemeretak menahan rasa sakit yang menjalar dari bahu ke seluruh tubuhnya. Ia merasa tangan kirinya melemah akibat luka tersebut. Hal itu terasa kala ia berusaha mengangkat perisainya. Benar-benar berat.

Sesaat ia menyesal kenapa tadi nekat melawan tombak Chilasti dengan pedangnya. Tapi apa yang sudah terjadi, terjadilah. Ia tak mau menunjukkan rasa sakitnya, sebaliknya matanya malah menatap garang ke arah lawannya.

Ia mengacungkan pedang di tangan kanannya ke arah musuhnya yang terakhir. ”Kau sudah siap, kawan?”

Lawannya tersenyum tipis. ”Aku Parstavi, siap kapan pun kau siap!”

Ia tampak sangat tenang, sama sekali tak terpengaruh oleh kematian mengenaskan dua rekannya. Pierre menjadi lebih waspada sekarang. Dari sosoknya yang gagah, dan juga ucapannya yang dingin, kelihatannya Parstavi ini memang lebih kuat. Ia tidak membawa tombak seperti kedua rekannya, melainkan sebuah pedang besar di tangan kanan untuk mendampingi perisai di tangan kiri. Benar-benar berbahaya, dan Pierre harus menghadapinya dengan kondisi tubuh yang lebih lemah dibanding sebelumnya.

Rasa takut menyeruak di dalam hati Pierre. Ia mulai ragu apakah akan mampu lolos dari pertempurannya yang terakhir. Tapi ia tahu ia tidak boleh kalah. Jika sampai kalah, pasukannya akan rontok semangatnya dan ia tak akan bisa lagi membantu mereka bertempur di benteng. Ia tak bisa membayangkan penderitaan yang mungkin dihadapi oleh rakyat jika benteng itu runtuh. Dan juga, penderitaan yang pasti dirasakan oleh orang tercinta yang akan ditinggalkannya.

Tidak, ia tidak boleh kalah. Dan ia juga tidak boleh mundur. Nama besar keksatriaan dipertaruhkan. Nama besar gurunya juga dipertaruhkan di sini!

Pierre mengangkat lagi semangatnya, menghilangkan semua pikiran buruk yang menghalanginya. Ia memfokuskan seluruh perhatian pada musuhnya. ”Aku siap! Majulah!”

Bersamaan Pierre dan Parstavi memacu kuda masing-masing di atas jembatan. Tepat di tengah jembatan keduanya pun bertubrukan, menghasilkan bunyi dahsyat yang menggetarkan. Pedang mereka beradu beberapa kali. Kuda mereka berputar-putar di atas jembatan, sementara keduanya saling menghantam dan mencari celah untuk memberi sabetan yang mematikan.

Setelah bertempur beberapa lama Parstavi lalu berseru dan menghantamkan pedang besarnya sekuat tenaga ke arah perisai Pierre. Pierre merasakan sakit yang luar biasa di bahu kirinya, dan tubuhnya pun oleng hingga ia terjatuh dari kudanya. Begitu melihat Pierre terjatuh, Parstavi menghajar lagi dengan pedangnya. Beruntung sambil terduduk Pierre masih mampu menangkis dengan pedang di tangan kanannya. Merasa bahwa perisainya semakin berat Pierre melepaskannya, lalu mencabut pedangnya yang satu lagi dari pinggangnya. Ia merasa bisa bergerak lebih lincah dengan pedang kembarnya.

Parstavi menyeringai melihat Pierre yang berdiri limbung. Ia pun memacu kudanya dan dengan ganas mengayunkan lagi pedang besarnya untuk menghabisi Pierre. Secepat kilat Pierre menunduk lalu menyabetkan kedua pedangnya ke atas dan ke samping dengan indahnya. Parstavi menjerit kesakitan sedemikian kerasnya hingga terdengar ke seluruh penjuru lembah, dan terjatuh dari kudanya.

Perwira Elniri itu berusaha bangkit dalam kondisi setengah sadar, dan kemudian menggigil begitu melihat tangan kanannya yang telah terpotong dan pinggangnya kanannya terkuak lebar. Rasa sakit bercampur takut tampak di wajahnya saat Pierre berjalan mendekat. Kedua pedang kembar teracung tinggi bersilang di atas kepalanya, berkilauan terkena cahaya matahari pagi. Parstavi tak sempat menjerit. Detik berikutnya kedua pedang tersebut telah turun bersamaan untuk memotong lehernya.

Tomassi yang melihat dari kejauhan dari atas kudanya mendengus kesal. Ia menggeleng kecil, namun sorot wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Ia kesal dan marah luar biasa, melihat bagaimana sang ksatria telah membantai tiga prajurit terbaiknya, tapi ia tahu ia harus menjaga ketenangannya di depan puluhan ribu prajuritnya.

Ia melirik ke arah Maravai yang duduk di sebelah kanannya. Jendralnya itu kini tak berani lagi berkata-kata. Tapi Tomassi tidak menyalahkannya. Toh ia sendirilah yang membuat keputusan untuk menantang duel hari ini. Ia memperhatikan para prajuritnya yang terdiam penuh kekecewaan. Tomassi tahu bahwa ia harus segera membalikkan keadaan. Ia tak boleh membiarkan moral para prajuritnya semakin hancur. Mereka harus menang hari ini!

Pierre dielu-elukan oleh seluruh prajurit Lafette dan Danqs begitu memasuki gerbang kota Danqurk. Mereka memukul-mukulkan pedang ke perisai dan menghentak-hentakkan tombak ke lantai hingga menimbulkan suara ribut yang bergema ke seluruh penjuru kota. Sambil berusaha menahan sakit di bahunya Pierre turun dari kudanya. Ia disambut oleh William dan Hoque yang sudah menunggu di bawah.

”Selamat, Tuan,” kata Hoque. ”Anda benar-benar ksatria yang hebat.”
”Kau membuatku bangga, Pierre.” William menepuk bahunya tersenyum lebar.

Pierre menunduk hormat. ”Terima kasih, Guru, tapi kurasa itu baru secuil dibandingkan apa yang telah kaulakukan di masa lampau.”

William mengangkat bahu. ”Masa lampau adalah masa lampau, itu tak penting lagi sekarang. Setuju? Nah, sekarang, kita harus bersiap lagi. Kau sudah siap?”

Pierre mengangguk mantap. ”Aku siap, Guru.”

Tapi suara seorang gadis terdengar dari belakang punggungnya. ”Pierre.”

Pierre menengok. Dilihatnya Zaranina juga sudah berada di sana.

”Bagaimana kalau lukamu kurawat dulu?” kata gadis itu.

”Ini cuma luka kecil, Zana,” tukas Pierre. ”Tidak usah berlebihan.”

”Itu bukan luka kecil ...”

William tersenyum. ”Tuan Putri benar juga, Pierre. Biar dia menjahit lukamu dulu. Setelah itu kau bisa bergabung lagi dengan kami.”

”Ehm, baiklah.” Akhirnya Pierre setuju, dan membiarkan dirinya dibawa oleh Zaranina.

Saat William hendak naik kembali ke atas benteng, terdengarlah suara sangkakala. Bersamaan dengan itu datang pula seorang prajurit Lafette yang berlari dari arah dinding selatan, kelihatannya membawa pesan dari Stevan.

Prajurit itu melapor, ”Tuanku, Elniri sudah mulai menyerang di dinding selatan!”

”Baiklah, aku akan segera kesana.” William mengangguk lalu menoleh ke arah Nicolas yang masih bersiaga di atas gerbang barat. ”Nicolas! Bersiaplah. Mungkin mereka juga akan segera menyerang kemari. Jika mereka telah mendekat, segera kabari aku. Aku akan datang membantumu.”

”Ya, Ayah!”

Nicolas segera menyiapkan pasukannya. Sambil memperhatikan dengan seksama gerak-gerik pasukan Elniri di kejauhan, ia berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran yang telah mengganggunya sejak tadi. Mengenai ayahnya, dan bagaimana kebanggaannya terhadap Pierre. Juga mengenai Zaranina, dan lalu sosok lelaki yang telah membuat gadis yang dicintainya itu jatuh hati. Serta mengenai hal-hal yang telah terbukti bisa membuat gadis tersebut jatuh hati.

Nicolas sadar, ia memang belum melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan, dibandingkan dengan lelaki hebat itu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer heinz
heinz at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 7 weeks ago)

Hm, seri the last battle ini, bagian perdananya berjudul Last Battle apa ya?

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (10 years 49 weeks ago)

liat kolom profil gue aja yang di sebelah kanan. kilik di 'The Last Battle (extended version)'.

80

Bagus,gimana sih caranya buat cerita agar emosinya terasa

Writer ubr
ubr at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 33 weeks ago)
90

Mau komen kayak apa ya? soalnya perf- bagus! bagus! :D . Kalau disuruh mencari 'celah' sih saya rasa cuma hal kecil saja, seperti di:
---
”Sebagai gurumu aku masih bisa melarangmu, Pierre,” kata William.

”Tapi kau tidak akan melakukannya,” jawab Pierre. ”Karena dalam hatimu kau setuju bahwa ini sesuatu yang benar untuk dilakukan. Jika kau berada dalam posisiku, kau pun akan melakukan hal yang sama dengan senang hati. Aku tahu itu, Guru.”
---
'kata William' dan 'jawab Pierre' aku rasa bisa dihilangkan. Toh yang baca tahu siapa yang mengucapkan kalimat itu, siapa yang guru siapa yang murid. Pernah dapat kritik tentang hal yang redundan soalnya :D

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 33 weeks ago)

ah betul, ubr, itu bisa dihapus.
begitu juga beberapa kata lain di tempat lain juga bisa dihapus, supaya ceritanya lebih ramping.
thanks atas koreksinya, ubr. :-)

Writer Alfare
Alfare at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 35 weeks ago)
100

Bagus sekali. Aku suka bagian awal yang menggambarkan situasi dari pihak musush. Apa Bung Villam sering mendapat ide dari Sam Kok belakangan?

Terlepas dari itu, seri ini masih sangat stabil dan bagus. Aku paling suka bagian saat Nicolas mendapat pelajaran dari apa yang Pierre lakukan. Sangat wajar, tapi enggak selalu terpikir... Sangat meng-establish karakter!

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 35 weeks ago)

heheheh...
udah lama banget aku gak baca lagi sam kok.
thanks udah baca dan kasih komen, bro! :-)

100

uh Villam, gaya bahasamu makin bagus aja. perfect, bro. Asalkan sudah masuk ke adegan perang, kau tiada tandingan :D

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 37 weeks ago)

hayyah... ngeri gue kalo denger kata 'perfect'...
thanks udah baca dan komen, bro.

nyahaha ~ kalo gt tak ganti jd kata 'pervert' aja deh biar ga alergi XD

90

Villam, lama sudah diriku tak membaca ceritamu. What can I say? For an epic and fantasy story, you are the master. Eh, BTW, saya mau bikin cerita epic. Bersediakah jadi pembimbing saya? Hohohohoho...

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 37 weeks ago)

thank you, yosi.
boleh kok, kalo memang saran2ku dibutuhkan.
udah bikin sejauh mana?

100

Aku kagum pada semua karya-karyamu, Kak.. -_-

kayaknya kelak aku lebih baik disuruh beli 7 biji novelmu aja, deh.. (bahasa Inggris pun dijabanilah..) biar bisa dibaca di mana-mana :D

seperti tips-tips menulismu yang sudah kuprint setebal 80an halaman.. hahaha.. itupun font2nya udah kukecil2in banget :D

Writer Villam
Villam at The Last Battle - Dueris qin Kavalerat (11 years 37 weeks ago)

novelku 7 biji? heheheh... amin deh amiiin...
thank you, michel.
dan aku senang jika melihat tulisanku bermanfaat buat dirimu dan juga orang lain. :-)