Pangeran Berkuda Hitam

Jika sang putri sudah menemukan pangeran berkuda putihnya, lalu masih akan adakah ruang untuk cerita selanjutnya?

Atau semua berakhir begitu saja ketika kalimat ‘dan mereka pun hidup berbahagia selamanya’ telah dilengkapi tanda titik?

Sayangnya, Adi sama sekali tidak tahu akan seperti apa cerita ini berakhir. Meski—lagi-lagi—sayangnya, sang putri yang dipujanya sekian lama telah menemukan pangeran impiannya sendiri. Lebih disayangkan, ksatria tampan itu bukan dirinya.

Tidak boleh ada dua pangeran dalam satu cerita. Ah, betapa tidak adilnya.

Lalu apakah dirinya ini? Ketika peran yang tersisa hanyalah si kurcaci, sahabat sang putri yang setia merawatnya, senantiasa mendampinginya dalam senang maupun susah, namun justru hanya menerima ucapan terimakasih sekedarnya dan lambaian selamat tinggal saat si pangeran berkuda putih tiba, dan the villains yang kejam, mencelakakan, serta tidak pernah berhenti berusaha memisahkan sang putri dari takdir bahagianya, plus dikutuki para pembaca cerita dongeng tersebut dari awal sampai akhir, harus menjadi apakah dirinya?

Andaikan saja ia datang lebih dulu menjemput sang putri, mungkin ia tidak perlu bingung memilih tokoh apa yang tepat baginya.

Sialnya, ia terlambat. Dan sejak saat itu, ceritanya jadi lain.

Terjebak antara kurcaci tidak rupawan dan nenek (atau lebih pantas kakek?) sihir jahat jelas bukan opsi baginya.

Adi tahu dirinya mulai tertekan.

Maka ketika hari ini ia berada di balik kemudi, meluncur gila-gilaan di jalan yang ramai, ia menetapkan peran yang akan dijalananinya; pangeran berkuda hitam.

Bukan hanya karena kebetulan mobil yang dikendarai dan setelan yang ia kenakan—dresscode pesta ulang tahun yang barusan dihadirinya—berwarna hitam, tetapi karena ia menganggap dirinya pangeran rahasia. Ksatria yang tak terungkap. Sosok yang tidak pernah terlihat karena selalu berdiri di bawah bayangan, tetapi selalu siap mencabut pedangnya jika sang putri dalam bahaya.

Sang pecinta rahasia yang setia.

Betapa Adi merasa miris terhadap dirinya sendiri.

Dan saat ini, tiba-tiba ia harus menyelamatkan sang putri. Bahkan bukan cuma sang putri. Tetapi berikut pangeran berkuda putihnya! Bahkan nenek moyang sang putri bisa bangkit dari kubur jika tahu ceritanya jadi seperti ini. Diam-diam Adi jadi ingin tertawa terbahak-bahak sendiri.

Dan setelah akhirnya sang pangeran berkuda hitam ini menerjang lalu lintas yang padat setengah mati dan tiba di tempat tujuannya, kata-kata pertama sang putri justru adalah, “Kok elo?”

Adi menarik nafas dalam-dalam. Memandangi Asta, sang putri yang terbalut sundress dan sepasang slippers lucunya, menatap terkejut dirinya dari kursi yang didudukinya di lantai dua The Rijstafel. Beginilah jadinya jika mengubah jalan cerita yang sudah ditetapkan dari zaman nenek moyang. Pangeran kedua yang frustasi dan sang putri yang berekspresi tolol.

“Gue disuruh Niar. Lo lupa ya dia lagi ke Bandung?? Mana bisa lah dia ke sini? Gila apa lo?!” Adi menjawab. Nadanya naik di setiap kalimat.

“Oh iya! Astagaa, gue bego banget!” Asta menepuk dahinya keras-keras. “Tapi kok dia bilang ‘iya’ sih tadi?”

Adi tidak langsung menjawab. Alih-alih menyahuti kata-kata Asta, ia mendudukkan dirinya di kursi terdekat. Tepat di hadapan gadis itu dan Josef, sang pangeran berkuda putih. Mengamati suasana The Rijstafel, restoran kecil tak jauh dari jantung kota Bogor itu, yang nampak crowded dan penuh di malam minggu.

“Dia nggak mau lo panik. Jadinya bilang begitu. Lagian, gue atau dia yang dateng sama aja kan?” ujar Adi tenang. Berusaha keras agar tidak memandang Josef dengan bengis atau melakukan semacam percobaan pembunuhan brutal padanya saat itu juga.

“Habisnya darurat banget, sih. Dompetnya Josef ketinggalan. Udah gitu gue juga nggak bawa uang cash. Ya, akhirnya gue sms Niar. Gue bener-bener lupa dia lagi nggak di Bogor. Haduhhhh, begonya gue!”

Adi mendecakkan lidah. Menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin.

“Sori banget, ya, Di. Lo abis dari mana?”

“Dari mana lagi? Ultahnya Monic, lah.” Adi menunjuk suit serba hitam yang menempel di tubuhnya.

“Oh, iya…”

Sekilas Adi menatap Josef. Kalau saja bukan karena orang ini, Asta pasti juga berada di pesta itu sekarang.

Sejenak Adi mengingat percakapannya dengan Niar, sahabat Asta itu, lewat telepon genggamnya kira-kira setengah jam yang lalu. Saat ia sedang menikmati berbagai hidangan kecil dengan santai bersama beberapa kawan sembari menyaksikan pertujunkkan live band di pesta ulang tahun yang dihadirinya.

“Di…Asta stuck di The Rijstafel. Lo bisa ke sana nggak?”

“Kenapa, Yar?”

“Dompetnya Josef ketinggalan. Udah gitu si bodoh gak bawa uang. She asked me to come, tapi kayaknya dia sangat lupa kalo gue lagi di Bandung. Lo ada di mana sih??”

“Ultahnya Monic.”

“Aw, ya udah deh jangan, Di! Gue suruh sopir gue aja yang ada di rumah buat ke sono. Biar cepet lagian. Mereka nggak bisa pulang kalo nggak buru-buru bayar.”

“Jangan, jangan. Ya udah deh gue aja.”

“Nggak, jangan, Di. Lo di sana aja. Pestanya baru mulai, kan?”

“Nggak. Nggak usah. Repot sopir lo…”

“Nggak, kok, Di. Jangan lo. Kasian lo baru dateng udah disuruh…”

“Gue aja…”

“Jangan, Di…”

“No, no. Shut up! I’ll get her!”

“Okay, okay. Thanks, banget ya, Di… Kalo gitu gue bilang iya aja deh ke dia supaya Asta nggak panik.”

“Yeah, whatever.”

“Di?”

“Hm?”

“Drive fast…”

Maka setelah menekan tombol end call, sang pangeran berkuda hitam pun pergi. Meninggalkan begitu saja makanan dan kawan-kawannya, mengemudi dengan kecepatan di ambang batas kewajaran hanya untuk menyelamatkan sang putri.

Meski setelah ia datang, yang ditemukannya adalah pemandangan kedua tangan yang tertaut erat—milik sang putri dan kekasihnya—di atas meja.

Mestinya ia turuti saja kata-kata Niar yang melarangnya datang dan mengambil peran sebagai kurcaci yang lebih senang berpesta. Dengan begitu ia tak perlu menjadi pangeran berkuda hitam yang selalu sakit hati.

Masalahnya, ia terlalu cinta sang putri.

Dan bahkan bila sang putri memintanya untuk memutar arah rotasi bumi sekalipun—andai ia sanggup—akan ia lakukan. Meski pada akhirnya, tetap bukan namanyalah yang tercetak di halaman terakhir cerita dongeng itu.

“Duh, thanks banget, ya, Di…” Asta berkata dengan sungguh-sungguh sesaat setelah akhirnya Adi meletakkan beberapa lembar uang berwarna biru di atas nampan kecil yang dibawa pegawai restoran ke meja itu.

“Yeah, makasih banget ya, Di,” Josef ikut menimpali. Sedari tadi ia tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya.

Tidak ada sahutan dari Adi. Hanya anggukan kecil dengan gayanya yang sudah dihafal Asta. Tanda bahwa ia menerima ucapan terima kasih mereka.

Adi hanya diam ketika ia melangkah di samping sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan itu menuju lapangan parkir. Terus terdiam hingga mereka tiba di mobil masing-masing yang secara kebetulan terparkir bersebelahan. Adi bahkan tidak menyadari hal itu ketika pertama kali tiba di tempat ini. Sudah jelas, ia memang terlalu banyak memikirkan sang putri sehingga nyaris tidak memperhatikan hal-hal lain.

“Sekali lagi, makasih, ya, Di,” ucap Asta sebelum ia menyusul kekasihnya masuk ke dalam Honda Civic putih mereka.

“Udahlah. Kayak orang lain aja,” sahut Adi yang masih berdiri bersandar pada pintu mobilnya. Berdahapan dengan Asta juga masih membiarkan pintu mobil di sampingnya setengah terbuka.

“Terus sekarang, lo mau balik ke acaranya Monic?”

“Mungkin enggak. Toh kayaknya setengah acaranya udah kelewat. Males balik lagi.”

“Sori, ya, Di…”

It’s okay. Daripada lo yang disuruh ngepel di sini kan?? Hehe.”

Asta tertawa kecil. “Yaah, maksudnya kan kalo tau Niar nggak bisa dateng gue bisa telpon adik gue. Nggak usah susah-susah nyuruh lo ninggalin acara itu…”

“Nggak apa-apa, kok. Lo lebih penting anyway,” Adi berkata dengan suara yang dipelankan secara drastis di kalimat terakhirnya.

So, lo mau pulang?” tanya Asta. Sepertinya tidak mendengar kata-kata terakhir Adi dengan baik. Perlahan ia membuka pintu mobilnya lebih lebar. Bersiap masuk.

“Ya.”

Dan Adi tahu bahwa ia telah berbohong.

Karena nyatanya, setelah dua mobil yang saling berdampingan itu berpisah arah, Adi membelokkan kendaraannya, memutarnya kembali ke tempat yang sama. Restoran yang sama yang baru saja ia tinggalkan. Lalu menemukan dirinya duduk di meja yang sama, membaca menu yang sama, dan akhirnya memilih sepotong pizza pepperoni dan sebotol bir untuk menemaninya melewati malam.

Namun kali ini sendirian.

Mungkin memang benar, dalam satu cerita tidak boleh ada dua pangeran untuk sang putri. Dan mungkin kini sang putri telah menemukan pangerannya.

Barangkali Adi sebaiknya menyerah dan kembali menjadi kurcaci.

Tidak akan ada namanya di halaman terakhir cerita…si pangeran berkuda hitam.

Adi tersenyum sendirian. Perlahan menuang sedikit lagi bir ke dalam gelas dan mengangkatnya seolah hendak bersulang.

Selamat tinggal, pangeran berkuda hitam

----

I think I've already lost you
I think you're already gone
I think I'm finally scared now
You think I'm weak - but I think you're wrong
I think you're already leaving
Feels like your hand is on the door
I thought this place was an empire
But now I'm relaxed - I can't be sure

Matchbox Twenty - If You're Gone

-end-

Untuk cerita-cerita sebelumnya tentang Adi dan Asta :
1. Est Magnifique
2. Jazz. Hujan. Dia.
3. Aku Bersedia Mencintai Hujan
4. Bodoh

Read previous post:  
116
points
(1146 words) posted by me_everywhere 12 years 40 weeks ago
82.8571
Tags: Cerita
Read next post:  
Writer Shin Fitrian
Shin Fitrian at Pangeran Berkuda Hitam (6 years 19 weeks ago)
50

gambarannya jelas bgt yah.. cukup bt mendeskripsikan "pangeran berkuda hitam" yg aq maksud.. :)

Writer bana_39
bana_39 at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 33 weeks ago)
90

:D aku suka ceritanya...
Btw kau meneruskan di mana?setelah kau lulus

Writer Maximus
Maximus at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 34 weeks ago)

Bagus bgt, ironi gitu , seperti ngajarin apa yang disebut cinta dan hidup. Btw liat pnyku juga disini

Writer kavellania
kavellania at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 37 weeks ago)
80

ehmm apa ya.. mkin gayamu dalam cerita ini memang seperti itu tapi saya kok gak masuk ke otak yaaa dari tadi, membingungkan. tapi tak apa cerita ini menyuruhku untuk berpikir keras agar tahu jalan cerita sebenarnya (*Otak loe kalee yg lemot,Vell! hihihi)

Writer justforyou
justforyou at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 38 weeks ago)
50

uhmm....

no comment ajjah degh!!!!!!!

Writer chia
chia at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 38 weeks ago)
90

:)
suka,,

Writer feppy
feppy at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 38 weeks ago)
90

aku suka yang : aku bersedia mencintai hujan, juga..
tapi, bacanya udah lama...

Writer angel16
angel16 at Pangeran Berkuda Hitam (12 years 38 weeks ago)
90

kereeeen!! duh kasian bgt si adi. ama aku aja deh. he3. bagus lho, penggambarannya udah oke banget. tapi kalo mau buat sekuel yg barunya, mereka dijadiin dong...