A Story About Journalist (1) - Opening

Part 1 - She Moves In Her Own Way

Burung-burung kecil hinggap di dahan pohon dekat jendela rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar maupun kecil. Hanya rumah orang biasa bertipe 36. Jendela kamarnya menghadap ke timur. Sehingga dia dapat selalu menyaksikan matahari yang terbit memecah kesunyian malam menjelang pagi. Kamar ini kamar seorang perempuan yang cukup ‘dikagumi’ oleh burung-burung pagi, sehingga ada saja yang melemparkan barang ke dalamnya, entah itu gulungan koran, gundukan sampah, catatan hutang, surat kaleng, atau bola sepak yang sudah kotor.

Inilah kamar Dita Prasanti. Seorang perempuan ‘aneh’ yang baru saja lulus D3 Politeknik Bandung. Perempuan aneh itu tidak bodoh hanya salah langkah. Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan sesuai hobinya, yaitu menjadi wartawan lapang majalah ISSUE, sebuah majalah terkenal di Bandung yang selalu mengusut tentang kasus-kasus menegangkan yang sebenarnya tidak boleh diusut terlalu jauh. Sekali lagi, dia salah langkah. HRD ISSUE tidak akan menerima pelamar yang tidak berlatar belakang jurnalistik.

Hari ini menjadi hari yang cukup menegangkan bagi Dita. Hari ini, sekitar pukul 10 pagi, dia akan bersiap untuk melamar pekerjaan sebagai wartawan lapang pada majalah ISSUE. Dia akan pergi ke redaksi bersama sahabatnya yang bernama Batara Cakra. Mereka hanya berbeda satu tahun. Dita 21 tahun dan Batara 22 tahun. Batara sudah bekerja di majalah ISSUE sejak satu tahun lalu. Dia selalu memberi info pada Dita tentang lowongan pekerjaan yang ada di majalah ISSUE dan lowongan kali ini cukup menarik hati Dita.

***

Insomnia, coba aku…
Pecahkan segala misterimu…
Kunanti dan kucari, sesepi mimpi…

Sementara itu, di sebuah kamar yang cukup luas, hampir seukuran ruang tamu di rumah Dita, sayup-sayup terdengar sebuah lagu dengan melodi yang suram. Lagu yang dilantunkan oleh band independent ‘Efek Rumah Kaca’ ini terdengar bergema di seluruh kamar. Bagaimana tidak? Volume speaker dengan dua subwoofer ini disetel pada volume maksimum. Lampu gantung yang menempel pada langit-langit pun ikut bergetar. Sedangkan, makhluk dengan tinggi 182 cm dan berat 72 kg itu terus-terusan menyobek, menulis, lalu membuang kembali kertas yang sudah dia tulisi ke dalam tong sampah. Seperti orang yang sedang menyunting surat cinta, tanpa henti dia mengulangi pekerjaan itu. Entah apa yang dia lakukan. Tapi, sepertinya dia sedang kebingungan untuk mencari judul dan entry yang tepat untuk rubrik baru yang akan dia ajukan. Makhluk yang bingung itu bernama Satria Wiwaha. Editor senior majalah ISSUE. Usianya baru 24 tahun untuk menjadi orang sukses. Dia orang yang cukup ambisius dan emosional. Terlihat dari urat-urat hijau di tangannya. Orang ini juga bisa disebut makhluk, karena dia merupakan makhluk laki-laki terkeren dan ter-segalanya di redaksi ISSUE (hanya bagi beberapa orang saja sih).

Sementara itu, di tempat yang lainnya, di suatu sudut perumahan yang cukup asri, yang terletak di kompleks IPTN Cihanjuang, ada seorang laki-laki yang sedang mencuci mobil jip hijau. Busa-busa mengalir di sekitar mobilnya. Laki-laki itu mengelap jip hijau dengan sangat senang. Berkali-kali dia mengelap jip itu sambil berdendang. Laki-laki ini memang sosok yang ramah dan tidak ada sedikitpun dendam terlihat dari matanya. Setiap ada yang lewat, selalu dia sapa dengan ramah. Kadang-kadang, dia ikut bercengkerama dengan orang-orang yang lewat. Orang-orang biasa menyebutnya Mas Anjar. Nama lengkapnya Anjar Budiartha. Umurnya 23 tahun. Dia sarjana lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Sekarang, Anjar bekerja sebagai wartawan lapangan untuk majalah EQUATION. Majalah yang cukup terkenal di Bandung dan merupakan saingan dari majalah ISSUE. Majalah EQUATION ini adalah majalah yang menggabungkan antara berita politik dengan beberapa unsur sains.

***

Sekarang, jam berbentuk elmo yang terpasang di atas meja belajar Dita sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Terlihat juga Dita, yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk di depan jendela kamarnya. Saat mengeringkan rambutnya, terlihat dia sedang bernyanyi-nyanyi kecil sambil sesekali memperhatikan keluar jendela. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang yang bisa dibilang akan sangat membantunya pada hari ini. Beberapa saat kemudian, orang tersebut muncul. Ya, siapa lagi kalau bukan Batara.

“Nyun!!! Cepet keluar!! Hayu, kita berangkat sekarang!” teriak Batara dari luar rumah sembari memarkirkan motor shogun hitam kesayangannya.
“Kalem Nyet! Aku ganti baju dulu ya! Sebentar! Masuk aja dulu, si Mamah bikin makanan kesukaan kamu tuh! Masuk aja langsung ke dapur!” jawab Dita sambil melempar handuknya ke atas tempat tidur dan segera membuka lemari.

Beginilah kelakuan dua orang aneh yang sudah bersahabat sejak lama. Senang sekali mereka mengganggu ketentraman kompleks dengan teriakan mereka yang cempreng bin rombeng itu. Selain itu, kebiasaan lain yang sudah bisa ditebak adalah, ketika Dita menyuruh manusia hitam, kurus, jangkung, dan berdaki itu masuk ke dalam rumah, pasti manusia itu langsung menuju dapur dan membombardir Ibu Andri alias Mamah Dita dengan berjuta tatapan cengengesan yang sudah jelas seperti kucing kelaparan yang tinggal tulang. Sesudah itu, pasti ada perempuan yang tidak sejangkung manusia kelaparan itu, turun dari tangga dengan bersetelan celana jeans panjang, kaos t-shirt bergambar elmo (bukan emo), dan kemeja kotak-kotak yang dia alih fungsikan sebagai jaket, yang dari tampilannya saja sudah bisa diprediksi wanginya yang sewangi bunga Raflesia Arnoldi atau bahkan bunga bangkai.

“Halo Ibu. Masak apa hari ini?” tanya Batara sedikit cengengesan.
“Ah kamu. Makanan terus. Memang belum makan tadi?” tanya Ibu Andri membalikkan pertanyaan Batara.
“Udah sih, Bu. Tapi, Atar minta secuil aja deh browniesnya. Buat di kantor nanti Bu,” kata Batara sambil melirik brownies kukus yang masih hangat dan menggiurkan.

Lalu, si perempuan aneh bin ajaib alias Dita Anyun (panggilan dari Batara) pun turun dan ikut nimbrung. Dia lalu menyambar kopi hangat yang ada di cangkir putih milik seseorang yang berwajah sangar seperti Pak Raden dan selalu memakai celana pendek. Orang itu bernama Surya Andri, ayah Dita. Dan penampilan memang menipu, karena sifat orang itu tidak sesangar wajahnya.

“Halah, sejak kapan kamu dipanggil Atar, Nyet!” kata Dita sambil melemparkan satu jilid artikel pada Batara.
“Ya pengen aja. Kan keren,” kata Batara.
“Huh, dasar. Udah monyet ya monyet aja,” kata Dita lagi.
Karena pembicaraan sudah semakin menjurus pada penghinaan bertubi-tubi (berat euy bahasanya), akhirnya Ibu Andri menyuruh mereka untuk segera berangkat. Akhirnya, mereka pun keluar dari rumah dan segera berangkat menuju redaksi ISSUE.

***

Di perjalanan, mereka terus bergosip. Ya beginilah kalau dua orang yang bersahabat sedang bersama-sama, mereka terus saja mengobrol. Seakan-akan, jalan Raya Barat Cimahi yang mereka lalui ini milik mereka berdua. Mereka berbicara sambil berteriak-teriak, bahkan pengguna jalan lainnya pun memperhatikan mereka. Memang sudah kebiasaan mereka selalu berbicara keras dimanapun mereka berada, tapi kondisional juga sih. Kalau mereka sedang serius, tidak akan sampai berteriak-teriak seperti ini. Tapi, seringnya sih begini.

“Aduh, nyet! Kok aku jadi nervous gini yah?!” kata Dita membuka pembicaraan.
“Ah, maneh mah sagala dibawa stress. Biasa we lah, nyun! Dengan sedikit keahlian yang kamu punya di bidang jurnalistik, kamu pasti bakalan diterima,” kata Batara menjelaskan.
“Oh iya ya.”

Sekitar 30 menit lebih, mereka akhirnya sampai juga di redaksi ISSUE yang terletak di jalan Soekarno-Hatta no. 121, Bandung. Kira-kira, redaksi ISSUE tidak jauh dari redaksi Citizen Minds. Kantor redaksi ISSUE terletak di daerah strategis. Gedungnya cukup besar dengan tiga lantai. Area parkir yang cukup luas dengan pepohonan yang rimbun di sekitarnya. Ketika Dita melihatnya, Dita sangat takjub dan terkesima. Akhirnya, kalau diterima, dia akan bekerja juga di sini. Ya, meskipun belum tentu diterima untuk bekerja di sini, Dita sudah berandai-andai. Dia ingin bekerja di sini karena ingin mencari aktivitas baru yang menegangkan yaitu jurnalistik. Dia juga ingin belajar mandiri. Maksudnya mandiri, dia tidak ketergantungan pada orang tua. Dia ingin belajar menghargai waktu dan uang, agar tidak terus menyusahkan orang tuanya.

“Wah! Nyet, kamu kerja disini? Keren banget ya kantornya,” kata Dita takjub.
Batara pun menjawab dengan tenang sambil memakirkan motornya, “Memang. Dan nanti kamu juga kerja disini, Dit. Kalau beruntung.” Wah, kalau di dalam film-film, sekarang pasti sudah ada angin yang mengibarkan rambut panjang Dita kemana-mana. Sudah ada backsound yang membuat semangat dan sudah ada sedikit harapan untuk tokoh utama. Tapi, kali ini tidak. Dita kaget dan misuh-misuh.

“Anjrit! Tai burung! Gimana nih, nyet!” kata Dita misuh-misuh sambil menyumpahi burung yang membuang kotoran di bahu kanannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak akan lagi menyapa burung-burung kecil pada pagi hari.
“Wah, gimana dong! Udah, kamu ke toilet aja. Bersih-bersih. Nanti kamu langsung ke lantai 3, bagian penyuntingan artikel, cari ruangan di areal kerja aku. Di blok 6. Nanti kamu aku antar ke manager HRD-nya. Oke?”
Dita lalu menjawab dengan sedikit kecewa, “Iya deh. Ya udah, aku ke toilet dulu ya!”

Kemudian, Dita langsung berlari masuk ke kantor dan segera menuju toilet. Sedangkan, Batara masih membereskan helm INK hitam dan INK orange miliknya lalu mengunci motor shogun hitamnya. Batara langsung memasuki kantor dan menuju ke lantai 3, bagian penyuntingan. Di sini, Batara bekerja sebagai jurnalis sekaligus penyortir artikel. Dia akan menyortir artikel yang dibutuhkan oleh tema pada dua minggu tersebut dan artikel menarik yang kemungkinan akan dibutuhkan pada suatu saat nanti. Beberapa artikel yang menarik pun, kadang dia berikan pada si Anyun alias Dita.

Sementara itu, Dita sedang berusaha membersihkan kemejanya dari kotoran burung dan berusaha menghilangkan baunya. Dita langsung mengambil parfum beraroma aneh, dan menyemprotkannya. Entah itu parfum Axe ayahnya atau cuka dengan kadar 25% yang dia semprotkan. Yang jelas, dia tidak peduli. Dia hanya terus berusaha menghilangkan bau kotoran burung yang sebenarnya lebih enak daripada parfum itu. Dan tanpa sadar dan dengan bodohnya, Dita menganggap bahwa bau parfum itu lebih baik. Kemudian, datanglah malaikat penyelamat yang keluar dari bilik toilet.

“Hai. Euh, kamu nyium bau aneh ngga?” tanya malaikat itu sambil berkaca ke cermin di depannya dan membuka keran air.
“Ehm… Euh, anu, tadi aku kena kotoran burung. Terus aku semprot pake ini,” kata Dita sambil memperlihatkan parfum itu pada wanita di sebelahnya.
“Ya ampun! Kamu ini lucu deh. Ini kan parfum cowok, aneh lagi baunya. Sini aku bantu bersihin,” kata wanita itu sambil membasuh muka dan mematikan keran air.

Kemudian, wanita itu menggosokan sedikit air pada kemeja Dita. Tanpa takut tangannya kotor, atau kuku-kuku indahnya rusak, wanita itu membersihkan kemeja Dita. Seketika, nodanya hilang dan tidak tercium bau cuka, eh parfum Pak Andri, dari kemeja itu. Lalu wanita itu mengembalikan kemeja Dita. Apakah perlu kalau kita ketahui tentang wanita ini lebih dalam? Tentu. Dia adalah Sheilla Alya Miranti. Dia lulusan Fikom Unpad. Ya, dulu dia adalah junior Anjar. Tapi, sekarang mereka bekerja di dua majalah yang berbeda dan saling bersaing. Umur Sheilla baru 22 tahun. Dia tinggal di Komplek Perumahan Rinjani, Jambudipa, Cimahi. Dia tidak pernah mencoba hidup yang ekstrim. Dia hanya mengikuti garis Tuhan yang sudah diberikan padanya. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk mencari aktivitas yang aneh-aneh. Ya, seperti Dita itu lah.

“Nah, lebih enak deh! Meskipun nggak wangi-wangi amat, tapi tetep kelihatan bersih.” kata wanita itu.
Lalu, wanita itu bertanya lagi dan menyodorkan tangannya pada Dita, “Kamu mau ngelamar kerja ya? Nama kamu siapa? Oh iya, kenalkan, nama saya Sheilla.”
Sambil tersenyum, Dita menjabat tangan wanita itu dan berkata, “Nama saya Dita. Saya mau ngelamar jadi wartawan lapangan. Salam kenal.”
“Wah, hebat! Saya nggak terlalu berani buat jadi wartawan lapangan. Terlalu beresiko. Saya mendingan kerja di balik meja aja, jadi penyortir artikel dan editor bawahan. Salam kenal juga!” kata wanita itu lagi.

Mereka pun berjalan bersama menuju lantai 3. Mereka sepertinya mudah akrab. Saat masuk lift, mereka menghentikan pembicaraan mereka yang sedang panas-panasnya mengenai pendidikan yang diuangkan. Sheilla yang pertama menghentikan pembicaraan. Wajahnya berubah drastis. Dia masuk lift pada saat yang kurang tepat. Saat dimana, sang editor senior yang bisa dibilang agak menyebalkan, memasuki lift juga.

Dengan wajah sedikit hormat, Sheilla menyapa Satria, “Pagi, Pak. Maaf saya tadi ke toilet dulu, jadi belum absen.”
Dengan wajah yang tidak ada hormat-hormatnya sama sekali, bahkan dengan pandangan lurus ke depan, Satria menjawab, “Kamu nggak usah banyak alasan. Apalagi saya sedang tidak mood, bad mood tepatnya.”
Dita yang sama sekali tidak tahu apa-apa, merasa kebingungan. Andai dia jadi semut, dia pasti sudah menyelinap melalui celah pintu lift untuk keluar. Tapi, kali ini dia tidak bisa berkomentar karena dia sekarang sedang berhadapan dengan orang yang paling disegani di kantor. Dita dan Satria yang hanya terpaut 3 tahun sepertinya akan sangat sulit untuk berkomunikasi. Bahkan, Sheilla dan Satria yang hanya berbeda 2 tahun saja sangat canggung untuk berkomunikasi, apalagi Dita yang masih bau kencur di kantor ini. Apalagi kalau dia mengetahui bahwa Satria adalah editor senior. Tapi Dita bersyukur karena dia akan menjadi wartawan lapangan dan bukan editor.
Setelah banyak pernyataan dan pertanyaan yang njelimet dalam pikiran Dita, akhirnya dia sampai juga pada lantai 3. Layaknya oase di gurun pasir, Dita bisa merasakan keringat karena gerah di dalam lift tersiram oleh sejuknya AC di ruangan itu. Ketika Dita melihat ke kanan, dia seperti melihat negeri robot yang semua robotnya tidak berhenti kerja. Ada yang membawa tumpukan kertas, ada yang bolak-balik mengambil majalah tahun kemarin dan berbagai pekerjaan lainnya. Sementara itu, di sebelah kiri Dita ada 2 ruangan yang tertutup pintu dari bahan maple. Di samping pintu itu, ada tembok kaca yang tertutup gordyn atau sekat-sekat. Di depan Dita, ada ruangan kecil yang disekat dan ada layar LCD besar yang menampilkan skala seperti rating. Di samping kanannya, ada setumpuk majalah yang berbeda label. Terlihat, majalah itu bertuliskan EQUATION. Dita jadi ingat majalah politik yang menggabungkan sains. Majalah ini sering dia baca di sela-sela istirahat saat kuliah. Dan Dita melihat lagi ke sebelah kiri, dia melihat orang berbadan tinggi, kira-kira berbeda 7 cm dengannya yang disinyalir bernama Satria dan sebagai editor senior, berjalan menuju ruangan berpintu maple itu. Dengan menggendong tas backpack CONSINA, tas yang sering dipakai oleh para pendaki, dia masuk ke ruangan berpintu maple itu.

Dita bingung, apa memang, pimpinan yang bekerja di tempat ini tidak formal? Dari tadi dia melihat orang-orang dengan setelan kemeja dan celana, dengan tag karyawan di lehernya mengikat mereka, sibuk mondar-mandir. Tapi kok, ini orang, yang sekali lagi disinyalir adalah editor senior, berjalan santai dengan kaos yang lengannya tiga perempat dan celana kargo, beralaskan sepatu untuk mendaki, sambil menggendong tas backpack. Aneh, memang aneh. Bingung, pasti bingung. Senioritas kembali diperlihatkan disini. Daripada terus memikirkan hal yang aneh-aneh dan tidak begitu penting, Dita langsung menuju blok 6, blok dimana sahabatnya bekerja. Yang dia kira, blok 6 itu berblok-blok jauhnya, ternyata hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri saat ini. Meskipun, beberapa meter bisa berarti banyak. Blok disini hanya kavling para penyortir dan jurnalis kecil. Satu blok terdiri dari 10 sekat ruangan kecil yang sesak dan padat. Semuanya terdiri dari 10 blok yang berarti, ada 100 ruangan untuk penyortir dan jurnalis. Sedangkan, ruangan untuk wartawan lapangan dan editor bawahan, ukurannya lebih besar dan luas. Meskipun masih berupa sekat-sekat kavling. Ini semua karena wartawan lapangan dan editor bawahan jabatannya lebih tinggi dibandingkan para jurnalis biasa. Tapi, Dita tetap saja takjub dengan kinerja para karyawan di ruangan ini. Benar-benar seperti robot. Andai saja dia sejak dulu disini, pasti dia tidak akan kuliah di PolBan, atau jadi orang yang salah langkah. Orang yang tidak ada latar belakang jurnalis tapi ingin bekerja sebagai jurnalis hanya karena hobi.

***

Dita dan Batara menuju ke ruangan HRD yang dijanjikan Batara. Dita dibantu oleh sahabatnya itu. Dita sudah mempersiapkan argumen-argumen untuk meyakinkan pemimpin HRD. Ya, siapa tahu saja, dia masuk dari penyaringan melawan beberapa orang lainnya. Siapa tahu saja.

“Mbak Dita, apa Mbak pernah punya pengalaman di bidang jurnalistik?” tanya manager HRD pada Dita. Di luar ruangan, Batara menunggu dengan risau. Dia berharap agar Dita bisa dengan lancar menjawab pertanyaan.
“Tentu, Pak!” jawab Dita berapi-api. Dita kemudian menjelaskan secara detail, rinci, dan runtut tentang pengalamannya dalam bidang jurnalistik. Si manager HRD hanya manggut-manggut saja mendengarkan Dita. Sesekali, manajer itu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan jurnalistik. Dia sepertinya mulai tertarik untuk mendengarkan Dita lebih jauh. Bapak Tamil, si pemimpin HRD, mempersilakan Dita keluar setelah menutup wawancaranya dengan Dita dan meminta Dita untuk menunggu pengumuman. Dita lalu keluar dan pergi berjalan-jalan dengan Batara untuk melihat situasi kantor.

Batara langsung mengajak Dita berkeliling kantor sambil mengobrol. Semua tugas kantor dia serahkan pada temannya, Dudi. Setelah berkeliling, Dita diminta menunggu Batara sampai jam istirahat. Jam istirahat nanti, Dita akan diantarkan oleh Batara ke rumahnya. Dan dia akan kembali menjadi orang pengangguran untuk sementara, setidaknya sampai pengumuman keluar dan dia diterima.

(bersambung)

Read previous post:  
Read next post:  
80

lanjut!
:)

siap!

Writer Ancient
Ancient at A Story About Journalist (1) - Opening (12 years 23 weeks ago)

ditunggu lanjutannya..........

ini soft opening apa udah grand opening yak????????

:))

70

Mau coba nulis di wikipedia gak?
mungkin menarik andai informasi eksak digabung simbolisasi hiperbola gini :)

hmmm.. gimana ya?? :-?

90

huweh...
cerpennya kepanjangan bok coz gak ada klimaksnya...
terlalu datar n kadang2 mank berley...
hehehe...

keep writing dech...
:)

ini masih opening mbak. belum dilanjutin lagi.. jadi nanti ada sambungannya,
klimaksnya masih jauh meureun.. :D

80

hmm.. nice story ;)
jadi keingetan kalau diriku juga pernah menggeluti jurnalistik, hanya saja radio :D
"media freedom is your freedom"!!! semangat!!! :D

80

wokeh.. pengen baca lanjutannya..

80

wah curhatan apa bro? hehehe......

ini coretan novel. haha. kisah asli saya yang saya buat hiperbolis. nanti
bakal ada banyak konflik. tenang. :D

90

tar-tar.. nyun? nyet? kayak pernah denger tapi dari mana.. gitu....

ah dirimuh. masa gatau sih mad??