Tersenyumlah, Ella - Bab I - Welcome, A New Ella

Berlin, Januari 2007

Ella menggigil sambil menunggu taksi. Meskipun sudah mengenakan pakaian musim dingin yang tebal, ia masih saja merasa kedinginan. Ah! Sejak kecil ia memang tidak pernah menyukai musim dingin. Ia selalu menolak ajakan Papanya untuk merayakan Natal di Eropa. Iming-iming white christmas dan dinner di restoran terkenal tidak pernah cukup menarik perhatian Ella.

“Apa yang bisa dinikmati dari jalanan beku yang licin dan suhu yang lebih dingin dari lemari es itu?“ Itu yang selalu menjadi bantahannya setiap kali Pak Hadiyono berusaha membujuk Ella untuk menemaninya merayakan Natal di Eropa. Entah mengapa, Sang Ayah begitu ingin pergi. Ella tak sempat menanyakan alasan di balik itu. Tak pernah sempat…

Excuse me Miss, where do you want to go? –Maaf Nona, anda ingin pergi ke mana?–“

Pertanyaan Si Sopir taksi membuyarkan lamunan Ella sesaat. Setelah memberitahu tempat tujuannya –untunglah Sopir ini bisa berbahasa
inggris, Ella kembali tenggelam dalam lamunannya.

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Ella selalu menjadi favorit papanya, meskipun bukan berarti Pak Hadiyono adalah ayah yang pilih kasih. Mungkin karena perbedaan umur yang cukup mencolok dengan kedua kakaknya, Ella akhirnya menjadi satu-satunya anak yang masih tinggal bersama orang tuanya sejak enam tahun yang lalu. Ia sangat akrab dengan Sang Papa. Pak Hadiyono tidak pernah absen menghadiri penampilan teater sekolahnya dan Ella juga tidak pernah absen menemaninya bermain badminton setiap akhir minggu. Doni, mantan pacar Ella, bahkan pernah cemburu ketika gadis itu menolak di ajak jalan Sabtu sore dengan alasan “mau main badminton sama Papa!”

Ah! Ella tersenyum mengingat wajah keheranan papanya ketika Doni mendatanginya dan menantang main badminton dengan taruhan, kalau Doni menang, Pak Hadiyono harus merelakan putri bungsunya jalan dengan Doni setiap malam minggu dan bukannya meluangkan waktu untuk berolah raga bersamanya. Tentu saja Doni tidak mampu mengalahkan ayahnya yang rutin bermain setiap minggu dan akhirnya harus menerima kenyataan, bahwa ia tak kan pernah bisa bermalam minggu dengan pacarnya yang cantik tapi tomboy itu.

Ayahnya memang luar biasa. Sebagai seorang direktur dari perusahan yang diwarisinya dari orang tuanya, ia sangat bijaksana dan efisien dalam menjalani profesi itu. Tapi ia juga tidak pernah melupakan perannya sebagai seorang kepala keluarga dan ayah dari anak-anaknya. Ella tidak pernah mendengar kakak-kakaknya mengeluhkan sesuatu tentang papa mereka dan ia sendiri juga tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa diprotes dari lelaki setengah baya itu, selain sifat kekanak-kanakannya yang sering membuat Ella takjub.

Pak Hadiyono pernah ngambek dan mendiamkan putrinya, hanya karena Ella melupakan janji mereka untuk menonton Kung Fu Hustle bersama dan malah menonton film itu duluan bersama teman-teman SMA-nya. Butuh tiga hari memasang wajah penyesalan, 10 sms permintaan maaf dan raket terbaru dari Yonex –Ella menghabiskan uang jajan sebulannya– untuk memperbaiki mood papanya. Sejak saat itu, Ella meminta dibelikan PDA dan selalu menulis semua janji dengan ayahnya dalam benda canggih itu. Ia tak ingin mengorbankan uang jajannya untuk kecerobohan yang sama lagi.

Miss, we’re here. Would you want me to help with your luggage? –Nona, sudah sampai. Apakah anda butuh saya bantu membawakan barang-barangnya?–“

Sekali lagi sopir itu membuyarkan lamunannya.

“Ah! Thank you so much, but I can manage it alone. –Terima kasih banyak, tapi saya bisa menanganinya sendiri–“ Ella tersenyum tipis dan menyeka air mata yang tanpa ia sadari telah mengalir di wajahnya. Setelah membayar biaya taksi dan mengabil barang-barangnya dari bagasi mobil, gadis itu melayangkan pandangan ke arah gedung empat lantai bergaya khas Eropa dengan cat merah bata di hadapannya. Papan bertuliskan Berliner Guest House terpasang tepat di atas pintu masuk. Di tempat inilah ia akan tinggal selama tiga bulan pertamanya di Jerman, negara yang terkenal dengan produksi bir dan mobilnya.

******

Apartemen kecil berkamar satu yang disewa Ella terlihat sangat sederhana. Kamar yang beralaskan karpet murahan itu hanya berisikan satu tempat tidur single bed, lemari baju, sepasang meja dan kursi, dan sebuah rak buku kecil. Semuanya terbuat dari kayu dengan warna cat yang senada dan ditata dengan apik. Di samping kamar itu ada dapur kecil sederhana dan kamar mandi, keduanya berlantai ubin. Seluruh dindingnya di cat putih bersih, menghasilkan efek lapang dan terang dalam apartemen itu. Setelah melihat berkeliling sesaat, Ella merasa puas. Ia menyukai tempat barunya.

Dengan kekayaan keluarganya, Ella bisa saja memilih untuk tinggal di hotel atau setidaknya guest house yang lebih bagus dan nyaman dari tempat ini, tapi ia tidak menginginkannya. Justru kesederhanaan iniliah yang ia cari. Ia ingin mengadakan perubahan dalam hidupnya dan salah satunya adalah meninggalkan gaya hidup mewah. Dengan demikian, ia mungkin akan bisa melupakan semua tentang keluarganya dan memulai kehidupan baru di negara ini.

Ingin melanjutkan kuliah di Jerman sesungguhnya hanya alasan agar bisa melarikan diri dari rumahnya. Sekedar pindah ke Jakarta tidak akan membawa banyak perbedaan –Ia masih akan dipaksa pulang ke Jogja pada setiap kesempatan. Karena itu Ella memilih negara asing dengan iklim yang tidak menyenangkan ini. Jarak kurang lebih 13.000 km pasti bisa menjadi alasan yang cukup untuk membuat keluarganya berhenti memintanya pulang setiap saat. Dan ia memang lebih memilih demikian, meskipun itu berarti gadis itu harus bisa hidup sendirian di usianya yang masih begitu belia, 18 tahun.

“Hhh…” Ella mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghilangkan semua pikiran tentang keluarganya, yang selalu membuatnya tersiksa. Ia datang ke tempat ini bukan untuk menenggelamkan diri dalam masalah dan kepedihannya. Sudah saatnya ia melakukan sesuatu untuk hidupnya sendiri, karena apa pun yang pernah terjadi di Jogja, hidupnya masih harus terus berlanjut.

Tanpa sengaja Ella melayangkan pandang ke arah cermin yang tergantung di pintu lemari baju. Bayangan seorang gadis cantik berambut pendek sedagu balas memandanginya dari cermin itu. Mata gadis itu terlihat begitu murung dan di wajahnya tidak terbaca ekspresi apapun. Tidak ada senyum, tidak ada kemarahan bahkan kesedihan pun tak ada. Hanya wajah yang kosong. Beberapa detik kemudian, kengerian menggantikan wajah kosong itu.

Ella memaksakan diri memalingkan pandangannya dari cermin itu. Ia tak pernah mampu melihat wajah itu sejak setahun yang lalu, sejak senyumnya yang ceria dan hangat direnggut dengan kejam oleh kenyataan. Wajah itu terlalu menyedihkan, menurut Ella. Tak seharusnya seorang manusia tidak memiliki ekspresi yang bisa ia tampilkan di wajahnya. Atau mungkin, ia memang sudah kehilangan emosinya sebagai manusia, pikirnya miris.

Dalam usaha mengalihkan perhatiannya, Ella menyalakan mp3 player dan berusaha fokus mendengarkan musik. Musik memang selalu menjadi obat mujarabnya. Bahkan di saat-saat terberatnya, ia selalu bergantung pada musik untuk bisa mempertahankan kewarasannya.

Dan buka dulu topengmu,
Buka dulu topengmu…
Biar kulihat wajahmu,
Biar kulihat wajahmu…

Lirik lagu yang dinyanyikan Peterpan itu menyita perhatiannya. Sekali lagi ia mencoba memandang ke dalam cermin. Ugh! Masih wajah kosong itu, batinnya. Ia sudah sangat ingin memalingkan wajahnya, tapi dengan segenap kekuatannya Ella bertahan. Ini hal pertama yang harus diselesaikan! Aku tak bisa mengawali hidup baruku dengan wajah tanpa ekspresi ini.

Ella mulai menimbang-nimbang. Ia memang tidak mungkin menjalani hari-harinya seperti ini terus. Bisa dijamin tidak akan ada seorang pun yang mau bergaul dengan orang aneh, yang tak punya emosi. Tapi apa yang harus ia lakukan?

Dan buka dulu topengmu,
Buka dulu topengmu…
Biar kulihat wajahmu,
Biar kulihat wajahmu…

Lagu itu kembali ke reff dan akhirnya membuka pikiran Ella. Kalau wajah aslinya tidak bisa menampilkan tanda-tanda emosi apapun, ia bisa memasang topeng di atasnya. Topeng seorang manusia normal yang bisa berekspresi. Itu seharusnya bukan hal yang sulit untuk Ella.

Dengan semangat baru Ella mulai menghadap cermin dan melatih mimik-mimik wajah yang sudah lama menghilang darinya. Yang dibutuhkan gadis itu hanyalah memanfaatkan kemampuan aktingnya yang luar biasa, hasil latihan bertahun-tahun dalam kegiatan teater. Berakting sepanjang sisa hidupnya tidaklah menjadi pilihan yang buruk jika dibandingkan dengan cara ia menjalani hidupnya setahun kemarin. Mungkin bahkan jauh lebih baik.

*****

Hari ini hari pertamanya di kelas bahasa jerman, dan ia ingin mengawalinya dengan baik . Sebelum berangkat, Ella menata kembali syal wol rajutan berwana biru tua yang ia kenakan dan sekali lagi mengecek ekspresinya di cermin. Setelah merasa puas, ia melangkah keluar dari apartemennya. Saatnya untuk menguji hasil latihannya selama dua hari terakhir.

Ella mendesah lega begitu ia memasuki ruang kelasnya yang dihangatkan oleh pemanas ruangan. Ia tiba sepuluh menit lebih awal, tapi ruang kelas itu sudah terisi hampir seluruhnya. Hanya tersisa beberapa bangku yang belum terisi. Ella memilih duduk di baris kedua paling ujung, di mana pemanas ruangan berada. Gadis yang duduk di sebelahnya menyambut kedatangan Ella dengan senyuman. Ella membalasnya ramah. Ia juga orang asia, tapi tidak terlihat seperti orang Indonesia dengan kulit yang putih kekuningan dan matanya yang sipit dan terlihat tajam namun hangat. Ella menebak-nebak dalam hati, dari negara mana gadis manis itu berasal.

“Err… Can you speak English? –apakah kamu bisa berbahasa inggris?–“ ia memberanikan diri bertanya pada gadis itu.

Gadis itu hanya mengangguk ramah dan mengajukan tangannya.

“Namaku Ritsu. Aku berasal dari Jepang. Kalau kamu?“

Logat jepang gadis itu sangat kental, membuat Ella akhirnya tersenyum sambil menjabat tangannya dan menjawab, „Aku Ella. Aku dari Indonesia.“

Setelah perkenalan singkat itu, Ritsu lebih memilih untuk diam. Sesekali ia terlihat ingin memulai pembicaraan, tapi akhirnya menyerah di tengah jalan. Tingkah gadis itu membuatnya geli, tapi ia merasa akan terlihat tidak sopan jika ia terus memperhatikan Ritsu dan memutuskan untuk mengamati seisi kelas.

Dengan sekali pandang, ia bisa melihat bahwa orang-orang di kelas ini berasal dari negara yang berbeda-beda. Ada beberapa pria berambut hitam sepertinya dan kulit yang agak terbakar matahari, tapi memiliki perawakan seperti orang Eropa, tinggi besar dengan hidung mancung. Begitu mendengar mereka berbicara dalam bahasa Arab, tahulah dia bahwa mereka berasal dari Timur Tengah. Ada juga beberapa orang yang sepertinya berasal dari Afrika dengan kulit mereka yang gelap. Sementara sisanya adalah orang Asia dan beberapa orang sepertinya berasal dari Eropa selatan. Benar-benar kelas yang multi kultur.

Tepat sebelum guru mereka memasuki ruangan, dua bangku terakhir akhirnya diduduki pemiliknya. Salah satunya adalah cewek berambut pirang terang dengan pakaian yang dikenali Ella sebagai koleksi winter terbaru dari salah satu brand yang cukup terkenal. Ia mendatangi meja baris kedua dan duduk di samping Ritsu sambil mengumpat dalam bahasa inggris dengan logat amerika yang kental

„Hey! Darf ich einen Kuli leihen? –bolehkah aku meminjam pulpen?– Aku lupa membawanya,“ bisik gadis blonde itu sambil menyikut pelan Ritsu.

Kelas bahasa jerman yang diikuti Ella bukanlah kelas dasar atau kelas B1. Setelah tes penempatan beberapa hari yang lalu, Ella ditentukan untuk mengikuti kelas M1. Ia dianggap sudah cukup mampu untuk mengikuti pelajaran bahasa Jerman level menengah dan itu tidak mengherankan, mengingat persiapan yang sudah dilakukannya sebelum berangkat ke negara ini. Satu-satunya yang menjadi masalah Ella adalah ia lebih terbiasa berbicara dalam bahasa inggris dan itu membuat ia malas melatih bahasa jermannya dalam percakapan sehari-hari. Karena itulah ia memutuskan untuk mendaftar di sekolah bahasa ini. Ia merasa perlu membiasakan diri berbicara bahasa Jerman sebelum memulai studinya.

Ketika waktu istirahat tiba, Ella sudah kelaparan. Ia bergegas bangkit, ingin segera membeli pizza di stand kecil samping sekolah bahasa yang ia lihat tadi pagi.

„Ella, kami mau emmm… pergi makan siang di stand pizza samping gedung ini. Emm.. Mau ikut nggak?“ Ajakan Ritsu dengan deutsch yang patah-patah cukup mengagetkannya.

„Kebetulan, aku juga mau makan siang di sana.“ Ella menjawab dengan sopan. Ia sebenarnya sudah sangat ingin mempercepat langkah dan meninggalkan dua teman barunya itu, tapi sopan santun yang ia junjung tinggi tidak mengijinkannya berbuat demikian. Sebaliknya, Ella malah memperkenalkan diri pada gadis blonde itu.

Ich bin Ella. –Aku Ella– Aku dari Indonesia.“

„Aku Helena, panggil aja Helen. Aku dari USA. Nice to meet you, Ella. Kamu udah berapa lama tinggal di Jerman?”

“Hmm… Sekitar seminggu.”

“What?! Seminggu?! Aku pikir kamu udah lama di sini. Aku udah tiga bulan di sini, nggak pernah bolos les bahasa satu kali pun. Tahu nggak? Itu aja udah menjadi rekor tersendiri buatku. And your german is far better than mine?! –bahasa Jermanmu jauh lebih bagus dariku?!– Aku jadi merasa bodoh.“

Mendengar serbuan kata-kata Helena, Ella tersenyum dan menjawab, „Tenang, kamu nggak bodoh kok. Di Indonesia, aku udah satu tahun ikut les bahasa jerman.”

“Oh! Pantesan.” Meskipun hanya itu komentar yang dilontarkan Helen, Ella tak bisa menahan geli melihat ekspresi lega yang terpancar jelas di wajah cewek blonde itu. Jauh di dalam hatinya, Ella juga memendam rasa iri melihat bagaimana teman barunya bisa begitu lepas mengeluarkan emosinya.

“Tapi…”

Helena dan Ella terdiam, memandangi asal suara yang wajahnya memerah seketika.

“Tapi, err… Aku senang banget, mmm… bisa kenal kalian. Aku udah satu tahun di sini, kuliah piano di UdK dan mmm… bahasa jermanku masih belum lancar. Tadinya aku takut nggak ada yang mau temenan denganku.“

Ritsu langsung membenamkan pipi merah semu itu ke dalam tangannya. Ia terlihat begitu malu dan sepertinya tidak akan berani mengangkat mukanya lagi. Sebenarnya Ella tak begitu peduli jika teman barunya yang rendah diri itu merasa malu, tapi ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini adalah bagian dari akting. Karena itu, dengan lembut Ella merangkul cewek Jepang itu.

„Nggak usah khawatir seperti itu. Aku seneng kok kita bisa temenan.“

„Aku juga! Dan aku nggak akan menolak kalau kau mau mengenalkanku dengan cowok jepang yang ganteng. Well, sebenarnya aku sedang ingin mencoba pacaran dengan cowok Asia. Tapi, dia harus lebih tinggi denganku ya!” Helen menyambar cepat.

Ella dan Ritsu hanya bisa memandangi cewek itu keheranan dan akhirnya mereka bertiga sama-sama menertawakan Helena

*****

“Hhh…” Ella mendesah lega sambil selonjoran di lantai. Ia sudah berada di dalam apartemen kecilnya lagi. Ia tahu, ia seharusnya segera melepas jaket musim dinginnya, merapikan sepatu yang ia lempar asal-asalan di lantai kamar dan menyiapkan makan malam, tapi ia tak punya lagi tenaga untuk itu. Semuanya sudah terpakai habis di sekolah bahasa.

Dalam diam Ella memutar ulang semua yang dia alami sepanjang hari dalam kepalanya. Ia mengingat saat ia sampai di kelasnya dan membalas senyum Ritsu, saat mereka bertiga makan siang dan tertawa bersama dan ketika mereka berjanji untuk jalan-jalan bareng hari Sabtu nanti.

Hmm, not bad. Tapi aku nggak nyangka semuanya bakal semelelahkan ini, batinnya sambil akhirnya berhasil mengumpulkan cukup kekuatan untuk berdiri dan merapikan sepatu dan tasnya. Ketika ia membuka lemarinya untuk mengambil baju ganti, sekilas Ella melihat bayangannya di cermin. Wajah itu sudah kembali kosong.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

lama tak jumpa, pa kbr?

y ada apa??

thanks bwt tanggapannya...^^
aku sedang berusaha menulis lanjutan critanya
mohon dukungannya^^

100

keren!!!....

hmm..lanjut! well.....kok k.com jdi aneh ya tampilannya...

We...kok poinnya gak mau diklik! ya udah entar ja ya... klo k.com dah bener

90

gaya bertutur sederhana, mengalir, secara cerita sukses!

ditunggu kelanjutannya :)

90

hebat nich, menarik. ditunggu kelanjutan kisahnya :D

100

Bingung2 bingung....
Tapi aku salut sama cara km bercerita...hebat banget...tapi apa tidak bisa lebih sederhana? Itu akan memudahkan pembaca....lebih baik membuat tulisan untuk dibaca....

makasih untuk masukannya...^^
ini pertama kalinya aku sukses menulis sepanjang ini.
biasanya aku selalu gagal dlm mengembangkan cerita T.T
masih banyak yg harus kupelajari

Yuk belajar sama2

akhirnya bisa menyelesaikan bab pertama...^^
ini cerita terpanjang yg pernah aku tulis,
jd masih butuh banyak kritik dan saran...

ditunggu...^^