Choir of Love: Novel Version (Melody 4: Declaration of Love)

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
- Mahatma Ghandi

Saat waktu pelajaran telah usai dan saatnya waktu istirahat, aku bergegas keluar kelas ini untuk makan siang bersama teman-temanku.
"Hideki-kun!!!" teriak salah satu gadis yg bernama Sayuri Minase. Aku langsung menoleh ke arahnya dan menanyakan ada apa. "Tomoyo-san menunggumu di loteng atas......" jawab Sayuri sedikit terengah-engah. "Menungguku? Untuk apa?" tanyaku heran. "Entahlah, Hideki-kun. Tapi kamu harus ke loteng atas segera......" jawab Sayuri. "Baiklah, kamu sementara ini makan sianglah tanpa aku. Sementara aku sedang ke loteng atas....." kataku sambil meninggalkan Sayuri. Sayuri hanya terdiam di tempat dan pergi ke kantin sendiri.

Aku berjalan menuju loteng atas, tempat dimana Tomoyo menantiku. Aku sendiri masih bertanya-tanya di dalam hatiku, buat apa Tomoyo menantiku? Mungkin untuk menemaninya makan siang barangkali. Atau jangan-jangan........
Akh!! Apa yg aku pikirkan?! Aku melanjutkan langkah kakiku menuju loteng.
Yap, aku sudah berada di pintu yg menghadap ke loteng. Aku mengintip dari jendela pintu dan melihat Tomoyo dudk sendiri di sebuah kursi panjang yg terbuat dari kayu itu. Kemudian aku buka pintu ini perlahan-lahan meskipun meninggalkan suara derit pintu yg sedikit. Ternyata benar, Tomoyo menantiku di sana. "Hideki......... kaukah itu?" tanya gadis berambut merah muda itu dengan lembut kemudian membalikkan badannya ke arahku. "Ya, ini aku. Mengapa kamu memanggilku, Tomoyo?" tanyaku. "Kemarilah, ada sesuatu yg ingin aku bicarakan......." jawab Tomoyo dengan lembutnya. Aku mulai berjalan menuju kursi yg sedang di duduki oleh Tomoyo. Kemudian aku duduk di sebelah Tomoyo dengan detak jantung yg berdetak kencang. Aku masih bingung apa yg ingin dikatakan oleh Tomoyo. "Hideki...... bisakah kamu menemaniku makan siang disini sambil mendengar cerita ku ini?" tanya Tomoyo dengan wajah memelas padaku. Aku hanya menjawab iya, dan Tomoyo mulai menyantap makanannya yg ia simpan di kotak makanan. "Hideki, tahukah kamu bahwa kita ini sudah berteman sejak kita pertama bertemu?" tanya Tomoyo memelas. "Humm........ menurutku iya...." jawabku. Lantas, Tomoyo berhenti menyantap makanannya dan langsung memegang tanganku lalu mengangkatnya di hadapanku dan Tomoyo. "Hideki, bisakah kamu berjanji untuk........" munculah sebuah kalimat dari mulut Tomoyo yg membuatku kaget. "Untuk menjadi kekasihku......?" lanjutnya dengan lembut. Apa?! Menjadi kekasih Tomoyo?! Sungguh ganjil. Aku baru beberapa hari berkenalan dengan Tomoyo sudah memintaku untuk jadi kekasihnya! Dengan bijak aku bertanya pada Tomoyo, "Me.....menjadi kekasihmu? Tunggu dulu, kita baru kenalan beberapa hari yg lalu, bukan?". Namun dengan nada yg lembut, Tomoyo menjawab, "Aku tak peduli seberapa lama kita kenal. Tapi, sepertinya kita ditakdirkan untuk menjalin cinta.....".

Heh, sungguh aneh tapi mengejutkan. Bagaimana bisa aku seorang pemuda biasa-biasa saja akan menjadi kekasih dari anak seorang komposer musik yg sangat kaya raya? Aku hanya diam, memikirkan sebuah jawaban yg tepat nan bijak.....
"Hideki, apa kau mendengar perkataan ku?" tanya Tomoyo. Lantas aku langsung tersadar dari diam ku yg agak lama. Lalu aku memberanikan diri untuk menjawab sebuah jawaban yg mungkin akan menyakiti hati Tomoyo. "Tomyo, aku tahu kau ingin menjadi kekasihku. Tapi ingatlah, ini terlalu cepat. Alangkah baiknya jika kita menjalin persahabatn secara pelan-pelan. Lalu suatu saat kita akan menjadi kekasih, untuk selamanya...." hanya itulah sepenggal kalimat yg sanggup kukatakan padanya. Tomoyo hanya diam tak bersuara, dia sepertinya tidak menerima kenyataan ini. Mungkin dia sakit hati saat aku mengucapkan kalimat tadi. Atau mungkin dia mengira aku menolak pernyataan cintanya sehingga membuat hatiku sedih.
"Tomoyo....... kau marah denganku?" tanyaku dengan perasaan takut. "Tidak....... Hideki, mari berdansa denganku....." ajak Tomoyo dengan wajah gembiranya. "Berdansa?" tanyaku heran. Tomoyo hanya mengangguk setuju.

Dan inilah saat yg membingungkan atau malah indah, aku mulai berdansa dengan Tomoyo secara perlahan. Ditemani oleh jatuhnya butiran salju yg lembut, serta lagu orkestra dari Bach yg berjudul Minuet yg diputarkan dari iPod nya Tomoyo. Aku masih berdansa dengan Tomoyo, sementara Tomoyo memandang wajahku dengan lembutnya. "Hideki, tahukah kamu bahwa selain kesempurnaan tarian, kesamaan hati juga menentukan dansa ini?" kata Tomoyo sembari berdansa denganku. Aku sebenarnya bingung apa yg dikatakan oleh Tomoyo, tapi agar menimbulkan suasana yg romantis aku hanya menjawab, "Entahlah.....". "Sesungguhnya hati kita satu, satu untuk cinta....." kata Tomoyo dengan lembutnya. Lalu saat nada terakhir, sebuah sentakan lembut dari bibir Tomoyo menyatukan bibirku. Eh, apa yg terjadi? Aku berciuman? Apa yg dipikirkan oleh gadis ini? Sepertinya Tomoyo serius ingin menjadikanku sebagai kekasihnya. Momen ini masih berlanjut dengan ciuman lembut dari Tomoyo. Lalu diakhiri dengan pertanyaan dari Tomoyo. "Jadi, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku, Hideki Manohara?" jawab Tomoyo lembut. Dengan mantap, aku jawab, "Iya..... Demi cintamu padaku.......". Mendengar hal itu, Tomoyo menjadi senang. Dia langsung menciumku. Sungguh pengalaman yg aneh, tapi nyata......

Bersambung......

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

latarnya di Jepang kan? tapi sama sekali tak kelihatan.

80

hahahaha...
ya ampun. beneran gak nyangka deh perkembangannya kek gini...

100

Tomoyo rambutnya merah muda y, kirain hitam lurus. Siplah ceritanya, Hideki memang pria yg beruntung. Aq aja seumur2 blum pernah ditembak cewek.

haha.......ada2 aja si alcyon......

100

Wah... Baguss...
Komen cerita 'A house near the forest' -ku juga dunk...

70

Masih butuh dipoles lagi bro biar lebih sip.
Pertama-tama bagian dialog sebaiknya dipisah-pisahin biar lebih enak bacanya.

sip. thank you