Jimmy Hamilton

Prolog

Matahari baru saja terbit, tetapi tidak satu pun orang di dalam goa yang menyadarinya. Kegelapan membuat mereka buta terhadap siang dan malam.

“Rattail, matikan ogog itu!” teriakan seorang pria menggema memenuhi goa.

Rowbert Rattail mengangkat sebentuk benda mirip tanduk yang memancarkan cahaya putih berpendar ke depan wajahnya. “Kau ini bodoh, ya? Kau tahu kita sekarang ada di mana? Ini Goa Kematian Peri! Mungkin hanya benda ini yang bisa menolong kita.”

Rowbert tidak mengindahkan permintaan Walden. Ia mengangkat ogog-nya di atas kepala sambil berjalan perlahan memerhatikan tiap lubang besar yang menempel di dinding goa buatan itu.

“Tujuh pintu masuk untuk tujuh wilayah. Benar-benar menarik,” Rowbert berkata dengan gigi-gigi menyeringai yang memendarkan cahaya dari ogog.

Tiba-tiba Walden menyerang pria berwajah tirus itu hingga ia jatuh terjerambab. Ogog yang dipegangnya terjatuh hingga menimbulkan bunyi berdentang.

Walden berusaha merebut ogog tersebut, tetapi Rowbert segera menendangnya. Sekarang posisi keduanya terduduk di tanah. Dua orang lainnya yang memerhatikan kejadian itu segera melerai.

“Hentikan, kalian berdua!”

“Hei, hei, harusnya kata-katamu itu kau tujukan pada Tuan Binatang Buas Albatros ini, Tuan Notredame,” sindir Rowbert sambil terengah-engah karena kejadian yang tiba-tiba itu.

“Matikan saja ogog itu, Rowbert,” pinta Nichel Notredame sambil mengangkat rekannya itu dari tanah.

Rowbert menepis tangan Nichel. “Jangan coba-coba mengaturku, Nichel! Jangan pikir kau dapat memerintahku hanya karena para pengajar menganggap kau adalah yang terbaik di ordo, nilai ramalanmu sempurna....”

“Terima kasih.”

Telunjuk Rowbert menunjuk tegas ke arah wajah Nichel, “Aku tidak sedang memujimu, Notredame!”

Winona Halette yang tadi membantu Walden berdiri mencoba menenangkan, “Sudahlah, Rowbert. Sebaiknya kau matikan saja ogog itu. Kau tahu kan, pengaruh cahaya benda itu dapat membuat Walden menjadi....”

“Manusia serigala?” Mirabel Murdoch yang dari tadi kelihatan tidak perduli dengan tingkah laku keempat rekannya tertawa mengejek. “Kau terlalu banyak mendengarkan dongeng si Tua Rabelais, Winona.”

Mirabel mengambil ogog yang terjatuh dan memerhatikannya. “Mana mungkin benda ini dapat membuat orang menjadi seorang lychantropis. Aku yakin Walden ini mengidap congenital porphyria.”

Wanita muda itu menjawab dengan sabar, “Pengidap porphyria memiliki gigi yang berwarna coklat kemerahan dan di sekujur tubuhnya terdapat borok yang parah.”

Mirabel memandang pria yang sedang mereka bicarakan. Dengan kesal dia mengakui dalam hati tanda-tanda itu memang tidak tampak pada tubuh Walden. “Tapi dia memiliki gangguan jiwa.”

“Hati-hati kalau bicara, Mirabel,” Walden yang sudah tenang berkata dengan dingin.

Mirabel tidak perduli dengan peringatan Walden. Ia tidak mengacuhkan mereka lagi. Ia kembali sibuk dengan kegiatan yang dilakukannya tadi. Mencoba menilai tiap-tiap lubang di dinding goa.

“Sebaiknya kita masuk bersamaan,” Nichel mencoba menyatakan pendapatnya.

“Jangan bercanda! Aku tidak sepengecut dirimu, Nichel,” Rowbert berkata dengan sombong. “Aku akan masuk pintu nomor tiga. Aku yakin ini daerah utara.”

Ia mengambil ogog dari tangan Mirabel dan masuk ke dalam lubang goa. Keempat pemuda itu mengantar Rowbert dengan pandangan matanya. Tidak ada yang berbicara. Beberapa menit kemudian Mirabel Murdoch telah memutuskan lubang goa yang akan dimasukinya. Lubang nomor empat.

“Baik. Tunggu saja di sini. Ordeon tidak butuh dua orang pengecut dan seekor binatang buas....”

Ia pun masuk ke dalam lubang yang dipilihnya.

Walden menggeram. Ia segera melangkahkan kakinya menuju lubang nomor dua.

“Tunggu, Walden.”

Walden menghentikan langkahnya, menunggu Nichel meneruskan kata-katanya. “Kita bertiga masuk ke sini.”

Nichel melangkahkan kakinya ke arah lubang pertama meninggalkan Walden dan Winona yang saling berpandangan. Gadis itu pun akhirnya masuk mengikuti Nichel. Ia bukannya percaya karena Nichel memiliki nilai yang bagus dalam pelajaran Ramalan, tetapi ia merasa aman jika di dekat pria itu. Walden mengikutinya.

Keadaan goa tanpa ogog benar-benar tanpa cahaya. Nichel yang memimpin di depan berjalan perlahan sambil meraba-raba dinding di sebelah kirinya.

Winona merasa tidak nyaman dengan keadaan yang gelap dan pengap ini. Ia merasa sedikit ketakutan. Sebenarnya dia merasa akan lebih baik jika berjalan sambil memegang ujung jubah Nichel yang ada di depannya. Tapi, gengsi menyebabkan dia mengurungkan niatnya itu.

“Nichel, apakah masih jauh? Napasku terasa sesak,” Walden yang mulai gelisah mencoba mengutarakan kegusarannya. Lima menit saja di dalam goa yang semakin menyempit membuat pria besar ini gusar.

Nichel tidak menjawab.

“Nichel, apakah masih jauh??” Walden semakin tidak sabar karena tidak ada tanda-tanda Nichel akan menjawab kegusarannya.

“Ssstt...dengar!” Perintah Nichel membuat kedua orang rekannya terdiam mendengarkan. Samar-samar bunyi yang kedengarannya seperti ‘ck...cak’ berulang menggema di sekeliling mereka.

“Apa itu?” Winona mendahului pertanyaan yang juga ingin diucapkan oleh Walden.

Cahaya terang yang menyilaukan menjawab pertanyaan gadis 17 tahun itu.
“Ngiaakkk!!!”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer quavi
quavi at Jimmy Hamilton (13 years 1 week ago)

Nichel..namanya bagus :)