CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu

“Masih saja, senyuman yang sama itu... Terus berputar-putar dalam benakku. Dalam berbagai kejadian dan perkara, tapi semua senyuman itu adalah serupa. Dia menelengkan kepalanya padaku, rambutnya yang seperti tirai sutra itu berkibar lembut mengikuti arahnya. Lalu—seperti biasa—dia tersenyum dengan sorot mata yang begitu rapuh... Namun aku tahu itu sebuah ekspresi bahagia. Seperti yang selalu dia katakan, berulang kali dia katakan, berada di sisiku adalah kebahagiannya...”

____________________________
Malam begitu sunyi seakan mendingin.
Tonggak pusara putih itu berdiri kokoh menjelang binar-binar purnama malam, tak gentar akan terjangan angin beku yang menyebar ke segala arah. Bawakan pilu sehening kematian. Ya, kematian. Satu hal di luar kuasa waktu, satu hal jauh di balik gapai sang fana.

Namun hari ini entah bagaimana Riordan merasa lebih dekat mengenalnya dibandingkan kapanpun. Kematian itu.

Helai-helai rambut perak sebahunya yang malam ini dibiarkannya tergerai, melambai berantakan diterpa angin bulan ke sembilan yang membekukan. Matanya memandang lurus pada pusara putih diatas tanah segar kemerahan yang baru saja digali. Dimana sahabat sekaligus mantan pelindungnya, gadis itu, terbaring dalam akhirnya.

Mata itu nanar. Berkabut oleh segala kehilangannya… Takutnya akan kegelapan bersebut kesepian… Juga berjuta-juta kerinduannya. Kemana semua hal itu membawanya pada kesedihan yang tak bernama.

Perang sudah berakhir. Lymlisc, kerajaannya keluar sebagai pemenang. Namun takkan ada hasil tanpa harga yang harus dibayar. Tak terkecuali kemenangan ini. Lymlisc pun harus membayar—harga yang teramat sangat mahal—demi sebuah kemenangan mutlak atas perang penaklukan pemberontakan yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya… kepergian dua pemimpinnya, dan seorang ksatria besar—pelindung sekaligus partner sang pangeran yang setia menemaninya melewati berbagai suka dan duka.

Riordan mendengus tertawa hampa. Suara napasnya membelah sepinya malam dengan tiap derik kesedihan yang menyesak rongga dadanya. Kendatipun beberapa bulan telah melintas semenjak insiden mengerikan itu, dia masih belum bisa pulih. Dia tak tahu bagaimana caranya. Menangis? Hah. Belum setetespun air mata turun dari bendungan kelopaknya. Dia belum bisa… dia tidak bisa… Hatinya berlari kabur dari masa kini menyusuri lembar-lembar masa lalunya, dan terjebak diantara beberapa lembar memori yang paling disukainya—adegan-adegan yang paling sering muncul menyela mimpi-mimpinya. Menyebabkannya tak kunjung sanggup menerima kenyataan yang terpampang dengan kejamnya.

Dan maka hari ini Riordan akan membuat sebuah keputusan. Keputusan yang dia persiapkan di hari-hari permenungannya. Sebuah jawaban untuk menantang beribu pertanyaan akan kematian, kehidupan, penyesalan, masa depan… dan akhirnya, kesimpulan.

Riordan menarik keluar sebilah pedang pipih yang tersarung di pinggangnya—pedang peninggalan Faythe. Sinar bulan memantulkan cahaya keemasannya pada permukaan halus benda itu, dan sekilas Riordan melihat bayangannya sendiri yang tercetak si atasnya…

Benci.

Dia memandang jijik pada bayangannya sendiri, yang balik memandangnya dengan ekspresi muak yang sama.

…salahmulah mereka mati! Kalau saja kau lebih kuat… Kalau saja kau mampu melindungi dirimu sendiri… Kalau saja kau lebih dewasa… Kalau saja… Kalau saja… Semua ini salahmu! Gara-gara kau mereka mati!!

Tangan Riordan bergetar kala dia menyingkirkan benda itu dari pandangnya. Ya, dia kan menerima semua itu. Kesalahannya. Dan apa yang harus dilakukannya setelah ini kian jelas terdengar dari dalam benaknya… Perlahan, dia kembali menghunus pedangnya, membulatkan hati… Cahaya bulan berkilau-kilau pada pantulannya ketika dia mengangkatnya tinggi-tinggi, mengayunkannya….

“Sudah mengambil keputusan, rupanya.”

Riordan menoleh ke belakang, tempat seseorang yang dia tahu sejak tadi mengawasinya dalam diam. Potongan-potongan rambut keperakannya yang tersia-sia melayang-layang di udara mengiringi gerak memutar tubuhnya. Jatuh menghilang di balik rerumputan tinggi yang menyelimuti halaman pemakaman kastil Beauregard.

“Kau memotong rambutmu,” kata perempuan yang berdiri mengawasinya itu. “Yang Mulia.”

Riordan mengangguk, menatap tajam wajah Luchielle yang berbinar. Tangguh. Gadis itu pastilah sama kehilangannya dengan Riordan, tapi entah bagaimana dia bertahan.

“Kau pasti tahu artinya,” kata Luchielle pelan, nyaris tak terdengar dikalahkan hembusan angin. “Memotong rambutmu…”

Riordan mendengus. “Itu sebabnya aku melakukannya,” tukasnya pendek.

Luchielle masih memandangnya dengan tatapan itu. Kuat. Tak goyah. Namun entah kenapa sinar matanya terasa pilu… Seakan-akan dia mengasihani Riordan dan Riordan tak bisa menyukainya, berapa kalipun dia mencoba mengartikan tatapannya dari sudut pandang lain.

“Aku tahu,” katanya lagi. “Aku tahu kau akan pergi.”

Sekali ini Riordan tertawa dingin. “Jadi kau datang menemuiku untuk berkata ‘jangan,’ begitu?”

Luchielle mengangguk. “Ya…” jawabnya dengan suara yang sama pelannya. “Tolong jangan…”

“Sekalipun kau tahu tidak akan ada gunanya?” sela Riordan tak peduli.

“Pangeran,” ujar Luchielle dengan desahan. “Kau hanya melarikan diri.”

“Tidak!” bantah Riordan keras-keras, “Aku tidak melarikan diri! Dengar, jangan bicara padaku seolah kau mengerti semuanya… Dan berhentilah memandangku seperti itu! Kau tidak memahami betapa aku benci menjadi orang yang selalu dilindungi…! Dia mati karena melindungiku, dan aku tak menginginkan kejadian yang sama berulang lagi…”

Luchielle terdiam. Entah bagaimana caranya membuat sang Pangeran mengerti… Orang yang luka hatinya telah meradang dan menganga dalam. Terlalu dalam. Luchielle nyaris tak tega memaksanya meraih meraba permukaan jurang yang terang, jurang tempat dirinya sendiri hampir terjatuh ke kedalamannya yang hampa dan berbau kematian…

…sekalipun itu bukan jalan yang benar!

“Kau tak ingin dilindungi lagi…?” tanya Luchielle, tersenyum pahit.

“…sekali ini,” Riordan mengangkat kepalanya yang tertunduk pilu tanpa memandangnya, “aku ingin belajar untuk melindungi. Dan aku tak bisa selama aku masih berada di tempat ini. Aku… harus pergi.”

“Ijinkan aku bertanya, kalau begitu,” Luchielle memulai, sekalipun suaranya terdengar begitu hampa. “Kau Putra Mahkota kerajaan ini. Tidak pernahkah kau berpikir akan apa yang akan terjadi jika kau meninggalkannya…?”

“…masih ada adikku,” tukas Riordan setelah sekian lama membisu.

“Dan adikmu? Dia sudah kehilangan kedua orangtuanya. Dia tak boleh kehilangan kau.”

“Luchielle, dia punya kau,” kata Riordan kukuh. “Dan Vlad juga…”

“Tidak akan sama jika kau tidak ada!” kata Luchielle, akhirnya berseru. “Tuan Putri hanyalah seorang gadis kecil berumur empat belas tahun! Apa yang bisa kami lakukan tanpamu…? Aku yakin Faythe juga akan ber--”

Riordan tersentak, berpaling marah mendengar nama yang terbawa. “Jangan menyebut-nyebut namanya seolah kau tahu segalanya…!”

“…tapi aku memang tahu!” sahut Luchielle sama kerasnya. Riordan menarik mundur ucapannya, terkejut melihat wajahnya yang bersimbah air mata. “Kenapa kau… Kenapa kau terus bersikap seolah hanya kau yang terluka…? Seolah kami bukan bagian dari semua ini…? Padahal aku… aku… Bagaimana kau bisa begitu tega…?” Luchielle merosot duduk, mengisak begitu saja di atas tanah berumput. Riordan menelan ludah, mendadak diadili oleh perasaan bersalah…

“Luchielle...” dia berkata pelan. “Maaf aku membentakmu. Aku benar-benar…”

Apa yang hendak diucapkannya mendadak seperti tertahan di kerongkongan. Gadis itu masih menangis pelan di hadapannya, Riordan sungguh tidak suka harus membiarkannya begitu saja tanpa melakukan sesuatu... Atau setidaknya mengucapkan sesuatu.... Tetapi...

“Maaf...” ujarnya perlahan. Dia tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. Satu atau beberapa penjaga pastilah sudah mendengar keributan kecil yang tadi mereka timbulkan dan sekarang berlari-lari mencari sumbernya.

Riordan mendongak. Memandang jauh puncak kastil tempat dia dibesarkan selama tujuh belas tahun, untuk apa yang sepertinya akan menjadi yang terakhir kali dalam hidupnya. Begitu banyak kenangan… Kebahagiaan dari tahun-tahun yang kini terasa bagaikan tak pernah terjadi, menguap menjadi semata ilusi oleh pukulan sang takdir. Ayahnya… Ibunya… Keluarganya… Sahabat-sahabatnya… Faythe. Ya, Faythe. Riordan mengerling pusara putih tempat gadis itu terlelap dalam sebuah penantian yang abadi. Pelindungnya yang akhirnya terpatahkan. Gadis yang selama ini mengukir sesuatu yang lebih mendalam daripada sekedar persahabatan jauh di dasar hatinya, tanpa tersadarkan. Dan ketidaksadarannya telah berbuah penyesalan di kemudian hari, ketika gadis itu meregang nyawa demi melindunginya dari tangan sang kematian…
Riordan membuang pandang. Dia harus pergi agar tak mengulangi kesalahan yang sama.

“Terima kasih, Luchielle,” Riordan tersenyum sedih, menepuk kepala gadis itu. Tangannya terasa beku dan bibirnya sudah terlalu kelu untuk mengucapkan selamat tinggal yang lebih pantas. “Aku titip adikku dan semuanya. Selamat tinggal…”

Dan perlahan punggungnya semakin mengecil dan menghilang dalam kegelapan malam. Sang Pangeran mendengar jeritan Luchielle, dengan jelas. Tetapi tidak ada yang bisa mengehentikannya lagi. Tempat yang baru saja ditinggalkannya menyimpan terlalu banyak kenangan. Kenangan indah yang sekarang begitu dibencinya lebih dari apapun.
_________________
Sekalipun jalan yang baru saja kautinggalkan ini masih tertutup kabut, aku akan terus menjalaninya.
Sebab kenangan bukan mimpi, dan kehangatan masa itu tetap tinggal meski hanya dalam ingatan.
Mengunci rapat-rapat harapan hampa bahwa suatu hari kita akan bertemu lagi…
…aku akan terus melangkah maju.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Duh! Otakku meleleh! Bahasanya bener2 deh, ampe puyeng. Perbendaharaan katanya kok bisa manteph gtu? Pengen bsa bikin yang kya gini. Tp, aq bener2 pusing bacanya. Yg ngomong anak 17thn toh, kirain aku bapa2 40thnan. Lucielleny kok berubah ekspresinya cepet. apa keadaan kaya gt emang bikin orang labil?? Sori ya, aku msh pemula nih.

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 44 weeks ago)

ah, ini sih bukan perbendaharaan katanya yg mantep, tp emang dasarnya iseng suka bermain dengan kata2 (sampe ga jelas gitu)... :p
iyeeee, chie 17 taon... jaat banget dibilang bapa2 40 taon TT_TT
kecepetan ya? yah, emosi pengarang jg lg labil sih pas bikinnya. hehehehehe
trims komennya, amaranthine :)

Writer akina
akina at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 45 weeks ago)
70

njahahahahaha xD ternyata benar2 tak ada yg berubah... xD

Writer nanakizawa
nanakizawa at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
80

Masih lanjut ato cuma segini?
Aku belum paham ceritanya. Emosi karakternya cepet berubah ya? Atau pengaruh situasinya? Lanjut terus!

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

errr... mungkin memang agak terlalu cepat (?)
g0men2... chie masih perlu belajar banyak sih :D
trims udah mampir ;)

Writer Na_Nickie
Na_Nickie at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
90

kedalaman karakternya masih belum jelazz (mnrut aq, hehe), keterangan ttg sifat2 tokohnya gak jelas gtu; plin-plan, tp mungk krn bru 1 adegan jg iiach_atau apa.
te2p berjuang iia, coz narasinya puitis bged trutama di awal2...

oia, salam kenal :)

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

ups... sori. makasih udah ngingetin :)
memang mgkn agak ga jelas ya? ya baru adegan pertama sih...
maafkan keplinplanan pengarang :D
klo bisa sering2lah mampir ke karya chie kak :)
salam kenal

100

aduh...tunggu dulu deh. koq judulnya, project? masih uji coba? nanti kalau selesai bilang-bilang yah. rockerarium is nice. aku lihat yang lainnya aja deh. oke....

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

oh, kalo (cuma kalo) ada (ADA) yg mau (MAU) baca/minta cerita lengkapnya, hubungi saja chie melalui email ato messenger :D :D :D

Writer heinz
heinz at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
80

Adegan bagus. Tapi belum kebayang ceritanya kaya gimana.
Uh oh, berpuluh-puluh chapter?
Dah beres ditulis ternyata?
Ga da sinopsisnya?

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

belom koq... lom slese ditulis...
ya, BERPULUH2 CHAPTER :D
sinopsis? nanti kalo chie berubah pikiran jd mau ngepost di kekom, pasti chie buat sinopsisnya :)
anywae, trims udah mampir

Writer Valkyrie
Valkyrie at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
70

:)

Writer Ri
Ri at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
90

Lanjutannya donk chie...^^
Penasaran neh...

Writer Utara
Utara at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
80

waduh bisa2ketagihan nich baca ceritanya
pokoknya kalo ketagihan kamu harus tanggung jawab
lanjut terus dah

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

sampe segitunya kak? :D
yah, resiko yg baca harap ditanggung sendiri...

Writer angel16
angel16 at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
90

waaah, kereeen!! lanjutannya mana chie??

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

:D

Writer Maximus
Maximus at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
90

Waduh keren banget nih, tapi kenapa full versionnya ga isa di post? padahal pengen banget baca, secara baru potongan aja udah keren isinya.

Kunjungi aku juga yah.Dikritik, dicaci, dimaki terserah. Tapi harus dikomenin :D

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

bukannya gak bisa dipost...
tp kalo dipost bakal nyampe berpuluh2 chapter =u= (yg baca bisa kburu tua)
wokeh, chie brangkat kesana~~~
makasih k0mennya kak

Writer dirgita
dirgita at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
80

Ouh..., cerita semacam Final Fantasy rupanya.
Numpang nanya. Apa, sih, arti seseorang memotong rambut dalam konteks seperti cerita di sini? Aku ada lihat di FMV Final Fantasy IX, juga di serial Avatar.

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

whoops. lupa dijelasin. maaf, ini cerita guntingan sih. dlm tradisi kerajaannya, memotong rambut berarti memutuskan ikatan dgn kerajaan :D
g0men kak dirgi...
makasih banget udah mampir

Writer dirgita
dirgita at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 45 weeks ago)

Terima kasih kembali atas penjelasannya^^

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
80

keren chie-chan. mari dilanjut lagi... ^^

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

makasih udah sudi mampir kak... hehehehe :D
(n kalo bisa dtglah lg di karya chie selanjutnya~~)

Writer Deschia
Deschia at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
100

Chie chan... Cerpenmu keren, aku terhanyut dalam dialog yg menggetarkan... Hmm, sptnya aku haruz membaca cerita2mu... Agak blank jg aku dgn kisah fantasymu... Akan kusempatkan mengunjungi ceritamu yg lain....

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

wah, chie bakal berterima kasih skale klo kakak beneran bersedia mengunjungi cerita2 chie yg lain...
tq udah mampir :)

Writer Ga4bloo
Ga4bloo at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
90

ah..adegan potong rambut mengingatkan gw sama si Luke...
akiakiakiak....
keren...jd keren bgt,dan suram...
akakaka
ditunggu lanjutannyaaa...

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

luke... luke... luke si replika??
wkakakakaka
ah, gw jd kangen kpgn maen ToA lg. tp ps gw uda br0ken abis skrg :crying:

Writer Penguin
Penguin at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
80

Ada lanjutannya nggak, kak? kayaknya agak gantung... Tapi ceritanya memang bagus!

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

yah, sebenernya sih ini bagian dari salah satu proyek besar chie :D
tp berhubung gak mungkin dipost di kekom...
salah satu potongannya chie gunting n dibungkus menjadi cerpen :D
makasih udah mampir~~~~

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
100

Wow! Dialognya mantap dah!! Keren
patut ditunggu kehadirannya ;)

Writer alcyon
alcyon at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)
100

Kq banyak susunan kata yg salah kak?
Dialogny menghanyutkan nih! Uh, oh, aq smpe keselek saking terhanyutnya!
Tp kq endingnya agak gak jelas y? Riordan itu mau mati atau apa? Sori gak paham.
Dan sprti biasanya, kakak menyajikan cerita yg luar biasa! Uuuh...kapan y bs bikin dialog macam itu?

Writer Chie_chan
Chie_chan at CERPEN PROJECT - Jalan Baru Tanpamu (12 years 46 weeks ago)

*panik mode switch on* :frustrated:
hah?? banyak yg salah??? mampus deh... yg mana aja bung?
endingnya... dia pergi dari istana begitu aja sih... gak jelas ya? hehehehe. gomen2...