Melodi Dawai Hati (bag-5)

"Jadi dia menerimamu saat itu?" Andri melap gitar kesayangannya sampai mengkilap.

"Tidak, dia menerimaku tepat seminggu sebelum kami berpisah." Edhu memasukkan biola kedalam tasnya. Latihan sudai usai.

"Seminggu sebelum berpisah?" Andri menghentikan aktifitasnya.

"Ya, saat itu kami memang beberapa kali bertemu, meski tak sering. Aku datang padanya, kami pergi, lalu berbincang ditempat favorit kami."

"Di puncak itu?"

"Ya, tempat yang sangat indah. Suatu saat aku akan ajak kamu kesana. Kamu akan suka, aku yakin." Edhu tersenyum pada sahabatnya.

"Dia masih mencintai laki-laki itu?"

"Mungkin. Aku dan dia tak pernah bicara tentang hal itu."

"Kenapa? Kau takut ditolak lagi?" Andri tertawa.

"Justru, aku takut dia menerimaku."

"Maksudmu?"

"Aku hanya ingin dia menerimaku karena mencintaiku, bukan karena dia putus dengan Rizman dan butuh seseorang."

Andri menatap wajah putih didepannya.

"Pulang sekarang?"

Andri mengangguk dan mengikuti langkah Edhu menuju keluar Gedung Kesenian Bandung.

* * *

Edhu memarkir mobilnya dihalaman Gedung ... Bogor yang sudah penuh sesak. Mudah-mudahan belum terlambat, bisiknya. Setengah berlari Edhu menaiki tangga Gedung. Tiba-tiba kakinya terhenti, matanya tertuju pada sesuatu.

"Silahkan fotonya untuk kenang-kenangan." Seorang fotografer amatir menawarkan hasil jepretannya.

Edhu mengambil sebuah foto. Seorang gadis berkerudung putih lengkap dengan kap dikepalanya tengah tersenyum. Wajahnya polos tak bermake-up, sangat sederhana jika dibandingkan peserta wisuda lain yang 'berwarna-warni'.

Edhu memasukkan foto kedalam ranselnya, lalu memberikan uang sepuluh ribuan kepada si juru foto.

Suasana penuh sesak menyambut kedatangan Edhu di pintu utama gedung. Jangankan tempat untuk duduk, tempat berdiripun hanya tinggal bagian belakang. Mungkinkah melihat Rei dari sini?

Akhirnya Edhu memutuskan untuk menunggu, toh acara sudah hampir selesai. Tinggal menyanyikan lagu wajib dan ramah tamah. Edhu mundur beberapa langkah. Menunggu dipintu memudahkan untuk terlihat.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok yang tengah berdiri tepat didepannya. Sepertinya sedang menunggu juga, sama seperti dirinya.

"Hai, menunggu seseorang?" Edhu menyapanya. Orang yang disapa hanya tersenyum.

"Kau? Menunggu Rei?"

Edhu mengangguk.

"Dimana sekarang? Kerja?"

"Ya, di RSU Cianjur."

"Enaknya, tempat praktek jadi tempat kerja."

Rizman mengangguk, beberapa saat mereka terdiam.

"Rei... bagaimana keadaannya?" Rizman bertanya dengan mata sedikit menerawang. Edhu tak menjawab, dia hanya menatap Rizman lama. "Dia baik-baik saja kan?

"Ya, kuharap begitu."

Rizman melihat Edhu, meminta jawaban lebih.

"Terakhir bertemu dengannya lima bulan yang lalu. Kau sendiri? Bukannya dia dekat denganmu?"

"Ya...dekat. Dia disekolah dan aku di RS. Kelas tiga tidak dinas, jadi kami jarang sekali bertemu."

Mereka terdiam lagi. Lama. Lagu-lagu wajib dinyanyikan Paduan Suara, dan orang-orang berhamburan keluar. Mata Edhu berkeliling mencari Rei.
Sementara Rizman memperhatikan wajah Edhu.

"Eh, itu dia!" Edhu bicara pada dirinya sendiri. Dilihatnya Rei tengah menggandeng seorang wanita setengah baya.

"Rei!" Sedikit berteriak, Edhu memanggil Rei. Rei menoleh keasal suara.

"Edhu! Kau datang?" Mata Rei terlihat berbinar.

"Tentu saja. Mana mungkin tidak." Mereka lalu beranjak menjauhi keramaian, lupa pada seseorang yang telah memperhatikan semuanya. Rizman.

Rizman menghela nafas panjang. Kegetiran melanda jiwanya kembali.
Rizman tersenyum pahit. Jauh dari Cianjur dia datang hanya untuk Rei, tapi Rei sudah tak mempedulikannya lagi. Cermin matanya hanya memantulkan wajah Edhu. Ah, andai ia bisa mengulang masa lalu, takkan ia mematahkan cinta yang ia puja. Sungguh akan kupelihara. Jadi waktu, berputarlah ke masa itu ...

"Rizman!" Seseorang membuyarkan angan Rizman. NARA!!! Cih, Rizman sangat benci perempuan ini. Tanpa menunggu detik berlalu, Rizman berbalik dan menjauh meninggalkan semua pemandangan yang ia benci. Untuk apa masih disini, karna ditengah keramaian ini hati Rizman teramat sepi.

* * *

"Kau menyukainya?" Wanita setengah baya itu tersenyum pada putri kesayangannya.

"Siapa?"

"Edhu."

Rei terdiam menatap Ibunya. Mengapa ibu mananyakan hal itu?

"Dia bukan siapa-siapa Rei, dia hanya teman."

Rei memperhatikan sosok didepannya. Bagaimana Edhu dalam pandangan Ibu? Sementara wanita setengah baya itu masih serius memerikasa soal-soal dimejanya. Sesekali tangannya menggoreskan garis pada kertas, menghitung dan membubuhkan nilai.

"Menurut Rei, Edhu orang yang baik." Hati-hati Rei menyelidik wajah ibunya. Adakah perubahan pada roman mukanya. Tapi Rei tidak mendapatkan hal itu. Lurus saja, tak ada masalah. Bahkan tangannya masih tetap mengerjakan tugas yang sudah satu jam ini belum juga usai.

"Apa karena dia mengantar kita dengan mobil?"

"Bukan."

"Atau karna dia mengajak kita makan di restauran?" Rei menggeleng. Ibu menyimpan bulpoint dan berbalik menghadap Rei. Ditatapnya dalam gadis semata wayangnya. "Lalu?"

"Karena dia tak pernah menyentuh Rei."

Tak pernah menyentuh. Artinya dia menjaga anakku dengan baik.

"Rei mencintainya?" Mata Ibu menembus mata Rei dalam.

Apakah Rei mencintainya? Rei tak tahu itu. "Rei senang jika berada didekatnya."

Ibu tersenyum mengerti. "Dan Rei memikirkannya saat dia tak ada. Benarkan yang Ibu bilang?" Rei tersentak. "Itu artinya Rei mencintainya." Ibu tertawa. Rei senang, Ibu tak marah.

"Tapi Rei..." Tawa itu terhenti. Tangannya membuka kacamata lalu duduk merangkul bahu Rei. "Dia orang kaya, Orangtuanya pasti mengharapkan menantu yang istimewa. Rei mengerti maksud Ibu?"

Ibu benar, Meski Edhu mau menerima Rei apa adanya, bagaimana dengan orangtuanya? Apalagi Edhu anak tunggal, pasti semua harapan indah terbebankan pada Edhu. Ya, mengapa Rei baru sadar itu sekarang? Edhu mungkin menyukainya, tapi bagaimana dengan orangtua Edhu?

"Ibu tak melarangmua mencintai seseorang, Rei. Tapi... Ibu tak mau kau terluka. Itu saja." Rei mengangguk adan tersenyum. Harapan Ibunya tak muluk. Jika Edhu adalah harapan keluarganya yang kaya, maka dia adalah harapan satu-satunya seorang Ibu yang sederhana. Seorang guru honorer yang tak pernah diangkat meski sudah mengabdi lebih dari 20 tahun. Bertahan dan tegar agar Rei mendapatkan hidup yang lebih baik.

Ibu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sementara Rei termangu, menatap sekeliing rumah, satu-satunya peninggalan ayah. Rumah mungil yang hanya punya 4 ruangan. Satu ruang tamu merangkap ruang makan dan keluarga. Satu lagi kamar untuk tidur mereka berdua, dan lainnya dapur dan WC. Dinding berwarna pudar dan terdapat tembok yang terkelupas di beberapa bagian. Satu set sofa yang sudah tak berbusa, dengan meja yang keropos sana sini. Ubin hitamnya sudah tak mengkilap seperti Rei kecil dulu. Jangan tanya bagaimana keadaan dapur dan WC-nya.

Rei menghela nafas takjub. Rei tak mengerti bagaimana bisa Ibu menyekolahkannya ke sekolah yang bayaran sebulannya lebih besar dari gaji Ibu. Terbayang dibenak Rei, bagaimana Ibunya menutupi kekurangan itu.

Ah, Rei merasa sudah mengkhianati Ibunya. Andai waktu berulang, ia akan belajar dengan sangat sungguh-sungguh.

Seorang Ibu dengan pekerjaan ganda. Siang hari sebagai guru honorer dan malam harinya menjahit pakaian orang, pasti sangat lelah.

* * *

Senja diam menyapa, dingin menguasai udara Bogor sejak pagi tadi. Villa-villa berselimut halimun, termasuk Villa milik keluarga Edhu,
tak jauh dari Masjid at-Ta'awun.

"Dia sangat sederhana, itu yang membuatku suka." Sehembus angin bertiup, menjatuhkan helai-helai rambut, luruh di kening Edhu. Sepi. Tak ada lagi suara angin atau riak kolam di belakang mereka, apalagi suara deru mobil yang terlihat berjalan, jauh dibawah mereka. Daun pun terpatung kaku, seolah beku oleh dinginnya cuaca. Bukan, bukan cuaca alam, namun cuaca cinta yang memancar antara kedua orang ayah dan anak itu.

Edhu menggerakkan kepalanya sedikit kekanan. Mengintip wajah lelaki setengah baya yang bersidekap dada, memandang lurus kedepan, dan berdiri tak jauh darinya.

Meski tak diperlihatkan dari wajah dan bahasa tubuhnya, Edhu tahu, lelaki disampingnya ini tersentak, dan mungkin kaget luar biasa saat anak lelaki satu-satunya meminta waktunya sesaat dan bicara dari jiwa kejiwa. Jiwa seorang anak kepada ayahnya, teman kepada teman, dan jiwa seorang laki-laki pada laki-laki. Edhu tahu itu sangat mengherankan, terutama bagi dirinya sendiri. Tapi kapan lagi? Ayahnya tak punya cukup waktu untuknya.

Diri lelaki yang baru mulai dewasanya merasa asing dengan dirinya sendiri. Bicara dengan ayah? Kapan terakhir ia melakukannya? Edhu tak tahu pasti. Hanya sejak ia bisa mengingat, saat-saat yang paling dekat dengan ayah adalah saat tengah malam, saat ia terbangun dalam gelap. Dan mendekap ayah adalah satu-satunya obat mujarab untuk matanya agar bisa kembali terpejam. Ayah? Tubuh kekar ayah? Ah tidak, hanya sebuah foto kebanggaan yang selalu ia simpan dimeja belajarnya, bersama sebuah celengan kucing besar kesayangannya.

"Hhh..." Sebuah nafas berat keluar dari mulut ayah bersama gumpalan kabut. Edhu menunggu, akan seperti apakah?

"Penat sekali. berjalan-jalan dikebun tah sepertinya menyenangkan." Edhu masih menunggu. Selanjutnya apalagi?

"Mau temani?" Wajah Ayah menoleh pada Edhu. Kacamata beliau sedikit berkabut. Tapi Edhu bisa melihat keakraban dari sorot matanya. Apalagi dengan senyum segar mengembang dari bibirnya. Edhu terkesiap.

Sebuah perasaan tiba-tiba bergelora dalam dadanya. Wajah seperti itulah yang ia rindukan sejak lama. Lama sekali.

Sejak dulu Edhu tak pernah menuntut. "Sebenarnya dia mencintaimu, sangat. Hanya Ayah tak bisa mengungkapkan. Itu saja." Selalu itu yang Ibu ucapkan setiap Edhu menatap kepergian Ayahnya bersama harapan dan keinginan yang terbawa jauh seiring perputaran roda mobilnya. Jadi meski ingin, Edhu tak mau mengganggu. Ayah mencintainya. Itu sudah cukup.

Seiring brtambahnya usia, Edhu bertambah sadar. Bahwa ada beberapa tipe orang tua yang sulit berkomunikasi dengan keluarga terutama anak-anak. Dan Ayah adalah salah satunya.

Tapi akankah semua berubah sejak detik ini? Mungkinkah kerinduan akan senyuman dan keakraban itu terobati mulai hari ini?

"Mau tidak?"

Edhu tersenyum dan mengangguk. Meski ia yakin ayahnya takkan melihatnya, karena sudah mendahuluinya melangkah menuju kebun the, yang mengelilingi villa tempat Edhu sekarang berdiri.

Edhu mengikuti langkah Ayah. Melihat Ayah dari belakang, adalah sesuatu yang sering ia lakukan dulu. Edhu tersenyum sendiri. Ia ingat kala itu. Ketika umurnya menginjak lima tahun, tepat lima tahun. Saat pesta tiup lilin selesai digelar bersama teman temannya. Edhu sangat ceria dan sangat senang, semua teman dan keluarga memberinya hadiah. Untuknya! Betapa senang.

Satu persatu kado itu dibuka, penuh tawa. Satu persatu kartu ucapan dibaca. Hingga tiba saat dibukanya sebuah kado besar, berbentuk kotak, berwarna biru muda dengan motif beruang kecil, dari Ayah.

"Ayah menitipkan ini. Maaf katanya, Ayah sibuk tak bisa datang.” Mama mengecup keningnya. Meski sedih, Edhu harus mafhum. Lagipula Ayah memang biasa seperti ini. Tak pernah datang. Sekalipun. Jangankan ultah, saat pentas biola pertamanya, saat lomba berenang, saat ke
Taman Safari, atau saat hari pertamanya masuk sekolah, Ayah tak pernah ada. Jadi jika sekarang tak ada, bukankah biasa?

Sebuah mobil remote besar seukuran setengah badannya terkuak saat dus dibuka. Edhu kecil termenung. Apa Ayah lupa? Tahun kemarin Ayah sudah memberikan mobil yang sama? Bukankah ia minta sepaket buku cerita yang iklannya ia lihat di majalah Mama? Ayah berjanji mengabulkannya. Jadi, Ayah lupa. Ayah pasti lupa.

Sampai larut, malam itu Edhu tak bisa terpejam. Menunggu Ayah datang. Ia hanya ingin menayakan soal janji itu. Lupakah Ayah? Jadi saat ia mendengar mobil Ayah datang, sigap ia turun dari tempat tidur, keluar dari kamarnya dan berlari meuruni tangga.

Ayah datang dan melihatnya. "Belum tidur? Sudah larut." Ayah menghampirinya. " Selamat ulang tahun." Edhu kecil melihat Ayahnya tersenyum, sekilas. "Sekarang tidurlah!" Tangan besar ayah Mengacak rambut 'Sinyo Adi'-nya. Lalu beranjak sambil membuka dasinya.

Mama menghampiri. "Tidurlah sayang kau pasti lelah." Satu ciuman mendarat di kening Edhu, lalu Mama beranjak mengikuti Ayah.

Edhu pun melangkah, bukan kekamar, tapi mengikuti langkah Ayah ke Perpustakaan. Pintu sedikit terbuka, dan dari celah itu Edhu melihat Ayah membelakanginya, tengah mencari-cari sebuah buku.

Edhu ingin bertanya tentang kado dari Ayah. Tapi Edhu hanya melihat punggung Ayahnya dari jauh, melihat dan memperhatikannya. Lama, lama sekali.Sejak itu memperhatikan Ayah dari belakang dengan sembunyi-sembunyi adalah kesenagan yang menarik.

Sekarang Edhu mengulangi kebiasaanya dulu.

Edhu melihat sosok Ayah yang sekarang dari belakang. Rambutnya sedikit beruban, bahunya agak turun, tak setegap dahulu. Langkahnya lambat, tak secepat dan selincah dahulu.

Ketika sampai disisi kebun teh, dibawah pohon rindang, Ayah duduk diatas tanah.

"Jadi... gadis itu yang punya jadwal hari Minggu?" Edhu tersentak.
Ayahnya tahu hampir setiap minggu Edhu datang menemui Rei.

“Dulu. Sekarang sudah jarang.”

"Duduklah!" Tangan Ayah menepuk tanah disisi kirinya. Edhu menurut.

"Siapa namanya?"

"Reina."

"Cantik?"

"Kulitnya putih, alisnya hitam, bibir dan pipinya merah, bulu matanya lentik."
Ayah tersenyum. "Typemu ya? Ha...ha..." tawanya keluar. Edhu terpana. Ayah? Tertawa? Ya, Ayah memang sering tertawa bersama teman-teman kantor dan klien-klien bisnisnya. Tapi tertawa untuknya? Hampir tak pernah.

"Dulu... Ayah tertarik pada Mamamu juga karna dia cantik. Sangat cantik. Kau pernah lihat fotonya kan?" Edhu mengangguk. Mama memang cantik. Bahkan sampai usianya 40, garis-garis kecantikannya tetap terlihat.

"Kau sudah bilang padanya? Lalu dia mau?" Edhu terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. Edhu memang belum mengatakan apa-apa.

"Bodoh. Kenapa tidak bilang? Dia bisa kesal lalu menerima orang lain."

"Menurutku... lebih baik mengatakan dulu pada Ayah. Aku minta izin Ayah."

"Memangnya kalau tak Ayah izinkan, kau akan berhenti mengejarnya?"

"Saya mencintainya Ayah, jadi saya akan menikahinya."

"Lalu kenapa menunggu Ayah? Kalau kau mau, lakukan saja." Untuk kesekian kalinya Edhu terpana. Semudah inikah? Bahkan sebelum Ayah melihat Rei?

"Tanyakan padanya kapan kita bisa datang." Ayah mengangkat tubuhnya dan merentangkan tangannya. " Hhh... segar sekali!"

Masih dengan perasaan yang heran, Edhu berdiri dan kembali bicara,
"Ayah... dia miskin..."

"Lalu?"

"Dia yatim, tak punya Ayah."

"Kau juga tak punya Ibu kan?" Ayahnya melangkah.

"Ayah belum bertemu dengannya." Edhu mengikuti langkah Ayah.

"Karena itu kalian tentukan waktunya."

"Jadi Ayah izinkan?"

"Ya."

"Semudah itu?"

Ayah berhenti berjalan. "Memangnya kapan Ayah tak mengabulkan permintaanmu?" Ayah lalu berbalik , menatap Edhu.

"Maaf. Terimakasih. Tadinya kupikir... karna dia miskin..." Ayah berbalik kembali dan melanjutkan langkahnya.

"Miskin? Sebelum bertemu Mamamu Ayah juga seorang yang sangat miskin."

Edhu masih mematung. Ia masih belum percaya. Semudah inikah? Rei, Ayahku ingin melihatmu. Bersiaplah! Hatinya berbunga-bunga.

* * *

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ri
Ri at Melodi Dawai Hati (bag-5) (12 years 15 weeks ago)
90

Ditunggu lanjutannya ^^