1. Pangeran Bodoh

‘Apakah neraka kerajaanku dan para iblis penjagaku mengijinkan diriku melakukan sebuah kebaikan?’

Mereka benar. Orang dewasa selalu benar. Begitulah yang berulang kali dia dengar dari paman-pamannya. Alexander mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali dia mengingat itu. Oh ya, beberapa menit yang lalu. Mereka bilang menjauhlah dari hutan terlarang. Sayangnya dia tidak mendengarkan dan melanggarnya hingga dia tertangkap oleh pemimpin hutan terlarang. Tertangkap seperti hasil buruan tolol dan terpaksa memelas pada pertolongan orang-orang dewasa itu.

Bodoh.

Alexander terpaksa menerima sebutan itu.

Tapi pelanggaran itu bukan tanpa alasan. Alexander menyalahkan ketiga setan dewasa yang kini masih sibuk berbicara dan tertawa keras membahas makhluk-makhluk jelek di hutan terlarang. Kenapa mereka tidak pernah berhenti menganggapnya sebagai keponakan kecil mereka yang lucu? Tidak sadarkah mereka bahwa dia akan menginjak usia 17 dua minggu lagi? Usia di mana dia berhak disebut dewasa, berbicara dan bertindak atas pikiran dan keinginannya sendiri. Usia di mana dia sudah berhak sepenuhnya atas mahkota Petrel Hollow generasi berikutnya.

Jadi, salahkah dia ketika ingin membuktikan bahwa mereka salah besar. Bahwa dia sudah layak dipandang dengan kedua belah mata, tidak lagi dengan sebelah mata? Salahkah dia menguji nyali dengan berkelana di hutan terlarang sendirian?

Alexander makin melipat wajahnya.

Penguasa hutan terlarang menjadi legenda hitam yang menakutkan sepanjang jaman bagi kerajaan sihir hitam Petrel Hollow dan kerajaan sihir putih Endow Shelter. Letaknya di perbatasan sebelah timur memanjang dari utara menuju selatan. Awalnya hutan terlarang hanyalah hutan tak bertuan tempat para roh dan peri bercengkrama, terbang ke sana-kemari mengumpulkan madu dan embun untuk menghiasi helaian rambut satin Ethena, putri Endum, dewa pohon penguasa wilayah tersebut, guru dari Terrel, putra mahkota aliran sihir hitam dan Dewey, putra mahkota aliran sihir putih. Sayang, pertikaian terjadi ketika Terrel dan Dewey memperebutkan Ethena. Ethena mati tersambar kilatan serangan kedua pangeran muda yang penuh amarah itu. Endum mengamuk dan mengusir keduanya. Dia bersumpah selamanya dia tidak akan pernah memaafkan keturunan kedua pangeran tersebut. Hutan terlarang menjadi wilayah khusus yang sama menakutkan bagi dua kerajaan.

kebodohannya kali ini telah membuatnya berkesempatan bertemu dengan Endum yang sudah berusia ribuan tahu dan itu bukan sebuah pengalaman yang enak untuk diingat. Kakek penguasa hutan terlarang itu benar-benar jelek dan mengerikan. Sungguh! Pohon ek tua paling besar yang pernah dilihatnya dengan cabang-cabang ranting panjang-panjang mirip jari raksasa dan kulit kayu gelap yang keriput. Menurutnya, dia bahkan lebih jelek dari lukisan kakek buyutnya di menara kastil. Lagipula dia tidak kalah menyebalkan dengan orang-orang dewasa di istananya! Bagaimana dia biasa beranakkan Ethena, peri tercantik sepanjang legenda kerajaan sihir?

Alexander menghela nafas.

”Aku tidak suka tampangmu, Lexy,” celetuk salah satu dari ketiga paman itu. Alexander menoleh tajam.

”Jangan panggil aku Lexy!”

”Lexy! Lexy! Lexy!”

Alexander melotot marah. Pamannya yang berambut cepak itu tertawa keras.

”Dia imut!” serunya senang pada dua saudaranya yang lain.

”Tidak lucu, Sirilus!” tegur laki-laki lain yang berpembawaan lebih tenang. Rambutnya agak lebih panjang melebihi telinganya dan berwarna keemasan, benar-benar seperti seorang pangeran.

“Jangan pedulikan dia,” katanya lagi pada Alexander dengan lembut.

Alexander melengos.

Siridion memang yang paling baling baik sekaligus yang paling membuatnya kesal karena sikapnya sangat dewasa dan serba sempurna dalam segala hal. Banyak pihak menganggap dialah calon kuat pengganti raja Petrel Hollow, kakaknya, jauh lebih pantas dari dirinya. Tapi Siridion selalu berkata mahkota Petrel Hollow sudah ditakdirkan untuk Alexander.

”Jangan sedih,” Sirinus menimpali. ”Untung kami datang tepat waktu sehingga kamu selamat.”

Alexander memandang pamannya dengan sinis.

Apa katanya? Menolong? Bukannya kalian lebih sibuk menghadapi pangeran Endow Shelter itu daripada menolongku?

Alexander tidak pernah tidak memperhatikan pelajaran-pelajaran yang diperolehnya. Tapi dia tidak pernah berpikiran bahwa dunia nyata jauh lebih sulit dibanding dunia sekolah dan persaingan yang dimilikinya. Pertempuran sesuangguhnya ternyata jauh lebih menegangkan. Ketika Endum menangkapnya dia pikir hidupnya akan berakhir sampai di situ. Tragis. Dia bahkan belum sempat menjadi raja Petrel Hollow. Untung ketiga pamannya muncul. Harapannya tumbuh. Sayang kemunculan musuh bebuyutan mereka merusak adegan penyelamatan dramatis yang dia harapkan.

Kemunculan Claude Nestor, pangeran kerajaan sihir putih itu telah memecah perhatian mereka bertiga. Wajah-wajah yang menegang, sikap tubuh siaga penuh dan perang kata-kata tajam dengan cepat mengalihkan perhatian mereka darinya. Alexander hanya bisa memperhatikan ketiga pamannya berkonfrontasi dengan pangeran kerajaan sihir putih itu dengan pasrah sementara dirinya makin terbelit sulur-sulur Endum, yang bagai ular phyton, siap meremukkan tulang-tulang tubuhnya.

Tongkat Sirilus terangkat hampir bersamaan dengan tongkat Claude musuh bebuyutannya. Kilatan sinar hijau bertemu di udara seolah menjadi aba-aba bagi yang lainnya untuk menerjang maju dan mengayunkan tongkat. Duel tidak bisa dihindari. Alexander gemetar. Kedua belah pihak berkelebat kesana-kemari menghindar dan menyerang, makin lama makin cepat. Sosok-sosok mereka mulai berubah menjadi bayang-bayang sinar putih dan hitam akibat kibasan jubah-jubah mereka diantara larikan sinar-sinar terang berwarna–warni. Ledakan-ledakan kecil dan percikan bunga api terlihat di sana-sini saat kekuatan mereka saling berbenturan. Perlahan tapi pasti lingkaran pertempuran itu bergeser makin menjauh dari tempat Alexabder disandera.

Tidak. Kalian tidak pernah menolongku.

”Jangan pergi!” seru Alexander mengingatkan. Dia memanggil nama pamannya satu-persatu, namun tidak ada satupun yang kembali. Alexander menyadari suaranya yang melemah. Belitan itu makin kencang dan menyiksa. Dia mulai sesak nafas.

”To..long...”

”Kalian membuatku muak!” gelegar suara itu terdengar serak dan begitu dalam di antara gemerisik daun-daun.

Alexander merasa tubuhnya remuk sementara ketiga stupid petrel dan pangeran negeri putih sialan itu sudah tidak terlihat lagi. Sial!

”Tak akan kubiarkan kalian mengacau di wilayahku untuk yang kesekian kalinya!”

”Lepaskan dia!”

Sisa-sisa tenaganya menuntun Alexander membuka matanya dengan tersengal-sengal. Serat-serat sulur itu mulai mengiris kulitnya. Panas.

”Lepaskan temanku!”

Pemuda remaja itu berdiri di hadapannya dengan dengan wajah serius. Mata birunya melotot mengancam. Tangannya mengacungkan tangannya dengan gemetar ke arah Endum. Alexander membelalak. Dia tidak mungkin melakukan itu atau dia juga akan binasa seperti dirinya nanti. Bahkan kekuatannya tidak ada separuh dirinya yang tidak bisa apa-apa melawan Endum.

”Jangan... Oli..vier...!”

”Dia disihir Endum!”

Seruan Sirilus terdengar penuh semangat menyadarkan Alexander dari lamunannya. Sirinus tergelak puas. Alexander menoleh kesal. Siridion tampak tenang-tenang saja. Tapi dia yakin, pamannya yang sempurna itu pasti menikmati percakapan ini. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi para pangeran Petrel Hollow selain membicarakan penderitaan dan kekalahan para pangeran Endow Shelter. Alexander tidak begitu mengikuti apa yang mereka bicarakan barusan. Tapi dia tahu siapa yang mereka maksud. Mereka bicara tentang Olivier Nestor, pangeran bungsu Endow Shelter, teman aneh yang baru dikenalnya, satu-satunya yang bertahan untuk menolongnya dengan segenap jiwa raga.

”Dia itu bodoh!”

Alexander tidak berkomentar.

Alexander selalu beranggapan bahwa hutan terlarang adalah tempat gelap yang menyeramkan penuh dengan aura mistis dan keajaiban. Tapi dia tidak pernah menyangka tempat itu justru tempat yang sangat menarik dan menakjubkan. Pohon-pohonnya sangat besar dan tua. Sulur-sulur menjuntai hingga nyaris mengentuh tanah membentuk jalinan tirai-tirai alami yang indah. Akar bertonjolan di sana-sini dengan jamur dan semak bunga tempat para peri kecil dan liliput bersantai dan berbaring. Mereka semua terkejutmelihatnya. Sebagian bersembunyi takut-takut di balik semak, sebagian lagi menegakkan diri dengan waspada. Tapi Alexander tidak tertarik dengan mereka. Dia hanya ingin bertemu Endum dan menantangnya. Maka dia terus melangkah masuk hingga sebuah senandung membuatnya terhenti.

Suara itu begitu halus dan lembut, mengalun di antara angin melewati daun-daun bagaikan lagu pengantar tidur dan terapi bagi para penghuni hutan. Alexander mendapatkan dirinya tersihir oleh rasa penasaran. Ini lebih kuat dari mantra apapun dan tongkat manapun. Alexander mendapatkan kakinya sudah melangkah mendekati sumber suara itu. Peri itu tampak indah percahaya. Senyumnya membuat hatinya berhenti berdetak dan gemulai gerak-geriknya membuatnya termangu terpesona. Dia bernyanyi sambil merangkai mahkota bunga di tangannya. Liliput dan peri serta hewan-hewan kecil mengelilinginya. Tubuhnya berpendar-pendar di antara kabut dan embun. Alexander mendekat. Dia tersadar dan berdiri.

Senandungnya terhenti.

”Kau siapa?”

Peri itu tersenyum. Alexander makin mendekat. Dia melangkah mundur. Alexander melangkah maju. Detik berikutnya peri itu berbalik dengan cepat melesat pergi diikuti peri-peri kecil yang tertawa-tawa riang. Alexander terkejut bukan main. Serta-merta dia mengejar kelebat bayangan putih itu. Peri itu menghilang dengan cepat. Alexander mempercepat langkahnya. Dia terus berlari menembus hutan mengejar peri itu. Endum sudah menghilang dari pikirannya. Alexander hanya penasaran dengan peri bersuara emas itu. Terus berlari dia tidak memperhatikan langkahnya ketika tiba-tiba sesosok tubuh muncul dari semak di dekatnya.

”Aduh!”

Benturan itu keras sehingga baik Alexander maupun pemuda itu sama-sama terpental.

”Kau punya mata tidak, sih?!” maki Alexander marah.

Dia melotot. Sepasang mata biru itu juga melotot.

”Tentu saja aku punya mata! Kamu tidak bisa lihat, ya? Ini ada dua!” balas si mata biru menunjuk matanya sendiri membuat Alexander melongo.

Hah?

Alexander mendesah.

Olivier memang bodoh.

”Olivier adik Claude sialan itu kudengar pangeran dungu yang tidak bisa diandalkan. Bahkan banyak yang meragukan dia bisa berduel,” kata Sirilus.

Alexander menoleh sekilas. Sirinus duduk tidak jauh darinya sibuk membersihkan tongkat sihirnya. Sirilus berbaring santai di sofa sambil menikmati anggur langsung dari tangkainya. Siridion? Tentu saja, kini dia asyik memilih-milih buku dari lemari-dengan-buku-yang-tidak-akan-habis-dibaca milik putra mahkota.

Sirinus tertawa.

”Claude sialan itu pasti frustasi punya adik yang tidak bisa diharapkan seperti bocah dungu itu.”

”Dia benar-benar memalukan nama besar Endow Shelter,” komentas Sirilus.

”Tidak,” ujar saudaranya. ”Dia justru gambaran Endow Shelter yang sesungguhnya. Kumpulan orang dungu yang hanya bisa menari dan menyangi. Pada akhirnya hanya sihir Endum penguasa hutan terlarang yang paling pantas membungkamnya.”

Keduanya tertawa berderai-derai. Entah kenapa Alexander merasa hatinya berdesir tidak suka. Kenapa mereka berkata begitu padahal mereka belum pernah mengenal si dungu bodoh bermata biru itu? Si bodoh itulah yang justru memutuskan untuk bertahan bersamanya hingga perlawanan terakhir.

Tepukan lembut di bahunya membuatnya tersadar dan menoleh. Siridion memandangnya dengan prihatin.

”Kau kenapa, Alex?” tanyanya.

Alexander memandangnya sesaat.

”Olivier bukan orang yang tidak bisa diandalkan.”

Hening.

"Aku capek. Ingin istirahat." katanya dingin tanpa mempedulikan pandangan bertanya ketiga pamannya. "Pergilah kalian semua dari kamarku."

Sirilus bersiul pelan.

"Apa ini titah putra mahkota Petrel Hollow?"

Alexander melotot. Sirilus tergelak. Sirinus menyodok pinggangnya agar saudaranya terdiam. Siridion tersenyum lembut.

"Baiklah, Alex," katanya. "Kejadian di hutan terlarang tadi pasti membuatmu lelah fisik dan mental. istirahatlah," ujarnya seraya memberi isyarat pada dua adiknya yang lain agar meninggalkan kamar ini. Sirilus tampak keberatan namun Sirinus sudah keburu menyeretnya pergi meninggalkan kamar.

Ruangan ini mendadak menjadi begitu senyap tanpa kehadiran paman-pamannya. Tidak, lebih tepatnya tanpa celoteh Sirilus atau komentar sinis Sirinus. Tapi Alexander merasa jauh lebih lega. Ingatannya kembali pada kejadian di hutan terlarang itu. Pada peri bersuara indah, pada Endum, dan pada pangeran bodoh itu.

Olivier, kuharap kau tidak apa-apa.

bersambung.....

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yumemizue
yumemizue at 1. Pangeran Bodoh (11 years 48 weeks ago)
90

Bagus :D
Sedikit bingung~~ But I like it~~!

Writer DeMEter
DeMEter at 1. Pangeran Bodoh (12 years 33 weeks ago)

baguuss! dapat ide dari mana sih?? ;P

Writer Wonokairun
Wonokairun at 1. Pangeran Bodoh (12 years 36 weeks ago)
50

suka ceritanya, cuma nama tokohnya susah diinget :)

Writer m4rcia
m4rcia at 1. Pangeran Bodoh (12 years 43 weeks ago)
90

aku sedikit setuju sama akatsuki, agak bingung dikit sih tapi ceritanya bagus kok

lanjutannya ya...

ps: senpai kok rasanya cerita ini mbuat aku agak gimana gitu, entah kenapa rasanya kok...

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at 1. Pangeran Bodoh (12 years 43 weeks ago)

haduh, gimana yang gimana ya? Kalo komentar yang jelas aja. Nggak usah ragu. Puas bilang puas, ada yang kurang bilang aja. Jelek bilang jelek, bagus bilang bagus, kalo gini sih saya juga bingung apanya yang gimana...^^
Lagipula saya juga baru belajar nulis fantasi. bagus sukur, kurang ya berarti mesti belajar lagi....hehehehe

Writer bl09on
bl09on at 1. Pangeran Bodoh (12 years 43 weeks ago)
80

aih keren banget mba...ga salah mba hobi fan fic. Tapi pengenalan nama-nama tokoh dan benda yang keluar lgsung banyak bgt... trus layar kompi disini ga bisa dengan sempurna. Tulisanya ada huruf yang aneh kaya pas baca di Hp.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at 1. Pangeran Bodoh (12 years 43 weeks ago)

emang ada gitu anti kopasnya? Ada logonya? Coba dites dulu, apa beneran ga bisa buat kopas. Terakhir nyoba sih masih tetep bisa tuh di kopas. Kalo nggak bisa, mmm...dulu caranya daftar jadi member premium kemudian.com. Jadi bayar gitu....

Writer heinz
heinz at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
80

Hm agak bingung ama alur maju mundurnya. Tapi selalu ditunggu lanjutannya.

Writer kavellania
kavellania at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
90

sudah kuduga idemu tak pernah putus hahaha Fantasi hiks hiks
i can't :(

Writer Akatsukileader
Akatsukileader at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
90

keren!!!

tapi aku rada bingung yang pas si olivier itu mencoba menyelamatkan alexander, trus kakaknya teriak 'dia disihir
Endum"

jadi yang disihir itu si alex ya? jadi pertarungan itu tidak benar-benar ada? dan itu hanya sihir Endum? trus peri itu siapa? duh... maafkan ke bodohanku ini kakak.. mohon pencerahannya * inilah akibat orang lagi darah rendah suruh baca cerita*

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)

Cerita ini punya alur maju-mundur. Adegan pertempuran, alexander ditangkap endum dan olivier adalah flash back si Alexander. Kalimat Sirilus, "dia disihir Endum," adalah kalimat present (yg membuat alex tersadar dari lamunan). Yang dimaksud "dia" adalah Olivier. Jadi setelah mencoba menolong alex, olivier malah terkena sihir endum.
Dan perinya memang belum punya nama. Dia hanya peri hutan biasa yang menarik perhatian alexander. Kalo baca dengan teliti pasti mengerti.

Writer Akatsukileader
Akatsukileader at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)

keren!!!

tapi aku rada bingung yang pas si olivier itu mencoba menyelamatkan alexander, trus kakaknya teriak 'dia disihir
Endum"

jadi yang disihir itu si alex ya? jadi pertarungan itu tidak benar-benar ada? dan itu hanya sihir Endum? trus peri itu siapa? duh... maafkan ke bodohanku ini kakak.. mohon pencerahannya * inilah akibat orang lagi darah rendah suruh baca cerita*

Writer icchan-chan
icchan-chan at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
70

wowww .. magic
wah baru-baru, tokohnya dah pada bermunculan banyak nih.
jadi mesti ambil pensil ma kertas buat nyatet nama, biar ga lupa.

kk yosi .. perbanyak mahluk mitos nya pls wkwkwkwk
n ELF .. itu yang penting (ah luv elves) jd pengen tahu gimana cantiknya Ethena wkwkwk.

Writer angel16
angel16 at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
90

baguuuus!!! keren bgt! imajinasinya top bgt!! ditunggu kelanjutannya!!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)

Bukan karena susah nyari nama. Tapi emang males nyari nama. Besides, i love cliche ^^
Kenapa pindah genre? Mari dibalik pertanyaanya, kenapa harus selalu di genre yang sama? Besides, i'm not moving, just trying new thing. Thanks komennya ^^

Writer Chie_chan
Chie_chan at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
90

sugoiii~~~! imajinasi yg mengagumkan... ditunggu lanjutannya kak :)
(btw makasih salamnya yg disampaikan via si kina :D )

Writer akina
akina at 1. Pangeran Bodoh (12 years 44 weeks ago)
90

ahhh! cerita ini ^^ inikah cerita fantasimy yg itu? ^^ ohoho... secara penuturan, aku ckup suka krn ini berasa dongeng2 gitu ahaQ nama2nya jg bagus... pkoknya suka ^^