Kamen Rider Moon (1)

1

Namaku adalah Akira, seorang pemuda biasa yang tinggal di pinggiran Tokyo. Mulanya aku menjalani hidup yang biasa-biasa saja, orangtua yang baik-baik saja, serta pekerjaan yang normal sebagai mahasiswa. Namun kenormalan itu ternyata tidak bertahan selamanya. Kemarin malam, ketika aku sedang makan malam bersama ayah dan ibuku, tiba-tiba saja kami dikagetkan oleh sebuah suara ledakan yang amat keras. Kaca-kaca pecah, tanah berguncang, dan perabot-perabot rumah berjatuhan. Kami panik, kami mengira ada semacam serangan teroris atau gempa bumi. Lalu Ayah memberanikan diri mengecek ke luar jendela dan berteriak-teriak padaku.

“Ada apa, Ayah?” tanyaku sambil menghampirinya.

“Ada lubang!” ujarnya setengah berteriak.

Aku ikut melongok ke luar jendela tepat beberapa detik setelah guncangan berhenti. Ternyata benar seperti yang dikatakan Ayah, aku melihat sebuah lubang berdiameter kira-kira lima meter yang menganga lebar di halaman rumahku. Anjing kami, Gogo-chan, tampak hangus terkena ledakan yang entah disebabkan oleh apa. Tiba-tiba saja, sebuah tangan keluar dari dalam lubang itu, diikuti dengan sesosok kepala yang menyembul keluar. Makhluk itu bermata besar, kepalanya mirip terong dan rambutnya gimbal seperti Bob Marley, ia merangkak ke atas tanah dan menatap aku dan ayahku. Saat itu aku ketakutan bukan main, aku tidak tahu monster macam apa yang ada di halaman rumah kami.

“Buooooo!”monster itu menjerit, lalu melompat dengan sangat cepat ke arah kami.

“Akira! Menunduk!” jerit ayahku sambil memelukku dan mendorongku ke bawah.

Karena ketakutan yang amat sangat, aku memejamkan mata erat-erat. Selama beberapa detik yang kurasakan hanya gelap, lalu ada cairan hangat yang terasa menetes di dahiku. Ketika aku membuka mata, aku menyadari bahwa cairan itu adalah cipratan darah ayahku. Ayah terlentang di hadapanku dengan leher yang menganga terbuka dan darah yang menggenang di lantai, sementara monster Terong Gimbal itu berlari ke dalam rumah setelah menatapku sesaat.

“Ayah!” aku menghampiri ayahku, namun terlambat, ia telah tiada.

Dengan panik aku bergegas mencari-cari ibuku yang tadi bersembunyi di ruang makan. Namun ibuku tak ada di sana, aku pun mengecek dapur dan ruang tengah, namun tak ada juga. Kepanikanku berubah menjadi keputusasaan ketika aku masuk ke dalam kamar Ibu, aku melihatnya dengan kondisi yang hampir sama dengan ayah, ia tergeletak bersimbah darah di atas tatami. Sementara itu, monster Terong Gimbal menatapku dari sudut ruangan sampai kemudian ia menghilang di balik asap hitam.

Sekarang aku tidur di rumah pamanku, sebab selain rumahku sekarang sudah dilingkari garis polisi, aku juga merasa trauma dengan tempat itu. Ketika aku sedang asik melamun dan mencoba menenangkan diri, aku merasakan ada seseorang yang mengawasiku dari balik jendela kamar. Siapa itu? Dengan rasa takut yang menjalar, aku memberanikan diri untuk bangkit mendekati jendela. Saat itulah aku melihat kelebatan sosok bayangan hitam yang melintas di belakangku. Aku memasang kuda-kuda dan bersiap-siap kalau-kalau sosok itu adalah monster Terong Gimbal lagi. Aku mengambil vas bunga untuk memukul makhluk apapun yang kini berada di sebelah kananku, aku dapat merasakannya. Aku memutar, kuayunkan vas bunga. Stop! Aku mendesah lega, ternyata hanya seekor kucing. Seekor kucing hitam liar yang entah kenapa bisa masuk ke dalam kamar ini. Ataukah ini kucing peliharaan Paman? Ah sudahlah, aku harus mengusirnya ke luar.

“Akira…,” ucap kucing itu.

Aku kaget bukan main. Bagaimana mungkin kucing bisa bicara! Sambil memasang kuda-kuda lagi, aku menjaga jarak. Jangan-jangan ini adalah anak buah Terong Gimbal!

“Kau bisa bicara!” ujarku.

“Benar, tentu saja,” jawabnya.

“Siapa kau? Kucing macam apa yang bisa bicara?” tanyaku.

Ia mendengus pelan sambil terduduk di atas dua kaki belakangnya, “Masa kau tidak kenal? Memangnya ada lagi kucing lain yang bisa bicara selain aku?”

“Doraemon!” ucapku lantang.

“Bukan! Dia itu robot!” bantahnya kesal.

“Lalu kau ini siapa?”

“Namaku Luna, aku membawa kabar penting untukmu.”

“Kabar penting? Pada saat seperti ini? Aku baru saja dapat musibah, kau tahu?” ujarku.

“Aku tahu, orangtuamu baru saja dibunuh. Atau setidaknya dua orang yang kau anggap sebagai orangtua,” ucapnya sambil tersenyum. Aku agak bingung bagaimana kucing bisa tersenyum, tapi itulah yang kulihat.

“Apa maksudmu?”

“Mereka bukanlah orangtua genetismu!”

“Apa? Kau bercanda ya? Tunggu, jangan-jangan berita penting yang kau maksud itu adalah….”

“Betul. Aku akan memberitahumu siapa orangtua aslimu, dan itu akan merubah hidupmu selamanya….”

“Tidak! Tidak mungkin! Ja…jadi, kau adalah orangtuaku?!” ucapku gusar. Aku tidak bisa membayangkan kalau sebenarnya aku adalah anak dari seekor kucing yang bisa bicara.

“Bukan, Bodoh! Dengarkan dulu, aku belum selesai. Jadi begini ceritanya. Alkisah ada sebuah organisasi jahat bernama Gogon yang ingin menguasai dunia. Untuk mencapai tujuan itu, mereka ingin menciptakan seorang ksatria terkuat di bumi melalui kombinasi gen antara lelaki dan perempuan super di Jepang. Kau tahu siapa laki-laki dan perempuan yang dinikahkan secara paksa oleh Organisasi Gogon itu?” tanyanya.

“Hah? Aku tidak tahu!”

“Mereka adalah kedua orangtua kandungmu, Kotaro Minami dan Usagi Tsukino. Dengan kata lain, kau adalah anak dari mereka, kau adalah ksatria ciptaan Gogon, Akira! Takdirmu adalah untuk melayani mereka hingga menguasai dunia!”

Aku terpaku. Aku sungguh tak bisa mempercayai hal ini, ini mustahil, sungguh tak masuk akal!

“Bukannya Usagi menikah dengan Mamoru, Si Tuxedo Bertopeng itu?” tanyaku, mencoba membantahnya.

“Ya, memang, tetapi pada suatu malam ia diculik oleh anak buah Gogon dan dipaksa untuk berhubungan intim dengan Kotaro,” ucapnya dengan wajah sedih, “sekarang kau sudah paham kan, Akira?”

“Satu lagi pertanyaanku!”

“Apa?”

“Apakah saat ayahku, maksudku, Kotaro melakukan itu dengan Usagi, ia sedang dalam wujud Kamen Rider atau dalam wujud manusia?”

Ia menghela nafas panjang dan menggeram kesal, “Imajinasimu sunggu aneh, Akira. Tapi baiklah, …dalam wujud Kamen Rider.”

Aku merinding, jantungku seperti berhenti berdetak saat menerima kenyataan ini. Ini benar-benar mimpi buruk!

2

“Luna, lalu kenapa organisasi Gogon membunuh ayah dan ibu angkatku? Apa salah mereka?” tanyaku penasaran sambil terduduk lemas.

“Sebab pada ulang tahunmu yang ke dua puluh satu mereka berencana untuk memberitahukan jati dirimu, Akira. Gogon menyadari hal itu dan memutuskan untuk menyingkirkan mereka berdua,” jawab Luna.

Mendengar penjelasan itu, aku merasa kesal bukan main. Jantungku berdegup dengan cepat, sementara ubun-ubun kepalaku seperti mendidih. Aku tidak boleh tinggal diam, aku harus melakukan sesuatu, aku harus balas dendam!

“Aku bersumpah! Aku akan membunuh monster Terong Gimbal dan memporakporandakan Gogon! Aku akan menuntut balas! Akan kupertaruhkan nama baik kakek buyutku!” ucapku sambil mengepalkan tangan kanan di atas kepala.

“Itulah alasannya mengapa aku kesini. Aku yakin, kau pasti bisa! Selamat berjuang ya!” ucap Luna, lalu ia melompat ke jendela dan hendak pergi..

“TUNGGU!” aku berteriak. Yang benar saja, masa ia datang ke sini cuma untuk memberitahukan itu tanpa membantuku dengan apa-apa?

“Ada apa lagi?”

“Bukankah kau seharusnya memberikan aku kekuatan super atau semacamnya?” tanyaku.

“Kekuatan itu, sudah ada di dalam dirimu, Akira!” jawabnya dengan tegas.

“Be… benarkah? Tapi bagaimana cara mengeluarkannya? Ajari aku!”

“Kau benar-benar ingin aku ajari? Apa kau yakin?” tanya Luna dengan wajah serius. Entah bagaimana caranya aku bisa menyadari raut wajah kucing yang sedang serius.

“I-iya… memangnya kenapa?”

“Latihan yang akan kau jalani amat sangat berat, dan kalau kau tidak siap mental, aku khawatir kau akan kehilangan nyawamu…. Lagipula sepanjang pengalamanku tidak ada satu orang pun yang pernah melewatinya dengan selamat.”

Aku terkejut. Dalam pikiranku aku membayangkan latihan fisik yang menakutkan yang akan diberikan Luna. Sejujurnya aku sempat gentar dan berkeringat dingin membayangkan semua itu, namun aku meyakinkan diri bahwa ini adalah takdir yang harus aku jalani. Aku harus melakukan ini, tak peduli seberat apapun, seterjal apapun jalan yang kuhadapi, demi membalas dendam dan membasmi kejahatan!

“Aku sanggup!” jawabku mantap.

Luna mengangguk dan tersenyum padaku. Malam itu juga, aku mulai menjalani latihan yang diberikan Luna. Sebenarnya aku mengira Luna akan menyuruh aku mendaki gunung, menimba air, atau melawan singa, namun ternyata dugaanku salah. Luna memberikan aku setumpuk DVD dan menyuruhku menonton semuanya.

“Cara untuk mengendalikan kekuatanmu ada di dalam film-film itu!” ujar Luna.

Dengan semangat, aku menyalakan DVD player dan menekan tombol play. Namun dalam sekejap tubuhku mendadak lemas dan perutku terasa mual melihat adegan yang ditayangkan di film itu. Ternyata, semua DVD itu berisi kumpulan film-film porno khusus gay yang amat bervariasi, mulai dari film barat seperti Brokeback Mountain X, sampai anime-anime yaoi dan hentai.

“Apa-apaan ini?! Aku lelaki normal!” dengan kemarahan yang luar biasa, aku mencekik leher Luna.

“Tunggu dulu! Jangan salah paham! Biar aku jelaskan!” ucap Luna sambil mencakar-cakar tanganku.

“Cepat jelaskan! Atau aku akan membunuhmu!” ancamku sambil melepaskan lehernya.

“Ehm… ehm…,” Luna tebatuk-batuk dan berusaha bernafas dengan normal lagi, “Jadi begini ceritanya…, sewaktu Gogon mengkombinasikan Usagi dan Kotaro, mereka melakukan suatu kesalahan. Seharusnya ritual mereka hanya menggabungkan kekuatan super dari kedua orang tersebut, namun di luar dugaan, ternyata sifat feminin dan maskulin dari kedua orang itu ikut terbawa dan tercampur, lalu membungkus kekuatan super yang tersembunyi di dalam dirimu. Oleh karena itu, agar kau bisa mengeluarkan kekuatan supermu, pertama-tama kau harus memadukan sifat feminin dan maskulin di dalam dirimu terlebih dahulu, dengan kata lain….”

“Dengan kata lain… aku harus jadi MAHO?!”

“Hmmm…. Aku lebih suka menyebutnya…. Androgini…. Ekkkk!” belum sempat Luna menyelesaikan ucapannya, aku langsung mencekik lehernya lagi sampai ia hampir mati.

Dengan tekanan yang luar biasa, akhirnya aku melanjutkan ‘latihan’ yang amat berat itu. Benar kata Luna, latihan ini memang dapat melenyapkan nyawaku kalau saja aku tidak kuat mental. Selama tiga hari tiga malam aku menonton film homo dan transeksual secara non-stop, lalu pada hari ke-empat Luna mengajariku memakai make-up seperti lipstik, eye shadow, dan juga menyuruhku membiasakan diri memakai high-heels. Butuh ketekunan dan kesungguhan yang luar biasa untuk melewati semua itu, namun aku tidak gentar, aku harus melakukannya demi umat manusia di bumi ini! Pada hari ketujuh, Luna menganggapku sudah siap untuk mengeluarkan kekuatan super yang tersembunyi. Ia menyuruhku untuk berdiri di tengah lapangan, sementara ia mengawasiku dari jauh.

“Sekaranglah saatnya! Pusatkan konsentrasimu, dan gunakan tongkat ajaib yang kuberikan padamu!” teriak Luna dari kejauhan.

Aku menatap tongkat pendek berwarna pink yang ada di tangan kananku, lalu mengeggamnya sekuat tenaga. Sekarang adalah waktunya aku menjadi manusia yang baru, manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Aku membayangkan kedua orangtua kandungku, Kotaro dan Usagi, bagaimana mereka telah berjasa banyak bagi negeri dan dunia ini, bagaimana mereka telah mengorbankan diri mereka dan masa muda mereka untuk melawan monster-monster jelek yang tidak pernah ada habisnya di tiap episode, bagaimana mereka telah melindungi orang-orang yang mereka cintai dan kasihi. Oh…, aku merasakan kehangatan itu, kekuatan yang muncul dari cinta dan keberanian. Tiba-tiba keajaiban terjadi, kekuatan muncul di diri. Demi melawan semua kejahatan, kekuatanku harus digunakan, menegakkan segala kebenaran. Ini keajaiban alam! Aku mempercayainya! Ini keajaiban alaam!

Cahaya merah muda dan hitam keluar dari tongkat itu, menari-nari dan memancar ke segala arah, menyilaukan mata siapa saja yang memandangnya. Cahaya itu terasa hangat dan lembut, menyelimuti seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tiba-tiba saja seluruh pakaian yang aku kenakan melebur menjadi satu dengan cahaya itu, membuat aku telanjang tanpa sehelai benang pun, namun Luna sudah melatihku untuk tidak merasa malu dengan perubahan wujud yang agak vulgar ini, karena ini adalah warisan dari ibuku. Cahaya itu kemudian bergetar dengan hebat dan merasuk ke dalam kulitku, membuat tubuhku tiba-tiba saja terasa tebal dan kuat, membuatku merasa memiliki tenaga seratus kali lipat lebih besar dari biasanya. Cahaya yang menempel di kepalaku kemudian berubah menjadi semacam helm bermata besar, sementara yang menempel di tubuhku berubah menjadi baju pelindung, pita, rok mini, dan sepatu hak tinggi. Energi ajaib meluap-luap dari seluruh tubuhku, sekarang aku merasa bisa melakukan apa saja! Bangunlah kstaria! Bangun berdiri! Dengan bantuan sinar, lindungi bumi! Aku merasa benar-benar telah terlahir kembali sebab aku yang sekarang adalah….

“Rider Moon! Dengan kekuatan bulan akan menghukummu!” ucapku dengan suara lantang dan berpose sekeren mungkin.

Samar-samar aku dapat mendengar suara tawa Luna di kejauhan. Tawa yang terpingkal-pingkal.

3

Sore itu, ketika senja mulai tampak, aku menyaksikan sebuah berita mengerikan di televisi. Seorang anak SD ditawan oleh monster berbentuk terong gimbal, ia dibawa ke atas gedung dan terdapat ancaman bahwa anak itu akan dilempar dari ketinggian tiga puluh lantai. Polisi sudah mengepung tempat itu, bahkan helikopter pasukan khusus pun sudah berseliweran di atas gedung, namun mereka belum berani mengambil tindakan apapun karena khawatir dengan keselamatan sang anak. Anehnya, ketika ditanya apa tebusan yang diinginkan si monster, ia selalu menyebut-nyebut namaku: “Akira, datanglah ke sini! Atau anak ini akan kujatuhkan!”

“Akira! Sudah tidak ada waktu lagi! Kita harus segera menyelamatkan anak itu!” ujar Luna berteriak-teriak.

“Tapi bagaimana mungkin? Letak gedung itu sangat jauh dari sini! Mana sempat?” ucapku dengan panik.

“Jangan khawatir, kau bisa menunggangi aku!” ucap Luna dengan percaya diri dan memasang kuda-kuda—maksudku kucing-kucing.

Aku tertawa terpingkal-pingkal. Yang benar saja, masa aku menunggangi kucing? Apa kata Kamen Rider yang lain kalau sampai mereka tahu? Namun tawa geliku itu segera kuhentikan ketika aku melihat seberkas cahaya yang terpancar dari tubuh Luna. Cahaya itu sangat terang, dan dalam seketika telah menggerakkan tubuh Luna dalam gerakan yang tidak lazim, seperti gerakan patah-patah hantu perempuan di film Ju On. Lalu bagaikan Transformer, Luna kemudian membesar dan tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi sebuah sepeda motor berwarna hitam yang sangat keren.

“Battlescracther!” ucap Luna yang telah berubah menjadi sepeda motor.

“Wah Luna! Keren sekali!” ucapku terkagum-kagum.

“Cepat hensin dan kemudian naik! Kita tak punya waktu luang!”

“Baiklah!”

Dengan gerakan yang sigap dan tanpa ragu aku pun melakukan henshin, yang detil perubahannya bisa dibaca di bab sebelumnya (terlalu panjang kalau ditulis lagi). Aku segera mengendarai Luna, maksudku Battlescratcher, membelah keramaian kota dan mengebut di jalan raya, bagaikan raja jalanan, tak ada yang bisa melebihi kecepatan sepeda motorku. Aku melaju terus ke arah barat, ke arah matahari terbenam sambil bersenandung sendu. Untungnya, Battlescracther ini dilengkapi dengan misil depan dan machine gun belakang, sehingga setiap polisi yang berusaha mengejar dan menilangku bisa aku lumpuhkan. Biar mereka tahu rasa, polisi-polisi tak berguna itu. Dulu mereka selalu menilang aku, tapi sekarang sekalipun mereka memohon minta maaf sekalipun, tetap tak akan aku ampuni. Memangnya mereka pikir, kalau minta maaf saja sudah cukup, untuk apa ada Kamen Rider?

Gedung TKP sudah berada tepat di hadapanku sekarang. Aku dapat melihat ratusan polisi dan wartawan yang ramai mengelilingi gedung itu dari luar, kepala mereka semua menengadah ke atas, ke arah anak SD yang sedang disandra monster. Aku menambah kecepatan dan melaju lurus ke arah gedung.

“Luna! Mode vertikal!” ucapku memberi perintah.

“Vertical mode: on!” ucap Luna, dengan suara yang kerobot-robotan. Aku juga tidak mengerti mengapa ia harus bersuara kerobot-robotan yang aneh seperti itu, mungkin dia pikir itu keren.

Dalam sekejap, ban Battlescratcher mengeluarkan cakar-cakar yang sangat tajam, dan dengan menggunakan cakar-cakar itu aku pun bisa mengendarai Battlescratcher secara vertikal, naik ke atas gedung. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa, rasanya seperti naik roller coaster. Orang-orang dan polisi yang berada di sekitar tempat kejadian menatapku dengan kagum, mereka berteriak-teriak histeris melihat pahlawan baru mereka telah muncul. Setelah sampai di atap gedung, aku pun segera melompat dari motor dan bersalto melewati Terong Gimbal yang sedang menyandra anak SD.

“Kau! Siapa kau?” ucap Terong Gimbal.

Hehe. Itulah pertanyaan yang aku tunggu-tunggu. Rupanya ia belum mengenali wujud Rider Moon-ku. Aku segera berpose dengan pose se-maho mungkin, ini adalah ritual yang harus aku lakukan demi memberikan tekanan psikologis pada musuh-musuhku.

“Ada gula ada semut, ada udang di balik batu, dimana ada kejahatan, disitu ada pembela kebenaran. Anak matahari! Rider Moon! Dengan kekuatan bulan akan menghukummu!”

Terong Gimbal itu terdiam, ia tak bergerak atau mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa menit. Hehehe. Sepertinya ia sudah termakan serangan psikologis yang aku lancarkan tadi. Sekarang ia pasti sedang syok dan gemetar ketakutan. Sementara itu si anak SD malah menangis. Sepertinya ia menangis karena terharu menyaksikan kepiawanku. Sekaranglah saatnya aku menyerang!

“Tunggu! Kalau kau maju selangkah saja, akan kubunuh anak ini!” gertak si monster.

“Ha-ha-ha! Aku tidak peduli! Bunuh saja anak i… awww!” aku menoleh ke bawah, Luna menggigit betisku. Apa-apaan dia!

“Jangan bicara sembarangan, Bodoh! Kau harus menyelamatkan anak itu!” ucapnya sambil berbisik.

“Aku tahu! Tadi itu kan cuma tipuan saja! Kau tahu, aturan kebalikan? Kalau kita bilang jangan, maka dia akan melakukannya, kalau kita bilang lakukan saja, ia pasti tidak akan tega!” kilahku sambil berbisik juga.

“Bukan saatnya bertaruh seperti itu! Kau ini Kamen Rider!”

“Woy! Jangan bertengkar berdua saja! Aku monsternya!” ujar Terong Gimbal kesal.

“Baiklah, mari kita selesaikan!” ucapku lantang sambil memasang kuda-kuda.

Bukannya bertahan, Si Terong Gimbal malah membuka tas si anak SD dan mengeluarkan sebuah buku tulis dari dalamnya.

“Waaa! Jangan! Itu buku PR- ku!” ucap si Anak SD sambil berusaha berontak.

Namun Terong Gimbal tidak peduli, ia malah melemparkan buku itu ke lantai, sehingga terbuka halaman tengahnya yang memperlihatkan soal-soal matematika. Ia lalu mengeluarkan sebuah sinar merah dari kedua matanya ke arah halaman yang terbuka itu, membuat buku itu bersinar merah juga. Lalu angka-angka pada soal matematika yang ada di buku itu tiba-tiba saja bergetar hebat. Akhirnya dari buku itu keluar ribuan angka nol dan satu, dan dua dan tiga dan empat dan seterusnya, yang berputar-putar dan membentuk sesosok tubuh. Sosok itu semakin lama semakin jelas terlihat, menampakkan tubuhnya yang kekar dan memiliki tanduk yang mencuat seperti kumbang.

“Code Monster nomor 085659082669! Rehab!” ucap sosok itu lantang.

Jadi namanya Rehab? Benar-benar mengerikan, sepertinya ia baru saja keluar dari panti Rehab-ilitasi. Aku harus berhati-hati melawannya, sebab aku tidak tahu kekuatan seperti apa yang dimilikinya. Dengan secepat kilat Rehab mendekat ke arahku dan meninju perutku, namun aku masih bisa menahannya dengan kedua telapak tangan. Ia memusatkan seluruh tenaganya dan berusaha mendorongku, namun aku juga tidak kalah kuat dengannya. Selama beberapa detik adu kekuatan itu terjadi, namun aku tahu aku lebih hebat darinya. Dengan gerakan yang gesit aku segera mencium pipinya, sebuah serangan maut “Lunar Kiss!”. Rehab tak kuasa menahan serangan itu, ia langsung terpental ke belakang sejauh beberapa meter ke pinggiran atap gedung. Aku tersenyum padanya sambil bersiap melanjutkan pertarungan, sebab aku tahu ia masih belum kalah. Rehab bangkit dengan kemarahan yang meluap-luap, hal itu dapat terlihat dari warna tubuhnya yang semula biru berubah menjadi biru tua.

“Kurang ajar! Dasar banci gila bertopeng! Rasakan seranganku ini!” ujarnya sambil menekan sebuah tombol di tangan kananya.

“Melee Mode: Homework Chain. Active,” ucap sebuah suara kerobot-robotan dari tangan kanannya. Lalu seketika itu juga dari tangan kanannya itu terbentuk sebuah rantai amat panjang yang terdiri dari ribuan angka nol dan satu, dan dua dan tiga dan empat dan seterusnya.

“Majulah kalau berani!” ucapku menantangnya.

“Matilah kau Rider Maho!” ia berteriak.

Rantai di tanggannya itu kemudian bergerak dengan sangat cepat ke arahku, ia memecutku dengan tenaga yang amat besar sehingga membuatku terpental jauh ke belakang. Di luar dugaan, aku tak sanggup menangkis serangannya.

“Kyaaaa……..!” aku berteriak. Oh, sebuah teriakan yang amat *kawaii*.

Untung saja Luna menahanku dari belakang, kalau tidak mungkin aku sudah terjatuh ke bawah dari atas gedung tiga puluh lantai ini. Meski demikian, tetap saja badanku lecet-lecet, bahkan rok mini yang kukenakan di luar kostum Rider ini sampai sobek dan memperlihatkan pahaku yang kokoh, hitam, dan mengkilap seperti besi. Nafasku terengah-engah dan lampu kecil di dadaku berkelap-kelip, berbunyi “ting tung ting tung!” menandakan waktuku sudah hampir habis. Yang terakhir itu cuma bercanda.

“Luna! Bagaimana ini! Dia punya senjata sekuat itu, bagaimana mungkin aku bisa mengalahkannya?” ujarku resah gelisah mendesah-desah.

“Kalau begitu, kau juga harus menggunakan senjata!”ucap Luna.

Kemudian Luna melakukan gerakan patah-patah itu lagi, kali ini tubuhnya tidak berubah menjadi besar, melainkan berubah memanjang dan pada akhirnya menjadi sebuah peluncur roket raksasa yang berwarna hitam mengkilap.

“Rock-Cat Launcher!” ucap Luna dengan suara kerobot-robotan.

Keren! Ternyata Luna tidak hanya bisa berubah menjadi sepeda motor, tapi juga bisa berubah menjadi senjata! Semoga saja dia juga bisa berubah menjadi tiang jemuran dan penyedot debu! Tanpa basa-basi lagi, aku segera membidikkan senjata baruku itu ke arah Rehab. Ia tampak kebingungan dan bersiap-siap menghindari tembakanku. Hahaha, dia tidak akan bisa menghindari senjata mahadahsyat ini, ia pasti akan hancur berkeping-keping! Terimalah ini, Monster Bodoh!

“Rock-Cat Launcer: FIRE!”

Sebuah roket besar meluncur dengan kecepatan tinggi dari senjata yang kupanggul ini, menimbulkan suara desingan dan gemuruh yang memekakkan telinga. Sungguh dahsyat! Namun sayangnya roket itu meluncur terlalu tinggi, jauh di atas kepala Rehab. Jantungku berhenti berdetak. Sial. Bidikanku meleset! Roket itu meluncur terus dan akhirnya mengenai helikopter polisi yang sedang mengintai sejak tadi. Helikopter itu meledak dengan ledakan yang sangat dahsyat, aku dapat melihat pilotnya yang terbakar hidup-hidup sedang meregang nyawa, berteriak mederita. Helikopter yang sudah terbakar itu pun kemudian jatuh ke bawah, jatuh hingga ke tanah, menghantam ratusan polisi dan wartawan yang sedang mengepung gedung ini… dan membunuh mereka semua dalam sekejap.

“Ups!”

To Be Continued....

-----

Note: Kalau mau tau soal Code Monster, tanya pada member yg bernama Ndyw. :p

Photobucket

Photobucket

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vladitor954
vladitor954 at Kamen Rider Moon (1) (7 years 38 weeks ago)
100

Seru

Writer kena9a
kena9a at Kamen Rider Moon (1) (11 years 31 weeks ago)
80

Hwahahaha!! Keren + jayuzz ceritanya.. Tapi penghayatan parodinya agak berkurang krn beberapa adegan sadis+tragis. Btw ttep dnanti kelanjutanx.. Salam kenal :)

Writer bfauzi76
bfauzi76 at Kamen Rider Moon (1) (11 years 51 weeks ago)
50

wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw
jAdi TEu hAyng Seuri LAla UNAn EunG,...???
LAnjUt kAng

Writer littlemiaw_7984
littlemiaw_7984 at Kamen Rider Moon (1) (11 years 52 weeks ago)
100

Perfect!!! Wakakakakak

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Kamen Rider Moon (1) (12 years 5 weeks ago)
100

jiahahahaha!

Writer dirgita
dirgita at Kamen Rider Moon (1) (12 years 5 weeks ago)
80

Ya, ampun....
Tadi melirik nama monsternya. Lalu, aku kaget. Itu nomer telepon? Nomornya siapa?^^

Writer orchid
orchid at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
100

haha...
vai..vai...

sumprit jayus abis..
hahaha...

tadinya ngebayangin, kayak gimana jadinya si kamen rider, eh ternyata di bawah udah ada visualisasinya..

wakakak..terhibur aku, suer,,...

Writer rey_khazama
rey_khazama at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
90

:))
ngakak oe, vai. Lucuuuuuuu!!!
segerrrrrr
no comment deh. :))

Writer olief
olief at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
100

vaiii.. cerita pertama yang kubaca setelah kcom sembuh, lucu banget! ditunggu kelanjutannya!!
-btw, tuh kenapa yang ditulis hanya Broukbeck Mountain aja i?kenapa anime yaoi nya ga ditulis sekalian judulnya?kurang referensi?aku kasih tahu gimana i? hahaha :P-

hoo di kaskus udah ending to?

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)

iya, saya nggak punya referensi. Maklum, bukan bidangnya. hehe. di kaskus juga belum, sama kaya ini.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
90

halo kakak yg jatuh dari langit~~~ :) :)
sperti biasa chie terpingkal membaca postinganmu =))
ditunggu postingan berikutnya ah

Writer rizqi
rizqi at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)

hoo link kaskusnya apa, ngintip dong :D

Writer cla
cla at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
80

lah.. sam feat. mas someonefromthesky are kamen rider's fans :p

Writer d757439
d757439 at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
100

Seru

Writer samsth7
samsth7 at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
70

lah.. jadi yang di kaskus itu mas toh...
haha, salam tokusatsu..

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)

Ssst! Jgn bilang2. Hehe. Btw id km di kaskus apa?

Writer samsth7
samsth7 at Kamen Rider Moon (1) (12 years 3 weeks ago)

svr_samsth7 tapi saya jarang ngepost gan.. haha, jadi masih kaskuser

Writer ndyw
ndyw at Kamen Rider Moon (1) (12 years 6 weeks ago)
90

hoooo
langsung ke part terakhir yang di kaskus ya???
btw komennya tetep sama kayak yg di sana koq :D