Detak Terakhir (Bagian 3)

Namun, waktu memang tidak bisa dihentikan. Setelah tergelincir di ufuk barat, mentari kembali datang keesokan pagi. Sesuai daftar yang ditulis oleh Sira, pagi ini ia akan menikmati masa terakhirnya bersekolah, sekaligus berpamitan pada beberapa guru yang selama ini ikut ambil bagian menjaga kesehatan Sira, terutama Pak Tanveer dan Kepala Sekolah. Tidak ada teman di kelas yang tahu akan hal ini. Sira sengaja tidak memberi tahu, karena tidak ingin suasana kelas di hari terakhirnya bersekolah diisi suasana berduka. Jadi, ia lebih memutuskan untuk mentraktir teman-temannya memborong makanan dan minuman di kantin.

Apa yang dipikirkan oleh Sira? Ia tersenyum. Ia seakan berpesta untuk kematiannya sendiri.

“Jika aku melihat teman-teman senang, aku merasa bahagia. Sepertinya, aku telah membuat sesuatu yang berguna bagi mereka,” tiba-tiba saja Sira berbisik di antara keriuhan kantin. Seketika itu, dugaanku buyar. Sira tidak berpesta, ini bukan siasatnya untuk mengusir rasa was-was karena akan mendekati kematian. Tapi ia ingin merasa berguna di antara teman-temannya, dan untuk meninggalkan kesan bahagia di antara yang lain.

“Tapi, aku tidak melihat Stela di sini.”

Aku menoleh. Sira sepertinya sangat kecewa, karena orang yang selalu mengolok-oloknya itu tidak menampakkan batang hidung. Mengingat apa yang selama ini gadis sombong itu lakukan, dapat dimaklumi ia tidak akan muncul.

Lama tidak mendengar suara Sira, aku menoleh. Kulihat Sira memegang dadanya.

“Kita kembali ke kelas saja,” usulku.

Cepat-cepat, Sira menaikkan tangannya kembali ke meja. “Tidak. Aku mau menghabiskan baksoku dulu. Ini terakhir kali aku makan bakso.”

***

Saat itu, sudah pukul satu siang. Tiga jam lagi semua jarum di arloji kalung Sira menunjuk angka nol. Bertepatan pulang sekolah, dadanya kembali terasa nyeri. Seketika itu, ia jatuh pingsan.

Rencana untuk beristirahat di rumah akhirnya batal. Kami kembali ke rumah sakit. Kamar VVIP menunggu. Dokter Gita langsung mempersiapkannya begitu aku menelepon.

Cukup lama Sira tidak sadarkan diri. Hingga tiga puluh menit sebelum pukul empat sore, yang kuduga akan sebagai batas akhir tarikan napasnya, kedua kelopak mata Sira masih terkatup. Aku mulai cemas.

Dokter Gita juga belum kembali, setelah sebelumnya berpesan padaku untuk menjaga Sira sebentar. “Ada beberapa keperluan yang harus kuurus,” ujarnya kira-kira setengah jam lalu. Hingga keluar dari kamar perawatan, ia tidak cemas akan keadaan Sira yang sekarang. Wajahnya tidak digurati khawatir atau sedih. Apa karena ia seorang dokter?

***

Sira akhirnya terbangun. Ia menyapaku dengan suaranya yang masih gemetar, dan langsung meraih bandul kalung yang melingkar di lehernya. Bandul tersebut membuka. Beberapa detik ia perhatikan, lalu kembali ditutup.

Ia menghela. “Hah..... Dua puluh menit lagi.”

“Apanya?” selaku.

“Waktuku yang tersisa.”

“Enak, ya, bisa tahu kapan kau meninggal,” sambutku tiba-tiba. Sudah sejak kemarin kalimat itu muncul di kepalaku, tapi sore ini tiba-tiba keluar tanpa bisa ditahan.

Sira tersenyum dengan bibirnya yang pucat. “Aku justru khawatir. Katanya, manusia hanya bisa merencanakan. Dan rencananya, aku akan mati tepat pukul empat sore ini. Sementara itu, Tuhan yang mampu membuat semuanya terjadi. Dan mungkin saja, lebih cepat dari itu atau... semoga saja lebih lama.” Ia tertawa kecil sendiri. Mungkin, merasa geli dengan kalimatnya yang terakhir.

“Tapi, karena masih ada waktu sedikit...,” lanjutnya. “Terima kasih telah menemaniku sampai sekarang.”

Aku hanya mampu tersenyum getir. “Kau sahabatku, Sira. Aku takkan membiarkanmu sendiri.”

“Sebagai sahabat, apa kau mau menerima permintaan terakhirku?”

Begitu saja, aku membalas, “Permintaan apa?”

“Relakan aku.”

“Apa...?” aku tergagap.

“Matamu mengatakan bahwa kau tidak siap. Dan itu membuatku tidak tenang. Aku ingin mendengar bahwa kau merelakanku.”

“Apa itu harus?”

“Dengan mendengarnya, aku mungkin bisa pergi dengan tenang.”

Padahal, hanya sebaris kalimat. Mengapa berat sekali? Aku hanya dapat tertunduk dan Dokter Gita telah kembali ke kamar ini. Ada dua perawat bersamanya.

“Waktunya tinggal sebentar lagi. Fir, kamu bisa keluar sebentar.”

“Apa aku tidak bisa menemani Sira sampai...?”

Dokter Gita menggeleng. “Itu hanya akan menyakiti Sira.”

Cepat, aku menatap mata Sira. Mata itu sepertinya mengharapkan aku untuk segera menjawab. “Firi...,” pintanya. Serta-merta, kupeluk tubuhnya untuk terakhir kali. Tangisku meledak saat tahu tubuh Sira tidak sehangat dulu. Tangannya bergerak pelan balas merangkul.

“Aku perlu jawabanmu...!” Sira terisak.

“Aku..., aku....” Rangkulanku semakin kencang. “Aku merelakanmu!” Dan rangkulan itu kulepas. Secepatnya aku berlari keluar kamar dan menangis sejadinya.

Pintu kamar ditutup. Entah berapa lama. Aku masih menangis ketika Dokter Gita keluar dari kamar. Ia mendekatiku dan berbisik.

“Terima kasih telah menjadi sahabat Sira.”

**TAMAT**

Read previous post:  
52
points
(1153 words) posted by dirgita 10 years 50 weeks ago
74.2857
Tags: Cerita | drama
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer 261184
261184 at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 12 weeks ago)

"GOOD JOB"

Writer tammie_heinzendorf
tammie_heinzendorf at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 25 weeks ago)
70

top dh

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 27 weeks ago)
90

ceritanya (keseluruhan dr 1-3) bagussssss.....
tapi aku gak liat kegunaan Ivana sebagai adik Jessica. maksudnya Ivana tidak jadi adik Jessica jg gak pengaruh.
segitu aja deh..
sorry kalo sotoy.
salam ^^

Writer dirgita
dirgita at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 27 weeks ago)

Ivana sebenarnya punya peran penting juga di dalam cerpen ini. Tapi karena nge-blank, tiba-tiba saja khilaf. Ivana saya tinggalkan begitu saja.
Maaf, ya, Ivana...~.~

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 27 weeks ago)

akakakaa..
jahat banget kamu git.......

Writer herjuno
herjuno at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 36 weeks ago)
80

Dari yang kedua, atmosfernya udah jadi gloomy, dan terus berlanjut sampai sini. Feel-nya kerasa. Ending-nya sengaja dibuat tdk selesai, ya? Bisa juga, sih. Ekspektansi orang kan biasanya si Sira akan meninggal, tapi kamu membuatnya menjadi "tidak diketahui." (Apa di dalam kamar RS dia masih hidup atau sudah wafat?) Oke, makasih dan salam kenal.

Writer DeMEter
DeMEter at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 40 weeks ago)

blom baca dari awal sihh.. tapi entar ku baca ah!

Writer Yugata
Yugata at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 41 weeks ago)
100

Overall, dari awal sampai akhir keseluruhan cerita ini aku suka banget. Great story!
Tapi, kok aku merasa seperti ada yang nggantung di ending-nya ya!? Hmm...

Writer panah hujan
panah hujan at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)
80

Sial. Kalimatmu, Pap... "Itu hanya akan menyakiti Sira." kupikir juga adalah jawaban mengapa mamaku engga menungguku datang hari itu. :)
Huhuhu. Dan iya, aku juga ingin bilang ke Sira, enak betul dia bisa tahu kapan saat kematiannya. Dan kau tahu? Aku seperti berpikir ulang tentang makna kehidupan setelah membaca kalimat yang diucapkan Sira. Manusia memang bisa merencanakan, tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Lalu entah kenapa aku justru jadi mikirin tentang jiwa, organ tubuh artifisial, tubuh yang sudah rongsokan, dan Tuhan.
Gimana, ya, jadinya kalau semua bagian tubuh manusia kelak bisa diproduksi massal? Dan engga ada yang mati karena kerusakan tubuh. Kalau kupikir-pikir penyakit tua juga disebabkan oleh lemahnya kerja organ tubuh. Jadi kalau semua kelemahan/kerusakan itu bisa diantisipasi, apakah manusia akan hidup abadi? Ah, parah parah parah. Ini cerita bersambung yang dashyat. Bisa mengungkit-ungkit mindset seseorang tentang dirinya lagi. (Apa aku yang terlalu berlebihan membayangkannya?)

Thumbs up. Beautiful story, as always.

Writer dirgita
dirgita at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 41 weeks ago)

Aduh... aduh.... Dirimu.
Cobalah untuk mampir forum Kners.com dan curahkan apa yang kau tulis di sini. Cerpenku ini tengah dihabisi dalam sidang di sana^^

Writer panah hujan
panah hujan at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 41 weeks ago)

Bukannya aku tak tahu karyamu ini sedang dibantai di sana. Tapi kau tahulah, melihat hubungan ayah-putri antara kita, aku takut aku juga bakal turut disidang di sana.
X_X
Hahahahaha. *jitak diri sendiri*

Writer panah hujan
panah hujan at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 41 weeks ago)

Kenapa setiap komen di tempatmu aku selalu dobel post, yah? Uh, what a shame.

Writer Penguin
Penguin at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)
80

rada aneh endingnya yah... tapi tetep bagus!

Writer Chie_chan
Chie_chan at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)
80

kak... ini beneran tamat?? koq rasanya chie gak sreg ya? hiks TT_TT

Writer dirgita
dirgita at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)

Aku memang benar-benar merasa gagal untuk endingnya~.~

Writer Chie_chan
Chie_chan at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)

coba diremake aja... :D

Writer Shinichi
Shinichi at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)
50

Mungkin ini lebih ke sisi psikologis aja, Gita...

Lihat lebih jauh komentar saia disini

http://www.kners.com/showpost.php?p=4273

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)
80

Komentar saya di forum kners aja ya...

http://www.kners.com/showthread.php?p=4251

Writer alcyon
alcyon at Detak Terakhir (Bagian 3) (10 years 42 weeks ago)
90

Berat nih kata2nya...