Menunggu

Mereka bilang memandang orang berlalu lalang itu mengasyikan. Mencoba menebak-nebak apa yang ada di pikiran mereka atau di balik ekspresi wajah bergegas, gundah, sedih atau ceria seru katanya. Memperkirakan apa dan bagaimana latar belakang para manusia dari pakaian, perhiasan, gaya atau barang yang dibawa jadi tidak kalah asyik dengan bermain tebak-tebakan. Kurang kerjaan? Mungkin. Rese mencampuri urusan orang lain? Bisa jadi. Tapi bukankah itu yang membuat hidup jadi menyenangkan? Ikut campur dan sok peduli sudah menjadi hal yang manusiawi dalam masyarakat ini. Tidak tahu kalau si A begini atau si B begitu dianggap hal yang aneh. Anda kemana saja? Kok bisa ketinggalan berita?

Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi saya. Saya tidak suka memandangi mereka, mencoba menelanjangi bagaimana kehidupan mereka yang sebetulnya. Tidak senang. Sama tidak senangnya seperti bila mereka mencoba memperhatikan saya, mengamati, mencari tahu, mengorek rahasia dengan asumsi-asumsi pribadi yang subjektif. Kurang kerjaan? Tepat. Rese mencampuri urusan orang lain? Benar sekali. Masyarakat memang aneh, suka sekali mengusik urusan orang lain, sementara urusan sendiri tidak diusik.

Apalagi, bila terpaksa harus memperhatikan orang sekitar hanya karena kurang kerjaan menunggu seseorang datang. Maka saya rasa tidak ada alasan untuk tidak memaki dan mengutuk yang akan datang sekarang. Ya, saya kesal dengan yang akan datang. Sudah lima belas menit dari yang dijanjikan mengapa tidak kelihatan. Lebih menjengkelkan lagi, komunikasi yang sudah secanggih jaman ini tidak bisa digunakan untuk menghubungi sekedar memberi alasan maupun dihubungi sekedar mencari alasan. Hape mati. Sial. Atau mungkin memang sengaja membuat saya tidak tenang? Kurang ajar!

Sudah saya bilang saya tidak suka menunggu. Saya katakan jelas sekali waktu itu, pada percakapan kami telepon kami saat itu. Bahkan awalnya saya katakan teleponnya mengganggu. Saya sedang ada tamu, klien penting nomor satu. Dia tidak mau tahu. Lalu saya bilang saya juga tidak berminat bertemu. Tapi dia tetap memaksa untuk bertemu. Adu argumentasi sempat memakan waktu, membuat sekertaris saya mendekat malu-malu.

“Pak, jadi meetingnya? Sudah ditunggu,” katanya.

Saya tidak punya pilihan selain mengiyakan. Mengiyakan keduanya. Mangiyakan sekertaris saya yang bertanggungjawab dengan tugasnya, mengiyakan penelepon gila yang tidak akan berhenti menghubungi hingga saya menyetujuinya. Setengah hati, tidak rela dan terganggu saya akhiri pembicaraan.

“Baiklah, besok Sabtu, jam satu siang di tempat itu, seperti maumu!”

Saya tidak peduli pandangan ingin tahu dari sekertaris saya saat itu. Saya tahu apa yang dia ingin tahu. Siapa penelepon itu? Ada urusan apa dengan bosku? Mau tahu seperti apa orang itu. Jangan-jangan pacar baru. Tipikal orang awam pada umumnya yang suka ingin tahu urusan orang. Jadi saya putuskan untuk berlalu tanpa memandang sekertaris saya kembali.

Maka di sinilah saya. Sekarang. Menunggu. 15 menit berlalu, bahkan sekarang hampir menjadi tujuh belas dan dia yang ditunggu belum datang juga. Membuat janji sendiri, terlambat sendiri. Dia pikir dia siapa? Tuan putri? Bahkan urusan bisnis pun saya tidak suka menunggu. Bahkan dengan keluargapun saya benci menunggu. Dengan kekasih….. oh, saya lupa bilang kalau saya tidak punya satu.

Jadi, siapa dia membuat saya menunggu begini?!

bersambung......
_________________________________________________________

Author note :
Dibuat tanpa editing. Latihan nulis cepat, mohon komentarnya. Karakter "si aku" ini laki-laki. Apa nuansanya sudah cukup laki-laki? Atau masih perempuan? Lalu pilihan katanya? Membosankan kah? Mohon masukan... Sedang mencoba menulis lagi.
*TT_TT kolom author notenya kemana sehh????"

Read previous post:  
Read next post:  
Writer lfour
lfour at Menunggu (11 years 18 weeks ago)
60

mmm...
saya pun merasa tokoh tersebut perempuan...
hingga sampai disebut kata sekretarisnya
saya baru merasa ini adalah laki-laki..

but keep writting..

Writer neko-man
neko-man at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
90

kalau menurut saya sih masih kerasa ceweknya. Menurut pengalaman seorang cowok yang di suruh menunggu lama seperti itu biasanya komennya lebih sinis, lebih logika,cok macho dan sok filosofis. pengalaman sih.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

wah.. gitu ya.. makasih..makasih.. sudah diberi pencerahan ^^ *hugs*

Writer angel16
angel16 at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
100

Baguuuuuuuus!!!!! Akhirnyaaaaa lanjutan setelah sekian lamaa... juga setelah patah hati karena terus mendapat jawaban 'tidak' dari senpai soal lanjtannya *menyembah2* arigatouuuu >//////<

Writer Penguin
Penguin at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
100

si aku nya nggak laki banget, kak... kk pasti cewek yah :? tapi yang penting usaha!

kalo mau lebih bagus sebelum nulis yang berikutnya kk sering2lah ngobrol dengan berbagai jenis laki2.

Writer panah hujan
panah hujan at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

Gyahahahahahahahahahahhahahahahahahaha. xD
saran terhebat!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

iya sih.. tapi hasilnya jadi nemu laki-laki yang melow juga...lha gimana itu? Standar apa yang harus dipakai XDD Saya punya temen laki-laki yang lebih melow dari saya ^^

Writer panah hujan
panah hujan at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

Hindari semua laki-laki mellow kalo masih dalam proyek menulis 'lelaki maskulin'. xDDD

Writer panah hujan
panah hujan at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
80

Yes, Miss. Aku masih merasa tokoh utamanya perempuan dan baru sadar kalau nuansanya agak laki-laki sewaktu dia ditanyai tentang kepastian meeting. :D
Hm, mungkin kalau ingin menulis dengan cepat, agar idenya banyak mengalir, kau bisa coba melirik-lirik gambar-gambar bagus. Warna-warna yang cerah dan mungkin tentang daerah-daerah yang kau sukai akan menarik imajinasimu. :)
Coba keliling deviantart dan masukkan keyword hal-hal yang selama ini menarik perhatianmu. Dan lalu keliling-keliling Wikipedia dan blog orang-orang berkepribadian menarik... Uh, biasanya itu, sih, yang akan aku lakukan kalau aku benar-benar ingin 'kembali' menulis :)
Good luck, My Sista.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

kalo ga pengen berarti ga dilakuin ya, Sis? XDDDD.... yup, thanks masukannya, bisa dicoba. Devian art emang keren-keren banget isinya *gigit-gigit saputangan karena gemas*

Writer panah hujan
panah hujan at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

Iya, aku baru sadar ternyata menulis satu cerpen untuk satu hari itu sama susahnya seperti menghafal satu biji buku Grammar. HAHAHA. Kelihatannya saja mudah, tapi... ga fokus. Tapi kalo ada niat, sebenernya bisa aja, sih. *mengingat lagi ada orang yang bisa menguasai 180 bahasa di usia 18 tahun*
Haha. Semangat, Sis!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

hueee.. itu sih prodigy..tensai... genius...cerdas. Tapi kalau sudah menguasai satu bahasa asing, belajar bahasa lain memang cenderung menjadi lebih mudah sih. nggak perlu sampai 180. Bisa lima bahasa aja udah bisa bikin melongo orang XDDD

Writer panah hujan
panah hujan at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

Ah, gimana itu, ya... cassle tensai... tapi fokusnya ke Kimia dan Piano. xDDD

Writer me_everywhere
me_everywhere at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
80

Wah, iya, mbak. Setuju sama yang lain. Kurang manly. Susah-susah gampang sih ya bikin karakter cowok dari POV orang pertama.
Menunggu kelanjutannya, mudah-mudahan bisa lebih 'macho'. hehe.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

iya..memang susah TT_TT. harus berusaha lebih keras.

Writer Onik
Onik at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
80

hehehe, awalnya aku juga ngira klo si aku nya itu cewek... ^^
aku jg lemah klo bikin versi cowok, makanya aku coba bikin cerbung "Salahkah Bila..." yang dilihat dari beberapa sudut pandang... sekaligus latihan :)
.
aku menunggu kritikanmu di cerbungku, yos... thx
.
lanjutan ceritamu ditunggu... ga pake lama ya? ^^

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

iya, mbak..mari berusaha bersama. saya coba buat ga pake lama.

Writer akina
akina at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
80

melow-nya itu msi berasa perempuan senpai :D
ngomong2... ini cerita serial baru? pembawaannya selalu menjadi daya tarik ketika aku membaca tulisan senpai,, manis :D

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

melow...T_T. iya sih..kesannya jadi cowok banci , ya... XDDD Thanks dah baca dan mampir, sis ^^

Writer ophelia
ophelia at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

hoho.. saya menunggu (lanjutannya)

mbak, bosnya itu kompromis ya?

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

mungkin. Nulisnya nggak mikir plot dan karakter sih. Pokoke nyoba jadi cowok aja... hahaha. ya nanti nyoba bikin lanjutannya lagi.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Menunggu (12 years 5 weeks ago)
90

ummm... sejujurnya, chie belum bisa menebak si "aku" itu laki-laki ataw perempuan hingga akhirnya si sekretaris bilang "pak." hahaha~ ataw emang chie aja yg baka ya?? xDDD
eniwei, ditunggu sambungannya senpai... ^^

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

anggap aja emang nggak bisa menunjukan kalo itu laki, chie (selalu mencoba mengambil kemungkinan terburuk saja..^^)
Yup, thanks dah baca dan komen. muah..muah..

Writer Ive
Ive at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

Sbenarnya aku jg sering ksusahn klo hrs menulis dr sdt pandang lk2. So, in komenku sbg pembc aj y? ( tkut dbilang sok tau...) Di awl bc ak msh blm mrs klo it lk2. Tp pas sekretarisny ngomong br ktauan. O ya, aku prnh brpikir dg menemptkn smcm kata2 makian akan membr efek manly pd tulisnku. Tp sllu jg tdk bgtu kena. (punya saran?)

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Menunggu (12 years 5 weeks ago)

huehehehe..kok malah nanya balik, to? *manggut-manggut* Berarti masih belum manly. Bener banget, cross gender memang susah. Tengkyuh buwat komennya ya.. ^^