Malam Itu, Hari Ini

#1

Adi tidak pernah benar-benar menyukai lagu ini, lagu yang kini mengalun cukup keras dari speaker mobilnya. Menyerang gendang telinga, juga memenuhi kepalanya yang semakin terasa mengawang-awang akhir-akhir ini.

Oh I can’t close my eyes and make it go away
How long, how long must we sing this song

Adi mengerang. Bagaimanapun, ia sudah nyaris hafal semua baris liriknya. Sudah puluhan kali sejak kemarin lagu ini diputar di dalam mobilnya. Merambat terus menerus di dalam interior kendaraan beroda empat itu hingga ia nyaris muak, namun tak dapat ia hentikan. Tak mau ia hentikan.

Remaja laki-laki itu mengutuki dirinya sendiri selagi mobilnya bergerak memasuki jalan bebas hambatan. Lagu ini terus mengingatkannya pada hari-hari di mana ia dan dia masih sering berkendara bersama. Duduk berdampingan di kursi depan—ia mengemudi sementara dia mengomentari jalanan atau terkulai mengantuk, melaju ke tempat-tempat yang sudah ratusan kali mereka kunjungi.

Tidak, tidak ada satu pun dari mereka yang menggemari lagu ini. Sementara Adi lebih memilih suara unik Jamie Cullum yang khas, dia lebih suka menghabiskan waktu berlama-lama mendengarkan boybands dan Taylor Swift. Mereka hampir tidak pernah sepaham soal selera, meski terkadang Adi curi-curi kesempatan mendengarkan Westlife dan Boyz II Men saat dia tidak ada. Tetapi mereka pasti sepakat bahwa lagu ini, Sunday Bloody Sunday by Colin Munroe, entah kenapa selalu diputar oleh stasiun radio setiap kali mereka berkendara bersama dulu. Memaksa mereka ikut bersenandung pelan mengikuti irama. Juga seolah memaksa mereka menghafal liriknya.

Dan sebulan yang lalu, memaksa Adi membeli album musisi asal Kanada ini hanya untuk didengarkan berulang-ulang sampai ia bosan. Sampai ia ingin mengeluarkan cakram itu dari player di dasbor dan melemparkannya keluar jendela sekarang juga.

Sayangnya, ia tidak sanggup. Ia hanya bisa menyerah, membayangkan dia duduk di kursi sebelah. Tertawa, menempelkan tangan di kaca jendela, sementara suara Colin Munroe menjadi musik latar tak resminya.

Sunday bloody Sunday…
Sunday boody Sunday…

Di luar, mobil-mobil lain susul menyusul melewati Adi dan Swift kesayangannya. Namun ia hanya bisa sekuat mungkin menahan rasa aneh yang seakan ingin meledakkan dadanya.

Ia teringat kata-kata dia semalam sebelumnya, kalimat demi kalimat dengan nada gembira yang terpancar natural saat gadis itu menghubunginya tiba-tiba lewat ponsel.

Di, tau nggak? Gue nggak jadi ke Jerman, lho!!

Adi terpaku. Butuh waktu lama baginya untuk bisa benar-benar menguraikan makna kalimat itu dalam otaknya.

Gue bilang ke bokap gue belom siap. Aneh, sih, emang. Tadinya kan gue yang pengen banget. Tapi yah…akhirnya gue malah yang ngerasa nggak siap, Di,dia melanjutkan.

Adi kehilangan nafas perlahan.

Gue mutusin buat nerusin kuliah di Indo aja. Biar gue masih bisa ketemu Josef. Ketemu lo juga!” Nada itu benar-benar ceria sekarang. “Di? Kok lo diem aja?? Ngomong, kek! Seneng, dong, gue jadinya masih bisa bareng lo! Temen macem apa lo?

Andai saja dia tahu, saat dia tertawa dan merasa bahagia, laki-laki itu, Adi, mulai menitikkan setetes air mata. Perasannya tiba-tiba luluh lantak.

Ini lebih dari patah hati.

Malam itu, Adi tidak tidur semalaman.

Hari ini, ia mengemudi dengan mata sembab tak karuan, menyanyikan Sunday Bloody Sunday tanpa suara di dalam ruang-ruang hatinya yang masih tersisa.

#2

Jika perpisahan adalah sebuah takdir yang tak bisa dihindari, maka Asta harusnya sekarang benar-benar mengerti bahwa perpisahan tidak akan bisa dia elakkan—seberapapun kerasnya dia mencoba. Dan dia mulai membenci semua orang yang mengatakan bahwa nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, karena kini kenyataan jelas-jelas tidak mengizinkannya mengubah jalan hidupnya.

Asta memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dan melupakan semuanya. Tetapi bahkan ketika saat ini dia sama sekali tidak ingin bicara, kekasihnya, Josef, yang tengah mengemudi sambil mengunyah potongan cokelat, memaksanya menyahut dengan mata tertutup.

“Jadi kita makan di mana? Kebun Kami?” Josef menyebutkan salah satu kafe langganan mereka berdua.

“Terserah kamu. Di mana ajalah…” sahut Asta tanpa perlu repot-repot menoleh.

Josef tak berani bicara lagi setelah itu. Jika Asta sudah berkata ‘terserah’, berarti dia sama sekali tidak ingin diganggu. Dan lagi-lagi Josef harus bersikap selayaknya kekasih yang baik dengan bungkam sama sekali.

Sementara itu, selagi Asta mencoba untuk terlelap, wangi citrus yang menyengat mulai menggelitik indra penciumannya. Harus berapa kalikah dia mengingatkan Josef bahwa dia benci wangi citrus?

Susah payah Asta menahan emosinya yang tiba-tiba bergejolak di ulu hati. Sungguh, dia rindu wangi itu. Wangi jasmine yang lembut. Wangi yang selalu dihirupnya setiap kali dia dan ia bersama dan membuatnya merasa nyaman.

Diam-diam, Asta memaki dirinya sendiri dalam hati. Bisa-bisanya hal sepele semacam aroma parfum mobil membuatnya mellow tak karuan seperti ini.

Lalu sekali lagi, isi pikirannya mulai berlari-lari tanpa henti. Memunculkan sisa-sisa percakapan kemarin malam dengan ia yang membuatnya hancur sedikit demi sedikit. Seolah memantul-mantulkan kata-kata yang langsung membuat bibirnya seakan mati rasa ketika didengar.

Gue dapet beasiswa, Ta…” ia berkata pelan. “Ke Jepang.

Asta nyaris menjatuhkan ponselnya saat itu juga. Entah apa yang membuatnya dapat bertahan mendengarkan suara itu hingga selesai.

Ia tertawa sebentar. “Gue memang sengaja nggak bilang-bilang sama lo karena gue nggak yakin bakal lolos. Tadi sore, gue baru dapet beritanya. Gue bakal berangkat ke Jepang, Ta.

Tahun ini.

Rasanya nyaris mustahil ketika Asta memaksakan sebuah tawa. Hanya agar terdengar ikut bahagia.

Sayang banget, ya, kita tetep nggak bakal bareng…

Setelah percakapan itu usai, Asta melamun semalaman. Mencoba bersedih, namun mati rasalah yang malah menyerangnya.

Malam itu, Asta tak meneteskan air mata sedikitpun.

Hari ini, dia menangis tanpa henti.

Josef terkejut bukan main ketika mendapati kekasihnya tiba-tiba kebanjiran airmata. Panik, sang kekasih mencoba menenangkan gadis itu. Tetapi Asta menggelengkan kepala berkali-kali. Dia sudah meledak dan tak yakin dapat berhenti dalam waktu singkat.

Dia hanya dapat menatap nanar dengan pandangan digenangi cairan ke luar jendela, mengabaikan kekasihnya, dan berdoa semoga percakapan kemarin hanyalah mimpi.

-end-

Note : Terakhir soal Adi dan Asta. Terpaksa diakhiri, tapi harus. Hahaha.

Read previous post:  
63
points
(1453 words) posted by me_everywhere 12 years 33 weeks ago
78.75
Tags: Cerita
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Malam Itu, Hari Ini (11 years 30 weeks ago)
100

:D suka adi dan asta.. yaaa.. sayangnya udah selesai

Writer thasayua
thasayua at Malam Itu, Hari Ini (11 years 50 weeks ago)
80

huaa .
speechless .
aq baca dari awal n crtanya bagus . padahal temanya biasa, tapi ..
humh
ko ending nya gantung gni ni .

Writer chia
chia at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)
90

yah koq udahan adi sama astanya?

Writer me_everywhere
me_everywhere at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

Iya. Makanya ditulis, 'terpaksa' harus diakhiri. Hahaha.
Makasih sudah mampir. :)

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)
90

Oh.. ke Jepang lagi? *jedotin kepala ke tembok* Saya mau bikin yang berangkat ke Rusia saja deh...

Bagus, Sis.. mengalun indah seperti biasa. Adi-nya melow ya..

Writer me_everywhere
me_everywhere at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

Haha. Ini juga gara2 ada temen saya yang kuliah di Jepang dan ngasih tau kalo temennya banyak yang berangkat hasil beasiswa.
Adi memang dari dulu mellow. Hohoho.

Writer Ive
Ive at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

Aku jd mikir, apakah karakter cowok tdk boleh melow? Coz, klo ak nulis dg pov 1 karakter cowok mmg kerasa melow-nya.

Writer me_everywhere
me_everywhere at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

Kalo saya sih emang karena semua cerita mellow, jadi tokohnya jdi ikut mellow juga... Menurut saya boleh2 aja, asal sesuai sama cerita dan karakter si tokoh.

Writer Ive
Ive at Malam Itu, Hari Ini (11 years 48 weeks ago)

Yes! Ada pendukung nih! Bikin cerita mellow dg karakter cowok mellow ah... ( nggak taunya memang nggak bisa bikin karakter yang manly. He... )

Writer Chie_chan
Chie_chan at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)
80

belum baca part sebelumnya. tp chie jd tertarik setelah baca ini. hahaha~ xDDD

Writer me_everywhere
me_everywhere at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

makasih sudah mampir. hehe. :)
Bisa dilihat yang part sebelumnya, walaupun bagian-bagiannya sebenernya bisa dinikmati sendiri-sendiri kok.

Writer Ghost_Writer
Ghost_Writer at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)
90

...bagus...sipppp...

Writer Ive
Ive at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)
80

Krn klamaan, ak jd lupa cerita Adi dan Asta sbelumnya. Bukan bermaksud ikut2an Prince, tp ak jg suka fragment.

Writer me_everywhere
me_everywhere at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

Makasih sudah mampir. Iya, emang kelamaan sih updatenya. Kalo lupa bisa dicek post sebelumnya. :)

Writer prince-adi
prince-adi at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)
70

kalo mau huruf miring, ketik begini
kata-kata

Writer prince-adi
prince-adi at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

1. Aku suka fragmentasi
2. Kamu agak kehilangan keseimbangan ketika mulai dialog
3. Namun itu kata penghubung antarkalimat, bukan intrakalimat

Writer me_everywhere
me_everywhere at Malam Itu, Hari Ini (11 years 51 weeks ago)

Terima kasih untuk info nomor 3 dan cara bikin italicnya. ^^