Yang Saya Cintai

Cafe ini bagus. Baru saya sadari dia punya selera yang tinggi. Saya jadi tertawa sendiri dalam hati kenapa harus merasa peduli? Selera kampungan, selera orang awam atau selera tinggi, bukan urusan saya, tidak mau tahu, biarkan saja.

Memangnya sudah berapa lama saya kenal dia? Oh, baru tiga minggu kalau tidak salah. Dua minggu dengan frekuensi pertemuan sekali seminggu dan frekuensi telepon dan sms darinya hampir setiap hari dimana 95% tidak pernah ditanggapi karena tidak penting, tidak ingin dan tidak mau pusing. Satu hal yang membuat saya heran, dia tidak pernah menyerah walau hanya berbekal 5 % kesempatan. Orang yang tangguh. Salut.

Apa barusan saya terdengar sedang memuji? Kalau iya, tolong lupakan.

"Tuan, mau pesan minuman lagi?"

Sapaan itu membuat saya tersadar sudah berapa lama saya duduk sendiri di sudut cafe ini sambil memperhatikan kesibukan dan kepadatan lalu lintas akhir pekan di luar jendela. Kopi dalam cangkir di hadapan saya sudah tandas. Koran hari ini sudah terlipat rapi, selesai saya baca hanya dalam beberapa menit. Saya tidak suka edisi akhir pekan. Media mendadak seperti ikut bersantai seperti orang-orang. Artikel seni, pariwisata, gaya hidup dan budaya menggusur porsi berita ekonomi, politik dan teknologi. Katanya ini demi keseimbangan tema rubrik. Baiklah, tapi saya tidak tertarik.

Sejenak saya menyesali diri mengapa tidak bawa laptop tadi. Setidaknya bisa dipakai untuk mengisi waktu saat menunggu begini. Masalahnya saya memang sengaja. Dia tidak suka laptop saya. Katanya itu membuatnya merasa sedang berbicara dengan tembok batu. Dia marah. Saya minta maaf dan berjanji tidak akan mengeluarkan laptop saya saat berbicara dengannya. Mengapa saya langsung berjanji, saya pun tidak mengerti.

"Tuan..-"

Saya memandang wajahnya yang tetap tersenyum ramah. Saya tahu, itu adalah aturan dari atasannya. Bersikap ramah pada para pelanggan adalah kewajiban. Saya juga tahu sinar matanya mulai tidak sabar. Saya juga berpikiran sama. Saya mulai tidak sabar. Tidak sabar menunggu. Jadi saya merogoh saku.

"Saya minta bon saja..-"

"Es teh manis satu, dan sebentar lagi kami akan pesan makan siang, terima kasih. Tolong jangan lama-lama, ya?"

Gerakan saya terhenti. Bukan suara si pelayan yang menjawab saya, melainkan suara melodius yang saya tahu siapa. Saya dan pelayan itu sama-sama menoleh, sama-sama terkejut dengan makna yang berbeda saat melihat kemunculannya. Sesosok tubuh tinggi dan ramping dengan riasan seperti foto model dan pakaian yang mencolok, jaket bulu, rok denim pendek, sepatu boot berhak tinggi dan tas tangan yang trendi. Saya yakin betul pelayan itu terpesona karena detik berikutnya pelayan itu tersenyum ramah dan menjawab dengan sangat sopan.

"Tentu. Silakan."

Pelayan itu menoleh pada saya menunggu jawaban. Saya menggeleng cepat. Tidak akan pesan lagi. Tidak mau makan. Mual. Ada pemandangan horor di depan saya. Orang yang saya tunggu itu duduk di hadapan saya. Dengan anggun dan elegan seperti biasa. Pelayan yang tahu diri itu pamit berlalu.

Dia tersenyum, mungkin manis, tapi terlihat seperti seringai iblis di mata saya. Sebelah tangan bertumpu di meja menyangga dagu. Wajah halusnya tertutup make up dengan rapi dan pantas. Matanya biru. Dia pakai lensa mata. Rambutnya cokelat indah, ikal besar-besar tergerai di bahunya. Saya tahu, rambut palsu. Parfum lembut menguar dari tubuhnya. Mahal. Saya sering mencium bau itu di sejumlah pesta bersama para klien. Parfum perempuan. Wood dan Musk. Lembut tapi maskulin. Rupanya masih sadar kodrat sedikit.

Duduk manis, menyilangkan kaki, harusnya jadi lebih sulit karena rok pendek berbahan jeans yang dipakainya, dia memandang saya. Saya memalingkan perhatian, enggan melihat. Ujurng sepatu boot tinggi itu mengetuk-ngetuk kaki meja dengan bunyi lembut yang teratur. Siang-siang begini, dengan jaket bulu putih berpotongan feminim, pose duduk begitu dan dandanan glamour seperti itu, masuk café eksklusif macam ini, dia benar-benar mencari perhatian. Saya memergoki seorang pengunjung mencuri pandang ke arahnya, atau lebih tepat ke kakinya. Baru saya sadari kulit paha yang pucat halus itu memang lebih terekspos dari biasanya, mengintip malu-malu diantara bahan jeans dan ujung stocking sepatu.

“Bagaimana penampilan saya?” tanyanya.

“Kamu gila!” balas saya. Dia tertawa kecil.

“Itu bukan jawaban.”

“Gila!”

Tidak tahu lagi harus berkomentar apa. Dia tertawa lagi. Kali ini menurunkan bahunya, tidak lagi tegak seperti foto model, dengan rileks bersandar pada kursi. Kaki masih menyilang feminim. Apa tidak sakit duduk seperti itu?

“Ah, bilang saja suka,” tukasnya santai. “Semua orang juga beranggapan begitu.”

“Siapa?”

“Pelayan itu, tamu yang melihat kaki saya, orang di jalan yang menatap panggul saya. Banyak,” katanya ringan.

Saya tidak menyahut. Dilihat sepintas memang tidak ada yang aneh dengannya, kecuali dandanan yang terlalu glamour untuk acara weekend di siang hari. Tubuhnya memang tidak berlekuk sempurna. Tapi lekukan jahitan jaket dan rok denimnya membuat sebuah kamuflase bentuk ideal di sana. Make up yang sempurna semakin mengaburkan gambaran wajah aslinya. Andai saja mereka mau melihat dengan lebih teliti ke dadanya, tidak ada yang menonjol di sana, atau naik sedikit ke leher, ada tonjolan kecil tidak lazim di situ.

“Tapi kamu sama seperti saya!” tukas saya dengan seuara rendah.

Tawanya meledak, seolah puas keisengannya akhirnya terbongkar. Bahunya terguncang-guncang mencoba menahan sebisanya.

Tidak lucu!

“Mau coba? Seru, lho,” katanya. “Pakai baju perempuan menyenangkan. Apalagi kalau bisa mempengaruhi orang,” ujarnya sambil memandang saya penuh arti. Saya tahu maksudnya. Saya juga pernah terpengaruh. Saya juga pernah jatuh cinta. Pernah, tapi sekarang tidak.

Pelayan yang tadi datang kembali membuat dia menegakkan bahu. Memasang senyum manis dan mengangguk sopan. Menunjuk beberapa menu untuk makan siang tanpa meminta persetujuan dan memesan dua-dua untuk setiap item. Akting yang bagus sebagai seorang istri atau kekasih.

Maaf, tadi saya bilang dia apa? Tolong lupakan.

“Orang mudah sekali terpengaruh. Dengan simbol-simbol sederhana saja sudah langsung berasumsi. Bodoh,” katanya setelah pelayan itu berlalu. “Detail kecil jadi tidak terlihat. Padahal itu kuncinya. Kamu hebat masih bisa melihat.”

“Hanya orang bodoh yang tertipu dua kali.”

“Wah, benar. Kamu dulu juga terpengaruh, ya. Tidak jadi hebat kalau begitu,” katanya santai

“Kenapa berpakaian seperti itu?”

“Apa tidak boleh?”

Saya tertegun sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Apa tidak boleh? Boleh apa tidak?

“Perempuan boleh pakai celana, pakai kaos, pakai kemeja, kenapa saya tidak boleh pakai rok mini, pakai sepatu tinggi, pakai lipstik?”

“Itu tidak lazim.”

“Kenapa mereka dianggap lazim?” Saya tidak bisa menjawab. Dia berpikir sejenak. “Atau akui saja, orang-orang seperti kamu tidak mau disamakan dengan perempuan. Takut turun derajat, tidak layak. Kasihan para perempuan. Kasihan saya.”

“Kamu bukan perempuan.”

“Saya ingin pakai baju perempuan. Kedudukannya jadi jauh lebih nista, ya?”

Saya menghela nafas. Berdebat dengannya entah kenapa selalu membuat sakit kepala. Jalan pikirnya tidak pernah bisa diterima akal biasa. Sekarang dia meraih tas kulitnya. Tas perempuan yang trendi. Nama dan logo merk terkenal terpampang di situ. Tangannya membuka resletingd an mencari-cari sesuatu.

"Saya ingin merokok, boleh?”

“Tidak.”

Dia mengurungkan niat lalu beralih pada segelas es the manis di hadapannya. Menghirup sedikit-sedikit. Hebat. Noda lipstiknya tidak tertinggal di situ. Berkelas seperti biasa. Bahkan memilih lipstik pun dia mengerti caranya.

“Kenapa ingin bertemu denganku?” Tanya saya akhirnya. Malas berdebat topik-topik aneh bersamanya. Sudah cukup dengan kenyataan dia muncul dengan dandangan aneh di depan saya.

“Saya kangen.”

“Aku tidak.”

“Tapi kamu datang.”

Saya tidak menjawab. Saya juga tidak tahu kenapa saya merasa harus datang. Mungkin hanya karena saya sudah berjanji untuk datang. Saya hanya khawatir dia akan menunggu. Yang pasti saya tidak mungkin jatuh rindu pada orang yang sama dengan saya. Seorang pemuda, berpakaian perempuan.

Dia menghela nafas.

“Padahal saya kira pakaian ini bisa membuat segalanya lebih mudah,” gumamnya.

Saya memandangnya tidak mengerti.

“Akan lebih aneh kalau saya bilang kangen pakai baju lelaki.”

Saya memijat pelipis. Capek menghadapinya. Sedikit merasa menyesal karena telah datang memenuhi ajakannya.

“Kamu tahu aku bukan laki-laki seperti itu,” kata saya merasa diingatkan pada sebuah topik yang pernah kami bahas di pertemuan sebelumnya. Topik yang membuat saya malas menanggapinya lagi, tapi tidak membuat saya jera untuk bertemu denganya lagi. Mungkin saya sudah coba, hanya kali ini tidak bisa.

“Seperti apa?” tanyanya.

“Seperti kamu.”

“Saya tahu, makanya saya berpakaian begini.”

“Katanya kamu hanya merasa ingin berpakaian begitu.”

“Itu juga.”

Tidak ada percakapan lagi di antara kami. Dia diam. Saya juga. Pelayan tadi datang kembali. Kali ini dengan menu pesanan kami. Maksudnya, pesanan dia. Saya hanya memandangi menu-menu itu terhidang di meja. Dia juga memandangi menu-menu itu terhidang di meja. Percakapan barusan mengusik saya. Saya tidak tahu apa itu mengusiknya juga.

“Kamu dulu suka saya,” gumamnya. Susah menebak nada bicaranya. Datar saja. Sama seperti ekspresinya. Justru saya yang merasa berdebar, kembali diingatkan dengan pertemuan pertama. Saat saya melihatnya di panggung, ketika saya meledak bersamanya. Benar, saya pernah suka. Pernah, tapi sekarang tidak. Sepertinya sih begitu.

“Kalau saya benar-benar perempuan, kamu masih tetap suka?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak tahu.”

“Dasar manusia. Mudah berubah pikiran hanya karena kenyataan yang tidak sesuai angan-angan.”

“Kamu juga manusia. Manusia edan.”

“Biar saja. Memang jaman sudah edan, kok. Saya hanya berpartisipasi. Katanya tiga tahun lagi kiamat? Benar? Sudah lebih tekun beribadah sekarang?”

“Omong kosong.”

Dia tertawa lagi. Menyibakkan rambut (palsunya) dengan adegan luwes seperti perempuan lainnya.

“Banyak yang percaya,” katanya. “Tidak ada salahnya persiapan. Kamu kan masih bisa ke surga. Kalau seperti saya, sudah jelas katanya pasti masuk neraka, ya kan?” sambungnya santai. “Tapi saya akan tetap suka kamu.”

Saya hendak menjawab. Tapi tangan kurus dan terawat itu sudah memberi isyarat. Diam, katanya, tidak usah berkata.

“Saya lapar. Makan saja dulu, ya?”

Saya memandanginya menikmati hidangannya. Gerakannya terjaga, tidak mencurigakan. Dilihat sepintas tidak akan ada yang menyangka orang bertubuh tinggi ramping berpakaian mencolok seperti artis ini ternyata seorang pemuda. Seperti saya yang dulu juga sempat terperdaya. Saya jadi memikirkan kata-katanya.

Saya memang tidak jatuh rindu padanya, tapi saya jatuh rindu pada seseorang.

Saya memang malas menanggapinya tapi saya ingin bertemu dengan seseorang.

Apakah saya akan tetap suka bila dia tidak sama seperti saya?

Mungkin ya, karena bila dia tidak sama dengan saya, maka dia adalah seseorang, yaitu

Tara saya yang hilang

________________________________________________________

Tentang Tara baca di sini

Read previous post:  
76
points
(534 words) posted by yosi_hsn 12 years 5 weeks ago
76
Tags: Cerita | drama | fast writing | yosi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer noe_peace
noe_peace at Yang Saya Cintai (10 years 13 weeks ago)
40

keren....

Writer ard
ard at Yang Saya Cintai (10 years 39 weeks ago)
90

Suka, suka sekaliiii :D
ada sesuatu yang bittersweet, heart-breaking di sini. Dialog-dialog yang singkat dan tajam, deskripsi perasaan sang protagonis yang terpapar dengan baik meski tidak terlalu menjadi intorvert (yang cukup banyak terjadi terutama buat penulis amatir kaya saya, hehe :p)
enggak tau harus komen apa lagi, saya sukaa~~
tapi endingnya, entah kenapa saya sedikit mengerut dahi pas membacanya, terkesan agak sedikit off aja. Soalnya tiba-tiba tersebut nama di sini. Emm, atau jangan-jangan ini ada lanjutannya ya kak? :o
however, nice job, kereeeen XD

Writer Arii_ciuut
Arii_ciuut at Yang Saya Cintai (10 years 40 weeks ago)
70

nice.....
hahaha.. hampir tertipu euy.. ^,^

Writer christychii
christychii at Yang Saya Cintai (10 years 50 weeks ago)
100

keren *O*

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Yang Saya Cintai (11 years 17 weeks ago)
80

aaaaaaaaaa... saya suka banged....
kerennn xD
cuma ada bberapa kesalahan ketik, tapi rasanya gag penting lagi stelah baca ceritanya sampe abis :)
salam kenal ya...
mampir juga k tmpt ak kalo smpet ya :p

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Yang Saya Cintai (11 years 25 weeks ago)
90

Gaya tulisannya koq mirip dengan saya? -_-

..............

Karena itu saya suka!!! :D

Writer poez
poez at Yang Saya Cintai (11 years 49 weeks ago)
70

Bagussssssss,....
Gilee bener nich crita. Da pengalaman suka ma cewek yg ternyata cowok ya?xixixi...becanda

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (11 years 49 weeks ago)

Saya ndak punya pengalaman gitu. Tapi temen saya ada yang naksir cewek lagi cossplay. Setelah diselidiki ternyata si cewek bercossplay itu adalah cewek jejadian. aslinya cowok.. ^^bb

Writer Albayani
Albayani at Yang Saya Cintai (11 years 50 weeks ago)
100

Panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang..... hehe tapi OK... Salam

“Saya kangen.”

“Aku tidak.”

“Tapi kamu datang.” saya suka jebakan ne... hehe

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (11 years 49 weeks ago)

ahh.. saya juga suka jebakan. Bikin geregetan ^^

Writer kavellania
kavellania at Yang Saya Cintai (12 years 4 weeks ago)
80

kenapa yaa kalo bukan karena sering2 baca tentang tulisanmu, saya mengesampingkan rasa jijik ketika "pengen" menulis tentang homo dan miss, kau tahu tulisan ini mengingatkanku pada draft novel yang diminta kk angkatku, dia minta menuliskanku tentang HOMO dan akhirnya saya berada dalam dilema ampek males nulis ha ha ha
pake kata "saya" memang kata itu lebih kuat mendeskripsikan sebuah emosi daripada kata "aku"
selebihnya aku keprok2 deh sama komen mailindra, detail sekali yaa mas itu berkomen ahak ahak
semangat miss yosi ku chayank

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 3 weeks ago)

Hah? Nona mau nulis tentang homo? Wah ditunggu-ditunggu. Hayuk bikin cerita homo rame-rame *dilempar sendal*
Iyak, mailindra cinta banget sama saya jadi komenya detail begitu.. Hahahaha. Becanda. Sengaja ga kuedit lagi supaya yang lain juga bisa belajar dari kritikan itu. Bahwa nulis cerita itu harus dalam kondisi sadar tidak mabok sehingga tiap kalimat bisa dipertanggungjawabkan. Siapa tahu ada yang sangat teliti membaca sehingga keganjilan terasa. Aih, brarti dirimu waktu itu nulis sambil mabok, mbak yos? Ehm.. Mungkin. Mabok insomnia.. Hahahahahaha *ketawa edan*

Writer Ive
Ive at Yang Saya Cintai (12 years 4 weeks ago)
90

Kaya'nya aku pernah bc ttg si Tara ini dulu. Tp udh lupa ceritanya. Jd kaget jg dg endingnya. Komen ceritaku jg ya... Tolong dikitik, eits! dikritik n dikasi saran jg.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 3 weeks ago)

Thanks udah meninggalkan jejak, hun. Iya, nanti saya sempatkan menengok tulisanmu dan memberi saran
Dan kritik. Ah, kayak saya berhak memberikan itu. Gimana kalo komentar saja? Kedengaran lebih umum dan bebas.

Writer Yugata
Yugata at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)
100

Haduw haduw.. Wow, Great. Cool.
Suka!

Writer mailindra
mailindra at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)
70

Sudut pandang kadang bisa menjebak tanpa kita sadari. Liat ini:
---
Saya dan pelayan itu sama-sama menoleh, sama-sama terkejut dengan makna yang berbeda saat melihat kemunculannya..
...
Saya yakin betul pelayan itu terpesona karena detik berikutnya pelayan itu tersenyum ramah dan menjawab dengan sangat sopan.
---
Akan sangat aneh cerita dengan sudut pandang orang pertama bisa menceritakan pikiran orang lain.

Jebakan yang lain:
---
Duduk manis, menyilangkan kaki, harusnya jadi lebih sulit karena rok pendek berbahan jeans yang dipakainya, dia memandang saya. Saya memalingkan perhatian, enggan melihat. Ujurng sepatu boot tinggi itu mengetuk-ngetuk kaki meja dengan bunyi lembut yang teratur.
---
Ini duduknya bagaimana? Kalau ini di cafe dan mereka mau makan siang, harusnya mereka duduk di meja makan yang tertutup taplak meja. Lalu gimana caranya si aku bisa melihat hal yang terjadi di bawah meja?
Yang lebih hebat lagi, si aku bisa tahu dan liat tamu lain melihat ke paha tokoh 'Dia'.

Masih ada beberapa hal mengganggu lain seperti:
"Tuan, mau pesan minuman lagi?"

---
Kenapa minuman, kenapa ngga makanan? atau snack?
Ah, ngga penting itu, poinnya, aku ngga tahu ada cafe mewah yang pelayannya berani bersikap seperti ini (baca: memaksa untuk memesan, kalau tidak keluar dari sini). Bahkan di fastfood sekalipun, para pelayan paling banter cuma tanya, "boleh saya bereskan?"

Segitu dulu. Maaf kalo tidak berkenan

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

ah, berkenan-berkenan saja kok mas.. Mari dibahas satu-satu, karena saya juga nggak asal menulis semua adegan itu. Katanya setiap kata harus ada pertimbangan. Hanya mungkin keterbatasan penulis yang membedakan. Jadi kalau saya pribadi yang salah presepsi ya mohon dimaafkan.


-Saya yakin betul pelayan itu terpesona karena detik berikutnya pelayan itu tersenyum ramah dan menjawab dengan sangat sopan......>>>>>>> Ini adalah sebuah asumsi. Asumsi dari si Aku karena melihat reaksi si pelayan yang lantas tersenyum ramah setelah terkejut. Masalah betul atau tidak si pelayan merasa begitu, ya itu terserah pelayannya. Tapi si aku memang beasumsi dia yakin begitu (bukan penulisnya yang beasumsi begitu). Kalau alasan yang membuat asumsi itu jadi tidak kuat (karena senyum pelayan yang ramah belum tentu bisa menunjukkan dia terpesona, karena bisa jadi dia hanya menjalankan tugas), ya, nanti diganti saja reaksinya supaya bisa langsung menunjukkan kalo si pelayan terpesona. Bisa diatur itu... ^^.


-Duduk manis, menyilangkan kaki, harusnya jadi lebih sulit karena rok pendek berbahan jeans yang dipakainya, dia memandang saya. Saya memalingkan perhatian, enggan melihat. Ujung sepatu boot tinggi itu mengetuk-ngetuk kaki meja dengan bunyi lembut yang teratur........ >>>>>> Yah, waktu menulis saya membayangkan meja mereka tidak tertutup taplak. Anggap saja interiornya modern minimalis. Kelemahan saya memang saya kurang mendeskripsikan cafenya bagaimana, hanya disebut elegan dan eksklusif. Bisa diatur itu, mas.. Bagaimana dia bisa melihat, deskripsi yang terbayang adalah kaki itu agak kesamping dan menyilang di sisi meja, bukan tepat di bawah meja. Itu kebiasaan perempuan berkaki panjang kalo duduk menyilang kaki. Makanya melirik sedikit saja, lawannya bisa melihat. Masalah si aku memergoki tamu lain, itu mungkin saja terjadi karena perhatiannya memang tidak sedang pada orang yang duduk di depannya. Berarti matanya jelalatan? ya, nggak jelalatan sih.. mari beranggapan dia tidak sengaja memergoki seorang pengunjung yang melirik kaki partner di depannya. Kalau butuh dituangkan dalam deskripsi, bisa saya tuangkan nanti. Terima kasih masukannya. ^^


-"Tuan, mau pesan minuman lagi?"...... >>>>> Situasinya begini. si aku sedang menunggu seseorang, maka dia belum memesan makan siang. Untuk membunuh waktu dia memesan minuman. Dan saya juga pernah lihat (entah dimana), bila minuman sudah habis dan sang tamu masih duduk sendiri, pelayan akan menawari apakah dia mau pesan lagi (tambah mungkin, atau ganti dengan minuman baru). Saya sendiri juga pernah mengalami hal itu. Setelah itu baru dilanjutkan seperti yang mas bilang tadi. Memang itu salah satu cara mengusir secara halus juga... XDDDD Saya pakai prosedur itu. Masalah prosedur umum atau tidak, bisa dilakukan riset lebih jauh. Tapi sementara, untuk cerita ini, cukup pakai pengalaman pribadi dulu. Perkara kenapa bukan makanan, ya jelas, karena si aku memang belum pesan makanan.. ^^

Writer mailindra
mailindra at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

Quote:

-Saya yakin betul pelayan itu terpesona karena detik berikutnya pelayan itu tersenyum ramah dan menjawab dengan sangat sopan......>>>>>>> Ini adalah sebuah asumsi. Asumsi dari si Aku karena melihat reaksi si pelayan yang lantas tersenyum ramah setelah terkejut. Masalah betul atau tidak si pelayan merasa begitu, ya itu terserah pelayannya. Tapi si aku memang beasumsi dia yakin begitu (bukan penulisnya yang beasumsi begitu). Kalau alasan yang membuat asumsi itu jadi tidak kuat (karena senyum pelayan yang ramah belum tentu bisa menunjukkan dia terpesona, karena bisa jadi dia hanya menjalankan tugas), ya, nanti diganti saja reaksinya supaya bisa langsung menunjukkan kalo si pelayan terpesona. Bisa diatur itu... ^^.

Tadinya aku juga mau berpikir seperti itu kalau saja di paragraf sebelumnya tak kubaca kalimat ini:

Saya memandang wajahnya yang tetap tersenyum ramah. Saya tahu, itu adalah aturan dari atasannya. Bersikap ramah pada para pelanggan adalah kewajiban. Saya juga tahu sinar matanya mulai tidak sabar. Saya juga berpikiran sama. Saya mulai tidak sabar. Tidak sabar menunggu. Jadi saya merogoh saku.

Di paragraf sebelumnya penulis mengatakan bahwa si Aku ini punya asumsi bahwa pelayan memang harus ramah dan tersenyum kepada pelanggan, Bukankah seharusnya si Aku juga memberikan asumsi yang sama saat si Pelayan melihat tokoh Dia?

Untuk adegan kaki di bawah meja itu yah silahkan deh diatur, tapi aku memang kesulitan membayangkannya. Si Aku mual melihat penampilan si Dia, tapi bisa detail lihat tekstur kulit paha si Dia. Coba liat lagi deh detail penglihatan si Aku ini.

Quote:

Duduk manis, menyilangkan kaki, harusnya jadi lebih sulit karena rok pendek berbahan jeans yang dipakainya, dia memandang saya. Saya memalingkan perhatian, enggan melihat. Ujurng sepatu boot tinggi itu mengetuk-ngetuk kaki meja dengan bunyi lembut yang teratur. Siang-siang begini, dengan jaket bulu putih berpotongan feminim, pose duduk begitu dan dandanan glamour seperti itu, masuk café eksklusif macam ini, dia benar-benar mencari perhatian. Saya memergoki seorang pengunjung mencuri pandang ke arahnya, atau lebih tepat ke kakinya. Baru saya sadari kulit paha yang pucat halus itu memang lebih terekspos dari biasanya, mengintip malu-malu diantara bahan jeans dan ujung stocking sepatu.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

iyoo, iyoo mas.. nanti saya edit kalau ternyata saya memang membuat kalimat-kalimat kontradiktif itu. Jadi saya tarik kembali pernyataan saya telah menulis dengan penuh kesadaran. Ternyata masih sambil ngalamun juga. Suka deh ada yang baca tulisan saya dengan teliti begitu. artinya yang baca cinta banget sama ini tulisan (atau cinta pengarangnya? *rajam!!*) XDDD...hahaha


*pengarang NARSIS minta ditabok, taboklah dia supaya sadar kembali ke jalan yang benar!!*

Writer panah hujan
panah hujan at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

*bengong*

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

@yang bengong : awas ntar kesurupan...! huahahahahaa

Writer Chie_chan
Chie_chan at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)
90

hooo~ chie jd paham. ini lanjutan postinganmu yg primadona itu, senpai?
wah koq jd BL gitu ya?
huahahahaha xDDD

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

ada yang neror suruh dibuatin lanjutannya,ya jadi gitu deh... *lirik-lirik ratu BL* XDDDDD

Writer angel16
angel16 at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

senpai bilang saja itu saya =////=

iyaah, saya orangnyaa!! saya yang neror senpai setiap malam minta lanjutaaaaan!! *teriak2 edan* makanya, lanjutanyaaa lagi dooong senpaaaiii!!! XDDD

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

waahh.. dasar tidak tahu diri, sudah dibuatkan masih minta lagi... XDDDD

Writer angel16
angel16 at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)
100

sukaaaaaaaaa!!! >///w///< bb Senpai memang top!! makasi banyaaaak!!!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

*hagu* Jadi udah lunas, ya....

Writer angel16
angel16 at Yang Saya Cintai (11 years 13 weeks ago)

nggaaaak.. kata siapaaaaa *dilempar wajan sama senpai*

Writer panah hujan
panah hujan at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)
100

SIAAAAAAAAAAAL. Cerita ini cantik sekali! Aku suka.
Aku iri kepadamu, T___T
Hanya saja lagi-lagi dari awal sampai sepertiga bagiannya aku masih merasa tokoh utamanya seorang perempuan. Baru agaknya ketika dia sudah mulai leluasa menggunakan 'kau-kau' yang agak maskulin, aku merasa dia laki-laki. Yang jelas sepertujuh bagiannya kelihatan maskulin, sih.
Hhaha, suka tergelitik dengan yang bertema gay/cinta sesama jenis ya, Sis? *mengingat dulu kau pernah komentar di cerpenku di blogku yang tentang gay :p*
Keseluruhan, kau sukses memvisualisasikan keadaan di kafe tersebut. Caf(e coret) hanya ada satu, selain itu... ketikannya tidak rata di beberapa bagian.
Mungkin aku hanya bermasalah dengan judul. Bagaimanapun yang, di, dan, atau, etc jika diletakkan di paling depan, tentulah mesti diketik dengan huruf kapital. :)
Itu saja. Suer, ini keren. *dengan ini aku menyatakan diri akan menunggu novelmu terbit dan terpajang di etalase Gramedia*

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

hiyaaa..tipos bertebaran dimana-mana, bikin malu saja.. Nanti deh saya edit-edit lagi. Soal suara maskulin itu, sedang dicoba untuk berlatih. Beratnya....TT_TT

Writer panah hujan
panah hujan at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

Judulnya judulnya judulnya. Itu typos paling kentara. LOL.
Berjuanglah, Sis!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Yang Saya Cintai (12 years 5 weeks ago)

ok, judulnya diedit...