Dinosaurkah?

Lalu oscar berdiri dan bertanya pada dirinya sendiri.apakah aku ini?, seorang dinausurus kah? Seekor manusiakah?. Mereka berkata akulah seekor dinosaurus, tapi mengapakah mereka yang mesti menentukan siapa diriku? Mengapa mereka bersikap seolah tahu siapa aku?. Aku harus bisa menjadi apa yang aku mau, ini adalah bumi yang luas, bumi yang bebas. Semua makhluk berhak menjadi apapun yang ia mau, bahkan walaupun dia adalah seorang manusia. Aku bisa menjadi apa saja yang aku mau selama tidak menghalangi kepentingan binatang banyak.

Akan tetapi ada kesadaran oscar sendiri, ia buta huruf, pengetahuannya tak banyak. Karena keraguan itulah ditujunya benjamin siang itu, mencoba memperoleh nasihat dari kawannya yang anjing. seperti biasa benjamin duduk didepan rumahnya sore itu, seolah membaca koran seperti biasanya. Dikiri dan kanannya koran dan majalah bertumpukan seolah sudah dibaca, padahal belum, padahal hanya ditumpuk, oleh siapa itu adalah urusan pribadi benjamin. Ia memang anjing yang cerdas & cermat, membaca berita-berita itu berulang-ulang, dari pagi hingga sore, dari sore hingga malam.

“benji!!!” sapa oscar sang dinosaurus.

benjamin A.K.A benji/yamin/ben-ben menoleh, menatap kepada kawannya yang sepertinya ingin melanjutkan sapaanya dengan sebuah kalimat lain. namun disana oscar malah terdiam, lalu ragu kemudian terdiam lagi, terdiam lama. sebuah bingung yang melandanya itu ada di sana, ia benar-benar tak tahu hendak mulai dari mana. Benjamin sang anjing yang setia kawan itu menatapnya lama seperti halnya diamnya oscar yang juga lama, dengan sabar menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut dinosaurus sahabatnya tersebut.
dalam keputus asaan yang larut dalam udara oscar lalu memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan yang cukup atau bahkan mungkin sangat retoris.

“tahukah kamu siapa dirimu yamin?!!”

benjamin tercenung, lalu ketika ia ingin menjawab dengan membuka mulutnya, oscar menjawab duluan.

“kamu adalah seekor anjing kawan.”

Maka terbuktilah saat itu dugaannya, pertanyaan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

“ lalu atas dasar apakah aku mengakui keanjinganmu?!!” tanya oscar kembali.

Benjamin dengan cepat membuka mulutnya, tapi oscar lebih cepat menjawab karena sebenarnya sedari tadi mulutnya belum pernah tertutup.

“ karena nenek moyangmu adalah seekor anjing, seluruh garis keturunanmu mengakui keanjingan mereka. Bahkan para orang-orangpun mengakui keanjinganmu. Karena itulah kamu seekor anjing. Kamu-pun bangga menjadi seekor anjing, bangga pada diri sendiri dan bangga atas pencapaian serta sejarah nenek moyangmu.”

Benjamin diam sejenak lalu mengangguk, lubang hidungnya kembang kempis seperti berpikir, saat itu disana jelas betul ke-anjingan terpancar di wajahnya. Ia pun tersenyum tak jelas, lalu mengangguk perlahan. Oscar sangat senang benjamin mengerti apa yang dimaksudkannya, sebelumnya ia benar-benar khawatir pikiran benjamin yang terpelajar tak mampu mengkuti pikiran buta hurufnya. Oscar sadar dirinya tak terpelajar, karena itulah ia selalu berbicara pelan dan teratur, berusaha sesopan mungkin mengungkapkan maksudnya agar binatang yang lain mengerti maksudnya.

“ lalu apakah aku menurutmu ini?!!” tanya oscar untuk kesekian kalinya

Benjamin diam saja, karena ia yakin pertanyaan ini retoris . sebagai seekor anjing, benjamin sangatlah terpelajar, ia tahu betul terkadang ada pertanyaan yang perlu dijawab, adakalanya tidak. akan tetapi ia keliru, oscar berputus asa pertanyaanya tak kunjung dijawab. ia meraih salah satu kursi diteras itu. setelah meminta izin ia pun duduk saat dipersilahkan. Benjamin maklum, buta huruf menjadikan oscar seperti itu, duduk setelah dipersilahkan, makan setelah diperbolehkan. Sahabatnya itu bukanlah seorang yang merdeka, , pendidikan tidak pernah memerdekakannya.

Sang dinosaurus terdiam lama, pikirannya menjelajah, kesana lalu kemari, kemari lalu kesana lagi, lalu kemari lagi begitu terus menerus berulang-ulang. Melihat sahabatnya terdiam benjamin dengan intelektualitasnya lalu bertanya penuh rasa ingin tahu. Sebagaimana newton karena apel, sebagaimana orang utan karena jembatan monyet.

“ oscar kawanku, apakah jawaban dari pertanyaanmu itu?”

yang dituduh dinosaurus itu mendesah lemah lalu menjawab.

“ aku takkan bertanya padamu jika saja kuketahui jawabannya”

“ oh maafkan sobat!!, saya pikir itu adalah sebuah pertanyaan yang bersifat retoris” benjamin menjelaskan

karena Merasa bersalah benjamin mencoba untuk menyenangkan hati sahabatnya.

“ kamu adalah seorang dinosaurus”
“karena?” cecar oscar kembali
“emmm……karena binatang yang lain berkata seperti itu, bahkan manusiapun berkata seperti itu” jawab benjamin dengan sigap.

sejenak hening merambat berkuasa, lalu pecah ketika oscar dengan khidmat berkata
“ yamin, pernahkah kamu melihat seekor yang disebut dinosaurus selain diriku?, pernahkah ilmu pengetahuan dan binatang yang lain itu menemukan dinosaurus yang lain selain diriku?”

Dengan antusias benjamin mencoba menjawab, tapi untuk kesekian kali sang anjing tertipu, itu adalah sebuah pertanyaan yang retoris.
“semua binatang memanggilku dinosaurus bahkan manusia pun demikian. Pernahkah mereka tanyakan padaku apakah aku senang dan bahagia dianggap dinosaurus?lalu jika kutanyakan kepada mereka mengapa mereka memanggilku dinosaurus, mereka hanya akan berkata semua orang berkata seperti itu, bahkan manusiapun berkata seperti itu.”

Benjamin meradang, pertanyaan beranak pinak di kepalanya, namun belum selesai pikirannya mengunduh pengetahuan dari otaknya oscar telah melanjutkan monolognya.
“ dan tahukah kamu benji, saya tidak akan membiarkan siapapun memaksakan keinginannya padaku, aku adalah aku, dan aku mau menjadi seekor yang benar-benar aku. Lalu jika memang tak bisa, akan kubuat diriku menjadi seekor yang kucita-citakan meski memakan waktu 10 tahun, 100 atau bahkan selamanya.”

pengertian itu sampai kepada benjamin dengan susah payah, sang anjing yang setia kawan itu pun tersentuh, ia benar-benar kagum pada tekad sahabatnya itu. ingin sekali dititikkannya air matanya lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat, Akan tetapi ia tahu itu bukan saat yang tepat, terlebih lagi itu bukan tempat yang tepat. dipujinya oscar dengan tulus & mempersiapkan rencana bagi mereka berdua. ia sadar Semua ini akan memakan waktu yang lama, tapi takkan ada masalah, benjaminlah sang anjing yang itu, yang terpelajar, yang setia kawan, yang senasib dan sepenanggungan.
dengan yakin berkata.

“ marilah kita mulai dari para penulis koran, sepertinya mereka tahu betul tentang dunia”

hujan turun di sulawesi, angin kering berhembus, membawa butiran pasir dari utara keselatan pulau samosir, kesana kemari seolah ingin menjaga sahara tetap menjadi sebuah gurun untuk selamanya. Hari itupun dingin bertiup di himalaya, keping salju turun di alaska, seolah ingin berkata pada binatang, pada manusia, bahwa dunia ini aneh adanya, kalian saja yang berpikir sebaliknya.

Read previous post:  
Read next post:  
makkie at Dinosaurkah? (11 years 35 weeks ago)
70

idenya keren...tulisannya cuman salah pengetikan aja...dah mantab...

Writer 145
145 at Dinosaurkah? (11 years 35 weeks ago)
70

Tulisan metaforis? Sulit menangkap jalan pikiran 'seorang' dinosaurus :)

Writer icchan-chan
icchan-chan at Dinosaurkah? (11 years 49 weeks ago)
100

adalah jujur kalau saya bilang, selama saya jadi member kemudian.com, saya belum menemukan tulisan lain yang lebih bagus dari tulisan ini ...

Writer erul
erul at Dinosaurkah? (11 years 49 weeks ago)

TERIMA KASIH BANYAK
tapi sebenarnya ini bagian pertama untuk sebuah cerita yang masih berlanjut. mohon sarannya untuk bagian lanjutannya kemudian.

tabik

Writer shinobigatakutmati
shinobigatakutmati at Dinosaurkah? (11 years 49 weeks ago)
80

asyik juga :)

Writer erul
erul at Dinosaurkah? (11 years 49 weeks ago)

thanks :)

Writer erul
erul at Dinosaurkah? (11 years 49 weeks ago)

thanks :)