A Story About Journalist - Part 2

Part 2 - Silat Lidah

Don't wait, Don't wait
The road is now a sudden sea
And suddenly, you're deep enough
To lay your armor down
To lay your armor down
To lay your armor down

Senandung melodi dari Dashboard Confessional menggema di seluruh kamar Dita. Kamar yang sunyi senyap seperti di kuburan ini, menjadi sedikit lebih tenang dan adem. Dita sedang bersemangat. Lagu ini sengaja dia putar untuk menemani paginya. Sekedar bersugesti yang baik-baik. Hari ini adalah pengumuman penerimaan di redaksi majalah ISSUE. Semoga dia diterima. Ya, dan memang itu yang dia minta dalam doa, sejak kemarin. Dia sudah mengubur jauh-jauh mimpinya menjadi seorang jurnalis, semenjak dia kuliah. Tapi, dia kembali berambisi saat sahabatnya memberitahu tentang pembukaan lowongan sebagai wartawan lapangan.

***

Semua orang sudah berkumpul di ruangan rapat. Semua perwakilan dari tiap divisi. Ada Sheilla dan Batara juga. Sheilla sebagai perwakilan para editor dan Batara sebagai perwakilan pala kuli jurnalis kecil. Mereka hanya tinggal menunggu sang pemimpin. Siapa lagi kalau bukan Satria. Di kantor ini, Satria juga termasuk pemimpin apabila GM dan pemimpin lainnya tidak bisa hadir dalam rapat. Tapi, Satria memang sudah sering memimpin rapat karena dia memang dipercaya. Selang beberapa menit, sang pemimpin yang ditunggu-tunggu akhirnya masuk juga. Sedangkan, Dita yang sedang gusar di daerah HRD, menunggu pengumuman dengan sabar. Dia juga bersama dengan yang lainnya. Bersama dengan orang-orang penuh harap yang tidak jauh berbeda dengannya.

Di ruangan yang cukup besar, hampir seukuran ruang media di perusahaan transmisi terkenal, semua calon wartawan dan pegawai lainnya berkumpul. Ya. Mereka akan menerima pengumuman. Beberapa nama sudah disebutkan. Mereka itulah yang diterima bekerja. Hanya saja, Dita tidak mendengar namanya disebutkan. Tapi, sebelum dia menangis kecewa, namanya disebutkan juga. Dita akan menjadi wartawan lapang dalam masa training. Semua itu Bapak Tamil lakukan atas rekomendasi atasan. Ternyata, saat Bapak Tamil menceritakan tentang wawancara, dia menceritakan tentang Dita. Bapak Tamil tahu, orang ini berpotensi besar untuk membantu Issue dalam mengejar ketinggalan mereka. Oleh karena itu, atas rekomendasi atasan, Dita akan menjadi wartawan lapang bersyarat. Dia akan menjalani masa training terlebih dahulu selama 3 bulan. Jika dalam 3 bulan dia melakukan beberapa kesalahan, tidak menutup kemungkinan dia akan dikeluarkan dari redaksi.

***

“Bagaimana dengan ide mendesain ulang majalah, Pak?” tanya Sheilla pada Satria di tengah-tengah jalannya rapat. Sheilla, asisten Satria sekaligus editor bawahan itu cukup cerdas. Dengan kecerdasannya, dia mampu melenggang naik ke posisi yang cukup menggiurkan di redaksi. Dia memang cerdas dan bisa membuat pimpinan teratas kagum padanya. Hanya saja, dia tidak bisa berkutik bila sedang berdebat dengan Satria. Berdebat dengan Satria hanya membuat dirinya lelah. Oleh karena itu, pertanyaan tadi dilontarkannya dengan sangat hati-hati. Salah-salah, dia bisa dipecat hanya karena salah bicara walaupun satu kata.

“Hmmm. Re-design ya? Saya belum ada ide untuk layout dan isinya. Begini saja, tempelkan pengumuman setelah rapat ini,” kata Satria. Dia memang sedang benar-benar berantakan akhir-akhir ini. Dia sepertinya memikirkan kekasihnya yang sedang tour dalam acara petualangan. Nama kekasihnya Marissa Chandra. Gadis keturunan Jawa-Belanda itu dia temui di Jogja. Saat itu sedang pameran batik dan ada Marissa di sana, sebagai duta batik. Marissa sendiri menjadi model lewat agency terkenal di Bandung dan dia memilih untuk masuk ke dunia modeling yang tidak seperti biasanya. Icha, begitu panggilannya, mugkin sekarang sedang berfoto di tempat-tempat yang tak lazim. Mungkin hari ini dia ada di Grand Canyon dan mungkin, minggu depan dia sudah ada di Ayers Rock. Dan sampai sekarang, gadis itu tidak juga memberinya kabar.

“Pak?” Suara Sheilla memecah lamunan Satria. “Bagaimana Pak? Pengumuman seperti apa yang akan saya tempel?” tanya Sheilla lagi.

“Oh, maaf. Ya, tempel saja pengumuman tentang lomba re-design.”

Saat itu, Batara yang sedari tadi mencatat, mengangkat telunjuk dan berbicara, “Saya setuju Pak. Apalagi sekarang ini kan redaksi sudah menerima beberapa karyawan baru. Ada juga wartawan-wartawan dan editor terampil yang akan bergabung bersama setiap divisi. Ada baiknya, kita melihat kinerja mereka. Biarkan mereka mengikuti sayembara ini. Siapa tahu, ada beberapa dari mereka yang bagus Pak.” Tanpa disadari dirinya, itu kalimat paling panjang yang dia lontarkan kepada pemimpin rapat kali ini. Dia pun agak mengembang senyumnya. Dia tahu, Dita sahabatnya akan senang mendengar kabar ini. Dan dia akan memaksa Dita untuk ikut.
Satria pun berpikir sejenak. Terlihat urat-uratnya yang hijau mengembang di sekitar dahinya. Dia memang pemikir yang keras. Oleh karena itulah, urat-urat itu seperti itu. Setelah beberapa saat, sambil membereskan notebook dan beberapa berkas di hadapannya dia berkata, “Baiklah. Silakan kalian atur saja lomba itu. Untuk saat ini, rapat kita sudahi dulu. Kita rehat sebentar. Terima kasih.” Satria langsung menuju pintu ruang media dan melangkah keluar redaksi langsung menuju tempat mobil x-trail miliknya diparkirkan. Dia pergi dan saat ini, mobilnya sudah berada di jalanan Soekarno-Hatta yang cukup lengang.

***

“Dita!!! Ada Batara tuh di depan rumah!!!” kata ibu Andri yang sedang menyiapkan kudapan ringan di dapur.
Dita yang sejak sore tadi berkutat di kamar dengan kabel UTP dan konektor RJ-45 itu, menjawab ibunya. Sambil membereskan notebook berwarna hijau miliknya, dia menjawab, “Iya Ma!! Bentar!! Suruh tunggu aja!!”

Beberapa menit kemudian Dita turun. Dia langsung keluar dan ketika melihat Batara menenteng sebuah bola basket, dia minta izin pada ibunya untuk keluar sebentar pada malam itu. Dia dan Batara pun berjalan ke lapangan basket di perumahan tempatnya tinggal. Malam itu, bintang cukup banyak dan membuat suasana malam menjadi lebih indah. Malam itu seperti biasa, malam Minggu dimana dua orang sahabat itu mengobrol.

“Gimana Nyun? Gimana pengumuman tadi siang?” tanya Batara pada sahabatnya. Batara memang sering memanggil Dita dengan nama Nyun, karena memang kebiasaan perempuan itu. Tidak pernah tersenyum untuk basa-basi. Apalagi kalau bad mood. Jadi, karena tidak ada saat-saat yang mengharuskan dia tersenyum, maka seterusnya, perempuan itu hanya akan cemberut dan manyun.

Dita yang akan menembak bola ke ring menjawab, “Ya gitu lah. Diterima sih, tapi kok aku harus training dulu ya? Kenapa sih Bat?” Sambil terus memusatkan perhatian pada ring, Dita balik bertanya pada Batara.

Batara pun bangkit berdiri dari kursi lapang dan menemani Dita bermain basket. Mereka seakan-akan kembali pada masa-masa remaja saat mereka masih menjadi anggota basket untuk porseni Jawa Barat. “Oh itu, nggak tau deh. Mungkin rekomendasi atasan,” kata Batara lagi.

Saat mereka saling mengoper bola, Batara teringat sesuatu. Dia teringat akan rapat tadi siang. Dia ingat akan lomba re-design yang redaksi adakan.

“Oh ya. Kamu pasti suka deh! Coba tebak?!” kata Batara cengengesan. Kelakuannya itu membuat Dita sedikit bingung dan menebak-nebak.

Dita yang penasaran bertanya setengah mendesak, “Apaan? Apaan sih! Kasih tau aku dong!!”

“Ada lomba re-design neng! Dan kamu harus ikut! Terbuka buat karyawan baru!”

Dita tersenyum riang. Kali ini, ada alasan dia harus tersenyum. Dia tahu, dia harus ikut. Setelah diceritakan kriteria dan tata cara ikut lomba oleh Batara, dia tersenyum lagi dan tertawa keras. Batara mengerutkan alis dan bertanya, “Kok ketawa?”

Dita hanya tersenyum dan melirik Batara sedikit. “Aku pulang duluan ya! Banyak yang harus aku kerjakan. Aku bakalan bikin tuh bos kamu mencak-mencak! Hahaha!!!” Dia pun berlari pulang dan meninggalkan Batara di lapangan.

Batara hanya tersenyum sedikit dan berteriak sambil melihat Dita berlari. “Dead line Sabtu depan katanya! Kamu harus siapin materi presentasinya! Kalau terpilih, aku kasih hadiah deh!”

Dita hanya mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Dia berlari menuju rumah dan di rumah, dia kembali berkutat dengan UTP dan RJ-45, alias media kabel dari rumah belakang yang berfungsi sebagai rumah sang server. Kompleks itu lumayan baik, karena sudah ada fasilitas RT/RW net di sana. Dita langsung menghubungkan komputernya dengan UTP. Setelah acquiring network address yang diset DHCP, Dita pun segera memulai pekerjaannya. Malam Minggu ini akan menjadi malam yang panjang. Dia akan menyelesaikan layout, materi dan entri untuk majalah yang baru.

***

Hari ini, sudah hari Sabtu lagi. Dan hari ini, suasana di redaksi sangat sibuk. Hanya beberapa wartawan saja yang keluar mencari berita dan sisanya, mereka membantu yang lain menyiapkan ruang media untuk presentasi lomba re-design. Dan ternyata, hari ini, Pak Fugus Ilman, general manager di redaksi ISSUE, menyempatkan diri untuk melihat. Ya, meskipun hanya lewat video call melalui Ekiga Softphone atau hanya dengan tele-conference melalui sistem operasi open source. Itu semua dilakukan, karena bagaimanapun juga, seorang general manager harus melihat kinerja karyawan-karyawan terpilih. Tapi, karena Pak Fugus tidak bisa hadir secara langsung, dia menyempatkan diri untuk tele-conference dari Watergate sana.

“Semua sudah siap?” tanya Sheilla pada Dudi dan lainnya.
Dudi yang sedang mengangkut infocus meletakkan barang itu sebentar untuk mengelap keringatnya yang bercucuran. “Sudah. Tinggal menunggu para peserta siap. Kita tinggal memanggil mereka satu persatu.” Setelah mengatakan itu, Dudi langsung melanjutkan pekerjaan.

Saat ini sudah pukul 2 siang. Sudah 3 peserta yang masuk dan keluar lagi dari ruang media dengan wajah muram. Sepertinya, mereka semua sudah diejek bahkan diberikan kata-kata penghancur mental dan semangat secara bertubi-tubi. Dita bisa melihat jelas hal itu dari mereka. Dia pernah merasakannya. Dia pernah begitu, ketika dulu, tugas akhir Uji Kompetensi miliknya ditolak oleh pengajarnya. Setidaknya, dia jadi lebih kebal.

“Dita Prasanti!” seru moderator dari dalam ruang media. Speaker luar ruang media menyerukan namanya. Dita bergegas mengambil bahan presentasinya dan segera masuk.

“Selamat Siang! Saya Dita Prasanti. Saya…” Belum sempat Dita menyelesaikan kalimatnya, Satria sudah memotong dan dengan wajah yang dingin dia mulai menghancurkan mental Dita. Sama seperti peserta-peserta sebelumnya.

“Pak, saya mohon pengertian. Kalau saya tidak menjelaskan garis besar, takutnya semua orang di sini jadi tidak mengerti!” kata Dita setengah menyentak. Kali ini akan ada adu mulut di ruangan. Dan Satria tersenyum, inilah yang dia inginkan. Pemberontak.

“Ya sudah! Langsung saja, kamu tidak perlu basa-basi.” Editor itu menjawab sentakan Dita dengan wajah garangnya.
Dita mulai membuka gulungan karton yang sudah tertempel layout dan dia memulai presentasi dengan hembusan nafas tegang. “Oke. Baiklah. Ini materi yang baru. Saya sudah membuat layout dan materi baru yang akan saya sodorkan. Kita hanya perlu menambah beberapa materi untuk para mahasiswa dan remaja.”

Setelah Dita menjelaskan, beberapa orang bertanya. Di antara orang itu, ada Sheilla, Abhisatya, dan Satria. Moderator mendahulukan Abhisatya yang saat ini adalah seorang wartawan senior.

“Apa tujuan anda menambah materi untuk mahasiswa?” tanya Abhi keheranan.

Dita menjawab dengan tegas dan lancar. Sambil sedikit menghela nafas, dia menjawab, “Begini. Sekarang banyak orang muda seperti mahasiswa yang kontra dengan politik. Itu semua karena pengetahuan mereka akan politik yang kurang. Kita kan bisa memasukkan paham-paham demokrasi dan politik yang benar. Tentunya dengan cara kita. Saya sering membaca majalah EQUATION, dan memang, majalah itu lebih bermasyarakat. Lebih umum tepatnya. Itu sebabnya majalah mereka selalu memiliki rating tinggi.”

Kali ini, giliran Satria yang bertanya. Dita tidak tahu, Satria akan memberondong dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum dia siapkan jawabannya. “Mengapa anda yakin dengan ini majalah kita akan naik rating? Apa jaminannya kalau rating kita turun? Dan apa yang akan kita lakukan? Mendesain ulangkah? Hah! Apa?!”

Dita menjawab dengan keras dan tegas. Seperti dulu, seperti saat dia masih ada di dunia kepemimpinan. “Ya. Saya kan hanya menelurkan ide untuk re-design. Belum tentu ide ini berhasil. Hanya saja, saya berpikiran, majalah kita ini terlalu kolot. Kita orang muda, tapi kenapa kita memasukkan hal-hal yang kita sendiri tidak mengerti. Kapitalis lah, neo-liberalis lah. Padahal kita tidak paham betul. Dan menurut saya, orang-orang di luar sana tidak terlalu suka hal-hal yang tidak general. Ujung-ujungnya, siapa lagi coba yang mau beli atau konsumsi majalah seperti ini?”

“Lalu, jaminanmu kalau kamu masuk?” tanya Satria lagi.
Dita agak kesal dan setengah menyentak Satria. “Saya tau bapak itu idealis. Sangat sulit melepas apa yang sudah diraih sekarang ini. Sangat sulit bagi bapak untuk menerima ide orang lain yang mungkin radikal bagi bapak. Tapi, saya senang dengan orang seperti itu. Apalagi saya bisa bersilat lidah dengan bapak!”

Satria tahu dirinya sedang dihakimi oleh Dita. Dia pun berdiri dan menyentak Dita. Suasana di ruang media kini lebih dingin dan kelam. Dita dan Satria hanyut dalam perdebatan mereka. Dua orang yang sama-sama idealis.

“Kamu juga idealis! Sekarang saya tanya sekali lagi, apa jaminanmu?!”

Dita menjawab dengan santai dan sepertinya dia tidak memikirkan jawabannya. “Saya pertaruhkan pekerjaan saya. Dan satu lagi, tambahkan rubrik musik. Efek Rumah Kaca dan band politis lainnya bisa menjadi pilihan. Saya kira cukup sekian presentasi dari saya. Terima kasih.”

Dita melenggang keluar dari ruang media. Yang lainnya masih belum menyangka apa yang mereka lihat. Seorang wartawan masa training sudah menyentak seorang editor senior di redaksi. Dan mereka sepertinya bangga dengan kehadiran Dita karena sekarang, akan ada pelindung bagi mereka dari kesemena-menaan Satria.

***

Pukul 5 sore, saat semua peserta sudah keluar dari ruang media. Dita yang sedari tadi menunggu sahabatnya keluar dari ruangan dihampiri oleh Satria. Satria berdiri di hadapannya. Dita yang dari tadi melihat ke lantai, sekarang melihat sepatu kulit Satria ada di sana.
Satria mendekatkan wajahnya pada Dita dan berkata, “Pekerjaanmu ya? Baguslah. Kalau rating majalah menurun, kamu akan segera menghilang dari sini. Dan tidak ada lagi yang berani memberontak padaku. Tapi, kalau kamu bisa buat majalah ini naik rating, aku akan mempertimbangkan.” Satria lalu pergi dan menuju ruangannya. Dita bahkan tidak berani menatap wajah Satria. Bodohnya dia. Padahal dia sangat ingin menggerutu pada Satria.

Dita jadi menggerutu sendiri dan melihat punggung Satria menghilang di ujung koridor yang tidak jauh dari tempat ia duduk sekarang. “Lihat saja. Aku pasti bisa!” Dan seketika, sahabatnya sudah ada di hadapannya, mengajaknya pulang.
Di ruangan kerjanya, Satria membereskan berkas-berkas dan saat itu, ponselnya berbunyi. Diraihnya ponsel itu dan melihat, ada nama Icha di sana. Buru-buru, dia mengangkat ponsel itu.

“Sayang!! Aku di Maccu Piccu nih! Well, sori ya baru kabarin kamu! Aku baru bisa nelpon di sini. Kemarin-kemarin kacau banget! Nggak ada sinyal. Tebak, besok aku ada dimana?” kata suara di seberang.

Satria tersenyum girang dan segera menjawab telepon dari Icha. Sambil membereskan barang-barangnya dia mendengarkan ocehan kekasihnya itu. “Aduh, ya ampun. Aku kira kamu udah dimakan piranha di Amazon atau diculik alien di prasasti Aztec. Emang kamu besok kemana? Ke Ayers Rock?” gurau Satria.

“Ih dasar kamu. Hihi. Wah bukan. Lebih keren dari Ayers Rock! Besok aku mau pulang! Aku disuruh rehat dulu nih! Gila! Aku kangen gunung di Indonesia.”

“Oh ya! Masa kangen gunung doang sih? Hehe. Biar aku jemput ya kamu! Kamu berangkat jam berapa dari sana? Aku jemput kamu di Bandung apa Jakarta?”

“Hmmm. Jemput aku di Bandung aja. Aku ke Jogja dulu. Jadi, dua minggu lagi aja jemputnya. Udah gitu, aku bakal lama di Bandung nih kayaknya. Aku disuruh jadi pengamat mode di majalah fashion Bandung. Bete banget dah. Jadi, kayaknya aku berhenti berpetualang dulu untuk sementara,” kata Icha lagi. Dan benar, Icha memang memutuskan untuk rehat dari pekerjaannya di majalah ternama Asia, Extreme World. Dia akan bekerja di majalah fashion ternama di Bandung. Berubah haluan, dari seorang model ekstrim ke permodelan yang umum.

“It sounds good! Bagus dong! Aku jadi lebih sering sama kamu!” Dan pembicaraan mereka pun berakhir setelah Icha mengucapkan sampai bertemu nanti.

Satria sudah labil kembali. Hanya saja, ada yang masih mengganjal. Seseorang yang membuat dirinya naik pitam. Dita. Dia tidak menyimpan dendam pada Dita. Dia hanya akan menguji Dita, dan sedikit perasaan suka muncul pada dirinya. Aneh. Satria agaknya menyukai Dita. Sebagai rivalnya, dia suka rivalnya.

“Dita. Anak Polban. Huhu. Lihat saja, berapa lama kamu bisa bertahan dalam dunia keras ini. Dan aku yang akan langsung turun tangan,” katanya terkekeh.

-bersambung again-

Read previous post:  
71
points
(2711 words) posted by jayhawkerz 12 years 33 weeks ago
71
Tags: Cerita | politik | ayu | coretan novel | dita | journalist | saya
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ikan biroe
ikan biroe at A Story About Journalist - Part 2 (12 years 4 weeks ago)
100

walah...
masih bersambung juga,,
hha..
ditunggu !!

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at A Story About Journalist - Part 2 (12 years 4 weeks ago)

hmm, sip deh.. ceritanya lagi pusing euy sayah.. jadi lieur bingung.. :D

Writer erlangga
erlangga at A Story About Journalist - Part 2 (12 years 4 weeks ago)
100

hmm, kapan tokoh aku keluar.. eh udah yah, si Batara itu kan ceritanya aku yah? Secara, motornya shogun gitu.. sama. hahaha!

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at A Story About Journalist - Part 2 (12 years 4 weeks ago)
90

hahahaha.. akhirnya lanjut juga..