chapter 2, Oscar & benjamin : PARA PENULIS KORAN

Para penulis koran adalah mereka, para tapir yang penuh dengan dedikasi. Yang bekerja diruang-ruang gelap yang sedikit terang dan seringkali remang. Merekalah selama ini yang mengendus kabar dari rumah-rumah hingga ruang- ruang pertemuan, dari lapangan indoor hingga outdoor, dari buaian hingga liang lahat.

hari itu diantarkan benjamin, oscar menemui para penulis koran. Menuju gedung tertinggi di kota marley, kantor bagi penulis koran dan rumah bagi para tapir.

“ selamat siang!!!” salam oscar dan benjamin hampir bersamaan.

Dihadapan mereka seekor tapir menoleh dengan raut muka penuh kecurigaan yang memang sudah sepantasnya mengingat profesinya didasarkan pada sebuah sikap yang meragu. Sang tapir menjawab dengan acuh seolah bertanya.

“ selamat siang”

Sang tapir kemudian melirik jam tangannya sejenak, menoleh kebelakang mejanya dan berteriak lantang.

“ sebelas jam lagi!!!!!!!”

Rekan-rekan tapirnya yang lain serentak mengangkat kepalanya, kemudian cepat saja tenggelam kembali dalam rutinitasnya, namun kali ini sepertinya mereka benar-benar sangat terburu-buru. Oscar bertanya dalam hatinya, namun benjamin tidak bertanya dalam hatinya, benjamin sibuk memperhatikan dinding ruangan yang penuh dengan tanda tanya.

“ ada yang bisa saya bantu?”
kata sang tapir dengan nada suara yang dipaksakan.

Oscar lalu dengan sigap melangkah maju selangkah, seperti hendak menonjolkan dirinya, seperti ingin berkata pada sang tapir dengan bahasa tubuh bahwa dialah yang bisa dibantu itu.kemudian dengan semangat yang membabi buta dan berapi-api mulailah ia menjelaskan ikhwal kedatangan mereka berdua, tak lupa pula dibumbuinya penjelasan itu dengan cerita-cerita mistis, karena menurutnya para Penulis koran tentunya menyukai hal-hal mistis seperti itu, lalu ketika akan menutup kisahnya seperti binatang kebanyakan ia menutup penjelasannya dengan kalimat umum yang diplomatis.

“ demikian dan terima kasih”

Sang tapir terdiam, dengan raut muka tidak percaya yang tentunya sudah sesuai dengan jenis pekerjaannya memulai kalimatnya dengan menoleh pada benjamin dengan ekspresi muak yang secukupnya.

“ saya rasa tuan anjing yang disebelah sini cukup terpelajar, jadi tolong kau katakan pada temanmu yang berwajah karnivora ini bahwa kami hanya menerima kritik dan saran. Tidak menerima pencarian jati diri ataupun menawarkan jasa pelacakan garis keturunan. Katakan itu padanya wahai engkau tuan anjing yang anonimous, karena saya benar-benar kesulitan mengemukakan pendapat pada mereka yang buta huruf”

Benjamin adalah seekor anjing semua binatang tahu itu, yang tidak diketahui binatang lain adalah kenyataan bahwasanya benjamin memiliki kualitas setia kawan yang mencengangkan. hari itu Mendengarkan oscar sahabatnya di hina dina ia merasa sangat malu.

“ siapakah namamu?”
tanya benjamin pelan

Sang tapir ragu-ragu lalu menjawab dengan lantang.

“ sebut saja anton, bukan nama sebenarnya”

Benjamin menarik napas pelan lalu memuntahkan semua perasaannya dengan sangat spesiesis.

“wahai kau tapir anton yang bukan nama sebenarmu, apakah perlunya kalimat kasarmu itu ? sedang kami tidak menawarimu amplop? Tidak membredel koranmu? Bahkan selama umur hidup kami sekalian, tidak pernah sekalipun terlintas dipikiran kami untuk melakukan pengekangan terhadap kebebasanmu yang pers?. Saya minta kau meninta maaf pada temanku ini sekarang juga, karena saya bersumpah saya akan benar-benar membuatmu menyesal jika tidak melakukan itu.”

Anton tergugu, dipandanginya raut wajah benjamin dengan seksama namun tak ditemukannya tanda-tanda kemunafikan, ia pun meminta maaf dengan sangat sopan seperti ketika menemui seorang duta besar.

“ maafkan saya oscar” ucapnya, lalu ditambahkannya lagi kalimat keterangan untuk menemani kata-kata sebelumnya.

“ saya sedang dikejar deadline, saya harap anda berdua mau mengerti”

Benjamin mengerti namun tidak dengan oscar, ia sama sekali tidak melihat hubungan antara permasalahan itu dengan deadline. oleh karena itu ia pun menegur anton sang tapir yang bukan nama sebenarnya itu.

“ saya rasa urusan kita tak ada sangkut pautnya dengan deadline?”

Sang tapir membela diri “ ah, kamu takkan mengerti. Ini sangat-sangat berbau holistik”

Oscar makin kebingungann “ tolong jangan tambahkan hal-hal yang tidak ada dalam urusan kita”

Sang tapir menjelaskan lagi “ apa boleh buat, kode etik dan tuntutan profesionalisme mengharuskan saya melakukan itu”

Oscar melipat tangannya didada
“ wah..wah..wah..sekali lagi kamu baru saja menambahkan 2 hal yang tidak perlu didalam urusan ini”

“ lalu? Itukan sebuah konekuensi yang sangat-sangat logis?” tanya sang tapir

Oscar merasa sangat kesal, setengah berteriak ia berkata pada sang tapir

“ saya tidak akan bicara padamu selama kamu masih menambahkan hal-hal yang tidak perlu kedalam urusan kita.”

“tapi” kata anton

Oscar memotong kalimat anton dengan cepat
“Saya tidak akan bicara!!!”

“bukankah….?”

“Ssssst!!”

“kamu..”

“Ssssst!!”

Tak lama kemudian anton menyerah, oscar berkata pada benjamin yang memperhatikan langit-langit ruangan yang penuh dengan tanda seru.
“ yamin, marilah kita tinggalkan tempat ini.”

Benjamin mengkuti oscar melangkah meninggalkan ruangan, ketika melewati pintu depan ditutupnya pintu dengan perlahan. Mengucapkan selamat tinggal dengan sopan santun yang tidak perlu, meninggalkan anton yang tidak diberikan hak jawab seperti seharusnya.

Read previous post:  
32
points
(984 words) posted by erul 12 years 33 weeks ago
64
Tags: Cerita | fanfic | oscar & benjamin
Read next post:  
70

mmm...agak terganggu dengan panggilan oscar terhadap benjamin yang terlalu banyak (benji, yamin, de el el)..bukankah sahabat biasanya hanya memanggil dengan satu panggilan saja...menurutku lo...

relatif sebenarnya....kalo teman baik, biar manggil dalam hati dianya menjawab heheheh

70

Bagian kedua tak lebih jelas dari bagian pertama, tapi lumayan menarik dibaca.

thanks......i will work on it