Not End Story

Title: Not End Story
Genre: err.. brother complex
Characters: Noa X Mizu
Disclaimer: Emaknya Noa dan Mizu
Note: masa kecil dari Noa dan Mizu, prequel empty
------------------------------------------------------------

Semua cerita selalu memiliki awal dan memiliki akhir. Semua. Seperti buku dongeng yang tidak pernah dibacakan untukku oleh orang yang mengaku melahirkanku ke dunia. Seperti novel novel yang dibaca perempuan melankolis yang kukenal hingga menitikkan air mata. Seperti... Ah, lupakan sajalah. Nah, lalu, ceritaku ini sebaiknya diawali dengan apa? Darimana mulainya...? Hm, bagaimana jika kita mulai darinya, dari wajah bulat penuh lebam yang mengintipku dari belakang punggung papa? Mata biru laut yang indah mengedip menatapku dengan rasa ingin tahu yang besar. Lucu. Tidak ingat sudah berapa tahun sudah berlalu sejak saat itu, sepuluh? Atau kurang? Yah, tidak penting, yang penting, dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah. Dia, malaikat kecilku.

Aku tidak main main saat aku mengatakan bahwa ceritaku dimulai di sana. Hidup yang tak terasa hidup. Melankolis. Aku tahu. Melebih lebihkan? Hm.. aku rasa tidak. Sepi, gelap, dan sendirian. Duduk dipojok kamar didalam rumah yang luas, memeluk lutut, seakan seluruh duniaku adalah ruang kamar itu. Tidak ada siapa siapa, hanya aku. Sebelum dia datang dalam duniaku. Seperti cahaya lilin mungil dalam mataku yang hanya berisi kegelapan. Dia bercahaya. Indah.

Oh, betapa aku membencinya.

Dia membuatku berkaca. Membuatku menyadari dengan nyata selemah apa aku sebenarnya, semenjijikan apa, sepecundang apa aku jika dibandingkan olehnya. Dia menyebalkan!

Kulemparkan mobil mobilan itu padanya. Kesal akan senyum yang dia berikan padaku, pada dunia yang sama tidak ramahnya dengan duniaku. Sebal. Kenapa dia bisa tertawa sementara aku tidak? Sebal lagi.

Bibirnya mengerut, kesal karena kepalanya sakit. Oh, sang malaikat pun ternyata bisa kesal? Ha, kejutan pertama!

Mizuki. Mizuki.

Aku suka mengucapkan nama itu. Seperti mantra, seperti sihir yang menjagaku supaya tetap waras. Menjagaku tetap berpikir bahwa aku ini manusia punya darah dan daging dan bukan iblis. Mizu. Mizu-ku. Adikku.

Akrab. Tidak tahu kenapa bisa begitu. Karena sama sama kesepian? Atau karena kita sama sama berpikir ada darah tak kasat mata yang menghubungkan kami berdua? Memegang harapan kosong, harapan penuh keputus asaan, bahwa kami tidak sendirian di dunia.

Ada kakak.

Ada adik.

Ada Mizu.

Dia akan tertawa jika kubelikan es krim. Dia akan tersenyum kalau kuceritakan hal hal yang lucu. Dia akan menangis kalau kita bertengkar. Dia akan marah jika kugoda. Dia akan ngambek kalau kubilang cantik. Dia sungguh manis sekali. Adikku. Entah kenapa mataku selalu dipenuhi dengan cahaya jika sedang melihatnya. Satu satunya cahaya yang kupunya, mata biru laut yang menatapku dengan pandangan jujur dan bebas. Membuatku bisa tertawa. Sebebas burung yang terbang dilangit sana, seindah mata hari senja, semurni malaikat.

Tapi mereka merebutnya lagi dariku. Cahaya yang hampir kumiliki seutuhnya, satu satunya penghubungku dengan dunia. Mereka datang dan merampasnya, membawa pergi Mizu. Kupandang semuanya dari jendela. Tangan mungil yang digandeng keparat tua, wajah manisnya yang tidak henti hentinya menoleh ke rumah, cemas, khawatir.

Apa dia mencariku?

Apa dia akan kangen padaku?

Diam saja, hanya bisa memandang dingin pemandangan daun daun mongering di uar jendela yang jadi latar belakangnya. Aku masih kecil. Aku tidak bisa apa apa. Dan semuanya bilang malaikatku akan lebih bahagia. Bersama ibunya, perempuan yang berhak atasnya.

Apa iya ?

Mizu datang lagi, sekali seminggu, bersama keparat tua itu, selama beberapa jam di rumah kosong ini sebelum dia kembali dibawa pergi. Aku senang. Menanti hari demi hari, mencoreti tanggal yang ada di kalender rumah, sebentar lagi… sebentar lagi saja, dia akan datang dan menemuiku. Tersenyum senyum merancang acara yang akan kita mainkan bersama nanti. Apa? Apa yang akan kita lakukan hari ini?

Dan mataku melihatnya, sejelas kaca. Memar biru yang tertambat ditubuh malaikatku. Marah. Kesal. Tidak terima. Mereka bilang padaku katanya dia akan lebih bahagia!! Mana buktinya?! Kudorong keparat tua, kukatakan semuanya. Mizu luka! Kau tahu tidak!

Wajah dewasa itu memucat, menarik Mizu tiba tiba, membuka bajunya, menyentuh lebam lebam yang mati matian ditutupi sang malaikat. Aku tersadar, terkesikap, Mizu tidak mau semuanya tahu. Itu rahasia kecilnya dengan sang ibu.

‘Kenapa kau bilang!’ Dia mendorongku dengan keras dengan kedua tangannya. Marah. Menangis. Wajahnya merah, dipenuhi dengan perasaan campur aduk di sana, ‘Mama akan menangis lagi! Kenapa tidak kau biarkan saja dia memukulku!’ Dia berteriak, ‘Jangan ikut campur!’

Tercekat, tidak mau kalah, tidak merasa bersalah, tanganku ikut mendorongnya, membuatnya terhempas ke lantai.

‘Yang salah wanita itu!’ teriakku. ‘Dia memukulmu!’

‘Mama tidak salah!’ Balasnya, ‘Asal mama berhenti menangis! Dipukul tidak apa apa!’

Menangis lagi, memeluk lututnya, bersandar di dinding. Tidak tahu butuh berapa jam bagi air matanya untuk mengering seluruhnya. Ada yang sakit di sini. Di dada. Tapi aku tidak salah apa apa! Bagiku Mizu tidak boleh dilukai, apapun alasannya. Tidak, aku lah yang sudah melukainya, membuatnya menangis sampai seperti itu, benar benar hina.

Entah berapa lama sampai Mizu mau bicara padaku lagi. Saling diam, saling keras kepala, saling tidak mau mengalah, saling merasa masing masing sudah melakukan hal yang benar. Tapi setidaknya, saat aku menoleh, dia ada. Tidak perlu mencoreti tanggal demi tanggal, menunggu nunggu saat pintu rumah terbuka dan dia berdiri di sana. Mizu di sini. Di dunia kecilku ini. Menemaniku, malaikat kecilku.

Hari seperti apa yang kami lewati aku tidak tahu pasti. Tapi ketahuilah, aku bisa bangga mengatakan bahwa aku punya adik. Aku punya keluarga, seakan status keluarga itu yang terpenting untukku dari apapun yang ada di dunia. Sesuatu yang akan mengikatku dengan Mizu selamanya. Dia adikku. Hei, dia adikku, kami punya darah yang sama yang mengalir di nadi ini, walau kami beda ibu.

Menyenangkan, lega, karena aku sekarang punya pegangan. Pegangan bahwa aku di dunia ini tidak sendirian. Ya, sebelum dia menghancurkannya.

‘Noa bukan anakmu!’ Kalimat yang diucapkan dengan bangga dan penuh percaya diri oleh orang yang seharusnya kusebut ibu. Kalimat yang menghancurkan seluruh dinding yang kupunya.

Mizu dan aku bukan siapa siapa. Bukan keluarga. Bukan apa apa.

Kenyataan yang membuatku kembali merasa sendirian di dunia. Tidak ada yang menginginkanku, tidak ada yang mau, bahkan Mizu juga bukan milikku.

Mau mati saja!

Pikiran konyol apa yang kupunya aku tidak tahu. Gila. Ya, tapi semua itu, kukatakan padanya, pada bocah mungil yang mengikutiku ke jembatan, tempat dimana aku berniat mengeksekusi diriku sendiri. Penuh air mata, kutumpahkan semuanya di sana, berharap dia bisa mengerti. Bisa memahami. Dan merelakan.

‘Tapi aku mau Noa!’ Bibir mungil itu mengucap. Ada kejujuran di sana. Ada kebenaran dalam ucapannya seakan yang dia katakan itu mutlak. Dia-mau-aku.

Terlambat. Kakiku sudah kehilangan pijakan. Air yang dalam dan beriak akan segera menyambutku, menguburku di dalamnya, selamanya. Menelanku, menyembunyikanku dari dunia. Kumohon… lenyapkan saja aku.

Ya, itu yang kupikirkan sebelum aku melihat adegan yang paling mengerikan. Tangan mungil yang terulur, mata biru yang menatapku dengan penuh air mata, bibir yang meneriakkan namaku. Mizu melompat! Aku membeku ditempat. Panik. Mizu! Mizu!

Tuhan, kumohon padamu, berikan sayap untuknya.

Air dengan cepat menyambutku. Menenggelamkanku seperti yang kuminta, menarikku ke dasar yang gelap. Mengisi paru paru, tenggorokan, semuanya.

Sesak. Sakit.

Aku akan mati, aku tahu itu, dan aku tidak keberatan. Tapi tidak sekarang, tidak sampai aku yakin Mizu selamat.

Timbul tenggelam, timbul tenggelam, makin lama makin banyak yang memenuhi lambung dan hidungku. Tidak peduli! Mizu, mana Mizu.

Jauh.

Lalu aku melihatnya, secercah harapan. Dia memang bukan ayah yang baik, dia tidak pernah menyentuhku dengan cinta kasih, tidak pernah membisikkan kata kata sayang, tidak pernah berlaku sebagai seorang ayah. Tidak. Tapi aku bersyukur dia ada, datang ke sini, memandang dengan cemas ke sungai yang dingin. Dia akan menyelamatkan Mizu. Mizu akan baik baik saj…

‘NOA!’

Namaku yang diteriakkan olehnya. Namaku lah yang meluncur dari bibirnya. Bukan Mizu. Kenapa? Kenapa? Ada Mizu di situ! Lihat! Di sana, ditengah sungai yang sana. Mizu dulu! Selamatkan dia dulu!

Berjuang bicara saat lengan kokoh itu menarikku ke tepi. Memaksaku untuk mengikuti. Mizu… Mizu dulu… kumohon padamu…

Mizu koma, berada di luar kesadarannya, tertidur lelap dengan wajah pucatnya. Akhir yang indah kan ? Memandangi tubuh mungil yang dihubungkan ke mesin, saat grafik hijau itu bergerak naik turun satu satunya penanda bahwa dia hidup. Menempel ke kaca, membiarkannya berembun karena napasku. Kesadaran masuk ke dalam otakku membuatku bergidik ngeri.

Mizu akan diambil dariku.

Hidupku di situ, cahayaku di situ, malaikatku di situ. Semuanya ada di situ. Terbaring di situ, berjuang mempertahankan nyawa kecilnya. Jantungnya berusaha berdetak, paru parunya berusaha untuk bernapas. Aku benci. Aku benci. Aku benci pada keparat tua yang menyelamatkanku lebih dulu, aku benci pada dokter yang tidak bisa apa apa menyelamatkan Mizu, tapi, kusadari dengan baik, dari semunya yang paling kubenci adalah diriku sendiri. Seharusnya aku tidak melompat, seharusnya aku tidak membuat Mizu mengikutiku. Seharusnya aku bisa menarik tangannya, seharusnya aku bisa lebih mendekat padanya, berenang lebih baik, menggerakan tangan lebih banyak. Seharusnya… dan seharusnya…

Menatap dinding, memukulnya dengan tanganku, merasakan getaran sakit yang kuterima sebagai akibatnya. Aku ingin menyakiti diri. Aku ingin akulah yang berbaring di sana, memejamkan mata, menggantikan dia.

Berdoa. Memohon, tidak tahu lagi pada siapa aku bisa meminta. Tuhan, tolong, selamatkan dia!

Tidak ingat berapa lama setelah doa itu, berapa hari atau minggu aku menjagainya hampir setiap detik, sepulang dari sekolah, sambil memanggul ransel hitamku. Berjinjit, melihat wajah putih itu dari balik kaca. Lalu, seperti keajaiban, seperti mukjizat, pelan pelan kelopak mata itu terbuka. Menatapku lekat lekat tepat ke mata dengan bola mata biru laut yang kucinta, tersenyum, tertawa. Memegang tanganku, mengembalikan seluruh cahaya di duniaku, hidupku.

‘Pagi.’ sapanya.

Seperti yang kulihat sebelumnya, seperti yang kupahami dengan baik, dia sangat indah. Lega. Sedikit. Untuk hari ini. Ya, karena bertahun tahun setelahnya senyuman itu akan lenyap seluruhnya tanpa bekas dari wajahnya. Wajah yang kusuka.

Mizu-ku. Malaikat kecilku.

Ya, dan aku penyebabnya.

***

Read previous post:  
66
points
(982 words) posted by angel16 11 years 40 weeks ago
73.3333
Tags: Cerita | fanfic | iseng2 | psycopat | sadis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fairynee
fairynee at Not End Story (11 years 39 weeks ago)
90

selalu aku menyukai cerita-ceritamu, tan...
^^

Writer ash
ash at Not End Story (11 years 39 weeks ago)
60

MENGHARUKAN...pas bgt! sister emang bisa jadi malaikat kecil buat orang dengan kepribadian keras seperti noa

A LOVELY SISTER ^ ^

Writer leo-yusuf
leo-yusuf at Not End Story (11 years 40 weeks ago)
90

ceritanya sedih.............mengharukan...aku suka...hmmm...ada lagi nga ceritanya..hksss hksss :'(

Writer peranita
peranita at Not End Story (11 years 40 weeks ago)
70

cantik cara ceritanya...

Writer smith61
smith61 at Not End Story (11 years 40 weeks ago)
90

Mantap ! Mantap ! Mantap !
Jadi ujung ujungnya mizu tetep meninggal?

Writer angel16
angel16 at Not End Story (11 years 40 weeks ago)

ga mau mizu matiii... hueee... TT.TT

Writer thasayua
thasayua at Not End Story (11 years 40 weeks ago)
90

oww .
tnyata cerita lengkapnya disinii .
:-)
aku bingung crita sebelum nya soalnya . hahaha .

Writer Chie_chan
Chie_chan at Not End Story (11 years 40 weeks ago)
90

kompleks... saia terkesan :D

Writer Writerzard
Writerzard at Not End Story (11 years 40 weeks ago)

I luv my sister
mengharukan ceritanya