Mamaku Vampir

“KAK REGINAAAAAAAA!!!!!!!!!!”
Astaga... suara cempreng siapa itu?? Tape rusak? ayam berkokok kepagian? Atau ...
Aku mengubur kepalaku di bawah bantal.
“Astaga! Kakak masih tidur?!! KETERLALUAN!!!”
Ternyata benar, Simon, adikku yang lebay. Dengan sigap dia membuang semua bantal yang melindungi telingaku dari suaranya yang seperti piring pecah itu.
“Aaahh... Simon ... apa siiihhh?” jawabku tanpa membuka mata walau wajahku yang acak – acakan itu pastilah sudah terekspos dengan sempurna di hadapan Simon.
“Ka Regina sayang, ayo cepat bangun,” Simon melucuti selimutku.
“Kamu ... bukannya di Bandung? Nagapain si pagi - pagi gini kesini jauh - jauh pula?”
Sahutku masih tanpa membuka mata, Simon membuang sisa bantal dan guling ke lantai kamarku yang berkarpet putih. Simon selalu menentang penggunaan apapun berwarna putih di kamarku lantaran katanya aku adalah orang yang ‘tidak sadar bersih’.
Di balik untaian rambutku yang acak – acakan aku terenyum geli mengingat setelah Simon berkata itu, aku melemparnya dengan kue bolu. Seperti biasa, reaksi Simon adalah menangis dan mengadu pada mama. Padahal, umurnya sudah sembilan belas,dengan cita - cita membuka salon terbesar se –Indonesia. Ahhh ... tidak terasa, enam tahun sudah berlalu sejak peristiwa pelemparan kue bolu itu, tapi gelinya masih bertahan, mengelitik seperti di kitik – kitik. Mama marah sih , eh, mama ... dimana ya?
“Ka Regina, MAMA HARI INI PULANG! Dan dia minta di jemput di bandara. Kita berdua tahu kaaan kalau mama marah seperti apaaaa....”
Mataku terbuka, aku mendadak bangun (dipaksa bangun oleh segenap saraf yang kupunya yang mendadak membunyikan alarm di otakku) yang akhirnya memicu seluruh badanku bergerak cepat ke arah kamar mandi.
Pemandangan terakhir yang kulihat adalah Simon dengan kaos ketat berwarna biru tosca dan celana ketat hitam kesayangannya tersenyum lebar ke arahku.
“Perlu Simon pilihin baju buat kakak?”
Aku menjawabnya dengan cibiran dan bantingan pintu kamar mandi di kamar tidurku.

***
Sekitar 30 – 40 menit kemudian, aku dan Simon sudah berada di mobil sedan hitam kepunyaanku. Seperti biasa, Simon mengoceh panjang lebar. Kali ini tentang pembukaan butik salonnya yang baru sebagai satu – satunya salon yang memiliki daycare atau tempat penitipan anak di Bandung. Hasilnya, makin banyak tante – tante berkunjung dan rupiah pun mengalir lancar.
Sebenarnya, kalau boleh jujur, di kepalaku hanya terdiri dari dua hal, satu, (mungkin otak kiri yang selalu berpikiran logis itu) rute ke bandara, dua, dedaunan, ranting dan pohon – pohon di sisi jalan yang melayang – layang dan bergantian menyapa di permukaan kaca mobilku. Ocehan Simon mental seperti bola kasti yang dipukul dengan keras lalu melayang jauuuuh sekali.
Setelah ribuan kata meluncur dari mulut Simon yang berwarna agak pink, dan puluhan pohon kita lewati, sampailah kita di bandara.
“Duuuh, untung aja, pesawatnya baru landing, mama baru datang kayaknya,” ucap Simon cemas yang lagi – lagi, terpental oleh cueknya diriku.
“Ayo, kak, jalannya lebih cepat dooong... kok bisa sih cuek gitu, padahal mama kan udah mau datang!”
“Simon, mama pasti datang, walau kita cepat – cepat atau lambat – lambat, betul?”
“AAAHHHH kakak tidak mengerti!! Semuanya itu harus sempurna! Tidak boleh ada cacat, dan terlambat adalah CACAT!”
“Nah, tuh mama, baru keluar dari arrival gate,”
Simon berlari menyongsong mama. Aku berjalan santai mendekati barisan tas yang terjajar dengan rapi, dikeluarkan oleh mesin lalu menunggu diambil tuannya. Hehe, ini selalu mengingatkanku dengan meja berputar sushi bar.
Aku mengambil barang – barang berlabel Dewi Kencanasakti, nama mamaku yang ditunggu - tunggu itu.
“MAMA!” Simon berhamburan memeluk mama. Seperti biasa, mama tampil anggun dengan rambut disanggul sempurna dan setelan blazer merah hitam yang rapih.
“Simon, terima kasih ya kamu datang jauh – jauh menjemput mama,” Sambil memeluk Simon, mama melirikku yang sedang mengamati sebuah kotak kayu panjang berwarna cokelat hitam berlabel nama mama.
“Itu oleh – oleh buat kamu Regi, kamu pasti suka,”
Aku menjawab mama dengan senyum tipis penuh arti.
“Untuk Simon??” Simon menatap mama.
“Untuk Simon? Mama bawa alat – alat facial canggih buat salon kamu,”
“DAAAANNN??”
Aku dan mama saling menatap,
“Oh, iya, mama hampir lupa, boneka Hello Kitty pesanan kamu, nih, spesial masih di dalam kotak, biar kamu yang buka,”
“Awww mama baik deh! Thanks ya!”
Sambil tersenyum kecil mama bergumam di telingaku,
“Regina ... itu buatan Amakuni,”
Aku tersenyum lebar ke arah mama, seperti anak kecil baru mendapat permen loli yang dimintanya berjam – jam.
***

Dari dulu, bagi semua penghuni rumah ini, mama seperti badai. Tidak pernah bisa ditebak kapan akan melanda rumah ini dengan perubahan. Tapi, seperti acara pesta perkawinan, walaupun heboh, mama selalu mampu mengatur semuanya dengan rapih dan efektif.
Rumah kami sangat besar. Dibangun saat mama baru menikah dengan papa, sebagai hadiah dari keluarga mama. Kata mama, rumah bergaya Victoria klasik ini tidak langsung jadi megah seperti sekarang, tapi perlahan, setiap kali ulang tahun perkawinan mereka, mama dan papa menambahkan sesuatu yang baru di rumah ini. Entah dekorasi taman baru, air mancur, lampu kristal ataupun lukisan klasik.

Dinding ruangan tamu kami di gantungi banyak lukisan. Pekerjaan papa sebagai seorang kurator memberinya kases ke tiruan lukisan kelas dunia seperti Peter Paul Rubens. The Fall of the Damned, Massacre of the Innocents, Raising from the Cross tergantung tegak, megah dan sempurna. Tidak lupa, Infanta Isabella Clara, sebagai hadiah ulang tahunku dari papa. Papa bilang lukisan – lukisan itu begitu nyata, bergejolak dengan energi, nafsu dan hasrat yang tertangkap jelas dari warna dan lekukan tubuh yang dinamis dari karakter yang dilukisnya.
Tapi, dari semua lukisan yang ada, aku paling menyukai Vonal-Stri, dilukis oleh seorang pelukis Hongaria, Victor Vasarély pada tahun 1975. Gambarnya simple, hanya terdiri dari barisan persegi berwarna gradasi hijau – cokelat muda – ungu dengan disela garis - garis hitam. Persegi – persegi warna – warni tersebut disusun dengan apik dari besar ke kecil, dari kiri ke tengah hingga kita yang melihatnya serasa masuk ke dalam sebuah ruangan persegi. Aku menyukai efek Op art ini, mengingatkanku bahwa, ilusi dan kenyataan itu seringkali beda – beda tipis.
Balik lagi ke badai yang diciptakan mama, ketika baru saja tiba dari bandara barusan. Mama memerintahkan semua pembantu yang ada untuk mengganti semua karpet di rumah dengan warna merah. Terutama di ruang tamu dan kamar mama. Kemudian semua guci dan semua dekorasi pecah belah dipindahkan ke gudang.
“Permisi, non Regina,” bapak Godo, kepala pelayan kami, mendekatiku yang sedang berbaring sambil main PSP di sofa klasik di ruang tamu.
“Iya pa, ada apa?” tanyaku pelan.
“Itu ada lima orang laki – laki di luar yang katanya koki – koki pesanan nyonya besar,”
Aku tersenyum, di layar PSP-ku Lara Croft baru saja menggantung di lampu kemudian turun membasmi mumi di sebuah ruang tamu. Aku men-save game yang kumainkan itu lalu bangkit dari sofa.
“Kalau begitu, biar saya yang menemui mereka,”
“Ada empat orang pria juga yang katanya montir sewaan nyonya,”
“Hmmm, begini saja, bapa tolong antarkan koki – koki tadi ke dapur dan montir – montirnya ke garasi, saya yang akan bilang sama mama,”
“Baik non,”
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua ke kamar mama. Di dalam, para pembantu sedang sibuk mengganti karpet dan mama berdiri mengawasi mereka.
“Mam, grup Giovanni dan Benni sudah datang,”
“Sudah kamu suruh ke tempat mereka masing – masing?”
“Sudah mam,”
“Bagus. Regina, sudah kamu lihat isi kotak tadi?”
Aku tersenyum lebar,
“Sudah mam,”
“Kalau nanti dia datang malam ini, kamu boleh mencobanya,” ucap mama sambil tersenyum ke arahku.

***

Sekitar jam sembilanan, rumahku sudah seperti kolam darah, karena lantainya yang hampir semuanya berkapet merah, kontras dengan temboknya yang bercat putih.
Aku berjalan di koridor lantai 2 yang memutari ruang tamu oval kami, memeriksa Simon yang tertidur pulas di kamarnya, lalu mengunjungi mama di kamarnya. Mama sedang berbaring santai dalam baju tidur berwarna merah, semerah karpet di kamarnya. Mama tersenyum melihatku. Rambutnya yang hitam -panjang diikat rapi, kulitnya yang putih bersemu merah.
“Semuanya beres?” tanya mama sambil memindahkan novel di tangannya ke samping tempat tidur.
“Beres mam. Papa sekarang ada di rumah Paman Enrico dan baru pulang besok setelah makan siang. Semua pembantu sudah pulang jam tujuh tadi. Simon sudah tidur lelap dengan boneka kucingnya. Jadi, sekarang ini, cuma tinggal kita berdua.”
“Anak mama memang,”
Aku berjalan mendekat mama,
“Perlu Giovanni untuk membantumu?” tanya mama sambil membelai rambutku perlahan. Lurus, hitam dan panjang, sama seperti rambut mama.
“Tidak perlu, perkiraanku hanya sekitar tujuh sampai sepuluh orang yang akan datang, aku saja sudah cukup,”
“Kamu yakin, memakai celana piyama batik dan baju barong itu?”
Aku tertawa kecil,
“Iya, nyaman banget sih, aku jadi bisa bergerak bebas,”
Mama tersenyum dan ketika aku menutup pintu kamarnya, novel tadi sudah kembali ke tangannya.
Aku berjalan ke tengah ruang tamu dan berhenti tepat di bawah lampu kristal besar. Tidak ada lampu yang menyala, ruang tamu ini hanya di terangi cahaya bulan yang lagi bulat – bulatnya di langit. Perlahan aku mengeluarkan sebilah pedang dari kotak pemberian mama tadi. Kubuka sarungnya yang berbentuk seperti pipa berwarna hitam legam dan seketika itu juga aku merasakan ribuan batang es menancap jantungku.
Kogarasu Maru, pedang naga awan, buah karya Amakuni, pembuat pedang legendaris Jepang abad 8. Kusentuh lembut besinya yang berkilauan memantulkan cahaya bulan, ujung pedangnya yang berbentuk segitiga, gagangnya yang keras berwarna hitam dengan ukiran awan dililit naga emas ... sungguh, aku siap membunuh apa saja dengan ini.
Lalu kuarahkan pedang itu tepat menunjuk sebuah lukisan. The Fall of the Damned. Di lukisan itu, jurang neraka seperti badan pohon tua raksaksa berwarna cokelat tua dengan lubang dan dan lekukan – lekukan besar. Itu semua berisi ratusan manusia telanjang yang berjatuhan ke neraka.
Uap berwarna kemerahan mengepul, secercah sinar menyembul dari sebuah lubang di sebelah kiri atas, lubang tempat manusia itu dijatuhkan. Ada yang bergelantungan, saling menarik atau mencoba memanjat dengan sekuat tenaga, namun sia – sia. Tentara neraka tetap saja tertawa dan menarik tubuh mereka. Di dasar lukisan, tentara neraka berbaju perang Romawi menarik manusia – manusia tanpa harapan itu dan berpesta di atas daging – daging mereka.
O yaa....
Aku juga akan berpesta.
Sebentar lagi aku dan Kogarasu Maru akan menyantap banyak nyawa. Tidak akan kubiarkan lolos siapapun yang berani mengancam kami. Aku akan mengendarai naga awan dan mebinasakan mereka semua dari langit.
... Lara Croft ...

***

Satu, dua ... hmmm ... delapan orang berbaju hitam – hitam masuk paksa dari pintu depan. Mereka memecahkan pintu ruang tamu kami yang terbuat dari kaca ukir. Brengsek! Mereka akan bayar mahal kaca grafir yang memang mahal itu.
Ninja – ninja itu dengan mudah membuka pintu kaca yang sudah pecah. Seorang pria berambut sebahu dan berjas cokelat berjalan dengan congkak melewati pintu ruang tamu yang sudah di jebol ninja – ninja barusan. Dengan diikuti dua orang ninja, dia berjalan ke lantai 2, menuju kamar mama. Sementara yang 8 lagi, berjaga – jaga di dalam ruang tamu. Mereka tidak sadar ada seekor kelelawar besar tergantung di balik lampu kristal yang sedang mengawasi mereka. Aku tersenyum sinis.
Ku tunggu hingga pria congkak tadi masuk kamar mama, lalu meluncur turun perlahan dari lampu kristal, dan mendarat tanpa suara di lantai ruang tamu. Herannya, ninja – ninja itu tetap tidak menyadari kehadiranku. Mungkin, itu kelebihan kita dari pada manusia biasa. Kita lebih ringan...
Kogarasu Maru menembus perut ninja di depanku. Darah muncrat dan tumpah kemana – mana saat aku menariknya kembali. Mendengar rintihan sekarat temannya, ninja – ninja yang lain terbelalak menatapku. Dengan santai, aku bilang, “Haai, membobol rumah orang itu kejahatan loh,”
Ninja –ninja itu memutariku dengan waspada. Aku menatap mereka satu persatu lalu tersenyum dan menjilat darah di besi Kogarasu Maru. “Cuuh, pahiit, dia pasti jelek, betul?” Itu sudah cukup menumpuk kepala ninja – ninja itu dengan arang yang terbakar panas. Dengan amarah yang menyala merah di mata, mereka menatapku, berharap aku takut mungkin. Bodoh ...
Linkin Park – Paper Cut ... menyala di otakku, ah andai band cadas yang kreatif itu bisa mengiringiku live sekarang, pasti menyenangkan! Tidak perlu lah, imajinasiku sudah cukup nyata untuk jadi kendaraan adrenalinku.
Seorang ninja tiba – tiba menyerangku dari belakang sambil berteriak. Inderaku yang tajam telah memperingatkan otakku terlebih dahulu dan memerintahkan tubuhku berputar ke belakang untuk menangkis serangannya. Lalu kemudian memukulnya dengan Kogarasu Maru. Pedangnya yang berbunyi seperti kaleng kerupuk itu menyerah di tebas Kogarasu Maru jadi dua. Sebelum ninja itu menyadarinya, jantungnya sudah kutusuk dengan sukses.
“Hmm ... tidak enak lagi,” gumamku saat mencicipi darah di ujung Kogarasu Maru.
Kejadian barusan rupanya semakin memicu adrenalin ninja – ninja yang lain. Mereka tiba - tiba menyerangku dengan membabi buta. Sayangnya, serangan – serangan mereka jadi lebih mirip babi yang buta, tidak berhasil menyentuhku sama sekali. Dalam hitungan menit, mereka semua tewas terkapar. Suasana yang terjadi antara kami mengingatkanku pada adegan adu pedang Uma Thurman dan Gank 88 di Kill Bill episode 1, film favoritku, hehehe...
Tiba – tiba, dua orang ninja mendarat di hadapanku. Mereka menatapku serius. Berbarengan mereka menghunus pedang ke arahku. Aku mengelak ke belakang. Biasa, serangan appetizer, makanan pembuka ...
“Hhmmm.. aura kalian berbeda,” ujarku masih sambil tersenyum. Mereka membalasnya dengan menyerangku bersamaan.
Kedua ninja ini bergerak lebih cepat dan terarah daripada ke delapan makhluk tak berguna tadi. Apabila tadi aku serasa jadi Black Mumba (Uma Thurman) membasmi begundal gangster, sekarang seperti saat dia melawan ketika melawan Ooren Ishii (Lucy Liu), sang ratu geng yang dulu ikut andil membantainya sampai sekarat. Aku melemaskan seluruh tubuhku, menyiapkan segenap otot dan sarafku untuk pertarungan yang mungkin sulit dan menjebak ini. Kutarik nafas dalam – dalam, lalu tersenyum ...
Mereka menyerangku lagi. Sungguh, gerakan mereka indah seperti tarian namun mematikan seperti ular. Berulang kali pedangnya hampir memotong tubuhku atau menusuk jantungku. Aku masih mencoba menghindar dengan melompat ke tangga lalu, masih sambil menghindari serangan maut mereka, melompat – lompat naik ke lantai dua.
Mereka tampak senang dan menikmatinya! Seakan – akan terdesak, aku melompat ke pegangan tangga dan ketika mereka berdua serentak menyerangku bersamaan, aku meloncat setinggi – tingginya dan secepat – cepatnya ke belakang mereka. Lalu, akhirnya, Kogarasu Maru menebas pinggang kedua ninja itu. Darah mereka muncrat ke wajahku yang terengah – engah menatap apa yang tersisa dari kedua ninja yang hebat tadi.
Aku melirik kamar mama.
Ingat pria berambut sebahu yang di kawal kedua ninja yang sudah tidur selamanya itu tadi? Ketika kubuka perlahan (nyaris tanpa suara) pintu kamar mama, dia sedang ngoceh soal vampir. Dia tidak menyadari kehadiranku disini. Padahal, aku sudah memandangi punggungnya yang berjas cokelat garis – garis itu dari tadi. Mama melirikku sebentar lalu memandangi pria tadi lagi.
Dengan suaranya yang berat dia menuduh mama adalah seorang penjahat, pembunuh, dan, yang paling terakhir, dia bilang mama vampir pengisap darah manusia. Mama tampak terkejut. Pria itu tertawa lalu menyebutkan sejumlah rupiah sebagai uang tutup mulut untuk menjaga rahasia mama. Selesai menuntut pria itu menghisap cerutu dengan tangannya yang, rupanya, cuma berjari empat.
“Atau, kalau tidak ... anak buahku akan membunuhmu dan anak – anakmu!” ujarnya sambil tertawa keras.
“Anak buah yang mana?” ujar mama pelan.
“Heh, mereka ada di – “
Dia berhenti bicara saat kulempar salah satu kepala ninja tepat melewati sisi kanan tubuhnya. Kepala itu mendarat sukses di batas pandangan matanya, di atas karpet merah mama. Secepat kilat, dia berbalik ke belakang dan menemukanku yang tersenyum ke arahnya.
“Halo Roberto,”
Roberto terbelalak menatapku yang sudah setengah berwarna merah.
“Ap - ap ..”
“Kamu benar Roberto,” ujar mama tanpa bangkit dari tempat tidurnya. “Kami memang vampir. Dan supaya kamu tahu, kami ada dimana – mana.”
Mata mama menyala merah.
“Kami kaya raya, kami berkuasa dan kami minum darah manusia. Tapi, tidak seperti kalian, kami tidak pernah merampok, mencuri, korupsi, apalagi membunuh jenis kami sendiri, terutama untuk uang. Kami selalu setia, saling membantu dan melindungi karena kami tahu, dari ratusan tahun yang sudah kami jalani, kami harus bersatu untuk bertahan hidup.”
Dalam sekedipan mata aku sudah berada tepat di depan Roberto. Panik jelas tergambar di wajahnya yang putih mulus dan sempurna itu. Dia melirik ke arah Kogarasu Maru. Ada darah menetes dari mulutnya.
“Kami pernah mengikat janji dengan seorang manusia yang pernah menolong kami, karena itu, kami tidak membunuh manusia sembarangan. Persedian darah di blood bank kami yang tersebar di seluruh dunia sudah cukup untuk menghidupi kami tanpa harus mengigiti manusia setiap kami lapar.” Lanjut mama.
“Kau ... kau ...” Roberto terbata – bata.
“Yah, dia itu Regina, teman sekolah kamu dulu. Ingat gadis kecil berambut hitam lurus yang selalu kamu panggil ‘si muka pucat’ itu?”
Aku tersenyum lebar dan mundur perlahan ke belakang. Tubuh Roberto bergetar karena gemetar, yakin hidupnya akan berakhir sebentar lagi.
“Aku adalah jendral pertahanan bangsa kami, dan Regina adalah komandan pasukanku. Manusia seperti kamu Roberto, yang membunuhi bangsamu sendiri, berani mengancam kami?”
Mama melayang di atas Roberto. Rambutnya menari – nari seperti ular di kepala Medusa, gigi taringnya yang putih seperti mutiara menyembul keluar.
Roberto memandangi mama gentar.
Aku tebas kakinya, lalu kepalanya.

“Mam, kenapa jarinya cuma empat?” tanyaku sambil menyeruput darah di Kogarasu Maru. “hmmm... maniiis, ganteng sih, haha,”
Mama sudah kembali duduk tenang di tempat tidurnya lalu mengangkat gagang telepon.
“Giovani, kamu sudah bereskan ruang tamu? ... Iya, buang saja sekalian karpetnya, lantainya tidak apa – apa kan? ... iya bagus,”
Mama menekan tuts telepon sekali lagi.
“Benny, mobilnya sudah beres? ... BMW? ... ada di luar? ... jangan lupa ganti plat dan siapkan surat – surat,Simon pasti suka mobil itu,”
Aku masih menjilati Kogarasu Maru.
“Mam, kenapa tadi pake cerita soal janji kita dengan keluarga papa?”
“Biar dia tahu, kita bukan binatang buas seperti di film – film,”
“Yah, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mengakui Simon itu binatang buas,hahaha,”
Giovani datang dengan grupnya ke kamar mama lalu membungkus Roberto (sisanya) dengan karpet merah dan membawanya pergi. Dalam hitungan menit, Giovani si cleaner itu sudah berhasil membersihkan kamar mama lebih bersih dari sebelumnya.

***
“PAGII MAAAAMMM!!!! Hari ini simon mau pulang ke Bandung ya, looh, ko ada Kak Regina siiiih di sini??? Ko Simon ga boleh tidur sama mama???”
Pagi – pagi Simon sudah berhamburan ke kamar mama, mengacaukan tidurku yang lelap.
“Iya Simon, semalam kakakmu ini habis bekerja berat, jadi karena kelelahan, dia ketiduran di kamar mama,”
“Aaahh .. curaaangg! Ya sudah, Simon pulang dulu ya mam, sampe ketemu ntar Sabtu Simon maen ke sini lagi, eh, mam, itu mobil BMW di garasi baru ya? Simon pake pulang ya?”
“Baiklah, kalau kamu suka, tapi itu mobil bekas,”
“gapapa, Simon tetep suka ko, dah mama,” Simon mengecup pipi mama, “Dah kakak Regina yang males,”
Dia berlari keluar pintu.
“Mam,” tanyaku tanpa membuka mata.
“Ya?”
“Aku dengar dulu, Roberto suka menyimpan jari korbannya di mobil loh,”
Mam terdiam. Sekitar lima belas menit kemudian, terdengar teriakan Simon,
“AAAAAAAAAAAAWWWWWWWW...... ada jari oraaaanng di dashboard!!!!!”
The End
Referensi:
1. Kogarasu Maru – Musashi Cloud Dargon Katana http://en.wikipedia.org/wiki/Kogarasu_Maru, http://www.swordsoftheeast.com/musashiclouddragonkatana-kogarasumaru.aspx
2. Amakuni - http://www.sword-buyers-guide.com/samurai-sword-history.html, http://everything2.com/title/Styles+of+Japanese+swordmaking
3. The Fall of the Damned, Massacre of the Innocents, Raising from the Cross, dan Infanta Isabella Clara Eugenia by Peter Paul Rubens http://en.wikipedia.org/wiki/Descent_from_the_Cross, http://en.wikipedia.org/wiki/File:Peter_Paul_Rubens_091b.jpg http://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Paul_Rubens, http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special%3ASearch&search=In...
4. Op art, Vonal Stri http://www.vasarely.com/, http://www.op-art.co.uk/victor-vasarely/, http://www.galerie-es.com/art.victor-vasarely.html?lg=en
5. Lara Croft – karakter utama video game dan film Tomb Raider

Read previous post:  
69
points
(3681 words) posted by joejoe 13 years 28 weeks ago
69
Tags: Cerita | kehidupan | hidup di sekeliling kita
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer red_habanero
red_habanero at Mamaku Vampir (6 years 6 weeks ago)
70

Interesting..

Writer marchelya
marchelya at Mamaku Vampir (11 years 44 weeks ago)

hhooo. .
nicee,,
like it za lah. .

Writer -tHe NanNy-
-tHe NanNy- at Mamaku Vampir (12 years 2 days ago)
90

great!
suka joe...bagus, idenya orisinil! =)

ada dikit komen joe, cuma soal cara nulis, soale pas baca gw ga ngerti, agak blur gara2 pembagian paragraph nya ngebingungin, dikit aja...

"Sahutku masih tanpa membuka mata, Simon membuang sisa bantal dan guling ke lantai kamarku yang berkarpet putih. Simon selalu menentang penggunaan apapun berwarna putih di kamarku lantaran katanya aku adalah orang yang ‘tidak sadar bersih’.
Di balik untaian rambutku yang acak – acakan aku terenyum geli mengingat setelah Simon berkata itu, aku melemparnya dengan kue bolu. Seperti biasa, reaksi Simon adalah menangis dan mengadu pada mama. Padahal, umurnya sudah sembilan belas,dengan cita - cita membuka salon terbesar se –Indonesia. Ahhh ... tidak terasa, enam tahun sudah berlalu sejak peristiwa pelemparan kue bolu itu, tapi gelinya masih bertahan, mengelitik seperti di kitik – kitik.:"

mendingan abis 'tidak sadar bersih' jgn dibikin paragraph baru, soalnya idenya masih sama kan, masih soal dia ingat dulu dia dibilang 'tidak sadar bersih' dan ada kejadian lanjutan...
kl dibikin paragraph baru seakan2 'dibalik untaian rambutku' kejadian present, padahal past.
udah itu aja...
selebihnya, YOU ROCK!!!

Writer joejoe
joejoe at Mamaku Vampir (12 years 1 day ago)

thaaaaannnnnnnnkssssssssss Yusni, gue hargain banget comment elo, kritik juga ga masalah kalo elo yang ngomong mah! Ntar gue bikin yg lebih dahsyat lagi. oke?

Writer ash
ash at Mamaku Vampir (12 years 3 days ago)
70

kereen...
ngomong-ngomong adex gw jg sok ngatur kakaknya ini...
(tapi ngga lebay kayak simon)

Writer IntanWidia_n
IntanWidia_n at Mamaku Vampir (12 years 4 days ago)
80

Astaga... suara cempreng siapa itu?? Tape rusak? ayam berkokok kepagian?

wakakakaka
aku jadi inget pernah ngomong kayak gtu ke teman...
(merasa bersalah)

keren ceritanya!

LANJUTKAN!!!

Writer joejoe
joejoe at Mamaku Vampir (11 years 51 weeks ago)

thanks ya, hehehe...

Writer argha
argha at Mamaku Vampir (12 years 4 days ago)
70

tulisannya bagus banget gan :) gmn caranya sih bisa nulis sebagus itu? punya tips khusus buat saya?

Writer joejoe
joejoe at Mamaku Vampir (12 years 2 days ago)

thanks buat coment (pujian sih) nya, gue juga masih amatiran ko, saran apa ya? banyak2 lah berimajinasi dan bermain video game kayanya. ow iya, n baca buku juga. thanks bgt!