sebuah surat yang seharusnya sudah lama aku menulisnya

Hai kekasihku apa kabarmu? Aku punya kabar baik bagiku, namun mungkin adalah kabar buruk bagimu

Tahukah kau, kekasihku? Tuhanku Google hari kemarin mempertemukan aku padamu, menjambak rambutku, dan membalikan kepalaku pada masalalu

Lima tahun lalu

Sayangnya yang ketemu itu cuman namamu, dan blog yang kutelusuri adalah milik suamimu

Jadi di profilnya dia hanya menulis bahwa sudah menikah dengan kamu

Agak lengkapnya begini; ....seorang dosen dan telah menikah dengan yanti hartini yang juga mahasiswi PGSD

Bagaimana aku tahu bahwa itu benarbenar kamu? Ya di situ ada fotomu, meski memang sebelumnya instingku mengatakan bahwa itu, ya memang kamu

Yang satu

Oia, apa kabar si akbar? Putramu

Ia pasti lucu seperti papanya

Ya suamimu!

Kekasihku, sudah lama aku menunggumu membuat akun di facebook, tapi yang kudapat lagilagi suamimu

Aku khawatir kau tidak merdeka, kekasihku. Atau mungkin kau telah menjadi iburumah tangga yang baik, rajin menabung, dan tidak bergosip?

Baguslah jika demikian. Aku senang!

Atau mungkin kau telah jadi guru yang digombali muridmuridmu, jadi PNS yang sibuk mengurus map ini map itu, seragam ini seragam itu? Ah bahagia aku

Atau mungkin kau telah berpirasat bahwa di kemayaan ini aku menunggumu?

Ah, ge-ernya aku!

Kekasihku, fotomu ternyata masih nyelip di dompetku

Yang tetap tipis, yang tetap sama seperti dulu; hanya diisi ajimat, kesunyiankesunyian kesumat dan lembarlembar karcis

Kekasihku, setiap kali aku melewati kotamu, rasanya aku ingin loncat dari bis untuk sekedar menanyakan alamat rumah barumu, lalu mengintip dari kejauhan tawa bahagia kalian

Kekasihku, sudah lama aku tak merasakan rindu, tapi sejak aku iseng searching namamu di Google itu aku jadi merasa dulu

Maka rindu ini tanggung jawabmu, sebab ia memanggilmanggil namamu

Kekasihku, kini rambutku telah gondrong dan oleh asap rokok dadaku bolongbolong

Oia, ikat rambutmu yang tertinggal kini telah bisa aku pakai

Kekasihku, kini aku jadi seorang anarkis, tetap bohemian, dan baru sadar bahwa punya musuh baru selain keluargamu, yaitu; mereka para kapitalis

Kekasihku, aku menulis sajak ini dengan tangan yang gemetar, yang lindu (bukan rindu), seperti penyakit ketuaan

Kata orang, memang tangan gemetar itu adalah tanda penyakit ketuaan

Padahal aku masih muda rasanya. Tapi mungkin masalalu memang menggugurkan rambutku pada usia masih belia

Dan masalalu telah menghapus file masakini dan rancang bangun masa depanku

kapan tahu!

Kekasihku, tanganku terus gemetar. Mungkin seperti tangan para polisi yang menghadapi gelombang demonstrasi, atau para politisi yang tertangkap basah korupsi

Kekasihku, tanganku terus gemetar, menjadi gelisah yang riuh rendah, yang membuat pelajaran melukisku menjadi susah payah

Kekasihku, kau tahu? dulu aku tak jadi bunuh diri sebab pohonpohon telah ditebang, keasrian telah tumbang dan wajahwajah kota mulai membayang
(Padahal aku ingin gantung diri dengan tenang)

Kini di kampung, ada bangunan jalan baru yang membelah kepalaku

Kau ingat Sewaktu kita main di kuburan? Nah, tengkoraktengkorak penghuninya pun disuruh pindah

Pemerentah memang payah! Hah!

Kekasihku, mungkin kini aku harus membangun dendam baru untuk selainmu

Tapi jangan sedih, dendam untukmu akan tetap jadi prioritas utamaku

Kekasihku, sudah dulu. Kini aku sedang merakit bom waktu

Lagian ini kantuk telah towaltowel mataku melulu ; semoga aku memimpikanmu tanpa ada suami dan anakmu

Merdeka cintaku! Merdekalah!

Aku akan mencintaimu dengan terus, dengan dendamku sampai mampus

Tentu bukan dengan cinta monyet atau cinta babi ngepet, bukan pula dengan cinta fitri ataupun cinta laura

Hahaha

2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

mengungkapkan perasaan yah.
bagus. mampir-mampir yah.=D

80

judulnya yahud.

40

Oh, kasih tak sampai....