Pengakuan

Aku tertawa melihat berita di salah satu stasiun televisi, entah kenapa. Mungkin karena wajah perempuan yang terpampang di layar begitu jelek, dengan tahi lalat besar di pipi kirinya dan sepasang alis super tebal. Atau mungkin bukan hal itu saja.
Aku tertawa karena isi berita tersebut, si wanita membakar bayinya yang baru lahir lantaran takut ketahuan suami bahwa ia hamil lagi.

Sungguh aku tertawa sampai perutku sakit, membayangkan berapa banyak perempuan yang melakukan perbuatan serupa karena takut kelahiran yang tidak diinginkan itu diketahui orang lain. Bahkan induk harimau atau singa saja melenguh sedih melihat anaknya dimakan pejantan. Harusnya bukan cuma masuk penjara atau rumah sakit jiwa. Sekalian saja di hukum mati.

"Bagaimana, ya, rasanya jadi mereka..?" aku bergumam sendiri, suara tawaku menipis di udara.

Suster Anna, seperti biasa cuma mengangkat bahu mendengarku bicara. Yang ia lakukan sepanjang yang kutahu adalah bolak-balik ke kamarku, menulis sesuatu yang rahasia di catatan pemeriksaannya, kemudian memasang senyum sambil menempelkan ujung stetoskop di dada atau leherku. Entahlah, paling tidak cobalah untuk memulai pembicaraan, suster. Aku ingin sekali bilang begitu padanya. Lagipula, ini tidak seperti aku akan mencekik atau mencakar wajah mulusnya begitu ia bersuara.

Aku menatap lagi layar televisi yang ditata agak lebih tinggi dari jangkauan tanganku. Programnya sudah lain lagi, sayang. Bosan, aku melirik si suster muda. Kegiatannya tidak berbeda dari yang kemarin. Mencatat, mencatat lagi, sampai aku kesal sendiri

"Suster bisu ya?" kataku, "Dokter saja sampai tarik urat minta aku bicara."

Tidak ada jawaban. Tapi alis matanya bergerak sedikit.

"Suster, anakku mana?" setelah itu aku tertawa kecil.

Suster Anna menghela nafas pendek, menyelipkan bolpoinnya ke dalam saku seragam yang ia kenakan. Mata birunya menyipit ke arahku, "Besok, jangan kabur lagi, Miska. Dokter hampir memutuskan untuk memasukkanmu ke ruang isolasi."

Benarkah? Pengajuan pasien ke ruang isolasi cuma dilakukan kalau kondisinya tidak bisa dikendalikan. Dan aku cuma kabur semalam, cuma sekali.
"Ah, tempat itu enak, tidak?" aku terkekeh.

Ia menggeleng kesal, "Sebelum kau mengaku, kau tidak akan dibebaskan dari rumah sakit."

mengaku?

Banyak sekali yang ingin kuakui dalam hidup. Aku ingin mengaku pada ibuku yang sudah terkubur di dalam tanah bahwa aku membencinya sebanyak tetes darah yang jatuh dari nadiku yang tersayat, mengenang perbuatannya memaksaku menikah dengan pria brengsek macam Ken. Aku ingin mengaku pada adik perempuanku bahwa aku tidur dengan kekasihnya tiap malam minggu saat ia lembur membenamkan diri dalam tumpukan pekerjaan. Aku ingin mengaku pada bosku bahwa kupakai semua uang di rekening pribadinya, mencuri kartu kredit di dompetnya saat bercinta di hotel.
Itu alasan yang masuk akal untukku yang ingin kabur dari rumah sakit jiwa, bukan?

Padahal seharusnya aku dibela, ya, kan? Perbuatan Ken menyiksaku dan membunuh anak kami tidak bisa dimaafkan. Perbuatan ibu menipu orang tua Ken hingga bangkrut juga tidak bisa dimaafkan. Maya juga cinta uang, sulit dimaafkan.
Tapi pengadilan kelewatan, tidak pernah lihat aku menangis setiap malam memanggil nama anakku, tetap menyimpulkan bahwa aku cuma orang gila yang lebih baik tidur tenang-tenang di dalam kamar yang terkunci. Mungkin rencana awal aku mau dipasung juga.

Mengaku juga percuma.
"Suster tahu, kenapa aku tidak ingin mengaku? Karena tidak akan ada gunanya."

Suster Anna tiba-tiba meledak, "Apa kau tidak peduli? Keluargamu mencemaskanmu, merugi karenamu!! Kau masih berkata egois begitu?!"

Keluarga?
Maya membantu Ken membunuh anakku demi menambah nilai nominal saldo di rekening tabungannya. Begitukah yang namanya keluarga?

Kau bisa lihat polesan wajah Suster Anna jadi terlihat aneh karena otot yang tertarik tiba-tiba. Uh.. Kasihan sekali nasib para suster kalau begitu terus, "Benarkah? Coba nanti tanya Maya, kau adik iparnya. Kurasa ia masih ingat jelas seperti apa kejadiannya."

"Kejadian apa?"

"Pembunuhannya, tentu saja."

"Tapi..," Anna mengernyit, "Kau sendiri saat itu. Dan Maya bersamaku."

"Tidak, bukan waktu Ken terbunuh. Waktu mereka, Ken dan Maya, mengaborsi dan mengubur anakku di halaman belakang rumah. Tanggal 12 bulan 2, ingat, kan? Kau juga lihat aku diikat di dalam kamar, masih berdarah juga."

Anna pucat pasi.

"Semua ini tidak berguna. Tidak akan jadi penting mayat Ken ditemukan atau tidak. Saat aku mengaku, kau juga akan masuk penjara karena ikut melakukan pembunuhan anakku bersama Maya dan Ken. Jadi," aku meraih remote tv dan menekan salah satu tombol angka, "Jangan menulis hal-hal yang bohong pada catatanmu. Nanti saat aku kabur, akan kucekik kau dalam tidurmu."

Aku tertawa, begitu kerasnya. Bukan karena candaanku atau suster Anna yang berlari ketakutan keluar dari kamar.
Maya sangat histeris waktu kubilang begitu padanya tadi malam.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rijon
Rijon at Pengakuan (12 years 29 weeks ago)
70

Saya kasi nilai lebih karena penulis mau mencoba menampilkan sesuatu yang tragis di sini. Sayang tidak terasa nyata. Rasanya masih banyak yang harus dibenahi dari tulisan ini. Mulai dari konsep, bisa disimak dari komentarnya panah hujan: secara konseptual, tulisan ini belum matang. Masih mentah, sudah terlanjur dipetik (ditulis). Secara penulisan, masih datar. Tidak beremosi. Tidak berasa. Tidak menggugah.
Salam.

Writer Chie_chan
Chie_chan at Pengakuan (12 years 31 weeks ago)
80

wow. boleh juga tulisanmu nih. hehehe... diriku salut. :)

Writer Rhythm
Rhythm at Pengakuan (12 years 31 weeks ago)

Hem.. :D Makasih chie..

Writer thasayua
thasayua at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)
80

wah .
komen nya dilibas sama yg bawah .

kalo kata aku c bagus . soalnya aku ga bisa bkin se complicated ini .
hahaha

smangadt !

Writer Penguin
Penguin at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)
80

saya tambahkan beberapa poin agar lewat 35 :)

Writer Penguin
Penguin at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)
100

bagus bagus... walaupun saya juga setuju dengan komen dibawah saya, agak aneh kalau orang sakit jiwa bisa memikirkan rasanya jadi orang lain. Tapi bagus ceritanya. LANJUTKAN!

Writer elbintang
elbintang at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)
80

senang membaca tag nyoba-nyoba. ^_^ mean u r a great learner

ada resiko besar yang harus ditempuh penulis untuk membuat pembaca percaya pada POV 1 jika si aku adalah orang bermasalah secara psikologis atau berpura-pura bermasalah secara psikologis.

lebih lagi jika benar ada latar belakang si aku yang penuh keculasan.

si aku yang sudah bersuami adalah maniak seks, pencuri,suka dimanipulasi dengan uang dan kekerasan?

sulit untuk mempercayai, jika ia kemudian mengalami komplikasio kejiwaan tapi masih bisa mendeskripsikan dirinya dengan : "Bagaimana, ya, rasanya jadi mereka..?" aku bergumam sendiri, suara tawaku menipis di udara.

belum lagi ruangan si aku berada. aku benar-benar bingung. where is she, in fact? kalau ia dikhawatirkan masuk ke ruangan isolasi kerna sebelumnya melarikan diri, maka tentu ruangan yang digunakan sekarang adalah satu level di bawah ruangan isolasi. means no TV

dan tugas suster untuk pasien dalam level seperti itu tidak kudu membawa-bawa stateskop untuk periksa dada dan leher. weird

satu hal. bila benar si suster terkait emosional dengan latar belakang terpicunya kondisi psikologis pasien, biasanya dokter tidak mengijinkan si suster ada disekitar si pasien pada kondisi yg masih labil. apalagi kalau masuknya si pasien ke rsj cause todongan hukum pidana.

untuk cerita berlatar kondisi mental ada http://id.kemudian.com/node/208821 punya Andrea yg bagus banget buat belajar intensitas believing adanya aku ke pembaca. walo kasusnya sama sekali nggak sama.

mungkin aku salah 100 %. mohon di maafkan.
terus menulis. terus mengedit.

*cheers!*

Writer Rhythm
Rhythm at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Aku capek nulisnya..
Ahaha.. Ketauan amatirnya.
Maap.. Uh.. T_T

nanti kalo tidak ngetag begitu, gx sadar msih prlu blajar.

Mungkin knapa crita ini detailnya di bwah bwahnya kurang, krn aku udah kebiasaan nulis novel di mobamingle. Gimana jelasinnya yah? Kayak baca novel yg banyak halaman (postingnya pendek2 tapi pagenya buanyak. Males panjang2 n banyak detil).
Jadi begitu ngeposting cerita di tempat lain, selain karena aku post via opmin hp (yg jelas terbatas penampungan katanya), aku juga males.. Bwahaha.. Di maapkan yah.. Aku sedih.. Huaaaaaaaaa...

Writer elbintang
elbintang at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

tidak perlu sedih neng...
uhm...maksud dari komentku bukan detailnya gak jelas tapi plotnya (menurutku) saling menghapus.

smangat!
tetap smangat!
tetap terus smangat!

Writer kavellania
kavellania at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)
70

paham paham tp aku berasa ada yang kurang di sini
ehmm mungkin kau hanya menampilkan sisi tragis dan banyak misteri yg blom terkuak di sini

Writer Rhythm
Rhythm at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Ada lanjutannya.. Tenang aja.. Ahaha.. :D Kayaknya memang harus T_T

Writer panah hujan
panah hujan at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)
70

Agak membingungkan di akhir. Apa hubungannya Suster Anna dengan Ken dan Maya?
Kalau kulihat, kupikir kau bisa coba buat kalimat pembuka yang rada memancing. Pembuka yang bercerita tentang seorang pasien RSJ yang sedang menonton berita di televisi (yang meski ternyata kasusnya rada mirip sama dia, kau tunjukkan di ending) rasanya tidak akan menarik pembaca untuk membaca lebih jauh.
Mungkin itu saja menurutku.

Writer Rhythm
Rhythm at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Adik iparnya Maya.
Yah, tidak di simak dengan baik.
Maaf senpai, memang kurang mengena. Kan nyoba-nyoba *tunjuk-tunjuk ke tag*.
Ntar, edit lagi.

Writer panah hujan
panah hujan at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Emang, sih, kebetulan banyak terjadi.
Kusimak, kok. Aku sampai ngulang baca empat kali T_T
Cuma ya itu. Kenapa begitu alurnya? Bingung. ==a
Tapi yah, semangat ya! Entah kenapa aku pikir gaya penceritaanmu emang ngalir dan rada enak diikutin. :)

Writer Rhythm
Rhythm at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Rada? Sedihnya..
Di baca lagi senpai.. Udah di edit.
Tapi aku ngerasa yang ini malah memperburuk.. Uh..

Writer panah hujan
panah hujan at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Penambahan dialog tentang perlakuan dokter padanya juga sedikit deskripsi mengenai Ken dan Maya memang membuat ceritamu lebih bagus. Mengedit selalu membuat lebih baik, memang.
Tapi bukan itu yang kupermasalahkan.
Yang kupermasalahkan adalah, kalo memang Suster Anna itu adik iparnya Maya dan Maya itu saudaranya sang 'aku' ini, seharusnya baik narasi maupun deskripsi dari si 'aku' tidak akan sekaku itu menempatkan Suster Anna sebagai sekedar Suster Anna sejak awal. Pasti akan ada penjelasan sebelumnya dari 'aku' ini tentang Suster Anna. Apanya, kek. Gerak-geriknya, tatapan dinginnya, yang semua deskripsi itu mesti berkaitan dengan poin adanya keterikatan di antara mereka.
Lagipula, kau sudah langsung menghadirkan terlalu banyak nama di bagian awal ini. Cobalah sampaikan setahap demi setahap mungkin? Hmmm. Aku rasa ini bisa jadi thriller yang bagus. Aku kayaknya juga pernah buat cerita tentang orang yang mengidap penyakit jiwa.. Hmmm.

Writer Rhythm
Rhythm at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Ahai.. Aku di puji (ceritaku dink).
Mau di edit lagi tapi pake via opmin hp udah gx cukup.
Kapan2 kalo Tuhan mengizinkan. Ngomong2 senpai bener2 baru 13 tahun? Yang bener akh.. Saia jadi malu..

Writer panah hujan
panah hujan at Pengakuan (12 years 33 weeks ago)

Gyahaha. Kalau mengenai konflik mengapa dia bisa 'sedikit sadar' mengenai kegilaannya, mungkin itu celah yang sama yang juga kulakukan di tulisanku yang ini 1 tahun 40 minggu yang lalu (haha): http://www.kemudian.com/node/126209
Eh? 13 tahun? Itu kata siapa? Hmmm.