Masked Rider LC (The 2nd Act - Part 1-)

====Prolog===
Langit bergemuruh menjeritkan teriakan pedih. Kegelapan mulai bergerak dan cahaya terang terhalang kelamnya dunia. Roda takdir mulai bergetar, menggerakan sesuatu yang sangat asing. Sesuatu yang sedang merencanakan sesuatu. Perlahan tapi pasti mulai melebarkan sayap iblisnya ke arah jagat raya. Sesuatu yang asing dan juga beraroma kejahatan, menandakan kebangkitan bibit malapetaka di muka bumi. Adakah mereka tahu? Adakah kamu tahu?
===================================

.: The 2nd Act : Kelahiran Seorang Ksatria :.
Part -1-

Nikki dan Sera sampai di rumah kediaman keluarga Prima. Sesuai permintaan Nikki maka pihak kepolisian tidak berjaga di rumahnya. Kediaman keluarga Prima di jaga oleh sekuriti sehingga cukup aman bagi Nikki dan Sera untuk tinggal. “Bi Ijah…” sahut Nikki ketika memasuki rumah, kemudian tidak lama bi Ijah keluar dari dapur diikuti oleh mang Kasdi.

“Wah wah .. ada apa ini den?” Tanya Bi Ijah.

“Tidak ada apa-apa, Bi, tolong antarkan Sera ke kamar tamu, sekalian carikan baju ganti untuknya” ujar Nikki

Kemudian Sera dan bi Ijah menuju kamar tamu.

“Terus saya musti ngapain den?” Tanya mang Kasdi.

“Buatkan saya teh anget ya mang, saya mau mandi dulu” jawab Nikki

Nikki berjalan menuju kamarnya dan sesampainya di sana dia langsung menjatuhkan dirinya di kasur. Pikirannya masih kalut dan masih terngiang kejadian mengerikan yang dialaminya dengan Sera tadi. Bergegas dia berdiri dan mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.

Shower mengguyur tubuh Nikki dengan derasnya, Nikki diam dan membiarkan derasnya air menerpanya sedangkan di kamar mandi yang lain Sera menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Derasnya air dari shower sama-sama menerpa tubuh mereka. Pengalaman yang paling mengerikan yang pernah mereka alami baru saja mereka rasakan dan mereka sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka perbuat selanjutnya. Sera menengadahkan wajahnya dan tidak lama dia berjongkok dan menangis. Perlahan tapi pasti, malampun akhirnya berlalu.

Mentari mulai terbangun, kicau-kicau burung dan kokokkan ayam jantan pun mulai terdengar bersaut-sautan. Nikki terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk menuju ruang tamu.

“Loh.. den Nikki dan bangun?” sahut Bi Ijah yang kebetulan berpapasan dengannya.

“Iya, di depan ada sapa bi kok Tv nya idup?” tanya Nikki.

“Oh itu den, non Sera udah bangun dari tadi subuh, langsung minta di nyalakan Tvnya”

“oh, yasudah kalau begitu.”

“iya bibi ke dapur dulu”

“eh Bi, buatkan aku teh hangat yah, tolong antarkan ke ruang tamu”

“Baik den”

Nikki sampai di ruang tamu dan dilihatnya Sera sedang menonton TV dan dia sibuk menggonta-ganti channelnya. “Sedang mencari apa Ser?” sahut Nikki sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Sera.

“Aku sedang mencari-cari siapa tahu kejadian tadi malam sudah masuk dalam berita”. Ujar Sera sambil terus memainkan remote Tv. “Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?” lanjut Sera kepada Nikki.

“Emh… orang tuaku sedang di luar negeri jadi kau bisa bebas tinggal sampai kapanpun di sini.” Ujar Nikki.

“Tidak bisa begitu. aku harus mencari ayahku.”sahut Sera dengan nada yang agak keras. Sera tampak sangat panik dengan kejadian ini dan dia tidak bisa tenang dan Nikki mengerti sekali apa yang terjadi di dalam hati kecilnya. “Aku gak bisa menunggu kasus ini selesai ditangani, aku akan mencarinya sendiri” Sera langsung beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Nikki.

“Tunggu, memangnya kamu mau kemana?” ujar Nikki yang sempat panik karena dia yakin bahwa gadis seperti Sera bisa melakukan hal-hal yang bodoh dan membahayakan jiwanya. “Ser… tunggu, mau kemana kamu” tegur Nikki dan Sera pun berbalik.

“Sudah jelaskan, aku akan mencari ayah” jawabnya dan dia kembali berjalan ke kamar tamu.

“Ser… kau akan mencari kemana???” tanya Nikki lagi.

“Kemana saja, sampai ujung dunia kalau perlu” jawab Sera dengan tegas.

“Tunggu… aku ikut” ujar Nikki.

Sera pun berhenti melangkah. “Ini masalahku, kau gak usah ikut campur.. aku gak mau menyeretmu dalam masalahku” ujar Sera pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Nggak, sejak kemaren ini sudah menjadi masalahku juga. Aku akan membantumu mencari ayahmu.” Jawab Nikki dengan tegas.

Sera berbalik dan memandang Nikki. “Kamu yakin?” tanyanya dan Nikki menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Tapi percuma bila kita harus mencarinya sekarang, lebih baik kita sarapan dan memikirkan ke mana kita akan memulai pencarian” Ujar Nikki dan Sera pun tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.

Setelah Nikki dan Sera sarapan mereka bersiap untuk kembali ke apartemen. “Bi Ijah, tar kalo ada yang cari aku, bilang aja aku lagi ke kampus” Ujar Nikki sebelum meninggalkan rumah. Selama perjalanan Sera hanya diam dan memandang jalan lurus ke depan. Nikki memperhatikan dan berniat untuk memulai pembicaraan namun niatnya batal karena Sera memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Maaf, gara-gara aku kamu jadi repot”. Ujar Sera

Nikki tersenyum dan tertawa kecil. “Sudahlah Ser, yang penting sekarang kita harus cari tahu soal keberadaan ayahmu.” Ujar Nikki. “Dan juga tentang makhluk itu” lanjutnya dan kini tatapan mata Nikki berubah menjadi serius. Ada sedikit kegusaran yang terpancar dari matanya. Sera diam, namun pandangan matanya yang sebelumnya kosong kini mulai memancarkan sinar harapan, harapan untuk mengetahui apa yang ada di balik kejadian ini.

Sesampainya di apartemen, mereka segera menuju lantai di mana Sera dan ayahnya tinggal. Mereka sempat di halangi oleh sekuriti karena akan memasuki area yang di beri garis polisi, namun setelah menjelaskan ingin mengambil sesuatu maka mereka diperbolehkan masuk. Keadaan di dalam ruangan apartemen tidak banyak berubah setelah semalam. Sera dan Nikki memeriksa seisi ruangan berharap akan mendapatkan petunjuk tentang keberadaan profesor vangard. Mata Nikki tiba-tiba tertuju kepada bingkai foto di meja kerja profesor.

“Ser, apa kamu kenal ketiga orang di sini selain profesor?” tanya Nikki.

Sera mendekat dan memandang sebentar ketiga orang di dalam foto tersebut. “Ya. Aku kenal mereka” Ujar Sera. Tiba-tiba dia tertegun dan bergegas ke dalam kamar.

“Ser, ada apa?” tanya Nikki heran melihat tingkahnya yang tiba-tiba.

“Aku ingat sesuatu, ayah pernah berkata sesuatu hal padaku” jawab Sera dan mulai membongkar-bongkar kardus yang ada di kamar.

“Sesuatu apa, apa ada kaitannya dengan ketiga orang di dalam foto?” tanya Nikki.

“Ya, ketiga orang tersebut adalah rekan kerja ayah waktu meneliti sebuah situs purbakala di norwegia” Ujar Sera dan dia mengeluarkan sebuah koper dari dalam kardus kelima yang dibongkarnya.

“Apa itu??” tanya Nikki.

Sera memandang koper tersebut dan berusaha untuk membukanya.

“Dulu ayah pernah bercerita bahwa penelitiannya yang terakhir merupakan sesuatu yang sangat besar. Semenjak dia menyelesaikan penelitiannya dan berpisah dengan ketiga rekan kerjanya ayah mulai berhenti dari kegiatannya sebagai arkeolog.” Ujar Sera sambil berusaha membuka koper tersebut yang dikunci dengan menggunakan koper bernomor.

“Terkadang ayah sering bertengkar dengan seseorang di telpon dan menjadi paranoid bila malam hari. Sepertinya ada seseorang yang menerornya dan suatu hari ayah mengatakan sesuatu padaku.” Sera berhasil mengingat kombinasi nomor di gembok tersebut dan berhasil melepasnya.

Perlahan dia membuka koper sambil melanjutkan ceritanya.

“Ayah menunjukkan sebuah koper padaku dan berkata, bila suatu saat nanti terjadi sesuatu padanya maka aku harus menjaga isi di dalam koper ini sampai tiba waktu dimana akan ada orang yang berhak memilikinya” Sera berbalik dan menunjukkan isi koper tersebut ke pada Nikki. Mata Nikki tertuju pada sesuatu di dalam koper tersebut. Sebuat ikat pinggang metalik berwarna silver yang terkesan futuristik. Pada bagian depan ikat pinggang tersebut terdapat sebuah kotak tipis berbentuk persegi panjang.

“Kau yakin tidak apa-apa menunjukkannya padaku?” tanya Nikki karena Sera berkata sebelumnya bahwa dia harus menjaga isi koper itu.

“Aku tidak tahu, hanya saja ada sesuatu dalam diriku yang berkata bahwa kau harus melihatnya” ujar Sera.

Nikki menjulurkan tangannya mencoba untuk meraih ikat pinggang tersebut dan sesaat ujung jarinya menyentuh benda itu tiba-tiba dia tersentak. Nikki melihat bayangan-banyangan yang terjadi di sekitarnya layaknya menonton sebuah tanyangan televisi yang berubah-ubah channelnya. Nikki melihat sebuah kota yang damai, kemudian berganti dengan gambaran peperangan di masa dahulu kala, mayat-mayat bergelimpangan dan jeritan kepedihan terdengar memekakan telinga.

Bayangan-bayangan tersebut terus berubah-ubah dan Nikki hanya bisa terdiam melihatnya. Bayangan terakhir membawanya ke tengah kota modern yang ramai di lalui orang. Keadaannya pada malam hari dan tiba-tiba terdengar teriakan yang diikuti dengan ledakan yang sangat dahsyat di tengah kota tersebut. Nikki merunduk dan melindungi wajahnya dari ledakan dahsyat tersebut namun dia tidak merasakan panasnya api yang muncul dari kejadian itu. Sangat jelas di matanya orang-orang berhamburan dan berterbangan layaknya kapas yang dihempas angin.

Seluruh kendaraan yang ada ikut melambung tinggi dan meledak-ledak di udara. Jeritan dan teriakan tersiksa menyayat hati terdengar dari segala penjuru arah. Dalam sekejap kota tersebut rata dan hanya tersisa puing-puing. Nikki melihat di sekitarnya potongan tubuh manusia bergelimpangan dan tidak ada satupun manusia yang hidup kecuali dirinya. Tiba-tiba dari kejauhan dia melihat sosok seperti manusia berdiri.

Matanya besar dan merah menyala Tubuhnya berwarna hitam kelam dan memiliki telinga seperti kucing. Makhluk tersebut mulai berjalan mendekatinya dan tiba-tiba dari tangannya muncul sebilah pedang. Makhluk itu berlari menuju ke arah Nikki dengan sangat cepat dan dalam sekejap sudah berada di hadapannya kemudian menghujamkan pedang itu ke wajah Nikki.

Read previous post:  
12
points
(1169 words) posted by ragnafox 12 years 14 weeks ago
40
Tags: Cerita | fanfic | FANFIC | kamen rider | ragnafox
Read next post:  
60

nice