Sand and Ocean <Hati yang Tertinggal> Bagian 9

Sesampainya di tepi pantai tempat Sam berjanji akan bertemu, Marina segera melempar tubuhnya ke hamparan pasir putih, meregangkan ototnya yang penat. Marina menutup matanya sejenak, tapi ia tidak tidur. Dalam kepalanya, penuh dengan isi apa yang telah ia alami dalam dua hari di pulau ini, pulau aneh, ajaib, bertemu dengan Badai yang menakutkan tapi begitu menyenangkan tadi, bertemu dengan Mayo, makhluk terkutuk yang tidak diberi ujud oleh Tuhan itu, dan bertemu dengan Sam, pemuda yang telah menarik hati Marina semenjak pertama kali Marina menginjakkan kaki di pulau ini.

Namun sekejap, pikirannya juga mengarahkannya kembali ke memori di kota asalnya, kota metropolitan yang ramai dan malamnya gemerlap. Di kota asal itu juga ia meninggalkan orang tua yang dirindukannya, juga yang membuat hatinya berdesir, seorang laki-laki muda yang telah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun. Seorang mahasiswa calon dokter yang begitu berat melepaskannnya begitu ia tahu kekasih hatinya ini akan ditugaskan ke daerah terpencil.

..... & ~~~~~

Pagi hari ini akan ada ujian untuk tugas akhir, Marina sudah lebih dari siap untuk menghadapinya. Begitu keluar dari pintu KRL ini, masa depan Marina akan ditentukan dalam beberapa jam lagi, apakah ia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, atau harus mengambil satu semester lagi, atau lebih. Tidak ada yang akan menggoyahkannya, di salah satu gerbong, ia peluk kuat-kuat bahan yang ia persiapkan untuki ujian nanti yang tidak cukup dimuat di dalam tas punggung kecilnya. Berbeda dengan gerbong KRL ini, puluhan orang memaksa muat berjejalan di dalamnya, sehingga ketika KRL telah berhenti di salah satu stasiun dan pintu gerbong dibuka, orang-orang berebut untuk segera keluar \, memaksakan diri, memaksakan orang lain untuk memberi jalan, dengan mendempet, dengan mendorong tubuh kecil perempuan sepeti Marina sehingga terjatuh karena tidak imbang dan merelakan seluruh bahan yang sudah dipertahankan dalam pelukannya tadi berhamburan jatuh ke lantai gerbong. Dipaksa oleh waktu dan keadaan, Marina panik luar biasa dan tergesa-gesa mengumpulkan seluruh lembaran bahan miliknya yang telah berceran dimana-mana, dibawa angin, diinjak orang, dibiarkan.

Tapi satu uluran tangan kemudian datang. Milik salah satu penumpang yang kasihan melihat Marina dalam kesulitan, penumpang muda, klimis, berkacamata tipis, berwajah manis, sekilas Marina sempat memperhatikan di antara kesulitannya itu.

KRL akan segera berangkat ke stasiun berikutnya lagi, suara tanda telah terdengar, sebentar lagi, antara Marina akan kehilangan bahan-bahannya yang masih berserakan, dengan Marina akan terjebak di gerbong ini dan terbawa ke staisun berikutnya yang entah sejauh apa jaraknya, yang pasti akan memakan waktunya yang berharga.

Pintu akan segera menutup, Marina tidak ada pilihan lagi, ia raup kertas-kertas yang tercecer itu seadanya, lalu meloncat secepatnya keluar dari gerbong itu meninggalkan mungkin beberapa lembar bahan, namun jelas membuat pemuda yang mau membantunya tadi yang harusnya juga keluar dari gerbong itu namun tidak sempat, akhirnya tertinggal, terjebak bersama kereta itu, menuju stasiun selanjutnya.

Kehilangan beberapa bahan, melihat di jendela gerbong si malaikat penolong tertahan di dalamnya dengan wajah pasrah, membuat Marina merasa bersalah.

--------
Setengah jam lagi Marina harus menghadapi ujian itu, matanya berkaca-kaca dan berair. Ia kehilangan bahan terpenting untuk ujiannya. Tergeltak pasti di salah satu sudut ruangan gerbong itu, bersama si malaikat penolongnya. Ia kehabisan akal dan patah arang.

Dosen pembimbingnya memanggil, memberitahukan ujiannya akan diundur sejenak. salah satu dosen yang harusnya menguji ujiannya sedang berhalangan hadir dengan alasan masalah transportasi, Marina disuruh menunggu, dengan penuh siksaan perasaan karena kehilangan bahan tentunya.

Setengah jam yang lain telah berlalu, akhirnya yang ditunggu datang juga, dosen penguji untuk Marina. Begitu Marina disuruh masuk ke dalam ruangan ujian ia kaget sekaligus heran, salah seorang yang duduk di kursi dosen penguji adalah si malaikat penolong yang membantunya namun juga terjebak di dalam KRL karenanya. Marina senang bercampur tegang, ternyata si malaikat penolong itu adalah dosen penguji yang ditunggu-tunggu, terlambat karena terjebak dalam kereta dan hanya bisa berhenti di stasiun yang jauh jarak dari yang seharusnya.

“Ini kamu masih ketinggalan sesuatu” Dosen penguji sekaligus malaikat penolong Marian itu menyerahkan sesuatu.

Ternyata itu adalah kertas bahan yang Marina tangisi tadi, hampir saja ia menangis kembali, karena bahagia.

Berulang kali ia mengucapkan terima kasih, dosen itu begitu baik, dan muda, dan manis juga.

Marina enyahkan pikirannya yang terakhir itu segera.

Ia duduk di kursi yang telah disediakan, ia memperkenalkan diri, terutama untuk dosen muda pengujinya itu, sengaja ia menatap langsung ke dosn itu ketika melakukannya. Ia memperkenalkan tugas akhirnya yang setebal novel Harry Potter edisi terakhirnya itu.

Setelah mejabarkan teori dan dipertanyakan, Marina menjawab dan beragumen dengan baik, terutama dengan emmiliki sumber yang kuat dari bahan-bahan yang dimiliki, terutama sebagian besar dari kertas-kertas yang sempat berhamburan di gerbong KRL tadi.

Dosen,-dosen tersenyum puas, dosen muda itu tak henti-hentinya tersenyum kepada Marina, membuat nilai tambah tersendiri bagi perempuan itu. Ia lulus, dengan nilai yang memuaskan, sekaligus mendapat perhatian seorang laki-kali yang menarik hati.

“Nama saya Prima” Ia memperkenalkan namanya setelah ujian itu.

Setelah ujian itu, hubungan mereka tidak hanya antara Dosen dan Mahasiswi sahaja, mereka mengahabiskan banyak waktu bersama, mereka kemudian menjalin kasih, beberapa bulan sebelum Marina mendapat panggilan tugas ke daerah terpencil ini.

..... & ~~~~~

Read previous post:  
0
points
(1049 words) posted by Redo Rizaldi 10 years 20 weeks ago
Tags: Cerita | non fiksi | badai | Mayo | Penting | tugas
Read next post: